
Setelah duduk, mereka mulai memesan minuman sembari menunggu kedatangan syifa. namun hingga menit ke 20, wanita itu belum juga datang.
“Aku ke toilet bentar, ya.” setelah mendapat anggukan dari nabila pria itu berlalu pergi.
Kawatir, nabila coba menghubungi syifa namun tidak aktif. ia semakin kawatir namun kekawatiran itu lepas ketika melihat seorang wanita berhijab navy memasuki resto dengan celikungan.
“Syifa!?”
Ujarannya yang tidak terlalu keras bisa dipekai pemilik nama. syifa lekas menghampiri dan menyapa nabila.
"Maaf, aku telat, yah?” katanya sembari duduk.
Nabila mengagguk, “nomormu kenapa gak aktif sih, dek? sampai aku kawatir.”
“Ponselku lowbet, mana tadi sempat kesasar. soalnya kesini bawa motor sendiri untung aja, ada orang yang mau bantu anterin.”
“Ya allah dek… seharusnya aku yang minta maaf tinggalin kamu, seharusnya tadi kutungguin."
Syifa tersenyum, “gak apa, Kak. kan udah ketemu,” balas syifa kemudian duduk, ia menyernyit pada setengah gelas minuman dikursi depan.
“Dia udah datang dari tadi, cuman kebelakang dulu.” kalimat nabila menjawab kebingunannya, “bentar lagi datang, kok dia."
Syifa mengagguk, “jadi penasaran, mau kenalin aku sama siapa sih, Kak?”
Nabila tak menjawab, wanita itu hanya mengulum senyum.
5 menit hingga hampir 30 menit menunggu, pria itu belum juga kembali dari toilet. nabila sudah berkali kali mengabari tetapi sama sekali tak ada balasan. melihat syifa yang sudah lelah ia mempersilahkan wanita itu pulang. setelah syifa pergi, ia kembali mengubungi dan sekali lagi panggilannya tak terjawab tetapi seseorang duduk dihadapannya.
“Kamu dari mana saja, sih?” protesnya pada orang itu. namun ternyata pria dihadapannya lebih terlihat kesal.
“Apa maksud kamu ketemuin aku sama dia?”
Nabila tak bisa memperotes lagi ketika pria itu melayangkan pertanyaan yang ingin ia hindari, “aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman kalian, Biil.” lirihnya kemudian menunduk, “syifa mencarimu. dia sudah menyesali kebodohannya…”
“Tapi aku tidak suka kamu merencanakan itu, nabila…” pangkas pria itu menahan kesal, “aku tahu, dia akan menyesali perbuatannya itu. tapi biarkan allah, nabila. biarkan Dia yang mengatur semuanya.”
Nabila semakin menunduk mendapat cecaran. niatnya hanya ingin meluruskan kesalah pahaman dan juga kepastian sesuatu, namun ia jusru mendapat omelan. melihat wanita dihadapannya melirihkan tangis, pria itu menghela.
“Aku minta maaf jika terlalu emosi.”
Nabila menggeleng, “kamu tidak mengerti keadaanku, Bil…”
“Aku ngerti!” pria itu menumpukkan telapak tangan diatas punggung tangannya “kamu pasti sembuh! kita bisa lewatin semuanya. sama seperti kamu menyembuhkan aku, ok!”
Kalimat penyemangat dari pria itu membuat nabila mendongak. ia bisa menemukan ada kesungguhan dalam ucapan, namun jika menelusuri lebih dalam, ada sebuah keraguan yang menancap dimata pria yang baru hampir 2 tahun ini ia kenali.
Nabil Alfarisi, profesinya yang seorang skeater mempertemukan ia pada pria itu. narapidana yang lolos dari tuntunan hukuman mati. rasa iba yang bermula perlahan terkekang cinta hingga berani menuju kehalalan. cerita demi cerita pilu yang dibagikan pria itu membuat ia penasaran denga sosok Asyifatul Markamah. cinta pertama calon suaminya.
