Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
cari motor


__ADS_3

cahaya mentari pagi telah hadir menggantikan rembulan, Sinar yang indah nan cerah pagi itu semakin menambah semangat insan yang akan memulai aktifitasnya.


"Maaa? shifa mau berangkat!" sahut Shifa, ia kemudian menghampiri mamanya dikamar karna lama menunggu.


"Mama mau kemana?" tanyanya ketika melihat Ana sangat rapi dan sibuk didepan cermin.


"mama mau jenguk Lia," jawab Ana, ia menatap putrinya dari pantulan cermin, "kamu juga mau kesana 'kan? kita bareng."


shifa hanya mengangguk-angguk, ia tersenang senang melihat mamanya sangat antusias menjenguk Lia.


"jangan senyum-senyum, mama mau jenguk Lia karena mama gak mau kamu dekat-dekat sama kakaknya."


shifa menyernyit, "Aku gak pernah dekat-dekat sama dia, mah..," bantah shifa.


"Terus ngapain semalem pulang bareng? semobil pula. mama gak mau yah, kamu CLBK."


shifa bergidik geli mendengar mamanya menyebut clbk, "kan itu darurat mah..,"


"kamu kan bisa langsung pinjam ponsel orang lain nak, gak harus minta bantuannya."


"mama kayak gak tau aja sih shifatnya," timpal shifa ia menatap pantulan dirinya di cermin kemudian merapikan jilbabnya, "ayo mah, berangkat. nanti shifa dimarahin ama bosss."


Ana terkekeh kecil, "Bosmu itu tantemu.., gak mungkin dia marahin ponakannya."


"tapi shifa gak enak mah, sama yang lain. nanti dikiranya shifa manfatiin itu karena mentang-mentang keluarga boss."


Ana hanya tersenyum mendengar pikiran anaknya.


setelah keduanya sudah puas didepan cermin, mereka pun keluar dan berangkat kerumah sakit. untungnya hari itu tak terlalu macet sehingga tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sana.


mereka memasuki pintu rumah sakit dan Shifa menuntun ibunya ke ruangan Lia. terlihat Aska sedang duduk membaca sesuatu di samping adiknya.


"Assalamu Alaikum." salam shifa dan ibunya ketika memasuki ruangan.


"Waalaikumussalam," jawab aska, ia menengok ke pintu dan kemudian berdiri menghampiri shifa dan ibunya.


"Tante apa kabar?" Tanya Aska ramah pada ibu shifa.


"Alhamdulillah," meski masih tidak menyukai Aska tetapi Ana berusaha menjawab nya. ia kemudian menghampiri Lia yang masih menutu mata.


sedang Shifa menyernyit mendapati benda yang di tangan Aska, "iqro" batinnya "apa Dia sedang belajar iqro?"


"kenapa, Shifa?" tanya Aska yang sadar shifa menatapnya.


shifa segera menundukkan pandangan dan menghampiri ibunya yang ternyata juga sedang menatapnya tajam, dari tatapan itu ia bisa tahu ibunya tidak suka dirinya dekat-dekat dengan Aska.


"Lia belum pernah sadar jga?" Tanya shifa.


"dia tidur shifa," jawab Aska, "shubu tadi Lia terbangun," lanjutnya.


shifa menyernyit, "Dia sholat shubuh?"


Aska mengangguk, "Di atas brankar," jawabnya, ia tersenyum menatap adiknya, "katanya, Dia ingin sekali melihat Allah."


Kalimat Aska membuat shifa dan ibunya saling memandang terkejut dan tiba-tiba merinding. apakah Lia sebentar lagi akan pergi ke pangkuan ilahi?


melihat ibu dan anak itu saling menatap dalam diam, membuat aska terkekeh kecil. mungkin kalimatnya barusan terlalu jelas, mudah orang langsung menyimpulkan.


"kata Lia, kamu pernah bilang.

__ADS_1


mereka yang menjaga sholat subuh dan azar nya, dijanjikan kelak di syurga akan melihat Allah," ucap Aska.


Ooo.. kirain, batin shifa.


Aska kemudian menoleh ke adiknya, "dia tidak mau membiarkan keutamaan itu pergi begitu saja. Lia ingin menjaganya, biarpun keadaannya sakit seperti ini."


aska kemudian berganti menatap shifa, "Terimah kasih sudah mengenalkannya banyak pengetahuan, terimah kasih sudah mau menerima Lia sebagai temanmu."


Kalimat Aska membuat shifa terpaku, mereka saling menatap dan memberi senyum, hingga....


"Eheeem.."


sebuah deheman dari ibu shifa membuat keduanya saling memalingkan pandangan.


