
Semenjak lamarannya digantung, nabil selalu tak tenang dan ingin menghubungi syifa. namun keraguan dan kecanggungan sering membuatnya urung tak menjamin paggilannya dijawab dan dibalas. ia selalu menanti senin untuk bertemu langsung wanita itu. namun ketika hari itu tiba, syifa coba menghindari. tapi beruntung ia masih punya kesempatan berbicara.
“Aku tahu kamu berteman baik degan nabila. itu permintaan terakhirnya, bukan aku.”
“Aku menolaknya!”
“Apa alasannya?” nabil berhasil menghadang langkah syifa, wanita itu berusaha menghindari tatapannya, “karena masa lalu?”
Syifa menatap sejenak, “salah satunya.” ia lekas menggeser diri dan pergi ketika ada orang lain disana, ia tahu nabil tak lagi menghadang.
Pria itu berbarik dengan berbagai terkaan mengenai alasan lain syifa menolaknya. ia tahu, tidak semudah itu syifa melupakan rasa. sama seperti dirinya.
“Mungkin aku masih menginginkanmu.”
**
Berhari-hari mencoba menebak, akhirnya Nabil menemukan jawaban atas sikap syifa. wanita yang saat ini ingin ia perjuangkan sudah menerima lamaran dari orang lain. awalnya tidak terlalu menyiksa, namun ketika melihat langsung syifa berjalan dengan seorang pria yang beberapa kali perna muncul dikantornya membuat perasaannya merintih.
Semenjak mengetahu hal itu, nabil lah yang lebih menghindar. namun ketika miting yang tiba tiba dihadiri Papa Haris, membuat pemuda tersebut menjadi gelisa apalagi papanya beberapa kali menatap kesal kehadiran syifa yang ikut kerja sama dengan Maxgrub tanpa sepengetahuan.
Saat miting selesai, barulah haris menemui putranya diruangan.
“Papa minta, kamu hentikan kerjasama dengan ifacroups.”
“Gak bisa, pah.” bantah nabil seraya berdiri, “ifaroups sudah terlanjur aku pilih untuk desain proyek perusahaan kita. lagi pula…” ia memangkas kalimat ketika melihat syifa berdiri dibibir pintu.
"Syifa? kamu ngapain kesini?”
Syifa menyernyit, “kata Staff resepsionisnya, bapak panggil saya.” ia justru mendapati gelengan dari pria itu.
“Saya yang panggil kamu!”
Suara lantang papa haris membuat nabil dan syifa menoleh. nabil menghela dan menggaruk kening yang tak gatal, ia tahu apa yang akan dibahas ayahnya siang-siang begini.
“Nabil!” panggil haris, “pemilik ifacrousp sudah ada disini. papa harap sekarang juga kamu memutuskan kerja sama itu.”
“Pah, gak segampang itu… ifacrups sudah menjadi bagian dari kerja sama. banyak kerugian yang akan kita tanggung jika mengubah kadidatnya."
“Papa yang akan tetap ganti rugi.”
“Tapi pah!”
“Maxgrub masih milik papah!”
Pernyataan itu berhasil membuat nabil tak berkutib. memang semua mengaggap dialah pemilik maxgrub, padahal papanya belum sepenuhnya menyerahkan perusahaan itu karena kesibukan yang mengurusi perusahaan dimalaysia.
Nabil menatap syifa yang dari tadi menunduk, tapi jelas keresahan ada pada wanita itu mebayangkan nasib ifacroups kelak, jika sampai kerjasama itu putus. nama ifacroups akan cacat. nabil menghela menatap iba pada ayahnya,
"Pa.…”
“Sekarang!”
Hembusan berat keluar dari nabil. ia memejam cukup lama kemudian menatap syifa yang sudah menatapnya.
"Maafkan aku, Fa.” arti tatapan yang bisa dimengerti oleh syifa.
“Mulai sekarang, kerjasama Maxgrub dan ifacroups berakhir sampai disni.”
