Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Dari Kasih.


__ADS_3

Hampir seharian di toko ia hanya menghabiskan waktu dengan melamun.


semua lamunan itu tak lepas dari bagaimana cara agar Nabil membenci, namun satupun tak menghasilkan ide.


Meski tak bersemangat tapi ia terpaksa ikut ajakan teman kerjanya untuk makan malam di pinggir jalan. perbincangan itu hanya sebagian yang ia tanggapi. malas, apalagi dengan kehadiran kasih, wanita yang iri padanya itu terus menyindir kedekatannya dengan nabil hingga membuatnya tak nyaman.


“Maaf semuanya, Aku tidak enak badan. Aku pulang duluan, yah” pamitnya seraya mengambil tas, namun Kasih menahannya.


“Kenapa, Fa? apa Kamu tidak nyaman dengan kalimatku?”


“Hari ini Aku benar lelah, Sih. Aku mau pulang, aja.” Syifa menarik tasnya kemudian menyalipkan di pundak.


“Lelah apanya.. kerjanya cuman ngelamun.” sindir kasih dengan suara pelan, tapi cukup jelas di telinganya. meski tak suka ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi.


“Sih! udah dong," lerai salah satu rekan mereka mendapat tatapan dari Kasih.


“Udah apanya sih, Ri? 'Dia tuh yang harus udahan. mentang-mentang ponakan bos, kelakuanya belagu.”


Syifa menghela napas menenangkan diri. usai berpamitan, ia melangkah pergi. namun kalimat Kasih yang kembali terlontar membuatnya berbalik kesal.


"Punya cowok pemakai aja juga belagu!” ujar Kasih menarik perhatian.


Belum sempat ia menghadap wanita itu,


seseorang yang berjalan cepat ke arah Kasih membuatnya memicing. matanya langsung terbelalak ketika memastikan siapa pria yang terlihat marah tersebut.


Bug!


Nabil mendorong kursi yang sebelumnya diduduki Kasih, wanita itu terkejut dengan wajah pucat pasih mengetahui Pria yang ia jelekkan ada di sampingnya.


“Apa maksudmu mengatakan itu!?” sembur Nabil memelototi wanita yang tertunduk ketakutan, “Kau ingin ber-urusan denganku?”


“Bu-bukan begitu, Kak," gugup Kasih.


“Minta maaf padanya!”


Kasih mengangguk pasrah, ia menatap Syifa, “Aku minta maaf dengan ucapanku.”


Nabil ikut menatap wanita yang berada tak jauh dari aspal. menyadari itu, Syifa segera mengagguk sebelum nabil memaksa kasih lagi. ia tidak mau nabil terlihat menyeramkan di mata teman-temannya persis yang Kasih gosipkan selama ini.


“Sekali lagi kau mengusiknya, Aku tidak akan melepaskanmu,” ancam Nabil pada kasih kemudian menghampiri Syifa.


“Kenapa Kamu tidak mengatakakan jika ada orang yang menggagumu, Fa." ujapnya ketika dihadapan Syifa, "Aku ada, Aku bisa mengurusnya agar Dia tak lagi berkutip.”


Menjadi pusat perhatian membuat Syifa tak mau berbicara dengan nabil. ia memilih pergi menghampiri motor dan masih diikuti Nabil.


“Aku tidak berniat menyentuhmu, Fa! tapi sikapmu memaksaku melakukannya.” Nabil menarik tangan Syifa sebelum wanita itu menaiki motor.


“Aku tak sudih tanganku di sentuh oleh keluarga yang telah menghabisi ayahku!” sentak Syifa mencoba menarik tangannya namun pria itu semakin erat mencengram, “lepaskan, Bil,” pintanya dengan nada bergetar, menahan sakit.

__ADS_1


“Aku tidak akan melepaskannya sebelum Kamu menyesali semuanya, Fa.”


“Sa-sakit, Biiil!”


Bug!!


Darah segar keluar dari sudut bibir Nabil, ia memicing menahan sakit kemudian menoleh pada Pria yang berani memukulnya, "Berninya Kau_“


“Beraninya kau membuat Dia kesakitan!" geram Aska, beruntung ia melihat Syifa dan Nabil sehingga membuatnya menepikan kendaraan dan menghampiri.


"Asal kau tahu! aku coba mengiklaskan Syifa padamu karena Aku berharap kamu bisa membahagiakannya lebih dari yang Aku lakukan!"


Nabil hanya menatap kesal Pria yang memakinya itu seraya menempelkan telapak tangan di pipi bekas tonjokan Aska.


"Ayo, Fa.” Aska melepaskan tangan Syifa dari cengkraman Nabil, namun sebuah pukulan dari nabil mendarat di pipinya sampai ia tersungkur.


“Astagfirullah, Bil!” Protes Syifa dan segera menghampiri Aska membantu Pria itu bangkit, “Kaa..”


Aska menggeleng, “gak apa, Fa. gak apa.” balasnya tak mau syifa kawatir.


Syifa menatap marah Nabil, “kenapa Kamu memukulnya!?”


“Dia yang memukulku duluan, Fa. seharusnya Kamu membelaku, bukan bajingan itu!” balas Nabil yang tak terima Syifa kawatir di tempat yang salah.


“Aku benar-benar kecewa denganmu, Bil.”


