Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Ajari Aku Hijrah.


__ADS_3

Kerlap kerlip bintang sudah memenuhi hampir seluruh lapangan langit yang hitam. Lia sudah memberi tahu Aska bahwa ia akan menginap di rumah Shifa.


Usai melaksanakan shalat Isya, dua anak gadis di rumah itu saling melantunkan huruf huruf Arab dalam kitab yang sesuai dengan kemampuan bacaan mereka.


Bermeja bantal, 2 kitab yang berbeda itu masih terdengar sama kala di ucap lisan.


Shifa sesekali tersenyum mendengar bacaan Lia yang berada disampinya sudah lancar. hanya tinggal beberapa lembar lagi gadis itu akan di naikkannya ke Iqro' enam.


“Sadaqallahul adzim..."


Mendengar kalimat itu dari Shifa, Lia buru buru membalap bacaannya yang tinggal sebaris lagi.


“Sadaqallahul adzim…,” ucap Lia seraya menutup kitab tipis berwarnah hijau kemudian menciumnya.


“Alhamdulillah! udah Iqro' enam.” kata Lia seraya menyimpan kitab itu dalam tas miliknya.


“Alhamdulillah,” balas Shifa yang usai menyimpan Al-Qur'annya di atas meja tempat tidur. ia kemudian memeluk bantal yang tadi di gunakannya mengalas, kemudian menghadap ke Lia.


“Jadi, sekarang mau nanya apa nih!”


“Banyak!” Lia ikut mengambil bantalnya, “pertama soal Hijrah, aku sudah berhijrah ‘kan kak?” Tanya Lia.


“Menurutmu?” balas Shifa membuat Lia terheran.


“Yah menurutku, sekarang aku sudah hijrah!” jawab Lia “ya walaupun masih di pakaiannya, sih! yang berubah. tapi ahlaq baiknya sedang proses, kok.”


Shifa megangguk angguk diikuti senyumnya “iya.. kamu udah berhijrah kok." jawab Shifa "makin kesini, kamu makin tahu aja loh! bagaimana seorang wanita harus menjaga auratnya.”


Lia cengingisan “kan patokannya dari buku wanita sholeh.”


“Ah iya, iya. klo udah kelar balikin dong.” tangih Shifa.


“Belum kelar, kak!”


Shifa terkekeh ”bercanda kok.”


Lia memanyun, kemudian ia teringat sesuatu. “oh iya, soal hijrah. kita sebenarnya berhijrah buat siapa sih?”


“Untuk siapa?” Shifa memperjelas.


Lia mengagguk.


“Yah... untuk diri kita sendiri dong, Lia.”


Lia menyernyit “cuman itu jawabannya?”

__ADS_1


Shifa mengagguk “untuk siapa lagi?”


“Bukannya untuk Allah?”


Shifa menyebik, “Iya sih! memang Allah yang memberi kita perintah berhijrah, tetapi itu bukan sekedar memastikan seberapa taat hambanya melainkan untuk melindungi hambanya dari ke dzoliman dunia.”


“Huh! maksudnya gimana?”


“Gini,” Shifa memperbaiki duduknya, “dari banyaknya perintah yang Allah berikan itu sebenarnya berujung pada kebaikan kita sendiri. missal, perintah menutup aurat. bukankah itu untuk menjaga wanita dari pandangan lelaki yang pikirannya kadang tak wajar sampai terbesik niat buruk melakukan sesuatu.” shifa menjeda sebentar.


“Coba deh! kamu bandingin aja dulu, wanita yang menjaga auratnya dengan wanita yang sengaja atau tak sengaja mengumbat auratnya. ketika berjalan didepan banyak lelaki kira-kira wanita mana dulu yang di goda?” Tanya Shifa.


“Yang gak nutup aurat lah! kak.” jawab Lia.


“Kenapa?”


Lia menghela napas “aku pernah baca kalimat di bukunya kak Shifa. katanya... kelemahan syahwat lelaki itu bermula dari mata. jika seorang wanita tidak menjaga auratnya lantas seorang lelaki mengaggunya. maka, tidak sepenuhnya itu salah lelaki. karena mata memang fungsinya melihat tetapi wanita di wajibkan menutup aurat.” kata Lia dengan bangga.


Shifa mengagguk, “Nah! begitulah Allah menjaga hambanya lewat perintah, Lia. terutama menutup aurat yang kadang di jadikan beban bagi sebagian wanita padahal itu untuk kebaikan mereka sendiri.”


Lia mengagguk angguk mengerti, “iyah, sih. itu juga aku tahu, kak. kak Aska aja masih simpan foto… emb!”


