Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Serbuk putih


__ADS_3

Shifa mendongak menatap pria disampingnya yang tengah mengibah.


"Aku tidak ingin menjauhimu, tapi bisakah kau anggap rasaku hanya sebuah empati?


Bisakah kita saling membatu tanpa melibatkan perasaan?


Pahamilah arti cinta. Jika benar di hatimu adalah cinta, maka  berhentilah menahanku. karena  bersamamu.. hanya membuat luka dihati tak akan sembuh.


Mengiklaskan itulah bukti cinta sebenarnya bukan memiliki, Ska.."


Shifa mengusap kedua air matanya kemudian berdiri meninggalkan Aska yang masih terdiam menyesali.


"Faa...?" Panggil Aska, namun tak menghentikan niat shifa untuk pergi, "Faa!?" ia menarik tangan kiri wanita itu.


"Aaaarg!" pekik Shifa, ia mencoba menarik tangannya dari genggaman aska, namun pria itu semakin mengeratkankannya.


"Sakiit ska!!" Sentaknya, memang memar ditangannya belum pulih dan kini pria itu menariknya lagi. perlahan aska melonggarkan gengamannya namun tidak sampai dilepas. "Lepas."


"Cinta memang tidak harus memiliki, tapi salahkan aku jika ingin berjuang mendapatkanmu?" tanya aska "Dibalik sikap ku ini.. hanyalah rasa takut kehilanganmu, takut pria lain yang memilikimu."


Aska menatap mantan kekasihnya dengan binar harapan. meski tidak diucapnya, tapi ia tahu masih ada sebuah rasa yang hanya tertutup kecewa disana.


"Mengertilah dengan keadaanku," ucap aska, ia mendekatkan diri. hendak memeluk wanita yang terus menunduk menikmati tangisnya itu. namun...


Plak!!!


Belum sempat didekap, wanita itu sudah menamparnya begitu keras. ia hanya memengang pipinya yang terasa perih Tidak memiliki keberanian untuk protes.


"Sudah kubilang, Aku bukanlah Shifa yang dulu! berhenti menahanku!!" Shifa berbalik.


"Faa.. tunggu!" aska mencoba menarik tangan shifa namun wanita itu menepisnya segera.


"Sekali lagi tangan itu menyentuhku! rasaku hanyalah tersisa kebencian untukmu!" shifa Masuk dan menutup pintu sekeras mungkin.


 


"Aaarg!!" Teriak Aska, ia melampiaskan penyesalannya pada pintu rumah Shifa berharap wanita itu kembali keluar. "faa..,"


"Hey! Anak muda!"


Aska membalikkan badan mencari sumber suara tersebut. Seorang pria paru baya berseragam scurity sedang menatapnya terkejut.


"Owalla.. anaknya pak Lee, to," gumam Tejo, scurity komplek disana ia mengenal Aska. pemuda yang beberapa kali ditangkapnya waktu masih SMA namun karena kekuasaan sang ayah, anak itu selalu bebas dan membuat onar lagi disekolah.


"Pulang sana, rumah anak gadis ini.."

__ADS_1


pinta Tejo tak berani mengusir kasar, sebab ia tahu aska memiliki skil bela diri.


Aska hanya terus menatapnya datar hingga membuat pria kurus itu merasa takut dan buru buru pergi.


Setelah memastikan kepergian tejo, Aska kembali mengetuk pintu. ia tahu, wanita itu tidak meninggalkannya begitu saja. sebagaimana kecewanya, Shifa tetap akan mendengarkan penjelasan sampahnya.


"Biarkan aku berjuang. memperbaiki sikap, menata hidup. Bisakah kau menungguku menjadi pria yang diinginkanmu?" tak ada jawaban dari dalam, aska sudah menduga itu tapi ia ingin menyelesaikan kalimatnya.


"Faa.., sekalipun kamu mebenciku.. rasaku akan tetap sama. Maafkan aku, karena keegoisanku..."  lirih aska kemudian menempelkan keningnya ke pintu. Suara segukan yang tertahan dari dalam rumah membuat pria itu menitihkan air mata.


Didalam sana, wanita yang diharapkannya keluar tersebut sedang duduk meringkuk dilantai. Ia menyandarkan punggungnya ke shofa, kedua tangannya memeluk lututnya sementara tangan kiri ia gunakan membungkam mulutnya sendiri berusaha menahan suara tercekat akibat gemuruh didadanya.


Benar, masih ada secarik rasa untuk pria itu, hanya saja semua tertutupi rasa kecewa.


"Maafkan aku yang menyiksamu karena keputusanku."


Shifa menyandarkan kepalanya ke shofa Mengenang kebersamaannya denga aska, Pria yang dulunya sangat ia cintai begitupun dengan aska, Shifa adalah wanita yang membuatnya tak bisa berpaling dari wanita lain.


Namun lama kelamaan arti itu menjadi sebuah rasa ingin memiliki. Karena sifat over protektif aska, mebuat shifa membatasi pertemanannnya demi menjaga perasaan kekasihnya itu.


Namun itu malah membuat shifa tak nyaman sementara aska semakin tak menghargai. Shifa yang sadar hubungan ini sudah tidak sehat meminta untuk mengakhiri. namun malah merugikan keluarga dan dirinya sendiri, karena masuk dalam kerumitan cinta seorang Alaska Siaga.


