
“Istiqomah?”
“iya, istiqomah,” ulang Nabil Pada wanita yang kembali menagih sepatunya, “cari tahu apa itu istiqomah, terus terapin.” ia meninggalkan wanita yang masih mengenakan seragam putih abu abu tersebut.
Lia mengehela napas memandangi punggung pria yang sudah membelakanginya. niat untuk menunjukkan perubahan sikap malah membuatnya mendapat tugas baru.
“Istiqomah apa, yah. bertahan bukan ya,” gumamnya mencoba mengingati goresan tinta yang pernah ia baca dalam buku pemberian Syifa. ia memilih menghampiri motornya dan meninggalkan toko boneka yang baru di masuki pria tersebut.
Sampai dirumah, usai mengganti seragam sekolah Lia mencari buku yang di pinjamkan Syifa, namun ia tak menemukannya.
“Padahal ku simpannya disini,” ia terus mengotak atik laci sembari memastikan dimana terakhir kali ia menyimpannya.
Aska, satu nama yang membuatnya terperanjat ketika mendengar suara motor didepan rumah, ia buru buru turun.
“Buku aku mana!?” ujar Lia menghampiri aska yang baru saja masuk ke rumah. pria itu tampak lesuh dari kerja.
“Buku apa sih dee..” balas aska memelas, ia merebahkan diri diatas sofa menutup matanya dengan tumpuan lengan.
“Buku dari kak syifa, yang warnanya maron itu.., tau gak?”
“Enggak!”
“Jangan bohong!”
Aska mengagkat sedikit lengannya untuk menatp Lia “itu buku cewek, kan. ngapai aku pelajarin,” balas aska kemudian membelakangi adiknya.
Lia berdecak, ia mengambil bantal sofa kemudian mengesekkannya di kepala aska namun pria itu terus menapiknya kesal.
“Apa sih, dek!” aska bangkit menatap kesal adiknya.
“Dirumah ini... cuman kita berdua loh, siapa lagi yang ambil klo bukan kak aska?”
“Aku mana tau, kamu gak liat aku baru pulang!?”
Lia mendengus panjang, “awas aja klo kak aska terbukti yang ambil!” ancam Lia tak kalah emosi kemudian meninggalkan kakaknya.
Sementara pria berkemeja biru itu hanya menghela napas beberapa kali. rasa kantuknya sudah hilang karena amukan lia. ia memilih masuk ke kamar kemudian membuka laci. terlihat sebuah buka yang di cari adiknya ternyata ia sembunyikan untuk kepentingannya sendiri.
__ADS_1
Aska membuka sampul bagian belakangnya. goresan nama beserta tanda tangan itulah alasan dirinya menahan buku tersebut.
“Nabil al farizki, apa itu nabil yang sama?”
Ia masih mengingat betul bagaimana bentuk tanda tangan Nabil, pria yang selalu menggunakan style pereman itu ternyata memilki tanda tangan yang jadul dan tidak keren seperti miliknya. itulah mengapa ia begitu hapal tanda tangan nabil karena berbeda dari yang lainnya.
Penasaran aska semakin memuncak ketika ia mengingati alasan nabil tidak merubah tanda tangannya, yaitu hanya karena seorang wanita.
Memang tidak masuk akal, tetapi ketika nama lengkap Nabil ternyata sama dengan nama lengkap teman kecil syifa dibarengi dengan tanda tangan mereka yang juga sama, tentu itu patut di curigakan.
Sementara di tempat Lain, syifa baru saja sampai dirumah. terlihat Ana sangat antusias menghampiri putrinya hingga membuat gadis itu menatap bingung
“Kenapa ma?” tanya syifa setelah Ana ada di hadapannya.
“Nak nabil bawain kamu ini!” ana mengangkat sebuah benda persengi yang sudah di baluti kertas kado.
Syifa menyernyit, baru ia ingin mempertanyakan ana langsung menarik tanggannya duduk di shofa.
“Tanda tanda, nih!” wanita setengah baya itu sangat antusias membuka kado seraya terus menggoda putrinya yang hanya menatapnya malas.
“Empuk, apa yah, fa?” ana menatap putrinya heran, ia sangat penasaran dan langsung membuka bungkusan pelastik tersebut yang masih berada dalam dos, “loh, kok boneka?”
