
Pernyataan syifa membuat bunda sarah maupun nabil menjeda tangis untuk menatap wanita yang memberi pernyataan dengan antusias pada petugas.
“Ini bukti transaksi yang saja dapatkan, Pak." Syifa menyerahkan 2 lembar foto yang diabadikan aska waktu itu.
“Syifa!” Nabil coba menghampiri, namun tubuhnya ditahan beberapa petugas, “kamu yang menjebakku!?"
Syifa tidak memedulikan raungan Pria itu. ia terus berfokus memberi persaksian.
Murka, Nabil terpaksa melawan petugas dan berlari mendekati syifa, “Kamu menjebakku?” sekali lagi pertanyaan tak mendapat jawaban, ia hendak menarik tangan syifa namun wanita itu lebih dulu menatap.
“Aku yang melaporkanmu,”
Mamang lirih, tapi kalimat yang disertai tatapan mengintimidasi tetap saja membuat hatinya terluka. ia sangat terkejut, tapi sulit mengekspresikannya. kenapa cintanya harus sekejam ini.
"Kenapa Fa, kenapa?” tanya Nabil dengan suara hampir hilang, matanya sembab namun wanita itu mengabaikan dan malah menatap polisi.
"Apa Saya boleh membuka kasus?” tanya Syifa.
“Kasus apa?”
"Kasus ayah saya beberapa tahun lalu. Saya yakin ayah saya meninggal bukan karena kecelakan, tetapi dibunuh seseorang yang tak lain adalah ayah pria yang berada disamping saya_“
“FA!” jerit Nabil memelototi syifa, “ayahku…. bukan pembunuh,” lirihnya namun tak membuat syifa jera. wanita itu justru menunjukkan beberapa berkas.
“Ini surat warisan ayah saya yang diperebutkan. dan tersangka mengembalikannya karena ada rencana mendekatkan putranya dengan saya, agar perusahan itu bisa dikuasai keluarga mereka."
“Fa!? ayahku mengembalikan karena itu memang milikmu! Dia bersusah payah mengabil itu dari tersangka yang sebenarnya! dan kamu malah menuduhnya..”
Syifa menoleh, "sampaikan itu pada ayah anda sebagai pembelaan. suruh Dia gunakan itu untuk membela diri dalam pengadilan nanti.”
Nabil geleng geleng tak percaya, "tega kamu, Fa. tega! ayahku bukan pembunuh!”
Raungan nabil yang memicu keributan membuat Pria itu dimasukkan dalam jeruji besi. teriakan kemarahannya terus menggema meski sosoknya sudah hilang dari pandang.
“Nak?”
Syifa terkejut ketika bunda sarah meraih dan menggenggam tangannya. ia menatap dan melihat bulir air mata masih berdesakan dipipi wanita setengah baya tersebut.
“Semoga urusanmu cepat terselesaikan, Nak.”
Kalimat bunda membuat matanya sembab, sudah coba menyebik, namun tak kuasa menahannya. ia juga terluka menimpakan masalah dalam keluarga itu. sebuah pelukan dari bunda sarah akhirnya membuat tangisnya pecah.
“Kamu sudah dewasa bertindak, Nak. Tante tahu, ada alasan yang baik di balik kamu memberi luka ini pada kami.” kata bunda sembari mengusap pundaknya
"Maafkan Syifa..., maafkan saya." Syifa semakin mengeratkan pelukannya, ia tak bisa berkata lagi.
**
Seminggu berlalu, sidang pertama atas kematian ayahnya mendapat perisinan untuk ditindak lanjut. kursi-kursi pengadilan hanya di isi dua pihak keluarga.
__ADS_1
Haris, Pria itu sudah memakai kemeja putih dan duduk sebagai terdakwa. kedua pihak sudah menyampaikan pebelaan masing masing namun karena saksi kurang rinci, persidangan akan dilanjutkan beberapa hari lagi.
Setelah beberapa jam persidangan itu selesai, pengadilan kembali membuka persidangan kasus nabil. hanya nabil, karena Eky sudah terbukti negatif dan tidak bersalah. masih ada Syifa disana, ia ditemani Aska sementara mamanya diminta menemai Lia.
