Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
ketahuan! sudah dilamar.


__ADS_3

Pagi ini bisa saja Shifa berangkat lebih awal jika saja Pria yang sedang duduk di ruang tamunya itu tidak datang lebih dulu.


“Aduuuh..., nak Nabil ini sampai repot-repot loh datang kesini, mana bawain kita makanan lagi. masa kamu langsung main berangkat aja sih, Shifa.”


Entak sudah berapa kali Ana menahan dirinya agar tidak terburu buru berangkat kerja hanya untuk menghormati tamu yang penampilannya lebih rapi dari biasa meskipun masih menggunakan style celana yang sama.


“Nggak apa, Bu. klo Shifa mau berangkat kerja. saya juga datangnya kepagian.” Nabil sadar diri, ia salah.


Ana menatap Putrinya yang dari tadi merasa risih. “Yaudah, kamu udah boleh berangkat kerja.” katanya.


Baru Shifa merasakan lega karena terbebas dari Pemuda didepannya, ia kembali dirundung risih ketika ibunya menawarkan sesuatu.


“Tapi berangkatnya di temenin, yah! sama nak Nabil.” lanjut Ana membuat Shifa bahkan pria di depannya ikut terbelalak.


Shifa hendak memprotes namun Ana lebih dulu menoleh ke pemuda yang dari tadi memperlihatkan ke sopan santunnya itu.


“Gak apa kan nak, Nabil?


Baru pria itu hendak membuaka mulut, namun suaranya tak lagi di perlukan ketika Ana melanjutkan kalimatnya.


"Soalnya Shifa sering digangguin sama mantannya, ibu takut dia kenapa-napa. kemarin aja Dia----”


“Buuu,” Shifa mengingatkan ibunya agar tidak terlalu terbuka bercerita pada pemuda asing yang bisa dibilang sedang pdkt dengan keluarganya itu.


“Gimana nak, Nabil?”


Nabil tekesiap dengan permintaan Ibu Shifa, ia hanya terkejut. secepat ini ia diberikan amanah untuk menjaga Shifa.


“Iya Bu, kebetulan di bengkel juga udah ada teman saya,” Nabil diam sejenak.


“Tapi motor saya cuman bisa boncengin anak kecil, Bu. tempat duduknya juga sempit, takutanya nanti...,” Nabil terlihat ragu.


“Shifa bawa motor sendiri,” sergah Ana, ia mengerti apa yang di khawatirkan Pemuda itu. “saya cuman minta tolong kamu ngawasin perjalanannya saja, Nak. gak harus boncengan.”


Nabil menoleh ke Shifa meminta persetujuan.


meski berat dengan keputusan ibunya, Shifa memilih menurut saja apalagi melihat matahari sudah terik. menolak hanya akan membuat dirinya dan ibunya makin berbelit-belit.


To**h! pria itu hanya mengawasi dari jauh,


tak akan menimbulkan fitnah ataupun dosa sebab berada di kendaraan yang berbeda. pikir Shifa.

__ADS_1


Namun saat di perjalanan, justru Ia merasa risih dengan keberadaan Nabil yang tepat berada dibelakangnya. ditambah lagi ia lupa menggulung ikatan rambut panjangnya yang di rasa sedang terlihat karena terpaan angin menggoyangkannya.


Jalanan sunyi, ia tahu kemana fokus mata pria itu memandang. sadar ini salah, shifa segera menepikan motornya membuat Pemuda dibelakannya juga melakukan hal yang sama.


“Kenapa?” Tanya Nabil tanpa mengubah posisinya di atas motor.


“Sampai di sini saja! saya bisa berangkat sendiri!” sahut shifa.


Nabil membuka kaca helmnya “tapi gue di beri amanah ngawasin Lo sampai sana!”


“Ngga usah! saya bisa jaga diri.” tolak Shifa, ia hanya ingin mengusir pria itu segera.


“Ini tentang tanggung jawab gue!" balas Nabil "Lo tau ‘kan, dusta namanya orang yang klo diberi amanah tapi mereka gak nyampein!?”


Shifa terlihat berfikir, bagaimana pun juga alasannya pasti pria itu punya cara untuk membantahnya.