Dan akhirnya, dari profesinya pula ia bertemu dengan pemilik kisah itu. rasa iba yang dulunya dikuras untuk nabil kini teralihkan pada syifa usai menyaksikan sendiri bagaimana tersiksanya wanita itu dengan keputusannya dimasa lalu.
**
Sebuah hati yang memaksa tuk membenci ternyata tetap menyiksa pemiliknya. ia tak benar membenci, tapi jika bertemu, ia ingin berbalik. dan ketika bertatap, ia ingin berpaling.
Hamparan gedung pencakar langit sangat jelas terlihat dibalik candela tempatnya berdiri, menatap hambar matahari yang berusaha meyusup cela dalam ruangan. ia sudah bangkit dan lahir kembali sebagai pemuda yang patuh pada keluarga dan juga belajar menjadi hamba yang taat. masa remaja sudah terlewat, begitupun dengan masa muda. kini ia sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang harus dikejar dan tidak.
“40 menit lagi kita miting. saya harap, penawaran satu ini juga cocok dengan perusahaan kita, pak.”
Lamunan 2 tahun lalu yang hampir hinggap seketika buyar ketika pria bersetelan rapi dengan kaca mata menggantung dipangkal hidungnya datang menaruh berkas di atas meja. ia menghampiri pria itu kemudian duduk dikursi yang dikususkan ceo.
“Kau ngga perlu kawatir, Maxgrub tidak akan rugi jika kerja sama itu batal.” ia mengambil berkas dari perusahan yang akan bekerja sama dengannya, “kamu yakin, Soracojaya bisa dipercaya Ky?”
“Iya pak.” pria berkacamata itu segera bersikap santai usai mendapat lirikan dari atasannya, “iya, gue yakin, Bil. Soracojaya orangnya pada amanah dan konsisten.”
Nabil mengagguk anggung, ia tertawa kecil melihat ekspresi eky yang sudah ia angkat sebagai sekretaris.
Maxgrub, sebuah perusaaan besar yang harus ia kelola setelah bebas dari lingkaran narkotika. menyianyiakan masa muda membuatnya menguras tenaga untuk belajar dan memahami lebih dalam dunia perbisnisan setelah ayah dan adiknya memilih tinggal di malaysia.
Sementara Eky, pria itu sangat bersyukur mendengar dirinya tak jadi di eksekusi. setelah bertemu, ia meminta eky menjadi asisten. awalnya pria itu menolak, namun Karena permohonan yang terus mernerus akhirnya eky menerima. dan nabil meminta sekertaris lama membantunya eky sampai professional.
“Kamu pernah bertemu Syifa?”
Eky yang tadinya bersemangat memilah berkas kini berubah lamban, “untuk apa ketemu wanita seperti dia” decaknya.
“Dia tinggal dekat sini juga Ky.”
“Apa!” eky sontak mendongak, “terus lo mau ngejar lagi!?” selidikannya mendapat senyum masam.
__ADS_1
“Kamu pikir aku bodoh, aku hanya tanya kamu…” nabil menatap serius, “jangan sampai dia menemukanku. aku tidak mau dikejar untuk memaafkannya.”
Eky mengagguk setuju, “jangan mudah memaafkannya, Bil. masalah yang kemarin dia ciptakan itu menyangkut nyawa! beruntung almrhum rasyid mau kelarifikasi mengenai barangmu.”
Rasyid, adalah seorang narapidana yang sudah mendapat tuntutan hukuman mati. ditengah rasa berpasrahnya, ia mengakui barang bukti nabil memang adalah miliknya. berkat bantuan aska, pengakuan itu membuat nabil terbebas dan hanya melakukan rehab hampir setahun.
“Meski semua orang menghakimi tapi sebenarnya dia orang yang baik. aku yakin, allah maha adil. Rasyid sudah tenang di syurga.” Nabil merespon kalimat sahabatnya.