“Saudara Nabil?" lantang hakim ketua menatap pemuda yang duduk tegap dengan tangan menyatu, "dari siapa Anda mendapatkan barang tersebut?”
Aska menatap Syifa yang fokus pada persidangan, "Kamu sudah menyiapkan jawaban, 'kan?” ia mendapat anggukan ketika wanita itu menatapnya.
Syifa kembali fokus kedepan, ia sudah memikirkan jawaban yang tidak akan memberatkan dirinya jika nabil sampai berkata jujur megenai asal usul barang tersebut.
“Saya… dapatkan dari teman Saya. selanjutnya bapak bisa tanyakan itu ke pengacara saya.”
Syifa menyernyit mendengar jawaban pria yang membelakanginya.
“Baiklah, lalu akan di edarkan kemana barang tersebut.”
“Saya bukan bandar, Pak. saya cuman pemakai!” bantah Nabil, ia menatap pengacara dan pengacara diisinkan menyampaikan pembelaan.
Inti dari persidangan hari itu adalah, barang seberat 1,5 kg sengaja dibeli nabil untuk stoknya. dari pernyataan tersebut, nabil mendapat dakwaan pengguna berat. sementara syifa dibuat bingung, untuk apa nabil berbohong, apa Pria itu belum benci dan masih ingin melindunginya?
Persidangan sementara ditutup, semua pulang. Aska dan Syifa pulang menggunakan mobil Wilyam. cukuo lama keduanya diam dalam fikir masing masing.
“Jika pernyataannya terus seperti ini, itu artinya pernyataanku tidak di perlukan lagi disana, Ka. bagaimana bisa aku dibenci." kata Syifa.
“Sepertinya Dia sudah membencimu,” balas Aska, “apa kamu tidak lihat bagaimana cara dia menatapmu tadi?”
“Aku lihat, tapi itu masih bisa berubah. Aku ingin dia benar-benar membenciku dan tidak peduli tentangku.”
Saat ini syifa meyakinkan diri sendiri untuk tidak menyesali rencana yang ia buat. meskipun sadar ini adalah kekejaman, namun bukan keadaan seperti ini yang ia harapkan atas rencana pelaporan nabil. ia ingin mengetahui tiap persidangan dan memastikan sendiri bahwa pria itu benar membenci. namun dugaannya berbalik, nabil malah membela seakan tak membiarkannya memberi kesaksian.
Hari berlalu, entah sudah berapakali persidangan nabil digelar, ia tidak tahu. ingin pergi namun petugas seakan disogok untuk tidak diberitahu tanggal dan ruangan pelaksanaannya. meminta pada keluarga nabil ataupun Eky juga membuatnya segan.
Namun disebuah toko perbelanjaan ia tak sengaja mendapati Eky. ia ingin menghindar tetapi pria itu menyadari dan menghampirinya.
“Jika ini soal sahabatmu, Aku akan pergi," ancamnya sebelum pria itu menyampaikan perlu.
“Kenapa kamu sekejam ini padanya?” Hardik Eky, ia segera menghadang ketika syifa ingin pergi, "Kamu akan menyesali rencanamu ini!”
“Tidak akan.” balas Syifa memelototi.
“Dimana perasaanmu!? apa kamu tidak lihat betapa tersiksanya dia! apa kamu tidak merasakan perjuangannya ketika dia mencarimu!?" Eky menghela menstabilkan napas, ia sungguh geram sahabatnya diperlakukan seperti itu.
"Jika kamu sulit merasakan, coba bayangkan jika kamu ada diposisinya. mencari keberadan seseorang demi kebahagiaan orang itu sendiri! berusaha menemukankan meski mengorbankan masa depan! nabil terlibat barang itu karena dia.. mencarimu, Fa. tapi apa yang kau balas, kamu malah membuatnya dalam masalah!"
Setiap kalimat Eky membuat Syifa bisa merasakan apa yang dirasakan nabil, tapi ia tak boleh lemah dihadapan pria itu, ia harus kelihatan tega.
