
Sudah tiga hari ini Shifa mengajar di Mushollah karena TPA yang baru masih dalam tahap pembangunan.
dan seharusnya pria yang di tungggu kedatangannya sejak kemarin itu sudah ada namun lagi tante sarah yang datang dan mengantar intan.
"Alhamdulillah sebentar lagi TPA ini akan jadi," ucap sarah memandangi bangunan yang berukuran 6×7 itu yang sudah lengkap dengan atapnya hanya saja masih terlihat berantakan disana.
"Iya tante, dibuatkan bangunan seperti ini saja kami sudah bersyukur tidak perlu menabahkan peralatan yang berlebihan, ini sudah Alhamdulillah," ucap Shifa melihat AC yang terpasang di samping tembok luarnya.
Sarah menoleh ke Shifa "Saya hanya ingin memberi kenyamanan dan yang terbaik selagi saya bisa."
"Tapi ini terlalu nyaman tante, bisa bisa kita ketiduran pas ngaji nanti," ujar Lia.
Sarah terkekeh, "itu bukan ketiduran Lia, itu namanya kecapean,"katanya "tenang saja tante akan memberikan buku-buku yang menarik mengisi kebosasan sekaligus untuk menambah ilmu."
"Buku?" Shifa dan Lia saling memandang.
"Iyah, besok anak saya yang akan bawa, kebetulan hari ini Dia datang."
"Syukurlah, rupanya Dia sudah pulang,"
Sudah beberapa hari ini mereka sangat akrab dengan tante Sarah, mungkin karena sering bertemu juga selalu membahas pembangunan TPA itu. meski sangat hormat pada sarah, namun setiap Lia dan intan bertemu tetap saja saling menunjukkan rasa kesalnya.
***
Langit sudah tertutupi warna hitam pekat, udaranya sangat dingin dan begitu menusuk sampai ke sendi sendi.
Terlihat pemuda yang tengah duduk bersantai dengan sebuah berkas di tangan kirinya, sedang tangan kanannya memengang cangkir yang berisikan kopi untuk menghangatkan.
Terlihat wajah pria itu malas dan terpaksa membaca isi berkas itu. ia kemudian menaruhnya di meja.
"Mah, Nabil kan sudah bilang, Nabil mau kembangkan bisnis sendiri." katanya menatap wanita paru baya yang sejak tadi menunggu keputusannya.
"Lagi pula Aku juga tidak cocok berpakain seperti papa. berjas, berdasi, sepatu mengkilat, ah itu penampilan yang ku benci." lanjutnya seraya meletakkan kopinya di atas meja karena sudah tidak berselera.
"Yah kamu harus membiasakan dong nak, nanti juga kamu terbisa," Sarah mengambil berkas itu dan membukanya "Lagian kamu ini, sudah mau di angkat jadi bos malah milih pekerjaan di pinggir jalan. inget nak, kamu ini pewaris keluarga kita."
"Intan juga mah?" Sahut intan yang baru datang, ia duduk di samping mamanya.
"Kamu masih kecil sayang,"
Terlihat wajah intan merajuk.
"Nanti klo udah gede mama angkat kamu jadi putri mahkota."
"Bener! Mah?"
"Iyah, asal kamu rajin dan gak menerima jajan sembarang lagi" sarah melirih ke putranya.
"Dia yang minta maah," kata nabil yang mengerti tatapan itu.
"Kok aku sih!" Protes intan yang tak terima disalahkan.
"Kamu kan yang rengek beli ini, beli itu. sampe nagis nagis, bikin malu aja," seru Nabil.
Sarah menatap putrinya dengan kesal.
"Ngga pernah mah!" intan merasa tersudutkan.
"Bohong tuh mah!"
Intan memicing kakaknya dengan kesal, ia tahu siapa yang sedang bersandiwara.
"Katakan yang bener gak kak! atau aku kasi tahu mama klo kak nabil udah punya cewek," Ancam intan.
Nabil dan sarah sama sama terbelalak.
"Ngajak perang nih bocah," batin nabil.
Sarah menatap putranya, "Siapa sayang? Kenapa gak kenalin mama?" tanyanya antusias
Nabil terlihat bingung "gimana mau ngenalin mah, orang belum punya."
__ADS_1
Ia menoleh ke intan "Heh bocah! kakak gak pernah yah bilang udah punya cewek, Ngarang kamu."
Intan terkekeh "oh iyah, lupa. kak nabil emang belum punya mah! cuman masih PDKT," Sahutnya.
