
Setelah menemui Nabil, syifa kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi lia. meski sempat mendapat bentakan dari aska, tapi sama sekali tak membuatnya merasa enggan bersimpati.
Langkahnya berubah pelan ketika melihat aska berhadapan dengan seorang Pria berwajah oriental yang ia duga adalah ayah dari aska.
“Plak!”
Langkahnya mematung melihat Aska mendapat tamparan keras dari sang ayah.
“Dia yang selalu membelamu! kenapa kau tidak berguna untuk adikmu! huh!?”
Meski matanya menyipit, tapi jelas terlihat kemarahan dan kekecewaan dari Pria setengah baya tersebut. syifa berpaling ketika Pria itu hendak melayangkan tinju ke Aska namun terjeda dengan tangkisan tangan maria, ibu aska.
Melihat kegaduhan keluarga itu membuat syifa perlahan mundur, namun sayang, kehadirannya sudah disadari. sangat gugup ketika 3 pasang mata menatap, apalagi tatapan ayah aska yang coba menerka siapa dirinya.
"Kau mengenalnya?” Tanya Pria berperawatakan tinggi itu pada putranya.
Aska mendongak, ia hanya menatap tanpa memberi jawaban. namun kebungkamannya justru menjadi jawaban terkaan Mon Tae.
“Panggil dia kesini.”
Aska segera berdiri dan memegang lengan ayahnya, “Dia tidak ada hubungannya dengan ini.”
“Tapi ada hubungannya denganmu, 'kan?” karena tak mendapat jawaban, Mon tae kembali menatap wanita muda yang mematung berjarak 7 meter dari mereka, "kemari!" pintanya dengan gerakan tangan.
Dengan berat Syifa melangkah, ia ingin menghidar tapi tatapan kedua orang tua Aska membuatnya tercekal dan sulit membantah. pasti mereka sudah tahu, Dialah alasan Aska pindah kepercayaan.
“Ashifatul markhamah?”
Degup jantung syifa semakin berpacu ketika Mon tae mencoba membenarkan namanya tepat ketika ia berhadapan dengan pria tersebut.
"I-iya" jawabnya gugup membuat Mon tae menyeringai.
"Sosok kebanggaan putri Saya, yang katanya sopan, ramah, dan baik," puji Mon tae. "apa kau tahu? saking ia mengagumimu.. putri Saya ingin jadi seperti Anda.”
Syifa tak merespon, ia kembali menunduk merasa pujian itu bukan untuk membesarkan sosoknya melainkan sarana merendahkannya.
"Tapi sepertinya Saya tidak menemukan itu,” lanjut Mon tae dengan menatap remeh. “bukankah dalam ajaran kalian menghormati orang yang lebih tua itu sangat di tekankan. tapi kenapa anda tidak berlutut di kaki calon mertuamu?”
“Pah!” sentak Aska.
“Aku bukan papamu sejak kamu mengorbankan kepercayaan demi wanita ini!”
Syifa memejam ketika suara melengking itu mengarah padanya.
“Bukan sepenuhnya salah Syifa! aku punya alasan lain atas hal itu!”
"Kenapa?" tantang Mon Tae "karena kau tidak suka ajaran kami!?”
Aska menggeleng, “karena Aku lelah menghadapi Anda yang terus menuntut! memaksa diriku harus menjadi apa tanpa kalian Tanya seperti apa inginku!”
Aska menghela napas mencoba mengontrol kemuakannya, “pindah kepercayaan adalah salah satu jalan yang kupikir akan membuat kalian berhenti mamaksaku. dan itu berhasil, kalian berhenti mengurusi hidupku hingga mengabaikanku sebagai keluarga!”
Syifa mendongak terkejut mendengar alasan Aska yang sebenarnya. ia bisa merasakan betapa lega-nya pria itu saat mengeluarkan unek-uneknya.
“Kalianlah alasan kenapa Aku sehancur ini! karena PAPAH!” teriak aska menggemah.
Bukannya mengayomi setelah mendengar alasan putranya, Mon tae justru semakin geram dan melayangkan tinju pada putranya.