Setelah kalimat yang diinginkan itu terlontar, haris meninggalkan ruangan. masih ada syifa yang tertekun memikirkan masa depan ifacroups, nabil perlahan mendekat.
“Tenang saja. semua kerugian tetap menjadi tanggunanku.”
Syifa menatap sendu, “banyak yang bergantung dengan perusahaanku.”
Nabil mengagguk, bersimpati, tapi tetap saja tidak bisa membantah permintaan sang ayah.
__ADS_1
**
Putusnya kerjasama membuat ifacroups terjangkit kolaps. beruntung ilham datang dan coba memberi pertahanan dengan perusahan milik ayahnya. bukan tanpa sebab, ilham butuh agar syifa benar-benar merasakan ketulusan hatinya. meski cincin sudah terpakai, tetap saja ada ketakutan kehilangan wanita itu.
Lama kelamaan, perusahaan yang memiliki produk yang sama dengn ifacroups akhirnya dapat bekerjasama dengan maxgrub. keadaan yang memaksanya untuk professional membuat nabil menyampingkan kekesalan terhadap ilham. sementara ilham sendiri tidak tahu menahu tentang masa lalu syifa.
Hingga sebuah peresmian karya bersama yang di beri nama New Vaction akhirnya dipamerkan. meski perusahaannya sudah tidak ikut andil tapi syifa datang mendampingin ilham.
Kehadirannya menadapat tatapan yang membuatnya tak nyaman dari Om haris. mungkin inilah waktunya ia meminta maaf.
Setelah ada kesempatan, syifa memberi alasan pada ilham untuk ke toilet. ia kemudian mengekori om haris yang mencari tempat hening untuk menerima panggilan.
“Om," panggilnya ketika om haris memutuskan panggilan. hanya ekspresi muak yang membingkai wajah pria tegas itu ketika berbalik, “Om berteman baik dengan ayah saya. saya tahu betul bagaiman kecewanya Om dengan saya. tapi apakah sudah tidak ada lagi kesempatan sayauntuk dimaafkan?”
Haris justru melangkah dan melewatinya, namun cepat syifa mengejar dan menghalangi.
"Kedua orang tuanku sudah tiada om!” Syifa menunduk melirihkan suara “aku hidup dengan tekanan penyesalan. itu memang salahku. tapi seandainya om ingin tahu alasanku.."
Ia mendongak nanar, “semua karena kesalahpahaman yang terjadi dimasa lalu.” setets air mata itu akhirnya mengalir.
“Itu bukan kesalahpahaman! itu alasan bodoh yang kau perkuat dengan rencana!”
Haris menapik tangan syifa ketika wanita itu hendak merengku lengannya. tapikan itu lembut, namun karena lemah membuat syifa tetap terjatuh.
“Pah!”
Suara lantang seorang Pria mengalihkan perhatian, syifa menoleh dan melihat nabil menghampiri kemudian membantunya berdiri.
“Aku tahu papah benci dengan syifa! nabil juga juga pernah. tapi kita tidak boleh memperlakukan dia seperti ini, Pah.” pria itu berani menatap ayahnya.
“Papah masih kecewa denganya, Nak! dia peyebab ibumu tiada dan karenanya juga kamu hampir kehilangan nyawa!”
“Nyawa ditangan Allah, pah. itu sudah menjadi takdir bunda. syifa hanya perantanya.” nabil mendekat coba menenangkan ayahnya. belum sempat ia menarik tangan papah, pria yang tersulut emosi itu pergi begitu saja. nabil menghela dan kembali menghampiri syifa.
“Kamu tidak kenapa napa 'kan?”
“Aku bantu.”
Syifa lekas menapik tangan nabil ketika pria itu hendak mengalungkan tangan dipingagnya. tapi sayang, pergerakannya yang terkejut membuat ia hampir terhuyung kebelang. untung saja nabil sigap menahan. niat yang ingin memberontak memudar ketika pandangn mereka berpapasan. selama berteman, mengaku saling mencintai, mereka tidak pernah sedekat ini.