"Sama siapa sih intan?" Tanya sarah, yang juga mewakili pertanyaan nabil di benaknya ia tahu pernyaan adiknya hanya akal-akalannya saja.
"Itu loh maa.., pas Kak Nabil jemput intan di TPA. Dianya senyum2 terus pas ketemu kak--"
"Eeemmb!"
Nabil segera membungkam mulut intan dengat tangannya.
"Jangan lanjutin ato kakak pindahin kamu dari TPA itu" bisiknya.
Intan menarik tangan Nabil dari mulutnya, " cuih! cuih! pindahin aja. mau alasan apa kakak ketemu Dia klo aku gak ngaji disana?"
"Nih bocaah!"
"Dia siapa sih, intan?" tanya Sarah.
"Itu loh mah, kak Nabil sukanya sama kak Ssiiiii" intan tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat Nabil mengangkat polpen kesayangannya dengan ancaman ingin mematahkannya.
Pria itu menatap adiknya dengan ancaman agar tidak menyebut nama itu.
"Shifa mah!" kata intan kemudian segera merebut polpenya"Oh doraemonku"
Nabil terbelalak, ia tidak menyangka intan mengabaikan ancamannya tadi "awas kau"
ia meringis kini menatap kesal adiknya yang terlihat tidak merasa bersalah dengan ucapannya.
"Shifa? yang mengajar di TPA itu?" tanya Sarah.
Upps!!
intan mendongak kepalanya, ia tak sadar meyebut nama Shifa tadi, ia kira menyebut nama Siska?
"Apa aku benar menyebut namanya?" ia menoleh ke pria yang sedang menatapnya tajam. "oh tidak, mulai besok aku tidak akan merasakan manisnya es tong tong."
" Dasar, kenapa kau malah memperjelasnya?"
Terlihat Sarah tersenyum "oh jadi bener dugaan ku, Nabil mengajak intan ngaji disana karena wanita itu."
"Lain kali, klo suka sama orang kenalin sama mamah, biar mama langsung pinang," kata Sarah mennggoda putranya yang masih menunjukkan kekesalannya pada intan.
"Anaknya juga baik, mama suka," Lanjutnya yang mampu Nabil menoleh padanya.
"Mamah sudah ketemu?" tanya Nabil, namun wajahnya nampak menghawatirkan sesuatu.
Sarah mengangguk, "anaknya sangat lembut dan santun, tapi wajahnya seperti tidak asing di mata mamah,"
"Mama tidak mengenalnya?" tanya Nabil.
"Mamah sudah mengenalnya, kan aku yang kenalin." sahut intan.
"Diam kau! masuk ke kamarmu sana!" Usir Nabil, ia masih kesal dengan adiknya itu. tak mau membuat kakaknya tambah kesal, intan buru buru pergi dengan langkah mengutuk pria itu.
"Sudahlah, hari ini mama sangat lelah. jika kau tidak sibuk besok temanilah Shifa membeli buku untuk Anak anak di TPA."
"Kenapa harus Nabil mah?" Protes Nabil, yang sebenarnya ia sangat senang karena ini adalah kesempatannya.
"Kau laki-laki, banyak barang yang harus di bawa. lagian mama juga harus pergi ke jakarta besok, inget jaga adikmu jangan berantem."
"Kenapa mendadak mah? apa ada yang meninggal?"
Sarah memukul lengan putranya dengan bekas, "Kamu ini, apa harus ada orang meninggal dulu, baru semua harus mendadak?"
"Bukankah kematian itu datangnya mendadak mah? malaikat izrail datang mencabut nyawa tanpa permisi pada manusianya, tidak mempedulikan sedang apa raga yang akan ia pisahkan dengan Rohnya, karena tugasnya memang mencabut nyawa."
"Dan disitulah semua akan mendadak. mendadak dipasangkan bendera putih depan rumahnya, mendadak banyak tamu ke rumahnya, termaksud keluarga jauh yang sebelumnya tidak pernah mengunjunginya."
"Siapa yang kau harapkan mati mendadak? ayahmu?"
__ADS_1
"Apa!? tidak bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Nabil kan baru pulang dari Jakarta, mah. papa sehat dan semuanya baik-baik saja, kenapa harus pergi mendadak."
Sarah menghela napas, "keluarga kita baik-baik saja, nak. tapi perusahaan Alm om Harist yang di kelola tikus berdasi itu semakin hari semakin besar."
