Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Berkomunikasi


__ADS_3

Aska masih dibuat bingung dengan keadaan ini. sekarang ia duduk bersama ibu dan anak diruang tamu, sedang pintu rumah kembali terkunci rapat.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Fa?” Tanyanya pada wanita yang duduk dihadapan.


“Aku tidak mau nabil mengetahui keberadaan kami.” jawab syifa.


“Karena dendam?” ia mendapat anggukan dari wanita itu.


"Tiada gunanya mempertahankan perasaan ini, Ka.” Syifa menarik napas dalam dalam kemudian menatap aska “aku mohon, pastikan dia tidak mencurigai kalau aku masih berada dirumah ini.”


Aska terdiam, ia sedang mengingat janjinya pada nabil tadi. beruntungnya ia mendapati syifa sesudah meyakinkan pria itu mengenai ketidak tahuannya. tapi tetap saja ia takut jika nabil mengetahui jika dirinya sudah bertemu syifa, pasti itu akan berimbas pada Lia.


“Kaaa…, Aku mohon.” pinta syifa.


Aska menghela kemudian mengangguk, “tapi sampai kapan?”


“Sampai dia bosan dan lelah mencari.” balas syifa.


**


Disebuah Halte, Nabil masih celikungan mencari syifa, sudah hampir 15 menit ia disana namun wanita itu sama sekali tak terlihat. berulang kali ia mengirim pesan dan panggilan keluar tapi wanita itu tak merespon semuanya. hingga sebuah pesan membuatnya segera menatap layar.


"Kamu telat, aku udah di bis. jangan buang buang waktu kamu untuk mencari, karena sekalipun kamu menemukanku keputusanku tetap sama, mengiklaskan rasa ini.”,


Ia hanya mengeratkan rahangnya kesal, tapi lama kelamaan kekesalan itu membuatnya lemah dan akhir bersimpuh di lantai halte bis. sikapanya itu memarik perhatian beberapa orang, namun kembali mereka tak acuh padanya.


Apa semua harus terulang lagi?


Aku sudah hancur, Fa. aku sudah rusak.


**


Halaman TPA yang masih terawat masih lekat ia pandang, mengenang kepersamaan saat membangun kegiatan positif itu.


Ia tahu syifa tak akan kembali, sama seperti saat mereka meninggalkan Jakarta. namun ia lelah mencari sedang benaknya terus berharap ada keajaiban yang mempertemukan.


Senyum simpul hadir ketika teringat kecanggungan saat saling berpaling tatap. masih lengkap kenangan itu dalam ingatan, sebait kalimat yang tak menunjukkan kaca cinta, namun dalamnya kalimat itu membuat terbuai pada rasa.


"Kita sebenarnya menjalani hubungan yang seperti apa, Fa? permaian? kamu bukan pokemon yang harus kucari, juga aku bukanlah dora yang mudah memecahkan teka teki."


Dikira mengenang akan membuat rindunya terobati, justru dadanya semakin mendesak pilu.

__ADS_1


Ia memakai helm kemudian memutar balik untuk mengunjungi rumah yang sudah tiga hari ini ia pantau setiap sore.


tak sampai semenit motornya kembali memarkir.


Sebuah motor Sport milik Aska yang terparkir dihalaman rumah itu membuatnya segera turun, namun langkanya terhenti ketika pemilik motor itu keluar dari samping rumah.


"Na-nabil, Lo ngapain kesini?" gugup aska.


Nabil menghampiri dan memicing curiga pada Aska, “Gue yang seharusnya nanya, lo ngapai disini?”


"Gue.. nyiram bonsai tadi.” jawab aska seraya menelengkan kepala pada bonsa yang berada disamping rumah.


Nabil sedikit memiringkan wajah untuk membuktikan. ia kemudian mengagguk ketika tanaman itu masih menetekan air.


“Kemarin syifa watshap gue, Bil. minta tolongin buat pantau tanamannya, termasuk bonsai itu."


"Kalian komunikasi?”


Aska mengagguk pelan, seharusnya ia tak perlu sejujur itu. “tapi gue gak tahu sekarang dia dimana. syifa gak kasi tahu gue.”


Nabil hanya menatap kesal. ada kecemburuan saat mengetahui jika syifa membalas pesan aska sedang dia tidak. ia kembali menatap pria berwajah oriental itu penuh harap.


"Ka...," pangilnya membuat aska memicing, "banti gue komunikasi sama syifa." permintaanya langsung mendapat gelengan tegas dari aska.


