Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
sedikit bersemi


__ADS_3

Sanas segera membungkam mulut menyadari suaranya keras.


“Siapa yang dilamar!?”


Namun percuma, kehebohan wanita yang tak jauh dari tempat duduk mereka malah memperjelas sehingga menjadi perhatian penghuni ruangan.


"Sanas!” syifa yang ingin mencari aman segera menunjuk sanas, namun ia segera meralat, lupa jika wanita itu sudah menikah, "Eh! adiknya Sanas maksudnya yang mau nikah, iya 'kan Nas?


“Hem? ah, iya. adikku mau menikah.” gelagap sanas.


Beberapa dari mereka mulai mengucapkan selamat pada sanas dan sebagian lagi ada yang mengabaikan termasuk nabil. senyum kikuk yang terulas diwajah Syifa lebih mearik perhatiannya apalagi ketika wanita itu menghindari tatapannya.


Sepulang dari Maxgrub, syifa tak lagi kembali ke kantor. ia masih canggung jika harus bertemu ilham. namun sampai dirumah, tante mirna ternyata sudah tahu lamaran itu dari om rudy, ia diminta menerima saja lamaran ilham. syifa menolak tegas, namun tante mirna memberi saran agar dia istiqarah dulu.


Maka ketika kesunyian malam datang, ia meminta petunjuk pada Rab-nya. masih rasa yang sama, ia ragu. tapi takut menolak jika memang ilhamlah takdirnya. setelah menimbang nimbang, ia akhirnya mengetikkan pesan untuk pria itu.


//Maaf jika kalimatku tadi ada yang melukai perasaanmu. tapi sungguh ilham, aku lebih nyaman kita sebatas teman kerja. tapi beri aku waktu untuk memikirkannya, karena disamping itu aku takut mengabaikan takdir allah.//


//Mulai besok kamu sudh resmi keluar dari ifacroups.//


Dua pesan sudah terkirim, ia tak mengharapkan balasan saat itu juga. namun sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.


//Besok, 8 pagi. datang ke kafe mulya. ini penting!//


//Ini siapa?//


//pemilik maxgrub//


Syifa diam sejenak, ia sedang menyangkal itu adalah nabil. tidak mungkin seorang nabil mengirimi pesan. pasti ini orang yang coba menjebak atas nama perusahaan itu.


**


Tepat jam setengah 8 ia sudah berada di kantor. sesuai harapan, ilham pasti sudah membaca pesannya. ia mengangkat kariawan lain sebagai asisten sementara. ditengah menjelaskan apa yang harus dilakukan asistennya, ponselnya terus berdering dari nomor yang semalam.


“Mau kerjasama Maxgrub dengan ifacroups dibatalkan!!”


Pekikan yang pertama kali ia dengar ketika menjawab panggilan, ia memicing mengenali suaranya, “jadi nomor ini bernar terhubung dengan Maxgrub?”


“Bukan Maxgrub, tapi pemilik perusahaannya!”


Bibirnya sekali lagi menyebik, “maaf, Pak. saya pikir ini nomor penipu.” ia sudah terbiasa memanggil nabil dengan sebutan ‘pak’ untunya profesional.


“Kalo kamu mau kerjasama ini batal, jangan datang sekarang juga dikantorku!”


Syifa lekas menatap ponsel ketika mendengar nada panggilan terputus. ia terdiam, namun tak lama matanya membualat usai mencerna maksud kalimat pria itu.


**


Heran, penasaran, kesal, dan aneh. syifa masih merasakan itu meski sudah berhadapan dengan nabil. ruangan yang cukup luas tapi membuat pergerakannya terbatas apalagi saat mata tajam pria itu mengacu padanya.


“Aku minta sekarang kamu ubah stiker logonya.”


Ia terkesiap dengan permintaan Pria itu, “tapi, pak__”


“Gak ada tapi tapi!” sela nabil, “sekarang juga, kerjakan itu disana..”


Syifa berbalik mengikuti arah telunjuk pria itu, “di kursi?” ia menatap bingung. hanya kursi, apa mungkin ia duduk dilantai dan menaruh laptopnya disana. tidak masalah jika dirumah, tapi untuk diruangan ini?


