
"Nanggung, nunggu pesanan kamu lama, sih! jadi aku makan duluan."
"Jahat iih!" protes Lia kemudian membuka bungkusan nasi dan mulai memakannya.
Tritt Tritt. ..
Sebuah getaran dari ponselnya membuat Shifa terkejut dan segera mengambilnya.
"Waalaikumussalam. Iyah Mah, ada apa?"
Jawab Shifa usai menerima panggilan.
"Kamu masih di rumah sakit, Nak?"
"Iyah mah, Shifa baru datang habis beli makanan tadi."
"Loh! bukannya tanganmu masih sakit?"
"Sudah enakan kok, Ma.." jawabnya sambil melihat wanita yang tengah asik melahap makanan itu.
"Alhamdulillah kalo begitu. terus Bagaimana keadaan pria itu Nak? apa dia baik-baik saja?"
Sifa berdiri dan menoleh ke jendela kaca. sadar ia belum melihat keadaan pria itu sejak keluar tadi.
"Masih belum buka mata."
"Ya Allah... Malang sekali nasibnya. apa keluarganya belum datang juga, Nak?"
"Shifa belum tahu keluarganya dimana. pria itu belum sadar, Shifa bingung mau tanya ke siapa."
Terdengar helahan nafas dari lawan bicara Shifa yang diseberang sana.
"Kita berdo'a saja, nak. semoga pria itu baik-baik saja. Jangan lupa juga bacakan Al-Qur'an didekatnya, ayat Al-Qur'an itu pengembuh." imbuh Ana.
"Iyah maa."
"Ya sudah, mama tutup dulu yah. Assalamu alaikum."
"Waalaikumussalam."
Usai panggilannya berakhir. Shifa menatap ponselnya. "sudah hampir magrib," Gumamnya kemudain menoleh kekursi Lia, namun sosoknya sudah tak ada disana.
Shifa menoleh keruangan Nabil, pria itu masih pada posisinya. merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia memilih pergi, bersiap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
đ
Bismillahirrahmaaanirrahim..
Arrahmaaaaan, Alla mal qur'aan kholaqal insaan...
Usai melaksanakan sholat, dengan bermodalkan hp digenggamannya, Shifa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan begitu indah juga Makrijul huruf nya begitu pas. tentu hati yang mendengarkannya mendapat ketentraman.
Meski ini terasa aneh, tapi ia tetap menikmati tiap-tiap bacaannya. walau yang mendengarkan adalah seorang pria asing yang baru ia temui hari ini. Yah! bukan mahram, itu sedikit membuatnya berfikir apakah ia harus melanjutkan niatnya mendengarkan murottalnya pada pria itu seperti saran ibunya.
di sela penghayatan, ia menyernyit ketika mendengar pria itu mengadukan sesuatu dalam tidurnya. bulir bulir keringat dingin juga terlihat jelas dikening pria itu.
"Apa dia mimpi buruk?"
Shifa menghentikan bacaannya. ia sedikit mendekatkan diri pada pria itu sekedar memastikan siapa yang disebutnya dalam mimpi. karena begitu penasaran, ia sampai memegang tepian berangkar agar bisa membatasi diri.
"Askaaa.."
"Aska? "
Shifa menyernyit ketika pria itu menyebut sebuah nama yang tak asing ditelinganya. Perlahan ia memundurkan diri agar menjauh. namun pria yang masih tertidur itu spontan menumpuk tangannya di atas punggung tangan Shifa yang masih memegang tepian berangkar.
__ADS_1
"Astagfirullah!!" Sentak Shifa terkejut dan segera menarik kasar tangannya hingga membuat pria itu tersadar dengan mimik wajah yang tak kalah terkejut juga.
Matanya memicing mendapati seorang wanita yang duduk disampinya. namun beberapa detik kemudian pandangan itu berubah lembut.
âKenapa belum pulang?" tanyanya kemudian menengok Ruang ventilasi yang memperlihatkan keadaan di luar, "ini sudah malam, pulanglah."
Kalimat pria itu membuat Shifa menghilangkan protes nya. ia sadar kalau pria itu tidak sengaja menyentuh tangannya.
Shifa memperbaiki duduknya kemudian tersenyum, âanda terluka seperti ini karena menyelamatkan saya.
jadi biarkan saya sedikit membalas kebaikan anda agar saya juga lega meninggalkan anda dengan keadaan pulih.â
Pria itu memejamkan mata kemudian kembali menatap wanita disampingnya.
"Pulanglah, ini sudah malam. tidak baik seorang wanita pulang larut malam."
Tak ada Respon dari Shifa, ia hanya mematung mencerna kalimat pria yang sedang balik menghawatirkannya itu.
"Percayalah.. aku baik baik saja." pria itu mengambil ancang untuk duduk, namun, "Aauuuw.." ia lupa kalau perutnyalah yang sedang sakit.
Bukannya membantu, Shifa malah diam menyaksikan pria yang sedang menyebik menahan sakit itu. ia memicing,
"Bagaimana mungkin anda terlihat baik-baik saja. suaramu hampir hilang, matamu menatap dengan berat, aduanmu tadi sudah jelas kau tidak baik-baik saja." Batinnya.
âJustru itu, Karena sudah malam Saya dan teman saya akan menginap di sini." Shifa membalas pertanyan pria itu sebelumnya.