__ADS_1
“Anak kurang ajar!” hardiknya, ia ingin melayangkan sekali pukulan lagi namun Maria menahannya.
“Seburuk apapun Dia.., Aska juga anak kita.” Maria mencoba meredakan emosi suaminya, meski dirinya juga kecewa tapi lebih tak tega melihat putranya dipukuli oleh ayah kandungnya sendiri.
Mon tae menghela kasar, menenagkan diri kemudian menatap Aska penuh kesal,
"urus semua keperlaun adikmu! kau yang membuatnya sakit, kau harus bertanggung jawab padanya, pastikan Dia sembuh!” cecarnya kemudian pergi.
Maria segera menghampiri putranya dan mengusap luka di sudut bibir putranya, “maafkan Kami jika menjadi alasanmu sehanjur ini, Nak.”
Aska mendongak, ia terkejut ketika wanita itu memanggilnya 'anak' hatinya tersentuh mendapat kehangatan ketika wanita itu memengang kedua pipinya.
“Jaga adikmu, Nak. kami akan tetap membiayai kesembuhannya. tapi maaf jika kedepannya kami tak ada waktu untuknya.”
Aska menapik pelan tangan wanita yang meneteska air mata itu. ia tidak menyukai permintaan mamahnya, “Mah! Lia sedang membutuhkan kalian. dia butuh dukungan orang-orang yang ia cintai!" cecarnya, namun maria hanya menagisi keadaan.
"Biarkan Papah! setidaknya orang yang pernah melahirkannya ada disini, menemani penjuangannya!”
“Maafkan kami, sayang.” hanya kalimat itu yang Maria ucapkan kemudian perlahan pergi mengikuti suaminya.
“Kalau uang lebih penting! kenapa kalian harus menghadirkan kami!!” raung Aska penuh kesal namun tak sedikitpun menghentikan langka wanita itu. "Aku bisa membiayai Lia tanpa uang kalian!!”
Setetes air matanya tumpah ketika wanita yang ia teriaki sudah menghilang di ujung koridor. berbagai sumpah serapah ia hemburkan dalam benak, namun sesaat kemudian ia terdiam dan melampiaskan marah pada tembok putih disampingnya.
Tangannya terluka, namun sakit yang sesungguhnya ada dalam hati. mengingat siap orang tuanya dan seperti apa watak keduanya.
“Tolong sadarkan Aku, Fa. Aku tidak ingin membencinya.. tapi mengapa mereka begitu tega,” ucapnya lirih di antara putus asa. ia tahu masih ada Syifa yang menatap iba.
**
Syifa terkejut dengan ungkapan pemuda yang duduk disampingnya. tangannya yang tadi menggulunkan perban pada luka pukulan tembok di tangan Aska terjeda.
“Selain untuk berobat, Aku juga ingin membuktikan bahwa tanpa mereka, Aku dan Lia akan baik baik saja. aku ingin lihat bagaimaa hidup mereka tanpa kami, Fa.“
Ia menatap serius Syifa usai wanita itu menggunting potongan perbannya, "Mereka sudah membuang kami, karna materi Fa.” lanjutnya kemudian berpaling menatap tajam pada dinding putih dihadapan.
“Ka..?" panggil Syifa, "maafkan Aku jika terlalu ikut campur. tapi bagaimana pun juga.. mereka orang tuamu, mereka_”
“Seharusnya mereka yang memikirkan itu, Fa.” pangkas Aska, “seburuk apapun Aku, seharusnya mereka tidak memutuskan hubungan. karena bagaimana pun juga aku tetap anaknya.”
Kali ini Syifa tak memberi respon, Pria itu masih tersulut emosi, tentu sulit baginya menerima saran.
“Besok Aku mulai urus keberangkatan kami.”
“Secepat ini?
Aska mengagguk, “bukankah lebih cepat lebih baik, Fa? dengan begitu Aku tak lagi bertemu dengan mereka.”
Syifa kembali terdiam, ada sesuatu yang ia khawatirkan selain menghawatirkan keadaan Lia. misinya, ia kawatir dengan itu. siapa yang akan membantu membuat nabil membenci jika Aska pergi?