Ia melihat kaca Spionnya “Kamu tahu adab wanita dan pria yang bukan mahrom jika berjalan di tempat yang sama!?” Tanya Shifa sedikit teriak.


Tanpa merespon sepatah kata pun, Nabil langsung menginjak pedal gas nya kemudian mendahui Shifa yang sedang terperagah dengan sikapnya yang pergi tiba-tiba.


Tidak terlalu buruk, setidaknya Pria itu tidak berada di belakangnya.


Shifa segera mengekori motor Nabil dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap tanggapnya pria itu. benar-benar mengetahui adabnya atau hanya ingin sekedar mengalah.


“Aku akan menunggu jawaban, iya. atas lamaran itu.”


Aku? batin Shifa.


Kalimat Nabil, membuat bulu kuduk wanita itu merinding. baru ingin memprotes, Pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu langsung memutar motornya dan bergi begitu saja.


Shifa hanya menatap heran, kesal, juga penasaran dengan pria aneh itu. sebelum mendapat teguran dari teman-temannya Shifa buru-buru turun dari motor seraya melepas pengait helm-nya.


“Shifa!?”


Panggilan dari belakang membuatnya menoleh. ada tante Mirna yang terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu.


“Yang tadi itu siapa? mantan kamu, Nak?” Tanya wanita bercadar itu.


Persis dugaan Shifa. ia langsung menggeleng cepat, “bukan, tante.” jawabnya.


“Ooh! tante kirain, soalnya mama kamu bilang, mantanmu kayak anaknya berandalan terus pke motor gede.”

__ADS_1


Shifa hanya menaggapi senyum, ia kemudian mengekori langkah Mirna setelah wanita itu mengajaknya masuk bersama.


“Tapi mantanmu sudah gak gangguin kamu lagi kan, Nak?” Tanya Mirna di sela langkahnya.


Shifa kembali menggeleng. masih canggung rasanya membahas masalah pribadinya pada orang yang masih terasa asing meski Mirna adalah keluarganya.


“Tante baru datang?” Shifa sengaja mengalihkan pembicaraan sebelum wanita itu membahasnya kembali.


“Udah tadi, tapi tante mampir lama didepan sana.”


Shifa hanya mengagguk. tak ada percakapan lagi di antara mereka, sampai akhirnya ia masuk ke toko.


Mirna melangka lebih dulu, sementara langkah Shifa melambat karena melihat Nina yang buru-buru keluar dari meja kasir kemudian menghampirinya antusias.


“Fa! Fa!?" panggil Nina.


"Cowok tadi itu, yang aku bilang kemarin nitipin surat ke kamu!”


Pekikan dari Nina membuat langka Mirna urung menaiki tangga. ia bebalik dan menatap shifa yang juga sedang menatapnya tak enak. Wanita bercadar itu menghampiri mereka.


"Cowok yang mengaku tunangannya, Shifa?" tanya Mirna pada Nina.


Nina tak lekas menjawab ia menatap Shifa yang terlihat kesal padanya kemudian barulah ia mengagguk kaku.


Mirna kemudian menatap serius ponakannya. “Kamu pikirin baik baik lagi, sayang. tujuan pernikahan itu untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, jangan sampai kamu salah pilih patner ibadah.” tutur Mirna.


Shifa langsung menggeleng cepat, “tapi Shifa gak langsung nerima lamarannya kok, tante.” jawab Shifa yang kemudian ia sesali.


Ups!!


Disini terbukti sudah Shifa berbohong mengenai elakannya beberapa hari lalu. ia menoleh ke tantennya yang meski tertutupi kain cadar tapi shifa tahu di balik kain itu tantenya sedang menatap kecewa padanya.


"Ikut, tante. Fa."


-Bersambung.


Kira-kira apa yah, yang akan dikatakan Mirna pada Shifa? apakah Mirna akan menjauhi Shifa karena tak menganggap dirinya bagian dari keluarga? atau justru Shifa akan dipecat dari keponakan.


Jangn Lupa LIKE, KOMEN, dan bantu SHARE Novel saya ini yah! kak.


in sya Allah berkah😊 Ig. @airaannur_

__ADS_1


#Jazakillah Khairan.


__ADS_2