Beberapa langkah yang terdengar membuat nabil menoleh ke ujung korior. namun bukan pemilik langkah itu yang membuatnya mematung, melainkan sosok pria yang berdiri menatap hambar wanita yang masih berada dalam dekapannya.
Melihat wajah terkejut nabil membuat syifa ikut menoleh. ia lekas berdiri tengak mengetahui itu adalah ilham. belum sempat ia memanggil namanya, pria itu sudah pergi. tak mau menjadi kesalahpahaman membuat syifa memaksakan kaki berlari sampai ke basemen.
“Ham! ilham!” terpaksa ia merentangkan tangan ketika mobil yang dibawa ilham mulai melaju, “aku bisa jelasin semuanya! nggak perlu berlebihan seperti ini.”
Akhirnya pria itu keluar dari mobil dan menghampiri.
“Kakiku tadi terkilir, dan pak nabil yang_”
“Masa lalu apa yang kamu miliki dengan pria itu!”
Antusias syifa yang menjelaskan perlahan mereda ketika ilham menuntut penjelasan lain. tajamnya tatapan mengintimidasi dari ilham membuat tangannya mencenngkram takut. kenapa harus secepat ini pria itu mengetahuinya?
“Dia…..” ia masih ragu untuk mengatakan, menunduk tuk menghindari tatap juga tak membuatnya berani.
“Dia teman masa kecilku!”
Sahutan yang dikuti jejakan langkah membuat syifa dan ilham menoleh ke pemilih suara.
“Anda baru mengetahi itu, pak ilham?” kata nabil ketika sampai didepan ilham, namun pria itu hanya membuang muka kesal. “bagaimana bisa anda memutuskan menikah dengan wanita yang anda sendiri tidak tahu masa lalunya.”
Syifa menatap harap pada nabil agar pria itu tidak mengungkapkan semuanya.
“Syifa ini teman kecilku, pak ilham. maaf jika kejadian tadi membuat anda tidak nyaman. kehadiran papaku membuat kita akhirnya saling tahu. dia terlalu bahagia, makanya hampir terjatuh.” nabil menoleh wanita yang sejak tadi menatap, “iya, kan syifa?”
__ADS_1
“I-iya.”
“Jangan bersandiwara!”
Baru sedetik lega yang ia rasakan, kembali kegusaran itu mencuak ketika ilham membantah.
“Aku tahu semuanya, syifa!” teriak ilham, “kamu pikir, aku akan bermasa bodoh dengan kamu yang waktu itu berlari ketika melihat pria ini?” ia bahkan tak segan menunjuk nabil yang selaku bos. “kamu punya masalah besar yang belum usai dengannya! dan menjadikanku sebagai pelarian, iya kan!?”
“Aku tidak seperti itu!” bantah syifa, “aku memang salah tidak memberitahumu, karena aku takut. takut mengecewakan kamu, papah, dan tante mirna lagi. kalian sudah berkorban banyak untukku. aku juga ingin membalas kebaikan kalian,dengan menerima lamaan ini.”
Ilham terperangah, “jadi karena terpaksa?”
Syifa tak bisa berkata sebab ia tak bisa menyangkal kebenaran. “tapi aku akan berusaha menerima keadaan ini__”
“Ilham..” kalimat syifa terpangkas karena panggilan nabil, “secara tidak langsung, syifa sudah mengaku tak mencintaimu. maafkan jika aku lancang. tapi sebelum ini… aku sudah berusaha untuk memenuhi salah satu janji.”
Kedua orang dihadapan menatap penasaran ketika nabil mencari sesuatu kemudian memperlihatkan layar ponsel, lembar chatnya dengan nabila.
“Dia calon istriku yang sudah tiada. permintaan terakhinya adalah aku, menikahi syifa.”
