
"Selamat pagi, Bu." Sapa Shifa ketika wanita itu sudah di hadapannya.
Wanita bercadar itu memberi anggukan dengan kedua mata ia sipitkan. tentu bagi yang melihatnya menganggap ia tersenyum Tapi tidak dengan Shifa, ia masih khawatir dengan ekspresi wajahnya.
apa Itu tulus?
Namun ia rasa sesuatu memegang pundaknya. Shifa terkejut dan menatap pemilik tangan itu.
"Jangan di pikirkan, Nak. mamamu sudah menceritakan musibah yang menimpamu kemarin."
Shifa baru bisa bernafas lega ketika mendengar nada bicara wanita tersebut. ia kemudian mengangguk dan balas tersenyum.
"Maaf, Shifa lupa beritahu Bu Mirna" ucapnya bersalah.
Wanita yang bernama Mirna itu mengangguk, kemudian menyipitkan lagi matanya. "Sudah berapa kali di bilangin, kamu panggil saya tante, Ok?"
Shifa tak merespon, ia hanya diam menatap karena ajakan itu terasa tak nyaman baginya.
"Kamu ini keponakan tante, loh..."
"Lidah Shifa masih canggung menyebut itu, buk." jawab Shifa segan.
"Harus di biasakan! tante gak mau jauh jauh dari keponakan tante lagi." kata Mirna menatap lembut wanita muda didepannya.
Shifa semakin tak enak, ia mengangguk ketika mirna kembali menepuk pundaknya.
Memang sejak kepergian Firaz,
Ana Membatasi hubungan dengan keluarga almarhum suaminya, ia tidak mau orang yang ia duga pembunuh itu mengetahui keberadaan dirinya dan putrinya dari orang-orang terdekat.
Mirna adalah adik ipar Ana, wanita yang selalu mengenakan kain penutup wajah itu bukanlah orang jahat bahkan bisa di bilang sahabat Ana dulu. tapi kekawatirannya membuat Ana menjadi egois dan pergi tanpa membeberkan tempat tinggalnya ke siapapun.
Namun sebuah takdir baru baru ini mempertemukan mereka, semua terungkap ketika Ana datang ke toko untuk mengantarkan sesuatu pada putrinya namun ia justru berpapasan dengan Mirna yang ternyata adalah bos putrinya.
Setelah mengetahui Shifa adalah keponakan nya, tentu Mirna meminta Shifa yang mengurusi toko. Tapi Shifa bukanlah orang yang memanfaatkan keadaan. ia tahu diri.
"Apa boleh Shifa minta izin untuk tidak masuk hari ini?" pinta Shifa segan, mengingat ia tidak hadir kemarin, tapi justru wanita yang ia mintai izin terkekeh kecil.
"Tante tidak memaksamu bekerja, bahkan jika kamu ingin bekerja tante akan memaksamu istirahat."
Shifa tersenyum, "Terima kasih," ia diam sejenak "Tante," lanjutnya.
"Gitu dong!" balas ana seraya mengusap pundak ponakannya, Shifa hanya mengulas senyum karena masih canggung.
Sementara di tempat lain, wanita berwajah oriental itu kini terlihat gelisah. Ingin sekali lidahnya mengoceh namun ia tidak tahu pada siapa ia harus berbicara.
Pria itu?
Jangan tanya, beberapa kali ia menengok kedalam beberapa kali pula pandangan mereka bertemu. Tentu pria itu menganggap sikap nya aneh.
Ia menengok ujung koridor rumah sakit berharap seseorang yang ditungguinya cepat datang, namun yang terlihat adalah wanita yang baru saja ia temui.
__ADS_1
"Kenapa Belum pulang nak?" Tanya Sarah padanya sebelum memasuki ruangan.
Lia tersenyum ramah, "Nungguin temen, tante," jawabnya.
Sarah menatap kedalam matanya tertuju pada tikar dan beberapa barang lainnya yang berada di bawah brankar putranya. Wanita itu kembali menatap Lia.
"Kalian nginap?" tanyanya dan dibalas anggukan dari Lia.
Sarah mengambil ancang ancang untuk duduk. Lia hanya diam menatap, Ia tahu beberapa pertanyaan akan menghampirinya sebentar lagi.
Sarah memandang kerudung panjang selutut yang dikenakannya, tentu tatapan itu membuat dirinya sedikit risih tapi ia tetap berusaha tersenyum ramah.
"Namamu siapa nak?"
"Lia, tante." jawabnya seraya mengagguk pelan.
Sarah tersenyum, "Nak Lia ini.. sudah sopan, bertanggung jawab, cantik..." Sarah diam sejenak. Sementara wanita yang dipujinya itu tersipu malu dalam tunduknya, ia merasa sudah terbang diangkasa. "Solehah pula." lanjut sarah membuat gadis itu spontan mendongak.
Entah kenapa pujian yang satu itu seakan memaksanya mendarat ke bumi. kedua sudut bibir berusaha di tarik, ia tersenyum kikuk karena perasaannya bagai dilempar ke sebuah jurang yang membuatnya menyadari sesuatu. pantaskah aku dibilang sholehah?
