
"Aku gak bohong kak! sumpah," ucap Lia sambil mengankat jari telunjuk dan tengahnya hingga berbentuk huruf V. namun usahanya untuk meyakinkan wanita yang sedang menatapnya menahan marah tidak membuahkan hasil.
tak ingin membuat kakaknya menunggu lebih lama. ia buru-buru berpamitan pada shifa kemudian menghampiri pria yang terus saja memanggil manggil namanya itu.
"Kak, ngapin sih kesini? Aku kan gak minta jempuut," Lia menutup pintu kemudian mengajak Aska untuk segera meninggalkan rumah itu, karena merasa tidak enak dengan Shifa.
"Mau kakimu bengkak?
tau rumah ama TPA jauh, masih aja gak mau bawa motor. kalo kamu kumat gimana? kakak juga 'kan yang repot," omel Aska sambil menaiki motornya, sedang Lia yang mendengarnya hanya memanyun dengan sesekali menggerakkan bibir mengejek pria didepannya itu.
"Tapi bisa 'kan kak, gak harus kerumahnya kak Shifa juga? aku gak enak nih ama Dia," ucap Lia sebelum pria itu memutar gas motornya.
"Bisa aja, kalo kamu pulangnya tadi tepat waktu!" sahutnya sambil melaju.
"Emang kenapa?"
"Temenin gue ke perkumpulan remaja *T*a'lim deket taman kota sana," jawabnya.
"Denger-denger sih pembahasan mereka hari ini tentang pengawalan Hijrah. dan 15 menit lagi mereka akan mulai, gue gak mau ketinggalan sedetik pun."
"kak aska udah sholat?" tanya Lia tidak merespon penjelasan pria itu.
"Oiyah! dah Adzar yah? Lupa," seraya menatap adiknya dari kaca spion.
"Gimana sih! katanya mau berubah, tapi Allah aja gak di inget," cibir Lia.
"Jadi? gimana nih!"
"Yah sholat dulu lah kak."
"tapi kan 15 menit lagi mereka akan mulai! nanggung kali Lia..."
"emang mau, klo di akhirat nanti Amal sholatnya kak aska datangnya lambat buat nolongin? karena kakak udah nunda-nunda sholat.
"mau nggak?!" gertak Lia.
"dih! jangan sok tau kamu. kita masih di dunia Lia, belum pernah kesana. sekalipun ada orang yang sudah kesana mereka pasti tidak akan lagi ke sini, sekedar menceritakan keadaan di alam sana."balas Aska, pandangannya masih kedepan sementara telinganya masih ingin mendengar respon adiknya itu.
"bukan orang kak, tapi Al-Quran. isi kandungan dalam Al-Qur'an bukan hanya membahas tentang aqidah, hukum, ahlaq, ketuhanan ataupun kisah kisah lampau aja. tapi istimenya kitab itu.., ia juga membahas berita-berita yang akan datang." jelas Lia.
"Ooo... kitab yang paling tebal di antara kitab yang lain itu?" tanya aska melirih adiknya lewat laca spion, dan terlihat disana Lia sedang menganggung.
"emang ayat yang keberapa sih? mau kakak baca nih."
"surah maryam, ayat 59.
kebetulan aku hapal artinya kok kak."
"coba," pinta aska.
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek), yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui “ghayyu“.
"Huh! ghayyu? apaan itu?"
__ADS_1
"ghayyu, adalah lembah yang berada di neraka jahanam kak, yang amat jauh kedalamannya, sangat busuk rasanya, bagi orang-orang yang melalaikan shalatnya." jelas Lia.
"woaaa..! udah tau banyak nih kamu sekarang ketimbang kakak?" puji aska.
"iya dong, Lia kan belajarnya ama calon bidadari syurga, emang kak aska temenan ama anak jalanan yang gak jelas itu," timpal Lia.
pria itu hanya terdiam, dengan tatapan yang fokus menatap kedepan memberi goresan di atas aspal. ia melambatkan laju motornya ketika sampai di pelataran mesjid. mereka pun melaksanakan sholat Azarnya disana.
bersyukur waktu masih memberi mereka kesempatan untuk melaksanakan kewajiban.
benar. tidak ada ibadah yang sulit, semua bentuk ibadah memberi kenyamanan dan ketentaram bagi hati yang ikhlas melaksanakannya.
manusia sombong saja yang kurang bersyukur dan menganggap nya sebagai beban.
***
Langit sudah menunjukkan sinarnya,
Pagi ini shifa sudah berangkat dengan motor kesayangannya. Seperti biasa lantunan sholawat dari bibir mungil itu terus merekah menemani perjalanannya.
"Kak! Kak shifa!"
Wanita yang sedang fokus mengendarai itu menoleh ke kaca spion miliknya, mencari sumber suara yang memanggil namanya.Terlihat disana Lia mencoba mengejar dan berusahanmenyatarakan kendaraan mereka.