“Ambil kursinya…. terus kamu kerjakan dimeja ini,” nabil menepuk meja dihadapan, “biar mudah aku mengkoreksi dan kasih ide langsung.” lanjutnya ketika syifa memicing curiga.


“Tapi sama seperti Maxgrup, Pak. Ifacroups dan perusahan lainnya juga punya kariawan yang sudah ditentukan tugasnya. dan untuk proyek logo ini, kariawan saya juga ikut berkoordinasi, jadi kami punya tempat sendiri untuk memperbaruinya.”


“Tapi produksi Ifacroups yang ini… berkoordinasi dengan Maxgrup, selaku perusahaan yang paling berpengaruh dalam kerjasama New Vaction. tahu 'kan?”


Tak lagi membantah, Syifa memilih diam. ia hapal betul akan berakhir apa pertengkaran ini ketika pria itu sudah membawa keangkuhannya.


“Baik, pak.” dengan malas syifa berdiri mengambil kursi. pandangannya bertemu pada pria yang duduk santai memainkan gawai. bukan sebagai asisten, Eky lebih terlihat sebagai kawan bos.


Setelah merapatkan kaki kursi di samping meja nabil, syifa duduk dan mulai meriview ulang logonya. bukan hal yang rumit, tapi ketika pria itu meminta mengganti karekter semut menjadi, bal. spider menjadi elang, dan berakhir pada scorpion, ingin membutnya menjambak.


“Itu ekornya kenapa warna ping?”


Suara yang sudah hilang hampir 20 menit lalu kembali menyadarkannya berada dimana. syifa mendekatkan mata pada layar yang sudah ia serongkan, “semuanya merah kok, Pak.”


“Enggak. itu ujung ekor ada pingnya.” nabil menggeser kursi untuk mendekat ke layar.


“Bukan_”


“Aduh!” pekik nabil ketika ujung kepala syifa menjedot bibirnya saat wanita itu hendak menegakkan kepala. ia kemudian menyebik seraya memelototi syifa yang coba menerka apa yang menyentuh kepalanya tadi. “kenapa!?”


Syifa lekas menggeleng dan kembali menatap layar, ia memiih mengabaikan saat pria itu balik menantang, “oh! ini..” ucapnya ketika melihat warna ping, ia lekas memperbaiki dan melanjutkan desainnya.


Namun ada yang aneh, tak ada respon penyalahan dari nabil membuat ia penasaran apa yang di fokuskan pria itu.


alisnya tersentak ketika nabil masih menatap. degup jantung itu mulai berpacu kuat dan tertekun menyadari pandangan nabil yang berbeda dan sulit diartikan. ia segera menunduk sebelum grogi semakin membuatnya canggung.

__ADS_1


“Gak usah gr!”


Belum sempat menstabilkan jantung, ujaran pria itu kembali membuatnya mendogak. ia kesal, dan tak terima. tapi bingung harus bersikap apa.


“Aku liat gitu karena kamu ada beleknya.”


“Huh!” Syifa gelagap membuang muka dan membersihkan bekas kantuk. sementara pria yang membuatnya merasa malu sedang menggrutu gemas dalam hati.


“Hari senin, kita bahas perbaruannya lagi.”


Syifa kembali menghadap dan menatap bingung, “sekarang juga bisa_”


“Senin!” tegas nabil, ia sedikit memiringkan kepala sebagai ancaman.


“Baik, pak.” tanpa sepatah kata lagi syifa lekas berdiri dan mengemasi barangnya kemudian pergi dengan menghela berat.


Langkahnya menuju parkiran terjeda ketika mendapat panggilan dari tante mirna, ia lekas mengangkat dan mempertanyakan perlu sembari menghampiri mobil putih yang pintu belakannya baru saja di buka oleh pria bernama pak anton yang dia pekerjakan sebagai supir semenjak ilham pergi. binar kekesalan berubah murung usai panggilan itu tertutup.


