Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
pertemuan terakhir


__ADS_3

"Nab--"


Ceklek.


Bunyi otomatis dari kamera itu membuat shifa tidak melanjutkan protes nya.


Nabil menarik kertas dari kameranya kemudian menghempas hempasnya.


Ia berusaha menahan tawa, namun tawanya memecah ketika melihat hasil bidikannya di kertas itu.


Gadis kecil dengan wajah tercengang, menjadi gambar  di Kertas itu. Matanya menatap heran sementara bibirnya sedikit terbuka hendak mengatakan sesuatu.


Shifa merampas kertas itu dan melihat betapa jeleknya wajahnya,


ia memanyun marah, "Aku belum siap bergaya, tau!"


Nabil hanya cengingisan mengingat ekspresi wajah shifa tadi. Ia menaruh kedua foto itu diatas bukunya.


"Ini" Nabil menyodorkan kameranya kepada shifa. "Berfoto lah dengan gaya yang kamu suka," lanjutnya.


Shifa hanya melirih kamera itu dengan bibirnya yang masih memanyun.


Nabil menarik kameranya kembali kemudian mengaktifkan timer disana. ia  meletakkan kamera Itu dikursi tempatnya duduk bersama shifa, kemudian berdiri dan melangkah mundur dihadapan kamera itu.


"Ayo! cepat, Tinggal 7 detik lagi!" ujar nabil, namun tak ditanggapi oleh shifa.


"Ayolah.., Aku tidak bisa menarik tanganmu, kamu bukan mahram ku!"


Teriakan Nabil membuat terkekeh pekerja rumahnya yang sedang membersihkan taman di sekitar sana. Bagaimana tidak usianya masih begitu labil tapi cara bicaranya seperti orang dewasa yang sudah mengerti batasan.


Tanpa pikir panjang sifa segera menghampiri Nabil, ia tersenyum mengangkat jari tengah dan telunjuk kirinya hingga berbentuk huruf V.


Sementara anak kecil di sampingnya lebih memilih melipatkan kedua tangannya ke dada dengan senyuman lebar yang memperlihatkan ginsulnya.


Ceklek!


Nabil dan shifa segera menghampiri kamera itu. mereka menunggu kertas yang keluar dari sana. Nabil menariknya dan mengapik apiknya bak seorang pencuci foto.


Ia kemudian mengambil buku miliknya dan menempelkan foto itu dengan dobletik disampul bagian dalamnya.


"Ini," nabil memberikan bolpoint nya pada shifa.


"Untuk apa?" tanya shifa.


"Tanda tangan di sini," nabil menunjuk dibagian bawah foto itu "kemudian tulis namamu," lanjutnya.


"Huh!" Shifa terlihat bingung, membaca saja ia belum lancar apalagi memiliki tanda tangan.


"Tulis namamu dan berikan beberapa coretan saja di bawahnya. itu sebagai tanda tanganmu," ujar nabil.


Shifa pun mengambil bolpoint itu dan mulai memberikan tinta disana, "Untuk apa semua ini?" tanya shifa kemudian.


Nabil mengambil bolpointnya kemudian mengambil buku punya shifa, ia membuka sampul belakangnnya dan membubuhkan nama dan tanda tangannya disana.

__ADS_1


"Kenang-kenangan" jawabnya kemudian, ia menutup buku itu dan mengembalikannya pada pemiliknya.


Shifa menerima lalu membuka sampul bagian belakang nya, "Fotonya?"


"Kamu juga mau? "Tanya nabil.


Shifa mengangguk cepat, "Untuk apa tanda tanganmu jika aku tidak mengingat wajah mu."


Nabil membenarkan itu, ia kembali mengaktifkan timer kameranya dan mengajak shifa melangkah mundur mempersilahkan benda itu mengambil gambar mereka dari jauh.


9


8


7


6


5


4


"Shifa!!"


Panggil seseorang membuat pemilik nama itu menoleh kebelakang dan mencari pemilik suara itu.


3


"Mama," Shifa berlari menghampiri mamanya yang baru saja keluar dari rumah itu, ia meninggalkan Nabil yang masih berpose disana.


1 detik.


Ceklek!


Bunyi otomatis kamera itu membuat Nabil menarik napas, ia tahu bagaimana hasil bidikan kameranya. Dengan malas, ia mengambil kertas yang baru saja keluar dari sana.


Benar saja di situ hanya ada gambarnya seorang. masih seperti gaya sebelumnya hanya saja wajah heran yang menoleh kesamping yang membuatnya berbeda.


Bibirnya tak henti mengoceh dan memaki  gadis kecil itu dari jauh.