Setelah diam sejenak, ilham beralih pada syifa yang masih tak percaya nabil akan menunjukkan itu.
“Sekarang aku minta kepastian kamu,” kata ilham, “pilih aku, atau mewujudkan permintaan terakhir itu. jika kamu memlih aku, berarti kamu tidak boleh terlibat lagi dengannya tanpa izinku.”
Syifa menggeleng tertekan akan 2 pilihan. keputusan yang sudah ia pilih adalah ilham, tapi ketika pilihan itu terucap, ia ingin memilih nabil. tapi bagaimana dengan tante mirna, belum lagi ia memikirkan om haris yang masih menyalahkan. syifa menatap nabil cukup lama membuat ilham menghela dan beranjak pergi.
“Aku memilihmu ilham!” ujaran syifa berhasil menghentikan langkah ilham yang hendak ke mobil, semetara satu pria lainnya memejam pasrah.
Melihat syifa menghampiri ilham membuat nabil menyebik tak kuat menyaksikan dua pasangan itu. ia memilih pergi tanpa berpamitan.
“In Sya Allah aku yakin dengan kamu,” kata syifa menanamkan keyakinan, “maafkan aku yang sempat goyah. aku ingin melanjutkan pernikahan ini.”
**
Tiidak, ia tidak seutuhnya menerima. ia hanya beranggapan jika saat ini ia membutuhkan ilham. keputusan yang ditakuti terubah lagi membuat ilham mempercepat tanggal pernikahan. namun menjelang hari hari pernikahan, posisinya sebagai directur dari perusahaan yang saat ini banyak menerima kesibukan membuat syifa harus ke butik dengan dampingan tante mirna.
Gaun putih dengan manic-manic kecil berwarnah pink membuat syifa mengulurkan tangan menunjukkan pilhannya pada tante mirna. wanita itu menyetujui dan memuji pilihannya.
“Mba coba dulu disana. nanti klo kurang pas, kita bisa ukur ulang.” imbuh pemilik butik menunjukkan ruang ganti.
Syifa mengagguk, usai menerima gaun itu ia menuju ke bilik kecil. setelah terpasang, ia menyanjung dirinya sendiri yang sangat anggun dengan gaun yang pas ditubuhnya. namun perlahan senyum itu memudar.
Ia memejam cukup lama kemudian membuaka mata bersamaan dengan helaan. setelah yakin, barulah ia keluar.
Namun ketika keluar ia mematung melihat seorang pria yang tadinya berbincang dengan tante mirna kini menatap dirinya takjub.
Nabil, pria itu datang untuk bertemu keno, suami dari pemilik butik yang seangkatan dalam hobi bermotor. syifa menghampiri usai mendapat pujian cantik dari tantenya.
“Gimana Mba? ada yang mau di ubah?” Tanya Fara, istri keno.
“Gak usah, Kak. ini sudah pas, kok.” balas syifa.
“Bangusnya klo ditambahin mahkota kecil dikerudunnya nanti, Ra.” usulan nabil pada fara membuat syifa menatap, namun pria itu sama sekali tak memalingkan pandang dari Fara.
“Iyalah. itu paling penting, mas.” balas fara. ia mendekat ke syifa untuk memastikan ukurannya memang sempurna. “kayaknya dipundak kamu sedikit longgar, deh. nanti aku perkecil.” ia memberi tanda di gaun itu kemudian pergi usai meminta syifa mengganti.
Syifa mengagguk kemudian mulai melangkah.
“Aku boleh bicara dengan Syifa?”
Permintan nabil pada tante mirna langsung membuatnya menoleh. namun ia justru dibuat terkejut dengan jawaban tantenya yang mengizinkan.
-Bersambung.
Hem... nabil mau ngomong apa, yah?
__ADS_1
gak pengen tikung, kan? heheh..
sampai ditemu di part selanjutnya, yah. assalamu alaikum.