“Ada apa, Non?” sapa pak anton.


Syifa hanya membalas dengan senyum simpul kemudian masuk mobil, “langsung ke kafe mulya yah, pak.” pintanya usai pak anton duduk di kursi kemudi.


“Baik, Non.”


**


Persis dengan perkiraannya. meja yang memiliki 4 kursi itu diisi oleh tante mirna, pak rudy, dan juga ilham yang terus mengulas senyum menantinya duduk dihadapan.


“Assalamu alaikum, Om.” sapanya pada om rudy kemudia berganti menatap ilham tak nyaman, canggung, bingung, dan perasaan carut marut lainnya.


“Nakan siangnya mau menu apa, Nak?” pertanyaan tante mirna membuat syifa menoleh dan menyampaikan pesanan pada pelayan.


Setelah semua menu tercatat, kembali kesunyin dimeja itu mengisi. barulah ketika pesanan datang yang disela menyantap, om rudy kembali membuka percakapan ringan dan berakhir mengenai lamaran putranya ketika makanan terselesaikan.


“Ilham tidak terburu buru, nak. kamu juga masih punya waktu untuk berfikir. tapi disamping itu….” pak rudi menoleh pada putranya untuk melanjutkan kalimat.


Ilham mengagguk kemudian mereogoh sesuatu dalam saku celana. ia menatap sorot hambar itu dengan kesenduhan, “cincin yang sama,” ungkap ilham, “bukan maksud aku memaksamu dengan ini. aku tidak memintamu memakainya sekarang. nanti, ketika kamu mulai yakin denganku."


Banyak kesempatan syifa untuk berbicara, namun sekali lagi lidahnya begitu kelu dan hanya menghespresikan kata lewat wajah. kotak cincin yang menggantung dihadapan kembali ia tatap ketika pemilk tangan itu bersuara.


“Simpan saja dulu, yah!” ilham mengalihkan cincin itu pada tante mirna. wanita itu menyambutnya.


“In sya allah, nak ilham. klo memang jodoh pasti ada jalan,” ujar tante mirna sembari memasukkan cincin itu dalam tas syifa. syifa hanya membiarkan dengan beberapa keresahan berkecimpung dalam fikirannya.


Namun disisi lain, ia memang butuh sosok seperti ilham. apalagi tante mirna terus mendotri mengenai kesungguhan pria itu. memang tidak ada yang buruk, hatinya saya yang masih tertutup.


Ting!


Sebuah notifikasi membuat syifa lekas bangkit dan mengambil ponsel diatas nakas. alisnya tersentak membaca pesan dari nabil. ia terpaksa menelpon nomor itu sebab nabil sudah off.


“Kenapa harus miting sekarang? bukannya tadi siang bilangnya hari senin?” kaimat yang pertama kali ia lontarkaan ketika pria itu menerima panggilan.


“Mendadak!” balas nabil, “alamat kafe sudah aku kirin di WAa. aku sama Eky, kamu boleh bawa asistenmu juga klo takut.”


Belum sempat ia menyangga, panggilan itu sudah mati. ia hanya bisa menghela kesal, bagaimana bisa mengajak asistennya malam malam begini. dengan malas syifa terpaksa meminta pak anton mengantarkannya ke kafe yang dimaksud.


Kedatangnnya langsung disambut oleh seorang pelayan Kafe yang kemudian mengarahkannya ke meja kusus. syifa duduk dan terus menunggu setengah ngantuk. ehtah sudah keberapa kalinya menguap, akhirnya 2 pria yang ditunggu datang. eky duduk dihadapan sementara satu pria lainnya menarik kursi untuk duduk disamping.


“Sudah sampai mana desainnya?” kata nabil ketika syifa menatap terkejut. “focus ke layar!” tengasnya.


Syifa lekas menegakkan duduk dan memperlihatkan desain, “masih sama yang tadi. belum sempat buka laptop.”


Nabil geleng geleng kepala, "pemalasan."