"Dia ngejauhin aku, Ka! bagaimana bisa aku mendapat balasan darinya?"


Kegusarannya berhasil membuat Aska terdiam dan berpikir, namun tetap saja berakhir dengan gelengan.


“Inget adek loh, Ka!" Akhirnya sentakan itu berhasil membuat Aska menatapnya harap. “Gue tahu, Lia pasti gak seceria saat gua ada disampinya 'kan? gue bakal temuin dia habis ini. Lo tinggal bantuin gue aja komunikasi sama syifa, itu aja.”


Memang sejak nabil tidak lagi menjekuk Lia, keadaan gadis itu suram dipertanyakan hanyalah nabil. nabil fan nabi.


“Lo tunggu disini, gue kabarin syifa dulu." Langnya yang hendap pergi ditahan oleh nabil.


“Lo tinggal telpon aja. biar gue yang ngomong!”


Aska menghela, "masalahnya, klo dia dengar suaramu yang ada langsung dimatiin. gue kasih tahu dulu ke orangnya biar dia gak marah juga ke gue nanti."


Setelah mendapat anggukan, aska segera pergi kebelakang rumah. nabil sempat menatap heran kenapa harus butuh jarah sejauh itu menghubungi syifa? namun ia segera menepis karena bahagia. sebentar lagi ia berbicara dengan syifa.


Tak sampai 5 menit, akhirnya aska muncul dengan meneteng ponsel yang mungkin saja masih tersambung. ia segera merebut polsel itu ketika adka menyodorkannya.

__ADS_1


"Assalamu alaiku, Fa?”


“Waalaikumussalam.”


Sesaat nabil terdiam, ia sungguh senang mendengar suara syifa “kamu apa kabar, Fa?”


“Disini aku baik-baik saja, Bil” balas syifa, “bukannya aku tak mahu balas menanyakan kabarmu, tetapi rasanya terlalu kejam jika aku yang menanyai namun aku pula penyebab terlukamu.”


"Luka ini akan membaik jika sedikit saja kamu mau membela kisah ini,” balas nabil.


“Tetapi aku tak berniat membuatmu sembuh, ku sengajahkan semuanya agar engkau membenci.”


"Aku tidak akan pernah membencimu, Fa!” tegas Nabil.


“Maka suatu saat nanti kamu akan mendapat kejutan yang akan membuat kamu membenci.”


Bertambah gusarlah ia terhadap cara pikir wanita itu. “sejak bertahun tahun hidupku hancur karena mencari posisimu, Fa. bahkan kau tidak mengenali pria kecil yang mengajakmu memantaskan diri ini, saking hancurnya diriku."


Tak ada respon dari syifa.


"Apakah kurang bukti besarnya cintaku padamu?”


“Aku bisa merasakan, sebesar apa cinta itu. maka itu jangan telalu mencintai karena aku akan membuatmu kecewa lebih dari ini. suatu hari, sampai kamu lupa seperti apa rasa cinta yang sedang kau dalami.”


Nabil hanya memastikan hal itu tidak akan terjadi, ia berusaha menepis takdir menyakitkan itu tak akan terjadi.


“Carilah aku semampumu, cintai aku sepuasmu dan jika waktunya tiba, maka bencilah wanita kejam ini sebesar kamu mencintainya. kamu wajib kecewa, Bil. karena terlalu cinta kepada hamba- nya."


Nabil bergeming mendengar kutukan itu. ia terluka dengan kalimat syifa yang bagai hantaman batu tepat dijantungnya. wanita kejam, memang ia peruntuhkan untuk syifa, tapi sekalipun tak ada niat ingin membenci.


“Mulai sekarang, dekatkanlah diri kepada penciptaku saja. hapus nama Asyifatul Markhama binti Fariz Hakam dalam benakmu. gantilah sosok wanita itu dengan mengingat arti dari kalimat, Fabi Ayyi Aala Irobbikuma tukassiban..."


Sebuah isakan lirih dari wanita itu membuatnya menyernyit. baru ia ingin berkata syifa sudah memberi salam.


Tuuuut! tuut!


"Fa? Syifa! halo?”


Aska mematung melihat pria dihadapannya tiba tiba meraung dan bersimpuh ditanah gersang itu. cairan bening yang keluar dari mata nabil membuat ia menyadari sebesar apa pria itu mencintai mantannya.


"Dia dekat dengan kita, Bil. Dia tidak benar benar pergi. Dia ada disini, dirumah ini."

__ADS_1


-Bersambung.


Mohon Suportnya ya, temen temen😊


__ADS_2