Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Bocah ga da ahlaq.


__ADS_3

Keesokan harinya....


seperti kemarin Shifa berangkat ke TPA lebih awal. pengetahuan Nabil yang mengetahui Nama dan Alamatnya mebuatnya sangat penasaran. selain itu ia juga ingin tahu mengapa pria itu mengatakan kepada orang tuanya bahwa Lia yang ia tolong.


baginya itu aneh, apa motif pria itu berbohong, padahal sama sekali mereka tidak mengenal satu sama lain, apalagi mengenal keluarga Nabil. "mengapa ia harus berbohong?"


beberapa muridnya sudah datang, mereka langsung masuk saja usai memberi salam kepada Shifa yang tengah duduk di tangga mushollah.


beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna shilver masuki halaman mushollah, Shifa memicing, "mobil siapa ini? ini bukan mobil intan."


Shifa terbelalak ketika melihat seorang pria rentah dengan tongkat di tangannya baru keluar dari mobil itu dan menatap ke arahnya penuh kesal.


"Ya Allah, kenapa pemilik tanah itu datang lagi," Shifa menghampiri pria yang sudah berusia sekitar 70 tahunan.


"Assalamu Al-"


"Berapa kali saya bilang! jangan mengajar lagi disini!!" teriakan pria itu membuat Shifa tidak berani melanjutkan salamnya.


"Maaf pak santo, tapi tempat ini juga kan belum bapak kelolah jadi sayang klo tempat ini di kosongkan. lagian saya juga pkenya juga untuk mengajar pak,"


"Bagaimana cara saya mengelola sedang kalian selalu datang kesini? kamu pikir saya tidak tahu, kamu selalu meminta belas kasihan pada pekerjaku!! hah!?"


Shifa menunduk, itu mamang benar setiap pekerja proyek datang ketempat ini, ia dan murid muridnya selalu meminta belas kasihan.


"Apa saya harus merobohkan semua bangunan ini dulu? agar kalian benar-benar tidak datang lagi!"


Santo menunjuk ke belakang Shifa "termasuk moshollah kecil itu," lanjutnya membuat Shifa mendongak.


"Pak, bukannya tanah di atas Mushollah itu sudah bapak wakaf kan? kenapa harus di gusur juga?"


Shifa menyatukan kedua telapak tangannya,


"Banyak warga disini yang beribadah di sana, pak, saya mohon jangan gusur rumah Allah."


"Ya sudah! kosongkan gubuk itu," Santo menunjuk TPA "jangan halangi pekerja saya!" lanjutnya.


Berat, Shifa terpaksa mengangguk "Bai-"


"Hey pak tua!!"


Suara menggelegar dari tepi jalan, itu Lia yang sudah bosan mendengar, ia menghampiri Shifa dan pria paru baya yang berkumis tipis itu.


"Lia, kamu mau apaaa?" bisik Shifa ketika melihat Lia berani berdiri didepan santo bahkan menatap mata pria itu.


"Hey bapaak, kita ketemu lagi. anda masih tau kan siapa saya?" Lia menjulurkan tangannya "Lia, putri dari bapak Lee jung dan ibu Maria pemilik perusahaan Autho xx dan cabang cabangnya."


namun bukannya tegang, santo malah menyunggingkan senyumnya.


"Saya sangat tau itu Non Lia.., bahkan saya juga tahu kamu dan kakakmu itu sudah tidak di pedulikan lagi sama bos besar anak saya."


Santo tersenyum masam "mau mengancamku pke apa?"


Lia terbelalak "waduh secepat ini, bagaimana saya melawannya?"


"Hey anak muda, sudah saya bilang pergilah! ini tanah saya, milik saya. untuk apa kalian mempertahankan tanah orang!!" bentak santo ke dua wanita yang bergeming itu.


"Ba.. baik, kami akan pergi pak." kata Shifa kemudian mengajak Lia, namun gadis itu malah berbalik lagi ke pak santo.


"Maaf pak santo, yang terhormat.


seharusnya anda memikirkan nasib anda di akhirat," Lia memicing "Saya lihat kulit anda ini sudah sangat mirip sekali dengan tanah."


"Hey apa maksudmu!?" perasaan santo mulai tak enak.


Lia ganti memandang shifa "Kak Shifa, apa itu tandanya sebentar lagi dia akan benar benar menyatu dengan tanah ini? Uups!!"


