Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Saling menyerang


__ADS_3

Di balik cendela, syifa merenung memandang titik titik putih yang menghiasi langit. indah dipandang, namun saat ini pikirannya kalut tertekan rencana sehingga sulit baginya menikmati apa yang tersaji oleh alam semesta.


Kejam, ia sudah memvonis dirinya seperti itu. suara motor depan rumah bahkan tak membuatnya berpaling. hingga akhir sebuah bayangan dari balik candela kaca itu membuatnya tersadar dan segera keluar kamar membuka pintu rumah.


“Aku mau ngomong.”


Syifa mengagguk, mengerti apa yang ingin dibicarakan pria yang datang dengan wajah dinginnya itu. "kita duduk dulu."


“Kamu libatkan aska juga dalam rencanamu ini?” tanpa buang waktu pria itu langsung menyampaikan alasan kedatangannya usai duduk.


Syifa menggeleng.


“lalu, maksud dari balikan itu apa?” Nabil diam sejenak, “ok. mungkin kamu memikirkan cincin yang ku beri pada, Lia. semua itu hanya agar dia bahagia dan cepat pulih, Fa. gak ada maksud lain.”


“Bil!” sentak Syifa, “jangan buat perasaan Lia seperti ini. kamu ngasih dia harapan besar di luar rencana kita. itu akan membuatnya lebih kecewa nanti.”


Nabil mendengus, “tapi kamu juga bohongin dia ‘kan, klo kamu sama aska balikan?”


Syifa terdiam, sesaat kemudian ia menunduk, “aku minta maaf soal itu, Bil. apa yang ku katakan tadi siang itu memang benar. setelah aku pikir pikir dan laluin semuanya, ternyata aku masih mencintainya.”


Nabil tertawa keras mendengar pengakuan wanita itu, “kamu gak usah bohong, Fa. gak usah ikut ikutan menjebak dirimu sendiri.”


“Aku serius_”


“Tapi aku gak percaya!” sentakannya membuat wanita itu memejam dan berhenti bersuara. “jangan bahas dia, bahas hubungan kita,” pintanya dengan sedikit merendah.


Syifa menatap nanar, “gak ada yang perlu di bahas untuk masa depan hubungan ini, Bil. iya, mungkin aku sama aska tidak balikan, tapi bukan berarti itu tidak mungkin.”


“Fa!”


“AYAHMU YANG MEMBUNUH AYAHKU!”


sentakannya membuat nabil terkesiap.


“pergi dari hidupku dan keluargaku. kumohon.” lirih syifa tak mau memandangi pria itu.


“Kamu percaya dengan fitnah itu?” tanya nabil, “bukannya kamu tidak mempermasalhkannya sejak kemarin?”


“Tapi tidak untuk sekarang!" sergah Syifa “sekarang aku mempercayainya dan ingin merebut keadilan atas apa yang menimpah ayahku.”


Nabil menggeleng, “nggak, Fa. jangan seperti ini. kita harus cari bukti.”


“Bukti apalagi...?” geram syifa. “semua sudah jelas, Bil. kalian orang-orang yang tamak! menghalalkan segara cara demi harta!” teriaknya kemudian tersenyum masam “bahkan aku tertipu dengan tampilan ibumu. wanita sok suci.”

__ADS_1


Tak suka dengan celaan syifa, nabil berdiri dan melototi wanita itu, “aku gak suka kamu menjelekkan ibuku, Fa!”


“Kamu pikir, aku suka kasus ayahku ditutup begitu saja?”


"Tapi harusnya kamu__”


Kalimat Nabil terpangkas dengan kehadiran ibu syifa yang sudah memasuki halaman. kedua orang bertengkar itu membuang muka untuk meredakan amarah. Ana yang sedang meniti tangga menatap heran mata sembab putrinya, ia kemudian menoleh pada pria disana.


“Nak nabil, Syifa kenapa?”


Namun pria itu tak berniat memberi respon. ia menoleh pada syifa yang menyeka air mata, “aku gak tahu mau ngomong apa lagi ke kamu, Fa. kamu keras kepala.” ujarnya kemudian pergi begitu saja.


Ana hanya menatap hambar kepergian pemuda itu. ia mendekati putrinya untuk mencari tahu, namun wanita itu justru meminta ijin kekamar.


“Persoalan anak muda.”


**


Ada yang berbeda dipagi ini. Syifa yang biasanya berangkat sendiri kini memutuskan berangkat ke toko semotor dengan Aska. tentu pemandangan itu membuat murka Ana, tapi pernyataan Syifa yang menyatakan mereka balikan, membuatnya bungkam dan menahan kesal.


Syifa sengaja meminta Aska untuk lewat di jalur bengkel Nabil. memang jalur itu agar jauh dari yang biasa ia lewati. tapi sekali lagi, ada rencana dibalik semua itu.


“Kamu niat banget bikin orang sakit hati, Fa.” ujar Aska di sela perjalanan namun wanita itu tak memberi respon. barulah ketika mendekati bengkel Nabil, ia diminta tertawa keras.