Lia segera menyebik, hampir saja ia mengatakan bahwa kakaknya masih menyimpan foto lama Shifa yang belum memakai jilbab.


“Lanjut deh! kak. lanjut!” pinta Lia panik.


Saat itu juga Lia rasa panas dingin. mau jujur tapi pasti makin kesini Shifa akan menjauhi Aska. mau bohong tapi takut dosa apalagi gak enak dengan Shifa.


“Ciee…, kepo nie! ” goda Lia akhiranya, berharap Shifa berhenti mendesaknya.


Benar saja, Shifa melirik kesal tak lagi berkutip jika Lia mulai menggodanya. melihat itu, Lia terkekeh untuk semakin mengalihkan penasaran Shifa.


“Mau belajar apa nggak!?” Tanya Shifa dengan sedikit kesal.


“Hehe.. iya deh! iya.” kekeh Lia kemudian menatap serius ke Shifa.


“Terus gimana klo kita udah nutup aurat, tetapi masih ada saja aki-laki yang tidak menundukkan pandangnnya bahkan sampai suer suer gitu, gimana tuh! kak? apa kita juga yang salah karena lahir cantik?”


Kini ganti Shifa terkekeh pelan, “nggak, dong. kita gak salah tapi justru disini mereka yang salah karena tetap tidak menundukkan pandangnya disaat kita seorang wanita sudah menjalankan perintahnya, yaitu menutup aurat.” tutur Shifa.


Lia mengagguk angguk paham. disini dia baru tahu ternyata bukan salah wanita jika seorang pria masih memandanginya dengan keadaan tertutup aurat sekalipun. karena seorang wanita di wajibkan menutup aurat salah satunya untuk membantu lelaki dari zina mata. tetapi jika seorang lelaki itu masih mengikuti hawa nafsunya maka yang salah disitu adalah laki laki itu yang tak menjaga pandangannya.


“Cantik itu bonus dari Allah. tapi cantik di barengi dengan hijab! itu baru anugrah kesadaran dari Allah.” lanjut Shifa tiba tiba.


“Woaah! keren keren keren.” Lia menepuk kagum pada kalimat Shifa. “quote dari mana tuh kak?”

__ADS_1


Shifa menyebik, “baru bikin, sih!”


“Yahahaha..." tawa Lia "Aku salin, yah! kak?"


"Buat apa?"


"Lumayan, buat captoin bisnis Ig ku, hehe..."


Shifa hanya menggeleng geleng kepala sambil tersenyum gemas pada Lia.


"Klo Aplaut Foto jangan terlalu imut. banyak mata loh! yang liat." pesan Shifa.


Namun bukannya meng iya, justru Lia menunjukkan wajah imutnya didepan Shifa plus dengan 2 gorong gotong di kedua pipinya.


Pembahasan Lia dan Shifa malam itu berlanjut sampai subuh. Shifa sangat senang bisa membagi ilmunya pada sesama. sementara Lia sedikit lega, akhirnya ia bisa sedikit menuntaskan syarat yang diberikan Nabil. salah satunya yaitu soal batasan mahrom.


Dari Shifa, Lia akhirnya tahu makna kalimat pria itu waktu di Rumah Sakit yang mengatakan,


"Di tusuknya kepala seseorang lebih baik dari pada menyentuh yang bukan mahromnya."


Lia sadar bukanlah pribadi baik. bahkan saat ia sudah berhijab syari pun. ia masih sembarang bergaul dengan laki laki di kelasnya tanpa mengikuti batasan batasan dalam islam.


Saling tertawa dan melempar canda, jika saling merebut sesuatu tak menghawatirkan takut bersentuhan tangan. bahkan saat ini ia masih membiarkan siswa di kelasnya duduk di bangku yang sama.


Beruntung dikelas Shifa tak ada yang menyindir ahlaqnya yang kadang tidak sesuai dengan pakaian Syar'inya.


Yah! memang pada awalnya gadis itu hanya ingin fokus dulu memperbaiki yang nampak. ahlaq dan dan ilmu agamanya pun masih awam.


Namun berkat syarat yang di berikan nabil, membuat Lia punya dorongan untuk menyetarakan ahlaq dan penampinnya meski dalam tahap proses yang entah kapan ia mencapai titik Kesholehannya.


-Bersambung


.


.


.


Bantu Support yah!


Terimah kasih.


#selamatberpuasa.


#insyaAllah berkah.

__ADS_1


#gerakanMembacaSambilBelajar.


__ADS_2