"Tikus berdasi? maksud mama Om Rival?"
Sarah mengangguk, "Mama dan papa tidak bisa membiarkan mereka mengusai perusahaan itu. bagaimana pun juga pemilik perusahaan itu Adalah keluarga Almarhum dan putrinya adalah sang pewarisnya."
Sarah menatap kedepan dengan ingatan masa lalu yang masih membekas. sebuah tuduhan, dan kesalah pahaman yang membuat keluarga Almarhum dan keluarganya saling berjauhan menyimpan pemikiran masing-masing sampai sekarang.
"seandainya kamu mau mempercayai kami dulu, mba."
"Apa rencana mama dan papa?" tanya Nabil membuyarkan lamunan mamanya.
Sarah menoleh ke putranya, "mama harus pergi ke Jakarta untuk mencari Tante Ana dan putrinya." sarah kembali menatap ke depan, kini ia teringat gadis kecil yang sangat imut dengan gigi ginsul yang terus terlihat meski hanya tersenyum.
"Pasti Dia sudah besar sepertimu, Nak. mama sangat merindukannya, mama harap Allah segera mempertemukan kami." gumamnya sambil tersenyum.
"aku sudah menemukannya mah, tapi maaf. aku belum bisa memberitahukan keberadaannya."
nabil menatap lekat wajah mamanya. ia tahu ada kerinduan disana. namun ia tidak bisa mengatakan ada dimana pemilik rindunya itu.
ia takut orang tuanya gegabah, karena ini sangat sensitif bagi Shifa juga ibunya. bagaimana jika shifa membenci dirinya duluan sebelum misinya tercapai. tentu itu akan membuat hubungan keluarga mereka bermusuhan, mungkin sampai akhirat.
**
malam semakin larut. Nabil sudah berada di kamarnya ingin memejamkan mata, namun ingatannya tentang gadis kecil berginsul itu terus membuatnya terjaga dan senyum senyum sendiri.
ia kemudian duduk dan mengambil sebuah buku di dalam laci. sebuah senyum masan tergambar di wajahnya ketika membaca judul buku itu. "aku yang mengajakmu memantaskan diri, tapi kamu yang membuktikannya."
Nabil membuka halaman terakhir buku itu, terlihat disana ada 2 Foto. gadis kecil dengan wajah tercengang juga foto dirinya dan gadis kecil itu yang terlihat menggemaskan dengan bergaya khas anak anak.
"Aku bisa mengenalimu karena foto ini," gumamnya "sangat jelek," tapi ia tersenyum.
"Aku rindu ingin bertengkar denganmu," nabil menusap foto itu dan berhenti pada coretan yang bertuliskan Asyifatul Markamah.
"Apa kau benar-benar tidak mengenaliku?" ucapnya lirih namun, kenyataannya sangat sakit ketika pemilik rindunya itu tidak mengenalinya.
sementara itu ditempat lain. seorang wanita sedang gusar dengan ingatannya. pandangannya lurus menembus kaca jendela yang sedari tadi ia tatap dengan pemikiran yang membuatnya merasa takdir tidak adil padanya.
ia mencoba menggambar sosok pria yang ia rindukan dengan imajinasinya.
matanya.., ah tidak tidak, Dia tidak sipit.
hidungnya.., yah dia sedikit pesek. tapi kacamata masih bisa menggantung di hidungnya. rambutnya..., ah model rambut bisa berubah.
Yah itu Shifa, yang tengah mencoba mengingat pria kecil yang membuatnya terus penasaran. tidak adanya jejak membuatnya sulit mengingat wajah pria itu.
"Ternyata kamu begitu curang. saat kau bertemu denganku mungkin kau langsung mengenaliku karena kamu menyimpan fotoku. tapi Aku? wajahmu bahkan tidak tergambar di ingatanku.
untuk apa kau dulu memberiku tanda tangan? apa aku harus menyelidik ke polisi biar mengetahui keberadaanmu?"
"Dasar curang."
Shifa berdiri dan memilih untuk tidur, berharap ada keajaiban dalam mimpinya.
Dan disisi lain.
"Kita Liat bagaimana kau tidak menyadari keberadaanku. kuharap kau tidak mengenaliku sebelum misiku selesai."
ia menutup buku itu, dan kembali memejamkan mata.
-Bersambung
Jangan Lupa LIKE, KOMEN, VOTE sebanya banyaknya.
Terimah kasih.
__ADS_1