Suara gelak tawa mereka cukup menarik perhatian. bahkan Nabil yang tadinya fokus menservis salah satu motor ikut terpancing menoleh. matanya memicing kesal ketika menyadari itu adalah aska dan syifa. dan berhasil, usaha syifa berhasil membuat pria itu cemburu.


Setelah menempuh perjalan hampir 2x lipat dari biasa, akhirnya metic hitam itu teparkir didepan toko.


“Makasih yah, Ka.” kata syifa seraya memberikan helmya pada Aska. “kamu bawa aja dulu motorku kerumah sakit. kasian Lia klo kamu putar balik ngambil motormu dirumah.”


“Jadi aku jemput kamu lagi, nih?” tanya Aska.


Syifa mengagguk segan, “maaf yah, Ka. aku ngajak kamu buat dosa.” balasnya merasa bersalah, namun pria itu justru terlihat bahagia.


Setelah menatap kepergian Aska, ia pun masuk ke toko. terlihat disana ada Nina yang langsung memelototinya meminta penjelasan.


“Aku balikan.” kata syifa sebelum wanita yang menghadangnya itu bertanya. syifa hanya tersenyum melihat ekspresi sahabatnya yang mematung.


Jarum jam sudah menunjukkan angka 11 siang. 2 jam lagi syifnya akan terganti ditengah ia menggantungkan barang baru. sebuah salam dari seorang wanita membuatnya menoleh.


T**ante sarah? batin syifa, “tante ca-cari apa?” gugup syifa setelah membalas salam.


“Cari kamu.” jawab Sarah, “besok malam jadi ‘kan kerumah?”

__ADS_1


Pernyataan wanita itu semakin membuatnya bingung, “ke-kenapa aku harus kerumah tante?”


Sarah menghela, “sudah tante duga, pasti nabil gak sampei ke kamu.” gumamnya kemudian mengulas senyum, “begini nak syifa. tante tahu kedekatan kamu dengan putra tante, intan yang cerita. kalian ‘kan sudah dewasa. sudah waktunya untuk serius. makalah itu tante meminta nabil untuk mengundang kamu dan keluarga makan malam dirumah kami. untuk kita semua saling mengenal.”


Syifa mematung mendengar niat wanita itu. ia tak menyangka kedekatannya dengan nabil sudah diketahui mereka sejak lama. tak apa, lebih cepat lebih bagus untuk keluarga mereka berjumpa. bukankah itu akhir dari rencananya.


“In sya allah, aku sama ibu akan datang.”


“Alhamdulillah,” ungkap sarah, “klo begitu tante minta nomor ponselmu. sekaian tante kirimin alamatnya, soalnya klo nabil orangnya suka lupaan.”


Syifa menaggguk kemudian memperlihatkan nomornya, "ini hanya pertemuan antara keluargaku dan keluarga tante, kan?” ia ingin memastikan sesuatu.


“Tapi dirumah cuman ada ibu sama intan. Ayahnya nabil lagi keluar kota, Nak.”


“Aaa.., Tante?” panggil syifa sebelum wanita itu memasukkan ponselnya kembali, “aku boleh save nomornya Om Haris?” tanyanya ragu.


“Boleh,” Sara segera memperlihatkan nomor itu pada syifa, “pasti mau pdkt sama ayah mertua.” godaannya membuat wanita muda itu tersenuyum hambar.


“Terimah kasih, tante.”


“Sama-sama.”


Setelah kembali meyakinkan syifa untuk datang. sarah langsung pulang usai berpamitan pada wanita itu. senyum yang mengiringi langkahnya seketika memudar ketika ia sudah menghilang dari ujung koridor.


“ini adalah kesempatan yang pas mengungkap pada mama, siapa nabil sebenarnya.”


Setelah syifnya berakhir, ia langsung pulang bersama Aska. seperti halnya pagi tadi, ia masih meminta pria itu melalui jalur bengkel. sebelum melewati bengkel, mereka turun dan mendorong motor bersamaan seakan motor itu sedang mogok. disela membantu aska mendorong, syifa mulai bercerita yang bisa menimbulkan tawa.


Gelak tawa itu kembali didengar nabil namun pria itu mencoba mengabaikan.


“Sabar, Bil. dia cuman mau bikin kamu cemburu. klo emang mogok, pasti mereka bener singgah ke bengkel kit.” kata Dion yang ikut berdiri disampingnya.


“Gue gak harepin mereka mampir. gue juga gak sudi ngeberin kendaran mereka.” balas Nabil dan kembali melanjutkan pekerjaan.


Sementara itu, ketika sudah melewati bengkel, Aska dan syifa kembali menaiki motor.


“Sehari ini udah beberapa kali nabil jenguk lia, Ka?" tanya syifa di sela perjalanan.


“Gak pernah.”


“Huh!” Ia terperangah, “jadi selama ini dia gak pernah jenguk Lia?”


Aska mengagguk, “maka itu aku takut, klo kedekatan kita membuat dia marah dan akhirnya ninggalin Lia tiba tiba.”

__ADS_1


Syifa terdiam, Ia juga memikirkan itu. tapi seharusnya Nabil sedikit peduli dnegan keadaan Lia bukan hanya sekedar simpati mengikuti rencana.


-Bersambung.


__ADS_2