Eky mengaminkan, “habis miting, kita ke pantai yuk! temui anak anak. gak apalah kamu bolos dikiiit.”
Nabil tertawa kecil, “entar sore aku mau pilih desain undangn sama nabila.”
“Pake motor?”
“Mobil.”
“Ok. gak apalah kamu gak ikut, tapi bolehlah motormu Aku pinjaam,” godaan eky membuat nabil menggeleng geleng, pria itu selalu mencari kesempatan terlihat keren. namun pada akhirnya nabil mengagguk.
**
Menjadi seorang pengusaha muda ternyata tidak membuatnya menyampingkan faforit. disaat pengusaha besar memilih menggunakan mobil, nabil justru nyaman menggunakan motor sportnya, hanya saat saat tertentu ia menggunakan kendaraan roda empat, seperti saat ini.
Di sebuah toko percetakan menjadi lahan parker mobil yang ia bawa. nabil segera turun dan membukakan pintu pada wanita berhijab ungun yang ikut bersamanya.
"Selamat hari-hari menjelang pernikahan kita..” ujarnya mendapat tawa kecil dari wanita itu.
"Kikra-kira warna yang bagus untuk undangan kita, apa yah?” nabil meminta pendapat disela langkah.
Nabila terlihat berfikir, “yang kalem aja! warna peach misalnya.”
“Peach doang,” ia kurang setuju, “bagaimana klo kita tambahin warna abu?"
Nabila mengagguk riang, “mintain dua warnanya bersebelahan, yah. pasti keren.”
Ganti Nabil mengagguk setuju, ia tak henti mengulas senyum menatap nabila. wanita itu meminta agar nabil mengalihkan pandangan namun pria itu malah terus menggodanya, barulah ia dingin ketika berhadapan dengan pegawai toko. nabil mulai menyampaikan bentuk desain yang mereka inginkan.
Setelah mendapat corak undangan yang sesuai mereka berniat langsung ke luar. namun saat hendak menghampiri mobil, nabil memicing pada seorang wanita yang singgah membeli buah dipinggir jalan.
“Syifa!”
Sementara nabila merasa menyesal, ia lupa jika nabil belum siap bertemu syifa. namun niatnya untuk pergi urung ketika syifa menyadari keberadaannya.
“Kok beli buahnya dipinggir jalan?” sapa Nabila sembari memangkas jarak. “kan kalo di toko lebih berkualitas, dek.”
Syifa tertawa kecil, “cari yang deket aja, Kak.” ia menatap bangunan pemilik halaman tempatnya berdiri, “dari sana kak?”
Nabila mengagguk, “habis bikin desain undangan.”
“Sendiri!?”
“Sama…..” nabila ragu melanjutkan kalimatnya. hingga suara kelakson dari mobil yang semua kacanya tertutup kaca hitam disamping mereka membuat syifa bisa menebak.
“Calon suaminya, ‘kan?” godaan syifa membuat nabila menagguk kikuk. “udah deket dong, hari H-nya. tanggal berapa yah, kak? biar aku sama tante mirna bisa siap siap.”
“Lima maret.” nabila menyebik, “tapi bukannya aku gak minta kamu datang yah, dek. tapi pernikahan kami cuman sederhana. hanya dihadiri kerabat dan beberapa rekan bisnis dari dia. maaf, yah.”
Meski kecewa tapi syifa sadar diri, ia tidak ada hak mengekspresikan kekasalan, “iya gak apa, aku bisa kasih selamat setelah hari itu.”
“Tapi kamu bisa datang di hari ketiga pernikahanku,” nabila mengambil selembar kertas juga polpen dalam tas, ia menuliskan sesuatu kemudian memberikannya pada syifa, “kalo punya kado…. anterin aja ke alamat ini, jalan rajawali no 2. setelah menikah aku akan tinggal disana. itu rumah calon suamiku, pemilik Maxgrub.”