Geledek! Gledek! Gledek! Deer!!
Suara petir dari luar menambah alasan wanita itu untuk tetap tinggal. Shifa mendongak menatap cela ruangan yang memperlihatkan kilatan.
"Keadaan juga tidak memungkinkan kami pulang, mas," lanjut Shifa tanpa memalingkan paddganya "kami hanya mengendarai motor, sedang diluar sana sebentar lagi hujan."
Tak ada respon dari pria didepannya,
"Huuuff!" ia menghela napas ketika mendapati kedua mata pria itu tertutup rapat.
"Ternyata Anda tidak sekuat yang saya kira. katanya baik-baik saja, gerak dikit sudah pinsan." cibirnya kemudian meninggalkan ruangan Nabil.
Baru saja ia keluar dari ruangan. terdengar lagi panggilan sholat dari pengeras suara masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit. tanpa menunggu, ia langsung pergi mengambil wudhu tanpa penasaran dengan keberadaan gadis remaja yang seharusnya duduk dikursi luar ruangan.
**
"Dari mana Li'?" tanya Shifa usai melaksanakan Sholatnya dan menghampiri Lia yang tengah duduk di luar ruangan.
"Habis sholat lah, kak!" jawabnya ketus, kembali ia menatap ponselnya.
Shifa mengisi kursi di samping kanan Lia,
"Diih, Jutek amat!" balasnya sambil menyenggol pundak gadis itu dan Tentu saja hal itu mendapat tatapan protes dari gadis bad mood tersebut.
"Kenapa sih?" Tanya Shifa, ia merogoh ponsel dalam tas mengabaikan tatapan itu. "gak biasanya kamu bad mood kek gitu."
Lia mendengus kesal, menyandarkan punggungnya ke kursi, "Aku kesal aja ama tuh cowok!" ia mengacungkan ibu jarinya kebelakang.
Shifa mengikuti, "Orang sakit itu?"
Ia menatap Lia bingung "bukannya kamu sendiri yang bilang, dia itu ganteng?"
Lia mengangguk - angguk. "ganteng sih ganteng, tapi pas tutup mata doang,"
"Emang kalo buka mata kenapa?"
Lia menarik nafas panjang-panjang siap mengungkap sesuatu. "Dia itu... ternyata kalo buka mata Jutek abis, sok cool! " Lia diam sejenak. "Yah emang cool, sih!" ralatnya membuat Shifa terkekeh.
"Tapi tetap aja, cowok kayak dia itu bikin keseeeel!"
__ADS_1
Shifa semakin dibuat bingung dengan tingkah Lia, tapi ia menanggapinya gemas. "Emang dia bikin kamu kesal gimana, siih?" tanya Shifa sembari memainkan ponselnya.
"Udah tau sakit, tapi tetap aja sok kuat!"
Shifa mengentikan aktivitas nya. ia menatap Lia serius "Kamu dapat dia sadar?
Lia mengangguk, "Iyah, cowok jutek itu. namanya Nabil."
Shifa hanya diam memikirkan sesuatu kemudian kembali memainkan ponselnya. karena tidak mendapat respon apapun, Lia memicing curiga.
"Kak Shifa udah tahu?"
Shifa mengangguk, "Hanya itu yang ku tahu" ia menatapn Lia, "sebelumnya aku mendapatinya sadar, kayaknya dia--"
"Jutek gak!? Jutek kan!?" pangkas Lia antusias, berharap pemikiran mereka sama.
Shifa melirih sinis, "gue belum selesai ngomong, Limun."
Plak!!
"Aw! kok malah di pukul?" protes Shifa ketika mendapat tepukan di lengannya.
"Pliese deh, kak! nama gue Lia, Liii... ya!" tengasnya "bukan Limun!"
"Emang Limuntae, kan?"
"Ck! Lae moon tae itu... nama dulu gue. Sekarang kan aku mu'allaf kak, aku ganti nama, Siti Lee moon." jelasnya sedikit kesal.
Shifa terkekeh mendengar nama Siti "ok Ok, deh! Siti."
Lia bergidik, "ah, panggil Lia aja deh. aku kok aneh yah, di panggil kek gitu."
"Kok gitu sih, katanya udah Muallaf."
"Lia aja deh.... kan dalam Al-Qur'an juga ada kata Aulia. Lia, namaku ikut disitu kan?"
Shifa mengangguk angguk, "Iyah Iyah deh, Liamun."
"Kaaak" protes Lia.
"Ok."
"Jadi gimana, jutek gak tuh orang nya?" Lia kembali membuka percakapan sebelumnya.
"Ah! iya. aku lupa tanya tentang keluarganya, Li!" Shifa mengabaikan pertanyaan Lia. ia baru teringat, lupa bertanya pada pria tersebut mengenai keberadaan keluarganya.
"Besok keluarganya akan datang, aku mendengar pembicaraannya dari telpon."
Shifa menyernyit, "Pria itu tidak membawa ponsel."
"Aku yang pinjamiin," jawab Lia masih terlihat kesal jika harus membahas pria tersebut.
"Kamu?" seketika alisnya tersentak heran, "tapi Kenapa besok? Seharusnya kan mereka datangnya sekarang?"
-Berdambung-
.
.
.
Jangan lupa Like,Komen,ama Vote nya yah kak. terimakasih.
Mohon dukungannya.
__ADS_1