Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
menghilangkan jejak


__ADS_3

Pria itu masih terdiam menatap wanita yang menjelaskan kematian Ayah syifa.


Ana menyeka air matanya dan menatap pemuda itu, “kamu klo mau buka usaha bangkitnya sendiri aja, Nak. gak usah ajak orang meskipun sudah kamu anggap keluarga. karena hubungan itu akan sirna jika saling berebut harta. intinya jangan mudah percaya sama orang.”


Nabil mengagguk hambar mendengar nasehat wanita itu, “apa yang membuat tante percaya kalau orang itu memang pembunuhnya."


“Satu jam sebelum kabar kepergiannya, ibu menelpon Ayah syifa dan beliau bilang sedang bersama orang itu." jawab Ana, "bukan cuman itu, bahkan kata direktur yang diangkat oleh Ayahnya syifa mengatakan, jika jejak tangan pria itu ada pada barang bukti."


Nabil menyernyit “Tante langsung percaya Direktur itu?”


Ana mengagguk, “ibu lebih percaya dia dari pada pejilat yang di anggap Ayahnya syifa seorang malaikat.”


Nabil terdiam. ada rasa tak suka jika wanita itu terus menjelekkan ayahnya. ingin sekali ia meluruskan semua, namun belum ada bukti yang ia punya selain dari cerita 2 belah pihak itu dan juga kecurigaannya pada seorang pengusaha bernama Faiz.


“Sudah. tante jadi mau nagis klo bahas Ayahnya syifa.” wanita itu menyeka air mata kemudian menatapnya serius “ibu percayakan syifa padamu, Nak. meskipun ada pria yang tampilannya lebih rapi tapi ibu yakin, hatimulah yang paling rapi."


Nabil tersenyum hambar, “Tante gak mau tahu gimana sosok papaku?” tanyanya membuat wanita itu terkekeh kecil.


“Ceritakan, Nak. pasti beliau orang hebat sampai kamu mau nunjukin ke tante seperti dia."


“Dia lebih dari hebat, Bu. beliau adalah Pria paling tabah yang pernah kulihat. saat seseorang menfitnah atas pembunuhan, ia justru menyelamatkan harta orang itu. padahal karena harta itulah ia mendapat tuduhan.”


Ana mengagguk angguk, "iya, dia orang hebat. papahmu orang hebat.” balasnya menghargai ungkapan pemuda itu.


Nabil menghela, “ditengah tengah tuduhan itu, papa masih mencari keluarga ahli waris untuk mengembalikan harta ditinggalkannya begitu saja." sengaja ia ingin membuka kebaikan sang ayah.


Ana tersenyum, “ayahmu sungguh luar biasa, Nak. dia amanah dan tidak tamak. pasti kamu juga memiliki sifat seperti itu, kan? tante harap kamu bisa menjaga syifa dengan rasa tanggung jawab yang kamu punya seperti ayahmu.”


Nabil tersenyum hambar, "tapi aku takut. takut tante menagggapku sama seperti ayahku,” kalimatnya membuat alis wanita itu tersentak, "ayahku memiliki istri dua."


"Huh?" pupil mata ana membesar.


"Aku hanya bercanda, tanteeee,” ujar nabil dengan tawa keras sebelum wanita itu memakinnya.


Ana lekas memukul lengan pemuda itu, "gak boleh gitu lagi, tante terkejut, nih!”


“Maaf, tante. maaaf.” kata nabil dengan kekeh kecilnya.


“Bener, yah!"


Nabil mengagguk disela tawa, sesaat kemudian ia menoleh ke dapur ketika mendengar tapakan kaki.


“Nabil ke dapur dulu yah, Tante.”

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan dari Ana. ia segera pergi. beruntung ia cepat menghalangi langkah bunda dan syifa yang hendak keluar.


"Bunda mau kemana?” tanyanya


“Mau ketemu calon besan dong, Nak.”


“Dengan keadaan seperti, ini?”


“Rapi, kok.” kata bunda setelah menelisik dirinya sendiri.


"Tapi bau bawang, Bun."


Bunda menghela, “syifa juga kan bau bawang. kenapa sih, dari tadi kamu halangi bunda mulu ketemu ibunya syifa. niat baikmu lo mau di percepat, kok malah nunda-nunda.”protesnya.


“Bukan gitu, Bun..."


“Yah, terus?”


“Tapi Bunda 'kan belum mandi pagi.”