"Itu karena aku yang diminta kerjain sendiri, pak. klo sama kariawanku, sejam juga bisa. cuman sebagai pemilik Ifacroups , aku juga ada kesibukan lain.” cecar Syifa yang tak terima cibiran itu.


"Oh, Mulai sombong.”


Keksalan yang belum tuntas Syifa redakan, tapi matanya masih enggan berpaling.


“Saat ini dia berbeda, Fa. ingat, nabil dan kamu harus professional sebagai parter kerja. jangan serap begitu saja singgunannaya, itu adalah penyemangat. jangan harapkan pembelaan lagi.”


“Kamu pesan apa?” tanya nabil pada eky setelah memanggil pelayan. eky yang sedari tadi asyik memainkan gawai mendongak.


"Avocado.”


Nabil mengaguk kemudian beralih pada wanita di sampingnya, “gak pesan?” ia mendapat gelngan dari syifa. nabil menatap pelayan, "avocado 2, orens jusnya satu yah, Mba.”


Kursol yang bergerak tanpa tujuan rehat sejenak mendengar permintaan pria itu pada pelayan. kepalanya sedikit menoleh agar dapat melirik, tak disangka nabil ternyata sudah menunggu tatapan itu.


“Masih suka orens jus, kan?”


Syifa mengagguk kikuk, tak menyangka nabil masih mengingat kesukaannya.


Pria itu memalingkan pandangn pada eky dan mulai membuat pembicaraan yang tentunya tidak melibatkan wanita yang pura pura focus menatap layar.

__ADS_1


Tak terlalu banyak perubahan yang Syifa lakukan, namun pikirannya sangat keras berfikir menganai sikap yang kadang peduli, menentang, meremahkan, membuatnya bingung. sama seperti ketika larut malam ini, ia sangat kesal ketika 2 pria itu meninggalkannya di kafe begitu saja tanpa membayar pesanan.


Setelah membayar, dan laptor dimasukkan dalam tas, syifa segera menuju mobil. namun ditengah perjalanan langkanya berubah pelan ketika mendapati ilham berbincang dengan pak anton.


Pria itu menyadari keberadaannya dan segera menghampiri dengan menawarkan agar bawaannya dialihkan padanya.


“Gak apa. aku sudah biasa bawa ini,” tolak syifa menarik pegangan tas ketika pria itu meraihnya. namun Karena ilhan terlalu kuat, membuat syifa menghela.


Tanpa disadari, langka beriringan itu membuat seorang pria berkacama hitam di salah satu mobil yang masih terparkir memangku dagu dengan tatapan yang mendalam. namun belum sampai menikmati rasa, tatapan itu lekas berpaling ketika mobil yang ia tempati melaju.


“Ky! kan belum kusuruh jalan!” protesnya.


“Membatasi adanya clbk!” ujar eky melotot, ia kembali menatap jalan tak memedulikan elakan sahabatnya bahwa ia tidak akan memiliki perasaan seperti itu lagi. semua pembelaan nabil hanya dibalasnya bulsit dalam hati.


**


Hari berganti, tapi alasan nabil menelpon dan mengirimi pesan masih sama. semua tentang masalah pekerjaan yang bisa saja diwakilkan melalui staf, namun pria itu malah turun tangan sendiri dengan berbagai alasan konyol.


Hingga hari senin yang ia tunggu akhirnya tiba. desain logo yang kelihatan simple namun penyusunanya yang berbelit akhirnya dipresentasikan untuk kelancaran percetakan.


Setelah semua puas, syifa duduk dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. namun keriangan itu perlahan sirna saat sanas memberitahu jika pemilik Maxgrub memperhatikan dirinya. tapi syifa mengabaikan dan kembali menyalurkan rasa bahagia.


Ting!


Sebuah pesan membuat kepalan tangan karena bahagia itu mekar untuk merengku ponsel di atas meja panjang yang memiliki 12 kursi.


//Setelah ini, temuin aku di ruanganku.//


Syifa lekas menoleh ke ujung meja. namun pemilik pesan itu sudah berlagak focus mendengarkan presentasi dari perusahaan lain.


