Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Dilema


__ADS_3

"Sudah ketemu Kak nabil?” tanya Lia.


Syifa mengagguk.


“Sekarang dimana?”


“Mungkin lagi dipinggir danau.” jawabnya.


“Masa sih?” Lia melirik ke tepi danau, “gak ada!” kelu Lia tak mendapati sosok yang ia cari.


"Ada apa sih, Li?” tanya Syifa ketika menyadari wajah gadis itu cemberut.


“Itu... padahal feelnya tadi udah dapat. tapi dianya malah pergi.” cecar Lia, “klo gini kan berasa pernyataanku ngegantung.”


“Kamu nyatain apa ke dia?”


Lia menyebik, “enggak, nggak. gak ada!” ia memalingkan muka menyembunyikan pipi meronanya.


“Nyatain perasaanmu ke dia?”


Tebakan Syifa membuat Lia memekik.


“ih, ok tau sih!”


Syifa terperangah tak menyangka Lia senekat itu. "ko-ko bisa?”


“Aku gak bisa mendem lama-lama, gak suka juga dia dekat sama siapapun. makanya ku utarain biar dia bisa menghargai perasaanku. tapi dianya langsung pergi tanpa kata apapun.”


Penjelasan Lia sungguh menusuk kalbunya sampai sampai ia tak bisa berkedip.


Lia memicing, "kenapa kaget gitu? kak Syifa mulai suka dia yah?”


Syifa menggeleng cepat.


“Yakin?”


Ia mengagguk.


Lia tersenyum, “syukurlah.”


Keduanya terdiam dalam pikiran masing masing. mengkayalkan kebahagiaan dan kisah tragis yang mungkin akan terjadi.


“Boleh aku ceritakan sebuah kisah?” Kata Syifa.

__ADS_1


“Tentang apa?”


Ia menggenggam tangan gadis itu, “ada seorang pemuda yang taatnya luar biasa, dia hafiz 30 jus. namun saat pergi berjihad, pandangannya tertuju pada seorang gadis keturungan Persia, non muslim. dia jatuh cinta pada elok gadis itu. karena dibutakan oleh rupa, membuat Allah murka dan menghilangkan hafalan pria itu. dan dia murtad.”


“Seperti cara Kak aska mencintai Kak syifa?" balas Lia setelah berfikir lama, namun ia mendapat gelengan dari Syifa.


“Aku tahu kamu mengaguminya bukan karena rupa. tetapi sifat dan perhatian tetap akan membuat hati itu kagum berkepanjangan, dan Allah tak suka ketika hambanya lebih peduli pada mahluknya.”


Lia menatap bingung, “Lalu? apa hubungnya aku dengan kisah barusan?”


"Bukan kisah tentang seorang pemudanya saja, tetapi berlaku juga untukmu,"


Balasan Syifa semakin membuat gadis itu bingung.


"Begini. kamu seorang mukhallaf, sedang yang engkau kagumi ini adalah muslim sejak lahir. maaf Li, jika aku harus mengatakan ini. aku hanya takut jika yang kamu kagumi terlalu dalam itu kelak melukai hatimu dan setelahnya kamu memandang berbeda kepercayaan kami.”


Lia menyeryit, “kami?” tanyanya, “aku juga islam, kak.”


Syifa mengaguk, “tapi bagaimana nanti ketika kamu sakit hati pada seorang muslim?”


“Itu gak akan!” tegas Lia.


“Kuasa Allah, Li. ketika Allah ingin menguji imanmu, ia akan menghadirkan rasa was was itu ketika kamu menjalankan ibadahnya!”


Perdebatan singkat itu terhenti ketika Lia tak lagi berkutip.


Syifa mengulas senyum, “sabar. sabar dan tunggulah dia yang merasakan sikapmu lebih dulu. namun ketika dia belum juga peka, sabar lagi Li. mungkin seperti itulah Allah ingin mengajakmu berpaling darinya. ketidakpekaan pria itu sudah menjadi bukti jika perasaanmu ada di waktu yang salah.”


Lia menghela napas. “ya ya ya. akan kutunggu waktu yang tepat itu.”


“Jangan terlalu berharap pada hati hambanya, berharaplah pada Allah atas segalanya. sebab ketika kenyataan itu datang dan tak sesuai dengan ekspentasimu. makan jangan salahkan siapapun atas harapan yang kau buat sendiri.”


Lia diam mencerna, “Oke!" katanya.


“Satu lagi!” ujar syifa ketika gadis itu hendak pergi.


“Apa, kak?” kata Lia ketika syifa belum juga berucap.