"Maaaa?" Panggil Nabil dari dalam, Ia tahu Mamah nya sedang berbincang bersama wanita angkuh diluar sana. Ia terpaksa memanggilnya karena sudah terlalu lama menunggu. Selain itu ia juga tidak mau Mamah nya mengenal wanita yang bernama Lia tersebut.
"Iyah sayang, kenapa?" Sarah masuk dan menghampiri putranya.
Nabil berusaha mencari seseorang di belakang ibunya dan benar saja wanita yang tadi diam diam mengintipnya itu tengah mengekori Sarah.
"Kamu sudah boleh pulang," kata Sarah ia hendak membantu putranya bangun namun ponselnya berdering.
"Ya Allah, kok mama bisa lupa ambilin kamu kursi roda," Sarah beranjak ke luar.
Keadaan ruangan kembali sunyi, menyisakan pria yang berusaha bangkit dan juga wanita yang hendak berbalik.
"Heh! Loh!" Panggil Nabil, menghentikan langkah wanita itu untuk keluar.
Lia berbalik, ia menaikkan salah satu alisnya sebagai kata 'apa?'
"Bantu gue duduk di kursi," Nabil menjulurkan tangan kanannya.
Lia mendengus berat, dengan malas ia mendekati dan memengang tangan Nabil namun segera pria itu menarik tangannya kembali.
"Jangan sentuh telapak tangan gue!" sentaknya marah, "Lo tahu kan, batasan mahrom?"
Lia menghela kasar, "Gimana caranya saya nolongin kamu? kalo kamu gak mau di pegang?"
"Jangan sentuh kulit gue," jawab Nabil kemudian menjentikkan jarinya "Siniin lengan loh. tuh! lengannya ada kain, jangan lupa balutin lagi ama kerudung loh yang super panjang itu biar gue gak kena kulit loh langsung."
"Dasar cowok aneh," gumam Lia kemudian menyodorkan lengannya dan memapah Pria itu sampai duduk di kursi samping meja.
Nabil membersihkan telapak tangannya, "Kena dosa nih, gue." gumamnya.
Lia hanya melihnya sinis, "Dasar sok suci, bukannya terima kasih," balas Lia dengan nada pelan.
__ADS_1
Nabil mendogakkan mendengar sindiran itu, "Loh mau di tusuk pala loh pake besi?"
"Apaan,sih? ngomong kok gak jelas." Lia hendak berbalik namun kalimat pria itu mengurungkan niatnya.
"Nah kan! terbukti nih, Klo lo pake hijab lebar cuman pengen di bilang alim!"
"Jaga yah bicara anda!" sentak Lia tak terima.
"Heh! lo tuh yang harus menyesuakan diri... Penampilan alim alim kek gini tapi kelakuan kek gitu."
"Gitu gimana maksudnya!?" balas Lia kesal "Bukankah ini pakaian yang di anjurkan dalam islam?" tanyanya kemudian melebarkan gamis yang ia kenakan. "Apa dalam islam kita harus jadi baik dulu baru berpakaian seperti ini?"
Pria itu terdiam. memang benar tak ada syarat kusus agar berpenampilan seperti itu dalam islam. Tapi ia hanya tak terima jika wanita itu menyalah gunakannya.
"Rukun islam ada berapa?"
"Lima!" Jawab Lia "jangan ngalihin pembicaraan! jawab pertanyaan saya sebelumnya. Apa dalam islam kita harus baik dulu baru boleh berpenampilan seperti ini?" tanya nya lagi. namun pria itu kembali bergeming.
"Jawab!!"
"Heh! Lo gak liat gue sakit? beraninya bentak gue." protes Nabil karena terkejut.
"Dih, alasan." cetus Lia.
Nabil memejam mata,"sabar bil, sabar. gini nih klo ngadapin cewek yang ngerasa," batinnya kemudian menatap Lia.
"Gue mau tes pengetahuan Lo dulu?"
Lia hanya mendengus kesal. ia tahu pria ini hanya mencari waktu dan alasan untuk menjawab pertanyaannya.
"Balasan apa yang diterima seseorang jika menyentuh orang yang bukan mahromnya?" tanya nabil.
"Dosa!" jawab Lia "Udah, jangan ngalihin terus."
"Ntar dulu, gue juga tau itu dosa. maksud gue balasannya, balasannya di akhirat nanti apa?"
"Masuk neraka?"
Nabil bedecak atas jawab Lia "gini deh, misalnya nge gibahin orang, orang yang menceritakan keburukan orang lain. kelak di akhirat mereka akan mendapatkan balasan, berupa memakan bangkai manusia itu sendiri.."
"Dih! serem amat." sela Lia, ia bergidik dan sikapnya itu mampu Membuat pria dihadapannya bungkam dan membenarkan curiganya.
"Udah gue duga, kerudungnya aja lebar tapi ilmunya masih minim," batin Nabil.
"Jawab pertanyaan gue?"
Bersambung..
Hemm.. kira kira Lia bisa jawab gak, yah?
Yuk! buruan Like ama Komennya di bawah biar aku cepat Up nya.
__ADS_1
jangan lupa follow IG ku jga yh! @airaannur_