Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Tertangkap!


__ADS_3

Setelah melakukan pemotretan, Aska bertemu Rasyid disalah satu perkampungan kecil. disana ia harus merelakan uang puluhan juta demi mendukung rencana Syifa juga sebagai bukti permintamaafannya terhadap nabil dulu. Aska tahu, setelah nabil tertangkap polisi, pasti pria itu akan dibantu untuk rehabilitasi.


Usai mendapatkan barang itu, ia langsung kerumah Syifa, disana Syifapp menyimpannya rapat dalam kamar. sebab besok ia baru akan beraksi. namun beberapa saat setelah kepergian Aska.


Nabil menelpon dan mengajaknya bertemu.


Di sebuah taman tempat mereka biasa bertemu kembali menjadi sarana. sudah ada Nabil dan Eky, kedua pria itu sama-sama membawa ransel.


“Aku kira kamu nggak datang, Fa.” ujar Nabil setelah Syifa ada dihapannya.


“Assalamu alaikum.”


“Waalaikumussalam,” Balas dua Pria itu. Eky berpamitan pergi usai mendapat lirikan Nabil.


"Duduk, Fa.” Ajak nabil sebari melepas tas dipunggung kemudian duduk berjarak dengan Syifa, “senang rasanya bisa ketemu Kamu sebelum Aku pergi."


“Kamu mau kemana?” ia tak sedang kepo, tetapi memikirkan rencananya.


Nabil mengulas senyum, “Aku akan berjihad.”


Jawaban Nabil membuat Syifa terdiam, waktu mendesaknya untuk berfikir, bagaimana agar barang itu bisa terbawa oleh nabil.


“Fa?” panggil Nabil, "hanya cinta yang tulus yang mau berkorban, dan Kamu sedang mengorbankan cintamu demi cinta yang lain. Aku tau Kamu berada pada dilema. ada cinta yang mau Kamu perjuangkan, sementara di sisi lain kamu harus mendukung praduga ibumu."


“Jika nanti Aku sudah kembali, Aku akan berusaha menjadi Nabil yang kamu kenal. keluarga kita akan menjalin hubungan baik lagi," Nabil menjeda, "sudah menerima surat wasiat ayahmu?"


Syifa mengagguk.


"Kuharap setelah Aku kembali, kesalapaham keluarga Kita sudah bersih_”


“Bil!? buruan! udah jam 8 nanti kita ketinggalan pesawat!”


Teriakan Eky memangkas kalimat nabil, sementara Syifa langsung menegaskan tatapannya.


“Kamu sebenarnya mau kemana?”


“Jaga dirimu baik baik yah, Fa." Nabil mengabaikan pertanyaan Syifa, ia berdiri sembari memakai ransel, "jangan terlalu berencana lagi. Aku bakal lama disana.”


Lama? apa itu akan sebulan atau lebih. atau bahkan setahun. tidak, ia tidak bisa menunggu nabil selama itu untuk melancarkan aksinya.


"Biil!” panggilnya.


“Iya?”

__ADS_1


Syifa lekas merogoh sesuatu dalam tas, sebuah benda yang ia baluti dengan box kecil ia berikan pada pria itu.


“Ini apa?” tanya Nabil seraya menerimanya. ia ingin membuka namun syifa mencega, “kenapa?”


“Bukanya klo Kamu sampai ditempat tujuan saja yah, Bil.”


Meski masih penasaran, Nabil memilih mengagguk. ia menyimpan benda itu dalam ranselnya, “berat, Fa. bukan bom kan?” candaannya membuat Syifa tersenyum.


“Buruan!”


Nabil bedecak mendengar ujaran Eky, “iya, bentaar!” balasnya kemudian kembali menatap syifa, "terimakasih atas waktu ini. sebenarnya Aku masih ingin berlama denganmu, Fa. tapi Aku harus pergi.”


Syifa coba membalas dengan senyuman.


“Assalamu alaikum.”


“Waalaikumussalam.”


Rasa tak tega, membuat syifa menyebik ketika Pria itu sudah melangkan membelakangi. ia ingin mengurungkan, namun sudah terlanjur.


“Nabil!? tunggu!” ia segera menghampiri ketika pria itu berbalik, ”maafkan semua kesalahanku yang kemarin, ataupun yang akan datang nanti.”


Permintamaafannya disambut anggukan juga senyuman, "Aku tidak akan pernah membencimu.” Nabil menatap cukup lama meyakinkan hal itu akan terjadi. ia kembali berpamitan dan pergi.


“Bukan tidak akan pernah, Bil. tapi belum.” batin Syifa kemudian merogoh ponsel.