“Menyingkir atau kusuruh orang menyingkirkanmu!”
Eky geleng geleng kepala, “Aku yakin, kamu akan menyesal, Fa.” Eky memilih berbarik dan pergi.
__ADS_1
“Jangan mengira Aku akan meyesal melakukan itu padanya! asal kamu tahu, Aku lakukan itu untuk kebaikannya juga!” teriak Syifa.
Belum genap beberapa langkah Eky kembali berbalik, “kebaikan seperti apa yang akan dia dapat jika kamu melibatkannya dengan polisi, huh!?”
Syifa terdiam, kekesalan atas kalimat Eky hampir saja membuatnya memebeberkan alasan sebenarnya.
"Kamu tidak tahu 'kan, kemana dia akan pergi hari itu!" ujar Eky, “Dia akan melakukan rehab, dan kamu malah menjebakknya!?”
Syifa mematung mendengarnya, sementara Eky menghampiri kembali.
“Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya dia mengambil keputusan ini disaat kamu menjauhi. bagaimana takutnya dia terciduk polisi sampai ingin melakukan rehab yang menurutnya paling menyiksa," Eky tersenyum masam, "tapi kamu malah membuat polisi mendatanginya.” lirihnya dengan suara bergetar.
Syifa lekas menyebik sebelum air mata berdesakan menggenang. ia sungguh tidak tahu alasan nabil pergi ke bendara, kalau saja ia tahu, masih banyak cara lain agar membuat pria itu membenci. tidak harus melibatkan polisi yang membahayakan dirinya maupun nabil.
“Kebaikan seperti apa yang akan dia dapatkan, Fa? pengadilan akan memberatkannya, bahkan bisa saja dia di hukum mati.”
Syifa mengedip mebiarkan air matanya tumpah begitu saja, ia mendongak, "kenapa dia nggak bilang kalau mau rehab!” seraknya
“Karena dia ingin memberimu kejutan," balas Eky yang spechis dengan air matanya, "Dia baru ingin mengatakan itu jika sudah berhasil nanti."
"Astagfirullah...," Syifa memejam menyesali penjebakan yang melibatkan hukum, ia sungguh menyesal, “Aku akan membantunya keluar.”
"Gimana caranya, Fa!" tampik Eky, "itu gak mungkin."
“Aku akan berkata jujur. Aku yang menaruhnya dan Nabil bisa bebas_" gelengan pria itu membuatnya memangkas kalimat.
“Sudah terlanjur, Fa," kata Eky "percuma kamu menghadap, itu tidak akan meringankan hukuman nabil.”
“Kenapa?”
“Dia sudah mengaku sebagai bandar.”
Syifa terbelalak, ia membungkam mulutnya tak percaya. setetes air mata kembali mengalir tanpa kedip.
“Dia ingin mengikuti rencanamu, untuk membenci.”
“Apa dia sudah membenciku?”
“Sangat.”
“Lalu kenapa dia tidak berkata jujur mengenai asal usul barang itu? kenapa dia tidak berkata kalau aku pemilik barangnya?” cecar syifa dengan nada bergetar.
“Karena dia ingin membencimu dengan caranya, bukan dengan rencana kejam seperti yang kamu buat. dia benar benar ingin menghapus kenangan tentangmu, Fa. jika berkata jujur, itu sama saya ia akan terlibat denganmu sedang ia ingin menjauhi itu.”
Bagaiman mungkin ia tak sedih ketika Pria yang ia cinta benar benar ingin menjauhi dan tak ingin mempedulikan. bukti kesal yang sebenarnya adalah, tak ingin terlibat dengan apapun yang membuatnya kesal.
Dibalas kekejaman, mungkin syifa akan menerima jika nabil membalasnya seperti itu. tapi dibalas dengan kebaikan, apa ia sanggup mengaggap dirinya tak bersalah?
-Bersambung.
__ADS_1
Ini autornya masih belajar, yah! jadi klo ada yang kurang greget, atau apalaha, mohon banhet kasih sarannya. biar ceritaku bisa lebih baik lagi, terimah kasih untuk kalian semua.