**


10 menit setelah miting selelai, barulah syifa ke ruangan nabil usai mendapat ancaman dari ponsel sebab sebelumnya ia mengabaikan dan memilih berbincang dengan sanas. pintu langsung terbuka saat jarak sekitar 2 langkah.


“Permisi, pak.” sapa syifa pada nabil yang duduk memunggunginya. sedetik kemudian pria itu memutar kursi dan memintanya duduk. tidak seperti sebelumnya, sudah ada kursi yang tersedia didepan meja pria itu.


“Apa presentasenya ada yang kurang puas, Pak?” tanya syifa.


Bukannya menjawab, nabil justru menatap cincin dijari manisnya, “sejak kapan kamu suka pakai cincin?”


“Hem?” Ia tidak terlalu dengar gumanan nabil, namun melihat kemana focus tatapan pria itu membuat syifa lekas menurunkan tangannya dari meja, “bapak panggil saya karena apa?”


“Gak usah sok ngalihin perhatian. Aku tanya tadi, sejak kapan suka pakai cincin?”


Syifa diam sejenak, ia tidak mungkin berkata jujur. “sejak kapan atau engga, saya pikir itu tidak ada hubungnnya dengan pekerjaan, Pak. sekarang kita sebatas teman kerja, jadi saya anggap anda tidak perlu tahu tentang saya yang bersifat pribadi.”


Nabil tersenyum sinis, “semua kepribadianmu sudah aku tahu, Fa. jadi untuk apa aku menggali lagi. aku cuman tanya itu.”


“Itu artinya kamu masih kepo ‘kan tentangku?” syifa tak bisa berbicara formal lagi ketika pria itu tak menyematkan kata Bu untuk namanya.


“Kepo?” ulang nabil, “mungkin saja. karena aku mengawatirka pria yang akan mendampingi wanita seegis kamu.”


Syifa memicing, “kamu masih dendam?”


“Kamu pikir mudah aku melupakannya?”


Nabil malah balik bertanya sementara syifa terdiam pasi mengingat luka itu memang menyakitkan.


“Sekali lagi aku minta maaf soal itu, Bil.” kata syifa terbata, “aku sudah menyesali. tapi seandainya kamu tahu jga selama aku melakukan rencana itu… aku juga tersiksa harus menyecewakanmu. karena semua ada alasannya.”


“Tapi alasanmu konyol,” timpal nabil, “karena lia. karena orang tua, karena aku. lalu kebahagianmu?”


“Bahagiaku melihat mereka bahagia.”


Nabil tersenyum masam, ia mengambil ponsel kemudian menunjukkan layarnya pada syifa, “aku memanggilmu karena ini.”


Syifa sedikit mendekat, dan mulai membaca pesan terakhir yang dikirimkan nabila di ponsel nabil. setelah memahami, ia menatap pria itu.


“Aku harap, kamu juga mau berkorban untuk ketenangan nabila disana,” nabil menarik ponselnya dan menatap 2 bola mata yang mulai sendu itu dengan tegas, “aku melamarmu.”


Hanya mematung, tanpa di pinta air mata itu mulai mengalir.


“Kamu tidak perlu terharu. ini permintaan terakhir dari wanita yang aku cintai bukan dari hatiku.” lanjut nabil tak mau wanita itu mengaggapnya masih mencintai.


Namun syifa malah berdiri dan beranjak pergi. sikapnya yang pergi tanpa sepatah kata pun membuat nabil bingung dan ikut berdiri, ia sedang mengingat kalimatnya apakah ada yang sangat menusuk. tapi semua hal yang lumrah, syifa sudah tahu ia perna mencintai seorang wanita setelahnya.


Sementara disebuah Lif yang hanya diisi seorang wanita, pemilik mata yang semakin memupuk cairan bening itu merapatkan diri dalam lantai, menikmati sesak.


“Kenapa baru sekarang,” ia menumpukkan tangannya diatas lutut, menatap hambar cincin yang melingkar dijari manisnya.


"Tanggal pernikahan sudah terencana, Bil”


-Bersambung.


Ig @airaannur_

__ADS_1


__ADS_2