Kalimat nabil seketika membuat wajah wanita setengah baya itu menahan kesal. ia menoleh pada calon mantunya,


"Dari tadi Tante mau mandi, cuman lupa karena masih sibuk." katanya tersenyum kikuk pada wanita muda itu. "maaf ya, nak."


"Gak apa kok, tante. yaudah, tante mandi aja dulu. klo gitu Syifa nunggu di luar." syifa berlalu pergi.


Sementara itu, Syifa sudah duduk didekat mamanya. ia masih dibuat bingung dengan diding polos dirumah itu. sebegitu niatnya dia ingin mempertahankan rahasia ini. batinnya.


“Mau tahu alasan kenapa rumah megah ini polos gak ada bingkai fotonya?”


Syifa terkesiap dengan pertanyaan mamah, "ke-kenapa?"


“Nabil bilang, biar kamu bisa masuk kerumah ini. karena seorang malaikat enggan memasuki rumah yang terdapat pajangan fotonya.”


Syifa hanya merespon hambar tawa ibunya yang mengaggap kalimat pria itu sebuah gombalan semata. hingga deru suara mobil terparkir depan rumah membuat mereka mempertanyakan.


Sementara di lantai dua. nabil tengah menunggu bunda keluar dari kamar untuk berterus terang. berharap bundanya mau bekerja sama untuk tidak menemui ibu syifa.


Pintu terbuka, Wanita awet muda itu sudah rapi. ia menyernyit mendapati putranya depan pintu.


"Kok malah disini," katanya sembari menarik tangan pemuda itu, "ayo turun."


“Bunda…,” Nabil menghentikan langkahnya yang hendak menuruni anak tangga, “ada hal penting yang mau aku bicarakan." lanjutnya menatap serius.

__ADS_1


"Bicara saja.."


“Tapi kita duduk dulu disana." pinta nabil seraya menunjuk kursi tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sarah menghela dan menuruti kemauan putranya, "bunda sudah duduk. sekarang mau ngomong apa?"


Nabil tampak ragu mengatakan, “tapi janji, bunda jangan marah soal ini.”


"Asal itu tidak merugikan siapapun," balas Bunda, "bilangnya cepetan, soalnya kasian syifa sama ibunya nungguin di bawah."


“Aku sudah nemuin istri dan anaknya almr Om firaz, Bun.”


Wanita itu terkesiap dan langsung membuangkam mulutnya dengan jemari,“bener, Nak?"


Nabil menagguk.


Matanya nanar menatap putranya. setelah bertahun tahun mencari akhirkan menemui keberadaan sahabatnya.


"Dimana mereka, Nak? bunda mau ketemu.”


“Mereka ada di bawah,” jawaba nabil membuat bunda menyernyit dan menunduk ke lantai satu, "iyah, mereka adalah syifa dan ibunya, bernama tante Ana.”


"Astagfirullah.."


Rasa terkejut membuat wanita itu lemas seketika. ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan terus menatap putranya yang memohon.


“Bun.. bunda. bunda udah janji gak akan marah tadi. bunda gak ikutan benci mereka 'kan?” Nabil panik melihat bundanya yang sangat syok, wanita itu hanya diam memikirkan sesuatu.


"Nabil mohon, restui kami,” ia langsung berlutut didepan bundanya. namun wanita itu lekas menariknya.


"In sya allah kami tetap merestui, Nak. kami tida pernah mendendam pada mereka." balas Bunda, "tapi bunda tidak yakin, jika syifa mendapat restu dari ibunya.”


Nabil mengagguk, “itulah kenapa aku tidak ingin bunda menemui ibunya syifa." ungkapnya menatap nanar, "aku belum siap mengakhiri hubungan ini. aku belum menyiapkan bukti ketidak bersalahan papa dalam kematian Om firaz.”


"Tapi suatu saat kamu harus siap, Nak. tidak mungkin kamu terus terusan menyembunyikan identitas keluargamu.”


Nabil menggaguk, “untuk kali ini saja, Bunda. bunda jangan tamui mereka." pintanya memohon.


Sarah menghela, “temui mereka. beri alasan yang membuat mereka bisa mengerti."


Nabil sengera mengecup tangan bundanya, "kalau begitu nabil temuin mereka." ia lekas menuruni anak tangga usai mendapat anggukan.


Namun sayang, ia kalah telat. langkah itu terpaku ketika pandangannya menangkap sosok Pria berjas putih yang seharusnya kembali bulan depan namun kini sudah berhadapan dengan Syifa dan Ibunya.

__ADS_1


"*papa?"


-Bersambung*.


__ADS_2