“Apapun kenyataan yang terjadi nanti…, kuharap kamu tidak menyalahkan manusia, tak juga menyalahkan pembagian takdir dari Allah. percaya saja Li. dibalik semua kenyataan pahit itu pasti ada hikmah yang masyaallah setelahnya.”


Kalimat syifa yang terlalu dalam menyampaikan membuat Lia menatap heran tetapi ia tetap men-in sya Allah kan sikap itu jika suatu hari ia mendapat kecewa.


Setelah lia pergi, syifa juga ikut pergi menikamati lingkungan hijau disana. mereka tak menyadari ditengah perbincangan itu ada seorang Pria yang memerhatikan dan mendengar kalimat mereka.

__ADS_1


Menatapi jejak angin diatas permukaan danau, sungguh menenang kalbu. seperti itulah cara Syifa menghabiskan sisa waktu usai melaksanakan solat asharnya. termenung, duduk tenang, namun apa yang ingin ia tenangkan justru mengkacau pikiran.


“Maafin aku, Fa.”


Terkejut mendengar suara itu, namun tumpukan kecewa membuatnya enggan berbalik. siapa lagi yang berdiri disana jika bukan nabil. setelah tersadar dari buaian serbuk putih, beruntung aska berbesar hati menyampaikan jika syifa mengetahui keadaannya, makalah itu dengan masih berantakan ia mencari syifa.


Satu kalimat maaf terucap lagi dari bibirnya. kini semakin membuat syifa terisak dan bangkit menatapnya seperti elang.


“Jadi ini kejutan yang kamu bilang?” Tanya Syifa.


“Aku minta ma_“


“Aku kecewa sama kamu.”


Tidak lantang namun kalimat yang sangat lirih itu bak sebuah batu besar yang membentur hatinya.


"Ini terakhir kalinya aku make itu, Fa” nabil berusaha meyakinkan Syifa namun wanita itu enggan bersuara.


Keduanya diam, hanya beberapa kali nabil membukan suara untuk meminta maaf dan setelahnya ia tertunduk menuggu wanita itu menyelesaikan sesaknya.


“Kupikir kamu benar benar serius memperjuangkan, namun ternyata hanya aku yang terlalu berharap lebih atas keseriusanmu.”


Nabil mendongak dan menggeleng, ia mengambil sesuatu di kantung jaketnya. sebuah kotak cicin berwarnah merah. ia berlutut dan membuka benda kubus yang ternyata berisi cincin dengan berlian kecil sebagai penghias lingkarannya.


“Sulit bagiku berubah tanpa dampingan dari mu, Fa. sungguh hanya kamu yang bisa membantuku berhenti dari lingkaran ini.”


Syifa menunduk menatap cincin yang dikira pas di jari manisnya. ia semakin terisak melihatnya. sebenarnya ada rasa yang mengetuk untuk menerima, namun di sisi lain tangannya enggan. ini terlalu cepat, selain itu ia juga belum memberitahukan pada ibunya tentang siapa nabil sebenarnya dan sementara Lia, pasti gadis itu sangat kecewa jika ia menerima lamaran ini."


“Ini kejutan yang ku maksud, Fa. maukah kamu membantuku meraih jannah-Nya? mari kita sama sama menghalalkan jarak, meraih pahala dalam kebersamaan.”


Kedilemaan itu luluh ketika aksara permohonan dari nabil terucap. Syifa menepuk dadanya agar sesak itu lekas berkurang. namun ternyata tak jauh dari tempat mereka berada. ada 2 pasang mata yang lebih sesak mengetahui kedekatan mereka.


Itu adalah Lia yang sedang memperhatikan dari balik pohon. niat mencari syifa untuk mengajaknya berberes beres justru mempertemukan ia pada drama takdir sesungguhnya. perih dia rasa.


Sedang satu pasang mata lagi adalah Aska, Pria itu tepat dibelakang adiknya.


Ia tahu nabil akan melakukan itu, makanya ia selalu memantau keadaan lia agar tak sampai menyaksikan pertemuan mereka karena itu pasti membahayakan penyakit lia. namun sepertinya ia telat, bahkan dirinya juga tak berkutip menatap binar kebahagiaan di wajah syifa.


Tangan itu terulur mengambil kotak cincin, namun niat untuk memasang dijari manisnya terhenti ketika mendengar teriakan dari seorang pria.


“LIA!!!”


Pekik Aska berlari menghampiri adiknya sebelum kepala gadis itu tertumpu diatas rumput hijau.

__ADS_1


-Bersambung.


Hem....gimana nih, bisa nebak alurnya kek gimana gak? Btw jangan musuhin Syifa yah. hehehe.. dia nggak salah, mending kepoin IG authornya. @airaannur_


__ADS_2