Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
sang pengintai.


__ADS_3

“Jadi cara mainnya, salah satu dari kalian harus kedepan. Sedang teman yang lain boleh bertanya apa aja dan teman yang didepan akan menjawabnya.


Klo sudah tiada yang bertanya lagi. teman yang menjawab menunjuk satu orang untuk naik ke kedepan untuk diberikan pertanyaan, dan begitu seterusnya," jelas Shifa.


"Fahintum?! (kalian paham)”


“Fahimna!” sahut anak-anak dengan semangat, kecuali gadis yang duduk diujung depan sana. ia memilih menonton dan tertawa jika itu menarik.


Satu persatu mereka pun maju dan menjawab satu persatu pertanyaan kawan-kawannya. jarang kedua gadis itu tidak tertawa lepas. bagaimana tidak,  pertanyaan dan jawaban yang begitu polos dari pikiran anak-anak kecil itu seakan menggelitik nya.


Sebenarnya alasan syifa mengajak mereka bermain seperti itu agar mereka bisa saling  mengenal satu sama lain.


Shifa ikut  bahagia melihat tiap senyuman yg tergambar diwajah bocah-bocah itu.


Ketawa muridnya yang begitu nyaring, membuatnya bersyukur bisa mengajar mereka meski  tak dibayar rupiah.


Hingga tibalah waktu yang mengganti senyum manisnya dengan kerutan alis yang menegang.


“Kak! kak syifa? Aku tunjuk ke siapa dong kan semua udah naik?” kelu anak berkerudung merah yang tidak mendapati bagiannya.


“Kita kasi pertanyaan ama kak Syifa aja gimana?”usul Lia yang sudah tertarik dengan permainannya.


“Eh, kakak gak usah!” tolak shifa cepat.


“Eh iyah, gak adil tuh kak. kita kan jga penasaran sama kak shifa,” sahut Mina


"Iya, betul tuh, kak." sahut anak Lain.


Shifa mendengus pasrah, “Yaudah deh, kalian mau nanya apa, nih? Tapi jangan yang aneh-aneh yah!”


“Kakak usianya sekarang berapa?” 


“Apa alasan kakak mau ngajar kami ngaji? padahal kita kan gak bayar.” 


Kurang lebih hanya seperti itulah pertanyaan yang bisa ia tangkap dalam pikirannya.


“Oke! Oke! Semuanya...


kakak akan jawab yang bisa kakak  jawab yah," senyum shifa mengembang karena pertanyaan yang menghampiri masih bisa ia pikirkan jawaban dengan bijak.


Shifa berdiri dari duduknya, siap memberikan jawaban.


"Usia kakak jalan 23 tahun.


alasan kakak ngajar ngaji..., ya karena pahala ngaji itu sendiri," rasa syukur terlihat di wajahnya mengetahui keutamaan amal ini.


"Mengajar adalah ibadah. biarpun kakak tidak dibayar rupiah tapi kakak juga terima gaji kok,"


lanjutnya.


"Siapa yang gaji kak?" tanya seorang anak.


"Allah, dibayar pke pahala."


Jawaban shifa membuat semua terdiam mencerna kalimatnya.


"Kalian tahu kan, satu huruf  dalam Al- Qur'an berapa kebaikan yang bisa kita ambil ketika kita membacanya?“ tanya shifa, ia menatap tiap wajah yang memperhatikannya.


"Sepuluh kebaikan kak!“ jawab Mina disana, ia memang lebih pintar dari yang lainnya.


“Pinter!! " sifa menjentikkan jari telunjuknya tepat ke arah anak itu kemudian kembali mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Coba, ada yang ingat gak sama haditsnya?” tantang shifa.


“Aku kak!  Aku! " antusias seorang anak bernama intan disana, ia mengangkat tangannya.


Shifa memberi anggukan mempersilahkannya menjawab.


"Dari Ibnu Mas’ud R.A berkata, bahwasannya Rasulullah SAW pernah bersabda.


Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu hasanah (kebaikan) dan satu hasana itu sama dengan sepuluh kali lipatnya," intan menarik napas sejenak.


"Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf, HR. Tirmidzi,” lanjutnya.


“Masya Allah..., benar sekali,” ujar syifa, ia tersenyum haru mendengar intan yang masih mengingat lengkap apa yang pernah ia ajarkan.


Shifa kembali melangkah menyebarkan pandangannya bak seorang guru yang siap memberikan ilmu.


“Nah! satu huruf saja kita baca dalam


Al-Quran sudah luar biasa pahalanya. apalagi klo kita ngajarin orang terus mereka rajin mengamalkannya dan dapat pahala membacanya, terus pahala itu bakal ngalir juga ke orang yang mengajarkannya tanpa berkurang sedikitpun."


"Kayak kak shifa yang sekarang ngajar kita ngaji?" Tanya seorang murid disana.


Shifa mengangguk,


"Oh iya. coba! ada yang bisa hitung gk? berapa pahala yang sudah kakak dapat," ujar shifa ditutup senyum jahilnya.


Hanya mata polos yang melihat keatas sambil membayangkan sesuatu. Juga beberapa jari jemari mungil dari mereka yang terus menghitung. Suasana seperti itu membuat mereka disibukkan dengan sesuatu yang sebenarnya mustahil di hitung dengan pikiran manusia.


Shifa menggeleng geli melihat mereka yang begitu serius memikirkan pahala yang sudah ia dapatkan.


“Ok! sepertinya sudah tiada lagi pertanyaan. sudah mau azhar juga. Kalau begitu mari kita tu--"


"Kak shifa?" Panggil anak bernama intan,


Shifa merapatkan bibirnya setelah tadi ucapannya terpotong. ia menatap anak yang berada dibarisan pertama samping Lia, "Iyah intan, mau nanya apa?"