"Ya ampuuun kasian sekali nasib bapak ini,


iya pak ambillah tanah ini, kami tidak membutuhkannya, karena mungkin anda lebih membutuhkan tanah luas untuk melapangkan kuburan anda."


"Apa kau bilaang?!!"


"Ambillah pak, kami kira anda akan membutuhkan Do'a jariah kami nanti. tapi sepertinya bapak lebih membutuhkan tanah ini. saya tahu nanti kuburan anda akan sempit karena saangat pelit."


"Ya ampun, Liaa, kamu menambah perang" shifa hanya bisa meringis ketika melihat wajah santo merah usai mendengar kalimat Lia.


"Dasar anak kurang ajar!!"


Santo hendak mendatangi Lia, namun sebuah mobil yang baru memasuki halaman Mushollah menjadi perhatiannya, sedang Lia sudah bersembunyi di belakang Shifa.


"Tante sarah?"


Sarah dan intan keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Assalamu Alaikum." sapanya.

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


Sarah menyernyit mendapati Lia bersembunyi di belakang Shifa. ia mengikuti pandangan Lia yang ketakutan.


"Loh! pak Santo?"


"Iyah Bu Sarah, apa kabar?" sapa Santo ramah.


Sarah tersenyum "Alhamdulillah baik, pak.


pak santo kenal mereka?" seraya menatap dua wanita muda yang berdiri di sampingnya dengan wajah terheran dan cemas.


"Mereka ini yang selalu menggagalkan proyek yang akan di bangun pak Fariz buk," kata Santo.


"Memangnya proyek apa? sampai mereka menyusik kalian?"


"Kami akan membangun taman bermain di atas tanah gubuk tua itu dan mungkin juga di atas tanah Mushollah ini,"


"Jadi kalian akan menggusurnya?"


"Tapi mereka selalu mengagalkannya, buk" jawab Santo, kemudian menunjuk Lia dengan tongkatnya "terutama anak ini, dia sudah tidak sopan!" seraya menatap Lia penuh dendam.


"Maaf bu sarah, kami tidak bermaksud begitu, gubuk ini sudah lama tak terpakai, jadi saya gunakan untuk mengajar anak-anak yang mungkin kurang mampu." kata Shifa menunduk.


"Iyah tante, bukannya itu pahala." tambah Lia.


Sarah terseyum, ia kemudian menatap pria bertongkat didepannya.


"Saya ingin anda merombak gubuk tua itu secepatnya," pinta sarah, membuat dua wanita di sampingnya itu terbelalak.


"Bukannya anaknya juga ngaji disini? kenapa ingin di gusur?" batin Lia.


"Baik buk, tentu saya akan mengurus semuanya, seecepatnya." kata santo tersenyum menang.


"Maafkan kami bu Sarah, tapi bisakah kami masih menggunakan gubuk itu sambil menunggu alat berat datang menghancurkannya?" pinta Shifa ragu.


"Tentu, kamu masih bisa mengajar disini." kata sarah "kamu bisa mengajar di Mushollah dulu sambil menunggu bangunan yang saya bikin di sana." sarah menunjuk ke gubuk itu.


"Apa maksud Bu sarah?" tanya shifa.


"Saya akan membangun tempat mengaji untuk kalian yang lebih layak."


"Alhamdulillah..." ucap Lia dan Shifa.


"Tapi Bu--"


"Dan pak Santo, jika anda ingin mendapat keuntungan lebih, saya harap anda bisa membantu pangunan ini."


"Ah tentu Bu, saya akan bekerja keras." kata santo semangat.


"Baik."


Santo pun pergi, meski menggunakan tongkat, tapi pria paru baya itu selalu terlihat bugar dan sehat sehat saja.


"Terimah kasih Bu sarah mau membantu kami," kata Shifa.


Sarah hampir terkekeh, "jangan terimah kasih, Anak saya juga ngaji disini loh!"


Shifa dan Lia hanya tersenyum.


"Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, itu saja. selagi saya mampu." lanjutnya.


"Beda banget sama anaknya." Lia melirih intan yang berada tak jauh dari sarah yang terus menunjukkan wajah sinis kepadanya.


"Kamu apa kabar Lia?" tanya sarah.


"Alhamdulillah baik, tante." jawab Lia "Tante sarah, mumpung kami disini saya mau meluruskan sesuatu."


Sarah menyernyit "apa itu Lia?"


