Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Bukan rencana sesungguhnya.


__ADS_3

Pernyataan dokter membuat Aska lemah seketika. ia menghepaskan diri dikursi, menunduk dan menangis.


“Kenapa tuhanmu ngasih cobaan seberat ini, Faa..” lirihnya pada wanita yang berdiri di samping.


“Sabar, Ka. in sya allah Lia akan baik baik saja.” Syifa hanya ingin menghibur, ia bahkan tidak yakin dengan kalimatnya sendiri.


Aska mendongak “aku tahu adikku, Fa... dia rajin solat. suka menolong. dia orang beriman, kan? tapi mengapa tuhanmu menghukumnya? kenapa tidak aku saja yang dia hukum. pada pria buruk sepertiku.."


“Astagfirullah… istigfar, Ka. sekarang tuhanku juga tuhanmu. Allah itu tuhan kita..” Syifa tak terima dengan penyalahan aska. “Allah memberikan ujian pada lia bukan berarti allah tak sayang, justru itu bukti sayang Allah padanya. diberikan sedikit cobaan karena Allah rindu.”


Aska kembali mendongak, "Rindu?"


Syifa menggagguk.


“Itu artinya Lia akan pergi menemui Allah ‘kan?”


Kali ini Syifa tak bisa memberi respon apapun. namun sikapnya justru membuat aska tersenyum masam.


"Aku gak percaya kamu sampai menyimpulkan hal ini, Fa. kau sungguh egois mengenai perasaanmu."


Syifa sungguh dibuat bingung dengan kalimat Aska.


"Kamu tau Lia menyukai nabil. tapi kamu malah terus mendekati pria itu dan memberi pemahaman pada gadis penyakitan itu agar tidak berharap pada pria brengsek yang kamu sukai!”


Syifa terbelalak mendengar penjelasan aska, bahkan pria itu tahu semuanya. wajah yang tadinya merah padam itu perlahan menatap sendu.


"Tidakkah kau iba dengan adikku? bukankah kamu juga tahu tentang penyakitnya? tapi kenapa justru kau tega mematahkan harapannya dengan nasehat-nasehat yang tidak pernah kau tanamkan dalam dirimu.”


Kalimat Aska sunggu membuatnya hina dengan sikapnya sendiri. bahkan ia menyadari kesalahan itu tapi terus saja berlagak suci.


Aska menggeleng geleng kecewa, "kau tak punya hati, Fa. kau tak punya hat_"


"Cukup Ska!” pinta Syifa. “kamu tidak tahu bagaimana tersiksa juga aku memberikan nasehat itu pada Lia. jangan anggap aku ngga sayang sama Lia. aku juga sayang Lia.” air mata Syifa mulai berguyur. namun pria itu hanya menatap remeh.


"Nasehat yang kuberikan padanya agar dia tidak terlalu kecewa dan punya pegangan ketika suatu hari ia mengetahui semua ini."


Penjelasan yang diberikan Syifa justru membuat Aska terperangah dan menahan kesal.


“Jadi selama ini begitu rencanamu? kau megajari adikku sebuah keiklasan, sedang kau sendiri tak mau mengiklaskan.” kata Aska, “kau sungguh penasehat yang hebat. kau licik, Fa!” cecarnya.


Syifa menggeleng cepat, “bukan begitu Ska, aku—“


“CUKUP SHIFA!!!"


Bentakan yang diberikan aska membuat Syifa memejam takut. sudah pernah ia mendapat perlakuan itu, tapi saat ini kondisinya berbeda. ia yang salah. perlahan ia mendongak memberanikan diri menatap tatapan penindasan itu.

__ADS_1


Bahkan ketakutan dimata Syifa tak mampu membuat Alaska Siaga memalingkan pandang untuk menjeda kecewanya.


“Kak Aska.....”


Hingga suara Lemah itu membuat aska segera melirik cendela ruangan. mungkin karena teriakannya membuat Lia tersadar. melihat aska bergegas masuk, syifa ikut menghampiri pintu. namun pria itu merentangkan tangan tak mengizinkan dirinya masuk.


"Pergi, Fa.”


Syifa menggeleng, “tolong izinin aku ketemu lia, Ka.”


“Aku gak ngisinin kamu. ku muhon pergilah.”


“Izinin aku, Ka. aku mau minta maaf.” Syifa berusaha mendorong lengan kekar itu. namun pergerakannya seketika melemah saat mendengar kalimat Aska.