“Ka shifa pacaran gak?


Sifa mengangkat alisnya karena terkejut. ia kemudian terkekeh mendengar pertanyaan anak itu yang begitu polosnya menunggu jawaban darinya.


"kakak tidak pacaran sayangg,"


sifa menekan kalimat akhirnya karena gemesh melihat pertanyaan polos intan.


ia tidak menyadari ada seorang gadis yang sedang menatapnya heran, seakan ingin mengelak dari jawaban shifa.


"bukannya dia pernah pacaran," batin Lia memicing curiga.


shifa tersenyum pada Intan, "Pacaran itu kan haram,” lanjutnya.


“Iyakah?" intan tak percaya "Tapi katanya kakak ku ada kok kak, pacaran yang halal.”


Shifa Terjekat mendengar penyataan intan.


"kakak jenis apa itu yang mengenalkan adiknya pacaran?" batinnya sedikit menatap iba intan. sangat di sayangkan melihat usia anak ini masih labil, tapi bagaimana bisa seorang kakak sudah menjerumuskan dan mengenalkannya apa itu pacaran.


“Ada, tetapi yang halal itu yang sudah menikah,” Shifa mencoba memberi pemahaman agar intan tidak salah mengartikan, tapi seketika ia menyesali ucapannya, apakah pantas ia memberi jawaban seperti ini juga.


“Terus kakak kapan nikah?"


Deg!

__ADS_1


mata shifa membulat usai mendengar pertanyaan itu. ia merasa sebentar lagi akan mendapat dorongan yang memasukkannya pada sebuah perangkap.


Shifa mencari sumber suara itu, dan di dapatnya Lia sedang tertawa jahil disana.


Ia hanya bisa memicing kesal gadis itu.


karena Belum cukup tenang usai menjawab, dirinya sudah diajukan pertanyaan yang membuat pikirannya lebih kacau.


Shifa hanya memandangi manusia-manusia didepan sana yang sudah antusias menunggu jawabannya.


"Aku punya kakak loh!" goda Lia.


"Dia  ganteeeng, rajiin, baiiik, penyayang.


the best lah pokoknya oppaku itu,” lanjutnya mengapsen sosok kakaknya.


"Kak Aska?" Tanya mina disana seorang anak yang juga mengagumi sosok Alaska Siaga.


"This righ!" Ujar Lia sambil menjentikkan telunjuknya ke arah Mina "Ganteng kan?"


Mina mengangguk riang.


"Iya dong, Oppaku...," sahut Lia bangga.


Shifa hanya memutar bola matanya, ia menanggapi masa bodoh dengan pernyataan itu.


"Aku juga punya kakak!" ujar intan, ia menatap kagum wanita anggun didepannya.


"Walaupun penampilannya berantakan, tapi hatinya paliiing baik. dia juga penyayang," Lanjut intan, ia tersenyum mengharap sesuatu dari wanita yang sudah memicing curiga.


Mengerti maksudnya, shifa hanya memberikan senyum manisnya,"Kenapa pada rebutin gue sih," batinnya.


“Hadeuh, yakin!  kakak nya gak akan ditolak kak shifa?" cetus Lia, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga intan, "Kakak gua aja yang gantengnya tingkat dewa berlutut ke Dia," bisiknya. "hatinya keras tau," Lanjutnya sambil melirik shifa.


"Mungkin kakak ku tidak setampan kakak nya kak Lia, tapi kakakku punya sikap yang baik menghormati seorang wanita," balas intan.


"Iss!" decak Lia, ia menarik badannya menjauhi intan. "Kamu pikir kakakku tidak bisa menghormati perempuan apa!" batinnya kini ia melirik malas anak disampingnya itu yang tidak bisa di ajak kompromi.


Sementara wanita yang direbutkan menjadi iparnya hanya menyebik melihat wajah kekesalan Lia yang kalah bersaing.


“Sudah sudah, yuk semuanya kita baca do’a terus pulang," ujar syifa segera mengalihkan bibit pertikaian itu.


**


Terik matahari sore sudah cukup menghilangkan genangan air yang bisa menghambat langkah pejalan kaki untuk hati hati.


Seorang wanita yang baru saja keluar dari TPA dihalaman mushollah, ia tersenyum geli mengingat pertanyaan-pertanyaan konyol dari adik-adiknya. meskipun merasa tidak nyaman jika ada yang membahas pribadinya, tapi itu cukup membuat senyumnya terus menerkah sepanjang jalan.


Tepat dipertengahan, senyumnya kini menegang. ia berjalan menunduk seperti biasa. diselimuti rasa cemas, takut, resah. kini tampak di wajahnya. sesekali ia tengok kanan kiri dan belakang. rupanya sepertia biasa, seorang lelaki masih mengintainya dari jauh.


Yah, seorang lelaki misterius yang selalu memandangnya dari jarak jauh hingga membuatnya risih ketika pulang dari sana.


Tapi ada yang membuatnya aneh, pria itu hanya mengintainya ketika pulang dari TPA.


Langkah nya semakin memburu, namun pria bertopi itu terus menyelinap dan bersmbunyi di balik pohon.


Untungnya jarak rumah dan TPA tidak terlalu jauh. Tepat di depan rumah, ia mengangkat sedikit gamisnya kemudian berlari menginjakkan kakinya segera ke teras rumahnya.


-Bersambung-


jangan lupa Tekan LIKE, dan KOMENTAR yah

__ADS_1


biar penulis semangat apdet ceritanya.


Terimah kasih.


__ADS_2