"kamu berangkat gih, nanti telat." kata Ana kepada putrinya, "Mama mau temenin Lia dulu."


shifa mengagguk kemudian meraih dan mencium tangan ibunya, "shifa pergi dulu ya mah,"


Ana mengusap punggung putrinya, "iya sayang, kamu hati-hati."


shifa mengangkat kepalanya, kemudian memberi anggukan kepada pria didepannya "Assalamu alaikum," ucap shifa bergantian menatap aska dan ibunya.


"Waalaikumussalam..."


shifa pun melangkah dan hendak membuka pintu ruangan, namun...


"Shifa!"


shifa berbalik. ia melihat Aska sudah berjalan kearahnya. sementara ibunya hanya menatap pria itu terkejut.


"Kenapa?" tanya shifa heran pada Aska.


seketika pupil mata Ana membesar menatap pria yang senang berdiri didepan putrinya itu, ia menghampiri Aska.


"Apa lagi niatmu untuk mencelakai anak saya?" tanya Ana tak ramah, ia menatap tajam pria yang sedang terkejut karena kalimatnya.


"Maaa,--"


"shifa, cukup!" Ana menatap tegas putrinya agar tidak berbicara, "mama gak mau kamu dekat-dekat lagi sama pria ini! sudah cukup dia menyakitimu, nak."


kaliamat Ana membuat Aska merasa bersalah, sadar ternyata sifat keegoisannya selama ini benar-benar melukai hati shifa dan ibunya. matanya ingin sekali mengelak ketika Ana tiba-tiba saja menatapnya marah.


"Berani beraninya kamu masih mendekati putri saya! setelah apa yang kau lakukan kemarin," ana tak berhenti memaki-makin anak muda didepannya. kemarahan melupakan ingatannya sedang berada dimana.


"Saya tidak akan membiarkan kamu menyakiti anak saya lagi!" bentak ana, "sekalipun shifa kembali jatuh cinta, saya tetap tidak merestui hubungan kalian!"


"kaaa..?


bentakan Ana membuat Lia terbangun. Aska segera menghampiri Adiknya.


"Gak usah bangun Lia," Aska menyuruh adiknya tetap pada posisi terbaring, namun gadis itu mengabaikannya.


Lia memicing melihat 2 orang berkerudung didepannya, "kak shifa? tante?" ia tersenyum senang.


shifa dan Ana kembali menhampiri Lia.


"kamu sudah merasa lebih baikan, Lia?" tanya shifa.


Lia mengangguk senang, namun tiba-tiba wajahnya jadi murung.

__ADS_1


"maafkan Lia kak, Lia benar-benar gak tau klo kak aska mau jemput hari itu." ia masih menyesalkan hari dimana aska menjempunya di rumah shifa.


shifa mengangguk, "kakak juga yang salah, seharunya kakak lebih pentingin penyakit kamu. maafin kakak juga yah?"


Lia tersenyum dan mengangguk, ia menoleh ke wanita paru baya yang berdiri di belakang shifa.


"Terimah kasih yah tante, udah jenguk Lia."


Ana mendekat, "Tante sudah anggap kamu sebagai anak tante sendiri, masa tante gak jenguk."


"kak Aska juga?" tanya shifa bahagia, ia melirih kakaknya yang ada di samping kiri, namun pria itu malah memberi isyarat agar tidak membahas itu.


"Nak," panggil ana pada putrinya, "kamu berangkat gih sekarang."


shifa menoleh ke Lia, "aku pergi dulu yah, nanti aku kesini lagi,"


meski tak rela, Lia mencoba mengangguk, "Hati-hati kak."


"Shifa!" panggil Aska, menghentikan langkah wanita itu yang hendak pergi.


"kenapa?"


Aska berganti menatap ibu shifa, yang sudah menunjukkan wajah tak ramah nya.


"Boleh Saya antar shifa kerja?" tanya Aska, "pakai mobil. saya tidak akan lagi mengambil kesempatan untuk mendekati shifa," lanjutnya.


"kalau gak pengen dekatin shifa, terus kenapa harus kamu nganterin dia segala?" tanya Ana memicing curiga.


"kalau nungguin taksi sama ojol, pasti lama. jadi biar Aska saja yang antar."


Ana menyeryit bingung.


"Oiyah, Aku lupa." kata shifa, "motorku sudah ketemu."


"bagaimana bisa?"


"Ada orang yang membawanya pulang," jawab shifa.


"motornya kak shifa hilang? terus bagaimana dengan motorku?" tanya Lia.


shifa berpikir sejenak, "nanti ku tanyakan sama orangnya, motormu dimana."


"motorku juga hilang?"


sifa menggeleng, "bukan hilang, tapi di simpen sama orang."


"Siapa?" tanya Aska.


"Yang bantuin Lia kemarin," jawabnya.


-bersambung


.


.


Jangan Lupa LIKE, KOMEN, VOTE sebanyak banyaknya, biar authornya juga up Banyak banyak yeh. hehe...


i Love you banyak banyak.

__ADS_1


__ADS_2