
...“Klo gitu kamu aja yang terima kitbahnya!!!”...
"Naluri Titipan"
Bab 10
“Ibu nda sabar kenalinki sama keluarga di Rappang," ucap Ibu Nani disela makan. "Kata Habibi, kita penasaran sama kotanya 'di?”
“Huh!” Salsa paham maksudnya, Itulah kenapa ia menatap Habibi namun pria itu malah melempar senyum dan semakin membuat Salsa ingin meremas.
“Ingat, siapapun itu kamu harus sopan,” bisik Dani ketika wanita itu menatapnya.
Salsa mendengus, ia kemudian menatap Ibu Nani sekedar memberi anggukan paksa demi menyenangkan hati wanita tersebut.
Setelah makan selesai, dua pihak keluarga itu kembali berbincang mengenai kehidupan keluarga masing-masing. Namun Salsa tak diberi kesempatan pada Dani untuk menolak pinangan Habibi.
“Jadi kapan kita bisa ke rumahnya Nak Salsa? Biar cepat kita carikan uang panai_"
“Tunggu istiqarah dulu yah, Bu.” pangkas Salsa membuat semua terdiam. Salsa yang tak enak dengan suasana ini membuatnya harus sedikit memberi angin segar. “Masalahnya belum saya kasi tahu ke Abi juga, nanti kalo abi setuju…”
“Kamu terima, Sal?” tebak Habibi.
Salsa menggeleng. “Aku mau istiqarah lagi,” balasnya “sampe yakin klo kamu bukan jodohku!” lanjut batinnya.
“Nda yakin ki' Nak?" Ibu Nani sedikit kawatir.
Salsa tak memberi jawaban, ia hanya tersenyum pada wanita itu kemudian menatap Dani. “Udah malam, Bang. Desainku masih banyak.”
Dani yang mengerti biskikan itu segera mewakili adiknya untuk berpamitan pada Ibu Nani dan Habibi. Setelah memastikan semua makanan terbayar oleh Habibi, Salsa segera beranjak ke mobil dengan langkan cepat kemudian di diikuti Dani.
🚘
Di perjalanan, tak ada pembicaraan yang tercipta antara kakak beradik itu. Semua diam dalam pikiran masing-masing atau justru salah satu dari mereka sedang menahan kesal untuk diledakkan ditempat yang tepat.
Kendaraan didepan rumah masih ramai, Dani segera memotong jalan setelah mendapat kesempatan untuk berbelok ke halaman rumahnya.
Bruuk!
Salsa menutup pintu sangat keras ketika turun.
Pemilik mobil itu hanya mengelus dada, bukan waktu yang tepat untuknya memprotes.
“Mati aku,” gumam Dani kemudian menuruni mobil. Ia menatap langit sejenak. "Astagfirulllah.... allahumma solli alaa Muhammad. Allahumma asrahli sadri wayassirli amri, wa uhlul ukdatan min lisaaani yafkahu qouli."
Usai membaca salawat dan doa Nabi Musa untuk dipelancarkan lisannya dalam ucapan, Dani meyakinkan diri melanjutkan langkah. Pemandangan yang pertama kali ia dapat ketika berdiri di bibir pintu adalah sorot mata tajam menyala dari wanita yang tengah duduk di sofa berhadapan dengan pintu.
“Tega kau!” Salsa melempar canteen bag-nya pada Dani, beruntung pria itu sigap menangkap. "Bisa bisanya kamu jodohin aku sama temanmu itu!” teriaknya kecewa.
__ADS_1
Dani belum memberi jawaban, ia duduk di sofa. “Habibi orangnya baik, Sal. Terimah aja pinangannya," bujuk Dani seraya menaru canteen bag wanita itu di atas meja.
“Aku gak mau!" Tolak Salsa. "Dia gak kenal aku! aku juga gak kenal dia. Bisa bisanya langsung ngajak nikah!” Ia membuang muka meredakan kesal.
“Kalian udah Ta'aruf." Kalimat Dani membuat Salsa kembali menatap dengan cepat. "Dia udah kenal kamu lewat cerita recehmu itu, Sal.”
Salsa terdiam mengingat sekmen dimana ia bercerita lepas, mulai mengerti mengapa Habibi selalu kepo tentang dirinya tiap kali ada pertemuan.
“Tapi aku yang nggak kenal, Baaang,” rengeknya putus asa.
“Salah sendiri kenapa gak nanya-naya waktu itu!” namun pria itu justru menyalahkan. “Jangan sia-siain waktu-ku yang terbuang karena jadi perantara kalian.”
Lanjutan kalimat Dani membuat alis Salsa tersentak. Ia memikirkan sesuatu, setelah menyimpulkan matanya kembali menatap nanar dan kecewa.
“Jadi itu alasannya kamu ngekor terus selama aku ketemu Habibi?” tanya Salsa diakhiri tetesan air mata.
