Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Dari mata.


__ADS_3

"Kalau kamu khawatirin Dia, pulang sana!"


Lia mendekati Shifa yang masih merapikan barangnya, "Uluuh.. uluh, gitu aja ngambek." godanya kemudian menatap keatas mengingat sesuatu.


"Dulu aja klo ada apa apa langsung nanya, kak Aska lagi ngapain? Sama siapa? Udah makan belum? Udah.. minyi minyi minyi," Ejek Lia dengan nada centilnya. ia menatap Shifa karna tak ada respon.


"Iyah deh! itu dulu. duluuuu, banget." ujarnya usai mendapat tatapan geram Shifa.


Shifa mengangkat barangnya keluar dari pintu, "Yuk! Berangkat."


"Kita gak pamitan sama Tante Ana?"


"Mama lagi keluar," Shifa menatap Lia dengan menaikkan sebelah alisnya, "kalo mama ada, ngapain aku ngajakin kamu yang cerewet ini..." Shifa mencubit gemesh pipi Lia.


"Awww! sakit kaaak," wanita yang memanyun itu hanya memegang pipinya yang perih.


Shifa terkekeh melihat ekspresi Lia, ia membalikkan badan siap mengunci pintu rumahnya.


"Cari mantu tuh! tante Ana!" gadis itu mencoba membalas Shifa.


"Astagfirullah!" pekik Shifa, tangannya sedikit terkilir ketika hendak mengunci pintu.


"Ya Allah, tangannya kenapa Kak?" Lia ingin meraih lengan kiri Shifa namun wanita itu menepisnya.


"Gak apa!" Shifa melanjutkan mengunnci pintu sambil memicing menahan sakit.


Jelas terlihat ada memar dipergelangan tangan wanita itu, Membuat Lia memicing curiga dengan sikapnya.


"Kita jalan aja sekarang," Shifa mengangkat barangnya dan melangkah pergi.


Sementara Lia hanya terdiam tak mendapati sebuah jawaban yang klik atas penasarannya. ia memilih mengikuti langkah wanita yang sekarang sok kuat menahan sakit itu. namun langkahnya memburu usai melihat Shifa menyalakan mesin motor.


"Eh! kak. biar Lia aja yang mengendarai. Tangannya kan masih sakit," imbuhnya.


"Diih, Siapa juga yang mau nyetir?" Shifa balik menghadap Lia. "Nih!!" ia memberikan kunci motor ketangan gadis itu


"Aku cuman cek bensin doang. Klo bensin dikit kenapa gak bilang? klo gini kan bisa-bisa bangkrut aku." Shifa sengaja mengalihkan penasaran Lia mengenai memar di tangannya.


Sekejap Lia merasa menyesal dengan ucapannya, "Untung sakit." gumamnya.


"Eh!"


Lia hanya tersenyum merapatkan gigi-giginya sebagai permintaan maaf.


🌇


Jalanan beraspal terawat yang biasanya ramai kala sore, justru terlihat senggang hingga mempermudah pengendara tepat tiba pada tujuannya. salah satunya adalah dua wanita muda yang baru saja memasuki halaman Rumah Sakit.


Usai memarkirkan motor. Mereka memasuki pintu utama dan mulai berjalan mengikuti koridor RS yang sejalan dengan ruang tujuan mereka.

__ADS_1


Langkah Shifa yang begitu terburu membuat Lia memendam semua pertanyaan dibenaknya. meski penasaran tapi ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya santai kepada Shifa.


“Assalamu alaikum.." Shifa memberi salam meski ia tahu, kecil kemungkinan ia mendapat balasan.


"Sejak kapan kak Shifa punya teman Laki-Laki?"


Lagi, pikiran gadis yang sedang mengekori Shifa tak henti bertanya-tanya dan semakin penasaran apalagi setelah melihat Shifa mendekati salah satu pasien pria yang terlihat lebih pucat dengan kedua mata tertutup di ruangan itu.


“Bagaimana ini Lia? dia belum sadar juga.” Shifa tak henti menatap iba pria tak berekspresi itu.


Lia mendekat. ia memicing memandangi wajah Pria itu dengan teliti. namun, bukan menikmati ketampanannya melainkan untuk mengorek ingatannya.


“Sepertinya Lia pernah liat orang ini, deh! tapi dimana yaa...”


Gadis itu menatap langit ruangan sambil mengotak atik pikirannya. berharap menemukan wajah pria itu dalam ingatannya.


Sementara Shifa, ia tidak mempedulikan apa yang Lia ucapkan. kini pandangannya tertuju pada memar bekas pukulan Aska yang merusak wajah tampan Nabil.


Pria itu menyeringai dalam tidurnya hingga nampak sedikit lesung pipit disana. ketampanan pria itu sungguh memukau, dengan kedua mata yang terpejam pun mampu membuat hati yang menatapnya terpesona.