“Maxgrub?” syifa merasa tidak asing dengan nama itu. ada sesuatu desiran aneh mendengar permintaan nabila. tapi ia mengabaikan “in sya allah aku datang.”
**
Undangan yang target hampir seribu itu akhirnya tercetak dan sampai dirumah. para keluarga semakin antusias menyambut 5 juni. 5 hari lagi, pernikahannya dengan nabila akan terjadi. meski ayah dan intan memutuskan datang di hari kedua sebelum pernikahan, tapi antusian paman, bibi, ponakan, dan sepupu di Jakarta tak membuat kebahagiaan seorang Nabil berkurang.
Rasanya sudah berada ditakdir yang tepat namun nabil malah menepi dalam kesunyian kamar untuk melakukan panggialn keluar pada kontak yang diberi nama ‘pemilik hati’ bukan tampa alasan, ia hanya ingin berbagi kebahagiaan pada sosok yang membuatnya sempurna. namun sayang, ditengah tengah percakapan itu ia justru mendapat kalimat yang membibit pertengkaran.
“Besok itu terlalu cepat, Biil. pas hari ketiga sebelum pernikahan kita aja baru sebarin undangannya…”
Kabar bahagia yang ingin segera ia bagikan ternyata ditantang pihak wanita sendiri, “bukannya lebih cepat lebih bagus. kita ‘kan mau menikah, itu kabar yang baik nabila…”
Tak ada tanggapan dari Nabila.
Wajah nabil berubah kawatir ketika mendengar rintihan, “kamu kambuh?”
“Lebih cepat memang baik! tapi kita tidak tahu tentang rencananya,” wanita itu menjawab kalimat sebelumnya dan diam bebearap saat, “bagaimana jika undangan itu sudah tersebar, tapi allah memanggilku...”
__ADS_1
“Nabila!” sentak nabil, “apa yang kamu pikirkan, kita aka menikah! jangan pernah mengatakan kamu akan meninggalkanku!” kekesalan yang tercipta perlahan mereda ketika isakan lirih itu terdengar, “hanya kamu, Nabila. aku takut kamu berfikir akan pergi, karena aku tidak pernah mencintai sedalam ini, itu hanya kamu..”
“Dan juga syifa?”
Sekali lagi kalimat wanita itu membuatnya menahan kesal, “kamu tahu betul bagaimana kisahku dengan wanita egois itu. aku sudah melupakan! tapi kenapa kamu terus memaksaku mengingatnya! ingin membuatku gila?”
Nabila hanya terus terisak. sementara nabil coba menarik napas menenangkan diri, “apa kamu berpikir kalo aku masih mencintainya?”
“Aku hanya takut, takut merebut takdir orang lain. bagaimana aku bisa percaya kamu mudah melupakannya begitu saja. itulah kenapa aku ingin mempertemukan kalian, Bil. setidakanya di akhir akhir kehidupanku…”
“Nabila! please!”
“Aku menjadi perantara penolong dalam takdir cintamu.”
Sangat kesal dengan lanjutan kalimat wanita itu, tapi isakannya yang memilukan membuat nabil terdiam dan mengulang gungulang kalimatnya. tak lama kemudian panggilan itu terputus begitu saja. nabil ingin melakukan panggilan kembali namun terjeda karena mendapat pesan dari Nabila.
//Apapun yang terjadi nanti... dia akan datang dengat ketiktahuannya. maafkan dia. tolong bantu aku menuntaskan permintaan terakhir ini. menikahlah dengan syifa//
Pesan itu membuat nabil semakin gusar. ia melakukan panggilan di nomor yang sama namun tak ada tanggapan. karena kawatir, nabil berniat kerumah nabila namun para keluarga yang menahan dan butuh alasan membuatnya mengurungkan niat. tidak mungkin ia berkata jujur ataupun berbohong sebagai alasan.
**
8 maret, syifa sudah menunggu hari itu sebagai alasan bertemu nabila yang hilang kabar semenjak 4 hari yang lalu. Jalan Rajawali No 2, ia sudah berada didepan pintu rumah tersebut mengujarkan salam dengan ketukan.