"Kak?
"Iiih.. kak shifa tungguin 'napa! " Teriak Lia lagi karena wanita itu masih saja mempercepat laju kendaraannya. Namun ia tidak mau kalah, dengan kecepatan tinggi akhirnya Lia bisa sejajar dengan shifa.
"Iiii....! Maafin gue lah! maafin gue!" Rengek Lia sambil menatap shifa, hinggaa....
Bruuuk!!..
Cekiiik!!
"Ya Allah! Lia!" shifa segera menepikan kendaraannya, kemudian mengampiri Lia yang sudah jatuh tersungkur di aspal dengan darah segar yang mengalir di keningnya. "Li' kamu gak pp kan?"
Lia memicing menahan sakit kemudian mencoba untuk bangun, Shifa pun membantunya untuk duduk "kamu kenapa sih sampe senekat ini!"
"Heeee' "Lia memukul dadanya karena merasakan sesak.
"kamu kambuh lagi?" Shifa mengambil tas Lia dan mencari sesuatu disana, "obat mu mana? Kamu gak bawa lagi?" Ia merogoh kasar tas itu karena panik.
"Heeeh' "
Shifa menghentikan aktifitas tangannya, ketika merasakan sesuatu yang berat di pangkuannya "Ya Allah, pinsan?"
shifa celikungan mencari bantuan, panik harus meminta bantuan kemana? Sedang jalan di sekitar sini jauh dari pemukiman dan kendaraan pasti memilih jalur lain dari pada melewati jalan yang banyak lubang ini.
Tidak ada cara lain, ia harus menurunkan egonya menelpon Aska demi keselamatan gadis ini.
Baru ingin mengambil ponsel Lia, Seru motor dari belakang mengurungkan niatnya. shifa segera berdiri dan melambai lambaikan tangan ketika jarak pengendara itu semakin dekat.
Cekiiik!
__ADS_1
"Mas! Tolongin teman saya mas," pinta shifa sambil menunjuk gadis yang terbaring disana.
Pria itu membuka helmnya,
"Shifa?"
Shifa segera menoleh ke pria itu dengan tatapan memicing mengingat wajah pria yang berhias lesung pipi disana.
"Yang dirumah sakit itu," Kata pria itu membantu shifa mengingatnya.
"Oh. Nabil?" Tebak shifa, dan pria itu mengangguk membenarkannya.
Kenapa dia bisa tahu namaku?
Shifa segera membuyarkan penasarannya mengingat tujuan awalnya menghentikan pengendara ini.
"Mas, bisa antar kami ke Rumah sakit dekat sini?" Pintanya kembali panik.
pria itu tebelalak mendengar shifa memanggilnya mas. Ia kemudian melirih gadis yang tergeletak disana, "Ok," jawabnya.
Nabil bantu mengangkat tubuh gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu, ia memicing, melihat darah segar yang menempel di kerudung gadis itu membuatnya pusing dan hampir terjatuh.
"Bisa?" Tanya shifa.
"Heem," pria itu tersenyum masam pada shifa, "badan gak berisi gini aja masa gue gak bisa," ucapnya kemudian mendahului wanita yang sedang tertekun menatapnya jijik.
"Maaf Lia. ini darurat, Pria itu terpaksa ngankat kamu," batinnya seraya menghampiri nabil yang sudah menunggu didepan motor.
Shifa bantu memegang Lia yang sudah didudukkan menyamping. sedang pria itu pun sudah duduk membelakangi Lia.
"Lo mau duduk nyamping juga? "tanya nabil ketika melihat shifa hendak naik kemotornya. ia sedikit ragu jika memboncengi 2 orang yang saling duduk menyamping, apalagi salah satu darinya sedang pinsang. "bagaimana caranya ia pegang" pikirnya.
"Enggak!" Bantah shifa seraya menggeleng. ia kemudian melebarkan roknya dan terlihat disana ia mengenakan rok celana yang loggar hingga leluasa untuk merangkak.
Hari ini mamang aneh, baru kali ini ia mau mengenakan Rokcel yang biasanya lebih senang menggunakan gamis atau rok biasa untuk berangkat kerja. Mungkin inilah rencana Allah yang kini ia dihadapkan pada situasi yang membuatnya mengerti kegunaan kain itu. Tak ingin mengulur waktu, ia buru buru naik ke motor agar pria itu lekas membawanya kerumah sakit.
Namun pria itu belum juga menjalankan motornya, ia diam dalam pikirannya sementara pandangannya Lurus melihat 2 motor metik didepan yang tak berpenghuni.
"kenapa, mas?"
-Bersambung-
.
.
.
kalau suka cerita ini, jangan lupa dukung dengan cara Like, Komen, dan Vote sebanyak-banyaknya. biar aku semangat nulisnya.
Terimah kasih.
#jangan LUPA SHOLAT yah
__ADS_1