"T**ernyata masih ada saja pria yang tidak peduli nyawanya melayang demi menyelamatkan seorang wanita yang meski tidak di kenalnya."


Shifa tersenyum memuji penolongnya itu. matanya sayu menatap senyumnya mengembang dan terus mengembang hingga.....


"Kak?! Kak Shifa.. kak Shifa?"


“Udah Adzan, kak.” Lia mengacungkan jari telunjuknya ke atas.


“Ah iyah, Sholat Azar yah?" Shifa menyadarkan dirinya dan menatap Lia, "kamu duluan aja dulu, biar Kita gantian jaga Dia.” Shifa kembali menatap Nabil.


Lia memicing, “ada apa nih, Kak? Gak biasanya kak Shifa nunda Sholat,” ia menyeggol bahu Shifa.


“Gak apa-apa Lia.., cuman letih mau istirahat sebentar. habis kamu deh, baru aku nyusul."


“Benner...," kembali gadis itu menyenggol bahu Shifa "kakak ku ini mau istirahat sebentar, atau sebentar lagi masih mau mandangin wajah kakak itu!” ia mengarahkan dagunya ke pria tersebut.


“Maksudnya?” Shifa meletakkan barang barangnya di atas nakas.


“Alaaah, kak Shifa suka sama orang ini kan? kan!? kan!? kan!?"


“Sembarangan aja, dasar anak kecil!" Shifa mendorong Lia keluar "udah, sana sana. kamu Sholat gih! nanti masuk magrib loh!"


Lia terkekeh, "haha ok! ok! Aku pergi. tapi jangan di pandangin terus kak," Lia mendekat ketelinga Shifa. "sekarang bilang, ngggaak. nanti aja, ok!" bisiknya dengan nada melantur.


"Apa, sih!" Shifa hendak melayangkan protesnya namun gadis itu buru-buru menghindar.


"Uuu.. takuuut!" seru Lia dengan gelak tawa, ia berlari keluar meninggalkan Shifa.


Shifa menarik napas kemudian membuangnya perlahan. kepekaan gadis itu memang selalu membuatnya kacau.

__ADS_1


Ia berbalik dan pandangannya tertuju pada pria yang menjadi alasan Lia menggunjingnya. Ia memonyongkan bibir, meyakinkan hal itu tidak akan terjadi.


"Bagaimana mungkin? hanya sehari aku mengagumi orang ini"


Shifa tersenyum remeh, ia menatap kelopak mata Nabil yang belum pernah sekali ia melihat sesempurna apa pandangan itu.


"Ini hanya rasa belas kasihanku padamu, tidak mungkin kutambahkan rasa lebih pula untukmu" lirihnya


kemudian bergidik usai menyadari apa yang barusan ia ucapkan, Shifa menjedor-jedor jidatnya, pikirannya terlalu jauh melayang.


Shifa menarik napas, menfokuskan kembali pikirannya. langkahnya mulai mendekati berankar Nabil.


"Ya allah, mengapa kakiku ringan ingin mendekat padanya? hatiku seakan bertengkar pada pikiranku." ia mulai menyadari ada yang aneh dengan dirinya.


"Tetapi aku hanya ingin memastikan lebih dekat, apakah dia baik-baik saja? mungkin khawatirku akan tenang.”


Ia kembali melanjutkan langkah. dag dig dug terasa, Kini ia tidak bisa menstabilkan jantungnya yang terus mengompa, tepat ketika ia di samping pria itu. Langkahnya ingin berbalik Namun tangannya lebih dulu menggapai kursi disamping pria tersebut.


“Aku duduk saja, sudah terlanjur.”


Meski tak setampan pria yang kini mengejarnya tapi ia lebih nyaman memandang wajah yang terbingkai lesung pipit itu. perlahan senyumnya mengembang men iyakan Ketampanan ciptaan Tuhannya yang satu ini.


"aku tidak mengerti, mengapa aku begitu nekat ingin mendekat padamu?


padahal aku belum tahu siapa dirimu, bagaimana kisahmu? Sikapmu?


Aku hanya ingin berterimah kasih


Atas kebaikan mu, menolongku. Pasti anda orang yang baik."


Benaknya yang terucap terhenti sejenak, Ia menatap penampilan pria itu. sebuah Tato bergambar kamera analog tersemat di pergelangan tangan kanannya. Shifa memicing. sadar, meski memiliki wajah tampan dan penampilan yang lumayan keren dengan ripped jeans. Shifa teringat ucapan dokter yang mengatakan tentang kondisi pria di hadapannya ini.


Apakah benar Dia orang baik baik?


-Bersambung-


.


.


.


Jangan lupa Like, Komentar, Vote and bintang limanya yah, kak. cuman satu gerakan jari kalian di Novel ini, sunggu berharga bagi penulisnya.


Terimakasih.


#bantuwujutincitacitaku


#bantudo'a.

__ADS_1


__ADS_2