"Sebenarnya..., yang di tolong anak tante waktu itu kak Shifa, bukansaya tante."


"Oh jadi bener nak Shifa ini yang ditolong." sarah menoleh ke shifa.


Sifa mengagguk.


"Saya tidak bermaksud bohong waktu itu, cuman saya kira itu hanya pertemuan terakhir kita jadi saya membenarkan saja pernyataan anak tante, maaf tante" kata Lia.


"Kamu gak perlu minta maaf, ini memang rencana anak saya, saya juga gk tau apa alasannya berkata seperti itu dan kenapa dia mengatakan namamu Shifalia."


"Shifalia?" Ucap shifa dan Lia.


Sarah mengangguk, "Anak saya yang menagatakan itu."


Shifa dan Lia saling memandang "mencurigakan" arti tatapannya.

__ADS_1


"Kak Shifa? Ayo ngaji" ajak intan.


"Klo begitu kami pamit dulu tante, assalamu alaikum."


"Waalaikumussalam."


Selesai mengaji, semua murid pun bersalaman ke shifa, shifa terus menoleh ke intan melihat ekspresi anak itu, apakah kesal karena menahannya.


Setelah semua keluar, shifa mendekati intan yang dari tadi berdiri di pintu.


"kak Shifa mau ngomomg apa?" kata intan.


"Kakak gak pernah liat kakakmu intan, dia kemana emang?"


Intan tersenyum, "dia ke jakarta kak,"


Jawabnya "waaah kayaknya kak shifa suka nih sama kak nabil," batinnya.


"Berapa lama?" Tanya shifa ragu.


"Seminggu lagi kak."


"Hah!  Duuh Kok lama banget?"


Intan terkekeh, "besok lusa deng dia baru datang," kata intan membuat shifa bingung.


"Yang bener yang mana sih intan?"


"kak shifa deket sama kak nabil sejak kapan sih? Kok sampe rindu banget." Intan mengabaikan pertanyaan shifa.


"Kamu jangan salah paham dulu intaan, kakak nanya ini karena ada urusan."


"Eheem! urusan apa yah kak? gak bisanya kak nabil berurusan sama cewek." Goda intan.


"Untung anak kecil," batin shifa.


"Ituu-"


"Heh, Bocah! kakakmu itu yang ambil motorku!"


Shifa dan intan menoleh kepemilik suara itu. Lia yang duduk di teras menunggu shifa mengiping pembicaraan mereka.


"Kau pikir kakaku itu maling!?"


"Nih anak! sopan dikir napa' " Lia berdiri dan menghampiri intan, "iya kakakmu itu maling! Pencuri!"


"Mamaaa!" Teeriak intan.


Panik! Lia membungkam mulut intan dengan tangannya, namun intan malah menginggigitnya.


"Akan ku lapur kamu sama kakakku! klo dia pulang!" ancam intan, kemudian meraih  mencium tangan shifa "Assalamu alaikum kak."


Intan berbalik dan berhenti tepat dihadapa Lia yang masih mengadu sakit, ia menatap wanita itu penuh kebencian begitupun dengan Lia ia juga menunjukkan wajah kesalnya.


Drek!!


"Auuuh!!" Pekik Lia, ketika intan menginjak kakinya "Dasar bocaaah!!" Teriaknya.


"Dasar murut mercon!!" Balas intan, ia menjulurkan lidanya mengejek Lia.


"Kau--"


Intan segera berlari ketika wanita itu hendak melemparnya dengan sandal.


Shifa terkekeh melihat atraksi didepannya, "Udah udah, ayok pulang." Ajaknya masih menahan tawa.


Lia menarik napas dalam dalam dan memghembuskannya menahan marah, "untuk gak kumat." seraya memegang dadanya.


"Klo kumat emang kenapa?"


"Mungkin aku udah mati."


"Eh gak boleh kek gitu."


"Biarin, biar ku gentayangin tuh bocah!" kata Lia masih menatap kesal intan yang sudah naik ke mobilnya.


Shifa kembali terkekeh, "namanya juga anak kecil Lia..,"


"Iyah, anak kecil gak ada Ahlaq!" Lia berjalan mendahului shifa.


"Seru nih!"


-Bersambung


Jangan lupa LIKE, KOMEN, BINTANG 5 dan VOTE sebanyak banyaknya yah!

__ADS_1


Terimah kasih


__ADS_2