Dani menghela ketika 2 bulir air mata itu lolos dari pipi dan menghujani dress pemberian Habibi. “Gak usah nangis. Udah bertahun-tahun aku kenal dia. 'Dia anaknya baik, soleh, mapan, bertanggung jawab. Kurang apa, coba, Sal?“
“Klo gitu kamu aja yang terima kitbahnya!” Salsa berdiri beranjak ke kamar.
Dani ikut berdiri. “Masalahnya aku akhy, bukan ukty!” Ia mengekori Salsa sampai depan pintu.
Pintu sudah tertutup dan mungkin saja dikunci pemiliknya namun pria itu belum menyerah membujuk. Ia menempelkan sebelah pipi di pintu seraya mengetuk.
"Yakin aku kamu bisa raih surga sama dia. Sekalian bisa belajar bahasa arab. Pahala loh, Sal. Belajar sama yang udah mahram. Kamu kan kepengen belajar bahasa arab tanpa buang modal, Deek.”
“Jangan dipaksa adikmu, le. Kasian dia.” Abi Zukri yang baru saja keluar kamar menghampiri putranya. “Yang seharunya nikah duluan itu kamu, kakaknya. bukan Salsa."
“Tapi Habibi 'kan_"
“Kalau gak mau jangan dipaksa!” tegas Abi Zukri. “Toh kamu juga gak bisa buktiin perasaanmu ke Nada.”
Deg!
Dani tak lagi berkutip usai mendengar lanjutan kalimat Abinya. Ia terbelalak mendengar nama Nada. “Bi, ahu dari mana?”
“Adikmu… beruntung kamu Abi di kasi tahu. Jadi besok Abi punya alasan silaturahim ke pesantrennya Kyai Nur.”
“Abi jangan!” pekik Dani panik.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamar dihadapan mereka terbuka. Meski tak terlihat ada air mata, tapi siapapun yang menelisik sorot matanya bisa menyimpulkan jika wanita itu baru saja menangis.
“Bialangin juga Kyia Nur, Bi. Klo Dani udah lama ada niat pinang Nada tapi gak berani. 6 tahun, Bi! 6 tahun!” kata Salsa sedikit segukan, ia kembali menutup pintu tak mau melihat sorot mata sang kakak sedikit pun.
Abi Zukri menatap kecewa putranya. “Dikutuk malaikat kamu, le.” ia menyayangkan air mata salsa.
__ADS_1
Selepas Abi zukri pergi, Dani menuju ke dapur. Ia meneguk air putih sangat banyak berharap pening dikepala sedikit hilang.
Solatun bissalamin mubiiin_"
Dani segera merogo ponsel ketika nada deringnya berbunyi. Panggilan dari Habibi.
"Salsa gimana__"
"Gue dimarahin!" Sembur Dani tak membiarkan pria itu melanjutkan kalimat.
"Lah, kok bisa?"
"Masih nanya lah kok bisa," celetuk Dani dengan nada ejekan, "Eh! Gara-gara kamu bawa Ibumu ketemu Salsa. Dia marahin aku! Gila, Kenapa sih, gak kabarin dulu klo mau bawa Ibumu!?"
"Aku keceplosan sama Ibu, Dan. Ibu desak mau ketemu calon mantunya. Aku gak tega nolak permintaan Ibu."
"Bilang ke ibumu, Salsa gak bakal jadi mantunya."
"Kamu kok gitu, sih!"
"Salah kamu sendiri!" Timpal Dani. "Kuatin hatimu dari sekarang, deh. Besok kita ketemu."
Dani memutuskan panggilan, Ia kembali menuang air kemudian menguknya. Gelas berbahan kaca itu menjadi lampiasan kegusaran Dani.
"Bersambung"
Hay, Hay... Assalamu alaikum, semuanya.
berjumpa lagi denganku, pemilik akun ig @airannur_ . tau gak, kenapa kemarin MCK gak konsisten Upnya. karena ini.... aku fokus keceritaku yang ini... dan hasilnya alhamdulillah lebih baik alurnya dan lebih gereget lagi.
Naluri Titipan:
Tentang:
-Seorang Muslimah yang menolak lamaran seseorang, tetapi berakhir penyesalan.
-Seorang Dokter yang terauma pada masa lalu, sehingga memilih diam dan meyakinkan diri terlebih dulu.
-Seorang Pria yang tak berani meminang pujaan.
-Dan Seorang sahabat yang mengharapkan sahabatnya.
Sebuah kisah cinta yang bertender pada dua insan yang saling dekat namun takut melekat. Hingga sebuah kegelisahan membuat mereka memahami arti dari perasaan, cinta dan pernikahan. Mempercayakan takdir baik itu selalu ada, namun ingin mengelak dari ujian akan cinta Allah.
Sanggupkah ia menahan gejolak rasa atau justru meletup namun membawa cemburu?
Semua Kisah telah terangkum rapi dalam bait aksara yang tersusun dalam Cover "Naluri Titipan"
__ADS_1
Penasaran? cek ***, yah! Aira Annur nama penaku. Terimah kasih. jangan lupa Follow dan berlangganan, yah! gak nyesel, kok. klo ngikuti tamat. in sya Allah Upnya lancar lagi. Assalamu'alaikum.