**


Setelah mengingat, ia menoleh kepintu rumah. Tak ada lagi suara tangis atau ketukan dari luar pertanda pria yang membuat matanya sembab sudah pergi. Ia berjalan mengambil whudu dan melaksanakan sholat asarnya yang sedikit lewat.


Belum merasa tenang, shifa mengambil Al-Quran dan membacanaya agar bisa membuat hatinya lebih tenang.


Memang sulit melupakan perlakuan aska padanya. perasaan lelaki itu selalu membuatnya tertekan, perkataannya, perbuatannya, kalimat penyesalan aska hanya membuat hatinya sesak jika harus mengingatnya.


Shifa menyimpan Al-Qur'annya di rak buku, tangannya terhenti sejenak


Melihat sebuah buka berwarna maron dengan cover wanita berkerudung sebagai gambar sampulnya.


Ia ambil buku itu kemudian duduk membukanya. entah sudah berapa kali ia tamatkan namun tetap saja buku yang berjudul "Cara Menjadi Wanita Sholeha" itu selalu menarik perhatian shifa untuk terus membacanya. Sekedar ingin menggali kembali ilmu dan pesan-pesan yang hampir dilupakan atau mengenang pria kecil berlesung tersebut.


Triit... triiit...


Shifa menaruh bukunya di meja kemudian mengambil ponselnya yang bergetar,


nama Lia muncul disana.


"Assalamu alaikum, ada apa Lia?"


"Waalaikumussalam. Kak, nanti aku gak bisa masuk pengajian, aku mau ambil---"

__ADS_1


"Oiyah, mengajar yah?" Pangkas shifa teringat rutinitasnya "Li, aku tutup yah, aku mau kabarin anak-anak dulu, assalamu alaikum."


Belum Lia menjawab, Shifa sudah menutup sambungan telponnya. ia mengabari orang tua mina agar mina memberi tahu teman-temannya untuk tidak menunggunya di TPA


Shifa membagi waktunya untuk


mengajar. senin-jum'at ba'da asar, saptu dan minggu jam 2. Dan Seharusnya sehabis asar ini ia mengajar di TPA namun karena suasana hati dan mata sembabnya membuat ia memilih libur.


**


"Iiih... belum selesai udah di matiin, mana aku mau curhat lagi." Kelu Lia ketika shifa memutuskan panggilannya.


Pyarr!!


Suara dari lantai satu membuatnya terkejut, ia buru-buru keluar kamar mencari tahu apa yang terjadi. Dilihatnya aska yang baru saja keluar dari kamar, pria itu berjalan dengan wajah pucat dan berkeringat.


"Kak? Kak aska?" Panggilnya dari atas, namun tak ada jawaban dari pria itu,


Aska terus berjalan cepat menghampiri motornya, tidak mempedulikan adiknya yang sedang memanggil dan berlari mengejarnya.


Brum..! bruum...!


Suara motor membuat Lia buru-buru keluar. "Kak! mau kemana!?" Teriaknya namun pria itu sudah pergi.


Lia menghentakkan kakinya ke lantai bukti kekesalannya. "Heeeee," namun ia merasakan sesak didada, jantungnya terasa sakit. ia buru-buru masuk dan duduk di shofa ruang tamu.


"Tenang Lia.., tenang," ucapnya seraya menarik napas mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang ia berdiri dan mencari sumber suara tadi, Yah itu dari dikamar aska.


Ceklek!


Lia mendengus kesal mendapati kamar itu sangat berantakan, "duuh! bikin kerjaan baru aja sih," kelunya kemudian memunguti barang-barang berserakan dilantai. Ada pomade, jam tangan, cincin silver,  alat-alat kamera, Juga beberapa foto disana.


Mata Lia tertuju pada foto seorang gadis berambut pirang kecoklatan Yang terurai panjang dengan kedua tangannya melingkar di lengan kakaknya. Lia mengambil foto itu dan dilihatnya.


Sesaat ia menyunggingkan senyum mengenal wanita itu, "dasar bucin! Masih di simpen aja sih," Lia mengumpat kakaknya sediri kemudian kembali memunguti barang barang disana dan menyimpannya dilemari kecil samping tempat tidur.


Melihat ada laci yang terbuka, ia ingin menutupnya namun tangannya terhenti ketika melihat serbuk putih dalam pelastik kecil teransparan disana. Diabilnya benda itu Kemudian keluar dari kamar aska menuju kamarnya, Ia menyimpan benda itu dalam lacinya.


Lia duduk meringkuk menatap kosong jendela yang memperlihatkan langit yang berwarna senja. Pandanganya kemudian tertuju pada bingkai foto di meja. seorang lelaki bermata sipit sedang mencubit kedua pipi gadis yang rambutnya terkepang dua. Yah, Itu adalah foto dirinya dan aska dimasa kecil.


"Kapan kak Aska mau berubah," Lirihnya sembari mengambil bantal kemudian menengelamkan wajahnya disana.


-Bersambung_


jangan lupa TEKAN LIKE, KETIK KOMEN, BINTANG 5 yh kak. kalian baik, dan lebih baik lagi klo kalian SHARE novel ini dan beri VOTE juga. Terimah Kasih. @airaannur_ (propilnya kucing oren)😁

__ADS_1


__ADS_2