"Mama kenapa nangis?" Tanya shifa tepat didepan mamanya.


"Mba, dengerin Mas Haris dulu, mba!" Ujar sarah yang baru keluar dari rumah, langkahnya terhenti ketika melihat shifa sudah berdiri didepan Ana, gadis kecil itu menatapnya sedih.


"Tante, mamanya shifa kenapa nangis?" Tanya shifa kepada sarah karena tidak mendapati jawaban dari Mamah nya.


Sarah ganti menatap Ana yang juga sedang menatapnya. namun Wanita berambut sebahu itu memalingkan wajahnya begitu saja. ia berjongkok dan kembali menatap putrinya, "Shifa ke mobil dulu, yah! sayang. mama ada perlu sebentar."


Shifa menyeka air mata mamanya, membuat Sarah yang melihatnya merasa iba dan ingin memeluk gadis kecil itu.


Shifa mengangguk, seolah-olah ia mengerti situasinya. perlahan kaki mungil itu mulai melangkah melewati taman-taman indah disana.


"Shifa!"

__ADS_1


Panggil Nabil, shifa menoleh dan terlihat pria kecil itu sudah berlari kearah nya dengan sebuah buku ditangannya.


"Buku mu," nabil menyodorkan buku kepada shifa, ia sedikit membungkuk karena ngos ngosan.


Gadis kecil itu menerimanya,


keduanya tersenyum hingga nada tinggi dari belakang sana menarik perhatian mereka. kini senyum anak kecil itu perlahan hilang hanya rasa takut dalam eksperesi wajahnya.


"Biarkan dia pergi! "Pekik haris yang baru bergabung di luar rumah.


Sarah menoleh ke suaminya, ia menggeleng tidak percaya kata itu keluar dari mulut suaminya.


"Biarkan dia! Dia tidak mempercayai kita, dia dibutakan karena belum iklas menerima kepergian kak Firaz."


Ana langsung mendongakkan kepalanya menatap geram pemilik suara itu, "Aku ikhlas menerima kenyataan! " teriaknya dia antara tangis. Ia kemudian tersenyum masam menatap pria tinggi disana,


"Yang aku sesali, kenapa mas Firaz harus bersahabat dengan orang tamak seperti mu!" bentak nya kemudian.


ia setengah berlari meraih tangan putrinya yang sedang bercengkerama disana bersama pria kecil yang dianggapnya sebagi anak dari pembunuhan suaminya.


Pria kecil itu hanya menatapnya tak rela, ia tidak mengerti pertengkaran orang tuanya tapi ia tahu ini adalah pertemuan terakhirnya bersama shifa. Ke dua anak kecil itu hanya saling menatap dalam diam. Lambaian tangan pun tak berani ia lakukan, keadaan memaksa mereka tak berkutip sedikitpun dengan situasi ini.


\*\*\*\*


Matahari sudah menyapa tanah jakarta sepagi tadi, terik matahari tidak membuat wanita berambut sebahu itu menepikan kendaraannya sekedar menikmati kafe dingin yang baru saja ia lewati. Mata sembabnya hanya fokus menyetir dan sesekali menatap gadis kecil yang duduk diam disampingnya.


shifa, gadis kecil itu hanya dalam lamunannya. mata indahnya tak pernah berpaling dari jendela mobil yang memperlihatkan keadaan diluar. Ia memperbaiki duduknya merasah lelah dengan posisinya. namun sebuah buku dihadapannya mengingatkan sesuatu. diambilnya buku itu dan membuka sampul bagian belakang nya.


"Iss!!" decaknya kesal, karena tidak mendapat sebuah foto pun disana.


Ia kembali menatap jalanan dan bangunan yang sedari tadi terlihat asing baginya. Kini wajahnya berhenti cemberut, ia mendongakkan kepala menatap wanita disampingnya yang sedari tadi fokus menyetir.


"Kita mau kemana, mah?" tanya shifa.


Wanita berambut sebahu itu menatap anaknya, raut wajahnya terlihat iba dan penuh tekanan namun ia berusaha tersenyum untuk putri kecilnya itu.


"ke Malang sayang," jawabnya.


satu hal yang membuat larut dalam keterpurukan adalah masa lalu yang menyedihkan.


Persahabatan, cinta. akan berakhir pada lubang kebencian. andai kata, salah satu darinya Tidak menyimpan sebuah kepercayaan.


Kesalah pahaman hanya akan membuat hubungan dekat semakin merenggang.


Jauh jauh dan akhirnya saling memusuhi.


-Bersambung-


.


.


Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara Like, Komen, Vote, Share and follow @airaannur_

__ADS_1


terimah kasih.


__ADS_2