Meski banyak yang ingin ia bicarakan, tapi jika menunggu dan menyaksikan, hanya akan membuatnya semakin terluka ia takut jika tak bisa mengendalikan diri. pergi, adalah pencegah luka agar tak semakin dalam.


"Ini, Ka.” Syifa memberikan tisyu yang sebelumnya ia usapkan pada wajah Aska sesaat setelah Nabil pergi.


Aska menerima dan membersikan wajahnya. keduanya kembali hening hanya suara motor yang lalu lalang dan canda tawa di warung sebelah jadi pengisi suara. mereka diam dalam pikiran masing-maisng hingga akhirnya Syifa kembali menatap.


“Ka..? maafkan Aku.” ucapnya kemudian menunduk, “karena Aku.. Kamu kembali menerima luka.” lanjutnya dengan nada bergetar.


Aska menggeleng, "bukan salahmu, Fa. bahkan Aku bersyukur jika menolongmu dari si berengseng itu tadi.”


Kata menolong dari Aska semakin membuat tangisnya pecah. bukan ia terharu, tapi kalimat itu mengingatkannya pada misi yang tak bisa di campuri Pria tersebut.


“Apa rencanamu, Fa? Aku akan membantu apa yang menjadi alasanmu menangis.”


Syifa menghentikan tangis dan mendongak, ia mendapat anggukan dari Aska.


“Aku akan membantumu.” ulang Pria itu.


“Tapi Lia_"


“Dia masih kuat," potong Aska, "alasanku cepat-cepat berangkat ke Jepang bukan sepenuhnya demi kondisi Lia.” Aska diam sejenak tak mau membahas masalahnya lagi, “kuharap kamu mengerti tanpa harus kujelaskan alasnnya lagi, Fa.”


Karena masalah keluarnga? Syifa menebak itu dalam benaknya. ia mencoba mengargai permintaan Aska untuk tidak membahas masalah keluarganya.

__ADS_1


“Dibagian mana Aku harus membantumu?” Aska menatap serius “apa Aku harus membuatnya cemburu lagi?”


Syifa menggeleg, “tanpa Kita rencanakan pun, Dia akan tetap cemburu melihat kerja sama kita, Ka," balasnya.


"Lalu?”


Syifa terdiam, memikirkan bagaimana cara agar Nabil membencinya. mengungkit kesalah pahaman orang tua mereka tak akan berpengaruh. pikirannya berakhirnya pada pernyataan kasih mengenai Nabil yang seorang pemakai.


**


"Kenapa harus berhenti, Nak?” Tanya Ana usai Syifa menyampaikan niatnya untuk berhenti dari toko.


“Aku harus focus pada misiku, Mah.” Balasnya seraya memakai Sneakers. ia sudah siap berangkat ke toko tanpa seragam, menyampaikan niatnya untuk risain.


Ana menghela, “bahkan Kamu lebih berambisi dari Mamah,” cetusnya mendapat senyum tipis dari Syifa.


Syifa berdiri menghadap, “soal uang, Aku masih punya tabungan. setelah misiku berhasil Aku akan lebih giat lagi bekerja.”


Ana lekas menggeleng, “makan seadaanya dan tidak merepotkan orang saja sudah Mama syukuri, Nak. buat apa kaya tapi banyak musuh.”


Syifa hanya menyebik kemudian bersalaman untuk pamit ke toko.


Sampai disana, ia langsung menyampaikan niatanya. banyak yang berat mendengar Syifa berhenti. bahkan kasih, orang yang sudah ia pastikan bahagia mendengar kepergiannya kini menatap sedih.


Ia menghampiri Kasih, "Sih, Aku minta maaf soal semalam, yah."


Kasih menggeleng, “Aku yang seharusnya minta maaf, Fa. lisanku terlalu mudah menceritakan keburukan orang lain," ucapnya kemudian menunduk.


“Apa kalimat maafmu ini karena takut padanya?”


Kasih tak memberi jawaban.


“Dia memang menakutkan jika marah, tapi sebenarnya.. Dia sosok yang lembut.”


Kasih mendogak, “maaf jika Aku jujur mengatakan ini. tapi yang kulihat Dia sangat menyeramkan, bahkan lebih dari apa yang sudah ku gosipkan tentannya.”


Syifa tersenyum, “Kamu akan tahu bagaimana kebaikannya jika saja kamu mau mengenalnya.”


Kasih tersenyum getir, “Aku tidak berrniat mengenal orang seperti itu, Fa.” sesaat ia terdiam, "Aku sungguh minta maaf mengenai sikap.dan kalimatku selama ini."


"Sikapmu mengariku sebuah kesabaran, Sih. bahkan Aku mendapat pahala karena tak membalasmu.” Syifa memberi tepukan di pundak wanita tersebut.


"Terimah kasih karena Kamu bisa menahan rasa irimu selama ini. kamu tidak merugikanku. sungguh."


Perlahan sebuah kekilafan akan berubah menjadi sesal. dan berakhir pada pertemanan. saat ini ia bisa merasakan ketulusan kasih. tapi apa bisa ia berbaur dengan keadaan? ia ingin kesalah pahaman antara keluarga nabil dan keluarganya berakhir seperti saling memafkan dirinya antara Kasih.


-Bersambung.


Tolong bantu Suppirtnya yah, kak. terimah kasih. assalamu alaikum.😊

__ADS_1


__ADS_2