**


“Kasi alasan apa ke nyokap Lo?” tanya Eky mengikuti langkah Nabil menuju tempat tunggu. “Lo bilangin klo mau berobat?"


“Yah enggak lah.” bantah Nabil, "Aku kasi alasan lain. bunda belum pulih, nanti klo Gue udah berhasil sembuh, baru Gue jujur.”


Eky menggangguk-angguk, “terus, cewek tadi Kamu kasi alasan apa?”


Nabil mengulas senyum, “Aku enggak kasi tau. sengaja aku mau kasi kejutan klo udah pulang.” ia membayangkan kebahagian syifa ketika mengetahui dirinya sudah bersih.


“Dia nggak kepo soal kamu mau kemana?”


“Kalau waktunya mendesak guni, bukan waktunya tanya tanya. mungkin Dia terlalu sedih dengar aku mau pergi, makanya dia gak nuntun jawaban." ia menoleh ke Eky " tapi Aku dikasi kado."


“Kado apa?”


Nabil menaikkan kedua bahunya, “katanya suruh buka pas sampe. udah, jangan kepo lagi."

__ADS_1


"Aku gak kepo, Bil. tapi ini aneh. bukannya terakhir kalian berantem, kok tiba-tiba Dia kasi kamu kado, dalam rangka apa coba?”


“Kuasa Allah, Ky.” balas Nabil, ekspresinya riang namun berubah heran ketika 4 Pria bertubuh kekar berlari menghampiri mereka.


“Periksa!” printah salah satu Pria itu pada rekannya.


“Pak! ini kenapa?” tanya Nabil kesal ketika kedua tangannya dilipat kebelakang, bahkan Eky yang tak punya masalah juga diperlakukan sama.


“Kami dari Satreskoba Polres Malang, mendapat kabar adanya percobaan pengedaran narkoba. dan dari ciri yang disampaikan berujung pada kalian!”


Mendengar alasan penggeledahan tersebut membuat Eky maupun Nabil bersikap koperatif, sebab memang mereka tidak memiliki barang tersebut. namun ketika salah satu dari polisi itu membongkar box dalam tas Nabil. betapa terkejutnya dua pria tersebut, terutama nabil.


“Itu bukan barang Saya, pak!” ia coba membela diri diantara rasa takutnya. begitu pun dengan Eky yang memberi penjelasan. namun sepertinya mereka tak dipedulikan.


“Bawa mereka kekantor polisi!”


Disisi lain, meski jauh dari tempat ketegangan itu, tapi pilu rasa bersalah membayangkan membuatnya terus terisak. Bukan sekedar menyesali, tetapi menenangkan diri agar tidak menyalahkan diri sendiri juga meyakinkan diri untuk melanjutkan rencana kembali.


“Kalo Kamu gak sangguup, jujur aja, Fa.” ada Aska disampinya yang setia menemani, “katakan klo Kamu gak berniat jebak dia. katakan klo Kamu


melakukan itu demi keselamatannya.”


Syifa menggeleng, “A-aku pasti bisa, Ka. aku bisa.” ucapnya terbata bata. ia berusaha menenagkan diri dengan menarik dan menghela napas beberapa kali.


Belum tenang perasaannya, deringan ponsel kembali mengejutkan. dari kantor polisi yang beberapa menit lalu ia hubungi. ia segera mengangkatnya.


Syifa lekas berdiri usai menutup panggilan itu, "Aku dapat panggilan dari polisi," katanya sembari memakai tas.


"Kenapa polisi panggil Kamu?" Aska kawatir.


"Aku diminta jadi saksi atas kasus itu. Dia sudah ketangkap."


"Aku temani," Aska menawari, namun ia mendapat penolakan.


“Jaga Lia," Syifa melirik jendela yang memantulkan lia kemudian kembali menatap Aska, "biar Aku yang melanjutkannya, Ka. cukup sampai disini kamu membantuku,” katanya kemudian meninggalkan pria itu.


**


Basmalah terbatinkan ketika kakinya ragu menepaki lantai disalah satu ruangan kantor polisi. ia segera berpaling ketika pandangannya menangkap sosok seorang ibu yang terisak di hadapan pemuda yang kedua tangannya terborgor.


"Saudara Syifa?"


Ia lekas menghampiri pemilik suara itu. namun ternyata sebutan namanya menarik perhatian pemuda dan ibu tadi. Syifa tahu mereka menatap heran keberadaannya.

__ADS_1


“Iya, benar," kata Syifa ketika berhadapan dengan petugas itu, "Saya syifa, Pak. yang memberi laporan mengenai pemuda itu." ungkapnya menoleh ke Nabil.


-Bersambung


__ADS_2