“Kapan rencana kamu berangkat, Ka?”
“Setelah kontrak dan surat-suratku selesai, aku tinggal tunggu kabar dari dokter, kapan kondisi Lia mampu untuk berangkat.”
“Lama, Ka?”
Aska menghela, “selama Lia membutuhkan perawatan itu, Aku akan tetap disana.”
__ADS_1
Raut kecewa di wajah Syifa terlintas. pikirannya semakin kalut, bukan tak rela berjarak dengan pria yang seakan sudah menjadi teman dekatnya. "Aku harap Lia cepat pulih, agar kamu segera kembali ke indonesia, Ka.” sebuah senyum hambar hadir.
Aska menyernyit dengan kalimat menggelitik ditelinga. ia menoleh, “apa kamu merasa berat jika Aku pergi?”
Syifa mengangguk namun sesaat kemudian ia terjekat, “maksudku_“
“Kamu bisa ikut bersamaku, Fa. jika kamu merasa berat Aku tinggal.”
Syifa tak bisa berkata-kata lagi, Aska sudah salah paham karena anggukannya. mereka saling berpandangan hingga akhirnya syifa tertunduk.
“Bukan begitu, Ka..”
“Iya, aku tahu. kamu punya masalah dengannya." Aska berpaling ke depan, "aku bisa menunggumu untuk menyelesaikan itu dan kita bisa berangkat bersama menjaga Lia.”
Syifa hanya diam menatap, bahkan setelah Pria itu kembali menoleh padanya.
"Aku juga butuh dukungan, Fa. Aku butuh kamu untuk menguatkan dan menyadarkanku menghadapi semua ini..”
"Ka.., Aku bisa membantumu jika kamu bisa menganggaku teman. ngga lebih.”
Aska menyernyit, “apa ini waktu yang tepat untuk membicarakan perasaanku?” tanyanya.
“Jadi Kamu mengajakku bukan untuk perasaanmu?”
Aska megagguk, “tapi aku benar-benar membutuhkanmu di sana, Fa. untuk Lia. selama kamu di jepang Aku akan membiayai semua keperluanmu."
“Maaf soal itu, tapi Aku benar gak bisa.”
“Kenapa, Fa? Aku tahu kamu juga merasa berat Aku tinggal.”
Syifa tak memberi jawaban, ia takut jika Aska mengetahui alasannya merasa berat di tinggal.
“Kalau bukan karena perasaan, pasti karena kamu masih membutuhkanku 'kan?” tebakan Aska semakin membuat syifa menunduk tak enak, "katakan saja Fa. kamu bisa memanfaatkanku selagi aku masih ada. selagi aku bisa, aku akan membantumu.”
Terdenagr menyenangkan mendengar tawaran itu. tapi kata memanfaatkan membuat syifa sedih.
“Kecuali soal masalah kalian,” lanjut Aska membuat Syifa mendongak.
"Padahal Aku membutuhkanmu dalam urusan itu, Ka.”
Aska menggeleng, “cukup kemarin Aku terlibat, Fa. masalah yang Ku hadapi sekarang ini juga tak lepas dari rencanamu.”
“Kamu menyalahkanku?”
“Bukan begitu, Fa. Aku hanya tak ini sesuatu terulang lagi.”
“Tapi Aku benar membutuhkanmu dalam hal itu..” pinta Syifa, “sekarang cuman kamu yang bisa membantuk, Ka.”
“Tapi Aku benar tidak bisa, Fa."
Syifa menghela berat, padahal jalan pintas untuk membuat nabil membencinya adalah bantuan Aska. namun pria itu benar-benar 'kekeh tak ingin terlibat.
Salah satu jalan yang ia temukan hanyalah terus menyalahkan orang tua Nabil atas kepergian papanya. tapi sampai kapan? itu tak akan membuat nabil membenci justru Pria itu akan semakin nekat mencari bukti sebenarnya.
-Bersambung.
Mohon bantu supportnya yah, temen temen. terimah kasih. assalamu alaikum.
__ADS_1