“kucing biru?” ana berdecak kecewa, ia mengira hadiah yang di berikan nabil sedikit berguna untuk prabotan rumah. namun justru rumahnya hanya tambah satu penghuni kucing biru lagi mengingat syifa sangat suka mengkoleksi boneka doraemaon.
Melihat wajah ibunya yang terlihat muram membuat syifa terkekeh kecil namun segera ia hentikan setelah mendapat tegurang dari sang bunda.
“Makanya mamah gak usah teralu berharap, orang kayak dia itu tipe gak serius. liat aja masa yang di bawainnya mainan.” shifa mengangkat sedikit boneka itu, “lagian shifa juga gak suka orang kek dia, ma.”
Ana menghela napas kemudian menatap putrinya, “terus yang kamu suka siapa?”
Syifa terperangah dengan pertanyaan sang bunda. bingung, harus menjawab bagaimana? bukan tak ada lagi yang ia suka hanya saja ia tak tahu harus mengatakan dari mana. hingga akhinya ia menyebik dan menggeleng.
Lagi lagi ana menghela napas atas sikap putrinya, “kamu ini, padahal banyak yang pinang tapi gak satu pun di pilih, mubazir atuh.” ana meninggalkan putrinya yang masih duduk di shofa.
“Bukan gak ada, tapi aku menunggu seseorang yang entah di mana.” batin shifa.
**
__ADS_1
Pertanyaan bunda siang tadi membuat ia
kembali memikirkan sosok teman kecilnya itu. wanita yang tengah berjalan dengan tatapan kosong tersebut hanya tersenyum simpul kala mengingat kenangan yang masih tersisa di kepalanya. Ia mengenang kenangan itu tanpa menyadari sepasang kaki tengah mengikutinya dari belakang.
“Assalamu alaikum.”
Syifa tak menghiraukan sahutan salam dari belakang, lebih tepatnya ia tak mendengarnya. terucap lagi salam yang kedua kali dan akhirnya shifa menjawab sambil menoleh.
“Wa'alaikumussaa, Astagfirullah!” syifa menghentikan langkah, ia terkejut dengan kehadiran nabil yang tiba tiba di sampingnya.
Melihat eksperesi syifa dengan mata melotot juga jawaban salamnya yang terpotong membuat pria yang melipat tangannya ke belakang itu terdiam sejenak.
Syifa berdecak, “dia, lagi.” ia memilih meninggalkan pria itu.
“Eh, tunggu!” nabil yang baru tersadar segera menyatarakan langkah dengan wanita yang memakai kerudung berwarna toska, “ekspresimu lucu tau, aku jadi ingat seseorang yang pernah aku foto."
Syifa yang kini melambatkan langkahnya itu sama sekali tak menghiraukan tiap kalimat yang keluar dari mulut pria yang terlihat sulit berjalan disampinyanya. ingin sekali Syifa mendahului dan berlari tapi takut pria itu memerkatikannya dari belakang.
“Yakin kamu gak telat klo jalannya kek gini?” nabil berusaha membuat syifa membuka suara atau lebih tepatnya ia tak nyaman berjalan dengan lengkah kecil seperti itu.
lagi lagi tak ada jawaban dari syifa.
"Atau jangan jangan kau sengaja memperlambat waktu biar bisa lama lama berjalan denganku, yah?”
Syifa menghentikan langkahnya membuat pria itu reflex berhenti “kenapa?”
“Anda butuh sesuatu, bisa berhenti mengikuti saya?” pinta syifa sedikit emosi namun pria itu justru menyernyit, menyebalkan.
“Kamu gak suka?” tanyanya, “kupikir cewek itu suka dikejar. atau jangan jangan kamu cewek jadi jadian yah,” nabil bergidik sembari melangkah mundur menghindari shifa.
Shfa hanya bergeming menatap pria aneh didepannya tersebut. ia tahu pria itu hanya ingin mengajaknya bicara.
"Jangn buang- buang waktu mengejarku, aku sungguh tidak akan memilihmu.” kata Syifa kemudian berlari menjauhi nabil.
“Dasar!” tawa nabil langsung pecah melihat cara shifa menjauhinya.
Bersambung.
__ADS_1
bantu suppor novel ini yah, kak.
pantauin juga ig ku biar bisa tahu kaan up😊