“Pergi, atau kupanggil petugas untuk mengusirmu." tatapan aska membuat tangannya menggantung, "aku gak mau adikku makin memburuk karena melihat orang yang ia anggap sempurna ini ternyata bermuka dua.”


Mata yang tadinya stabil kembali memupuk cairan bening. sindiran aska membuatnya benar benar sesak. pria yang kemarin mengejarnya kini menghakimi dan tak peduli. Syifa hanya terisak dibalik pintu bansal yang sudah tertutup rapat tersebut.


Bukan hanya pintu. bahkan aska tidak membiarkan dirinya memandangi lia dari jendela sekalipun. Pria itu sengaja menghalangi pandangan Adiknya agar tak merasakan kehadiran syifa.


Dia kesal dengan perlakuan pria itu. tapi kembali lagi, dirinya yang memang salah. setelah menenangkan diri, Syifa menyeka air mata kemudian menuju ke parkiran.


"Bismillah."


“Assalamu alaikum." katanya setelah panggilan terhubung. "kita harus ketemu. ada hal penting yang harus kusampaikan mengenai keseriusan hubungan ini.”


**


Disebuah taman dekat mesjid menjadi pilihan syifa untuk bertemu. kalaulah ia tak berbohong mengenai tujuan pertemuan ini, pasti Pria itu enggan bertemu.


"Assalamu alaikum, Fa.”


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Pertemuan terakhir mereka memang berkonflik, namun kali ini membaik. terbukti lewat senyum teduh Pria itu.


“Duduk dulu, Bil”


Nabil mengaguk. ia duduk di sebelah wanita itu dengan memberi jarak beberapa senti.


"Apa kamu sudah memutuskan untuk melanjutkan kisah kita?" tanyanya.


Syifa menatap, "seisin Allah, semoga keputusanku tidak merugikan siapapun." ia menunduk, "persis yang kamu harapkan. seperti itulah keputusanku saat ini.”


Senyum haru membingkai wajah pria itu. “serius? kamu ingin berjuang?”

__ADS_1


Syifa mengagguk, "Tapi tidak secepat ini, Bil." katanya. "beri aku waktu untuk meyakinkan ibuku dulu. dan juga...”


"Dan juga apa, Fa?" Nabil memicing melihat keraguan dimata syifa. "katakan."


“Kamu tahu keadaannya Lia sekarang masih sakit. aku minta tolong kamu buat bantu dia sembuh."


"Ada dokter, Fa. aska. kenapa harus aku."


Syifa menggeleng, "ku mohon. selama aku meyakinkan mama. bisakah kamu selalu ada disamping_”


"Kamu menyerahkanku lagi pada adiknya?” Nabil menahan kesal.


Syifa lekas menggeleng “bukan begituu. tapi keadaan Lia benar-benar sekarat, Bil. dia menderita tumor jantung.”


"Apa!" mata Nabil membulat, "Tomor jantung?"


Syifa mengagguk, “penyakit ini gak mudah disembuhin. tapi sakitnya bisa berkurang kalau dia bahagia."


Nabil hanya termenung menatap sisi lain.


"Ku harap kamu mau berpartisipasi untuk membahagiakan Lia. kita sama sama bantu Lia.”


Nabil menoleh, “lalu hubungan kita?”


Syifa menyeka air matanya. "untuk saat ini, biarkan kita menjauh."


Kali ini nabil tak bisa berkata. sebab disisi lain ia juga sangat kasihan mengenai musibah yang menimpa Lia. bagaimana pun juga gadis pecicilan itu sudah ia anggap adik sendiri.


Ia menghela kasar kemudian menatap syifa. "sampai kapan kita melakukan drama ini?”


Syifa mengulas senyum, “sampai mamaku memberi restu padamu." jawabnya.


Kembali pria itu menghela napas. ia mendongak menatap langit, membayangkan sikap tak acuh pada syifa untuk bersimpati pada gadis lain.


Dalam lamunan itu terbesik juga mengenai permasalaan keluarga mereka.


bukan tak ingin ibu syifa segera mengetahui siapa keluarganya. tetapi ia khawatir identitas itu terbongkar sebelum mendamaikan mereka.


Namun disisi lain. semakin lama ibu syifa tidak mengetahui rahasia itu. maka sesuai perjanjian, selama itu juga ia harus berjauhan dengan Syifa dan berpura pura bersimpati pada Lia.


"Lia... kenapa kehadiranmu justru membawa masalah."


-Bersambung.


mampir @airaannur_

__ADS_1


__ADS_2