“Wa'alaikumussalam,” ujar seorang wanita dari dalam sembari membukakan pintu, “cari siapa Mba?”
Syifa tersenyum, "Kak nabilanya ada, Bu?” ia menyeryit ketika art itu tiba-tiba menunjukkan wajah murung.
“Tunggu sebentar yah, Mba. saya tanya ke Aden, dulu."
Syifa menagguk, ia memunggungi pintu sembari menunggu. rumah megah yang memiliki pekarangan yang luas itu sama sekali tak menunjukkan sisa sisa acara. mungkin akad dan resepsi dilakukan ditempat lain, pikirnya.
“Permisi?"
Suara yang diikuti langkah tegas itu membuatnya menoleh. seketika tubuhnya mematung lidahnya kelu bahkan napasnya sulit terhembus melihat sosok yang setahunya sudah tiada kini tepat dihadapan.
“Nabil.” batinnya yang kemudian diikuti desakan ait mata, “Kamu masih__”
Ctak!
Syifa yang masih tak percaya akhirnya yakin, ketika pria itu mnghindari dengan menutup pintu kasar. nabil masih ada, dia masih hidup. dia nyata!
“Kumohon buka pintunya! maafkan aku!” teriakannya terus menggema, pukulannya pada pintu semakin menjadi, isakan demi isakan terus mendesak penyesalnnya. namun tak sedikitpun mendapat iba dari pria itu.
Entah perasaan seperti apa yang ia bawa pulang. bahagia, tetapi juga mengenaskan. ia memilih pulang ketika sadar sudah membuat keributan di rumah sahabatnya, entah kenapa nabila tak keluar membantu, atau wanita itu mendapat ancaman dari nabil.
Sepeda motor sudah sampai depan rumah, ia mencoba melakukan panggilan telpon pada nabilah lagi, namun hasilnya tetap sama seperti kemarin, tidak ada jawaban.
“Nabila aku mohon, angkat… aku tidak berniat mengusik rumah tanggamu. aku hanya ingin meminta bantuanmu," tangannya yang gemerat terus mengirim pesan disetiap media sosial nabila.
“Inna lillahi wa inna ilaahi roojiun. diakhir pertemuan ini... sekali lagi mari kita panjatkan do’a untuk almarhum nabilah hijratul hasanah yang sudah berpulang 3 hari lalu.”
Suara Uztadzah Latifa diseberang membuat aktifitas tangannya terhenti. ia diam sesaat, kemudian menoleh mesjid yang tadi melakukan pengajian. ia kenal nama itu, namun ingin menyangkal. tapi rasa penasaran membuatnya menghampiri salah satu Ukhty yang baru saja keluar.
“Kak nabilah yang dokter itu loh, Mba. yang biasa sama Mba. katanya subuh di hari pernikaannya dia meninggal dunia.”
Jawaban Ukhty tersebut rasanya ingin membuatnya menutup telinga. namun terlanjut, semua sudah jelas, belum lagi mata sembab nabil yang sempat ia tangkap. syifa lekas ke rumah ketika tante mirna datang.
“Tante!” ujarnya sebelum wanita itu memasuki rumah. “Kak Nabila udah gak ada…,” cekalnya, kali ini ia tak bisa mengkondisikan isakan. namun respon diam dari wanita bercadar itu membuatnya menelisik “tante sudah tahu?”
Tante mirna segera memeluk ponakannya, “maafkan tante gak kasih tahu kamu, sayang. ada sesuatu yang gak bisa tante jelasin." belum cukup semenit, pelukan itu sudah terlepas.
Mata sembab syifa coba menelisik rahasia apa yang coba disembunyikan tantenya, “Maxgrub?” kata syifa, “perusaan yang bekerja sama dengan Ifacrops. tante tahu pemilik perusahan itu adalah nabil, iya ‘kan! tante pasti juga tahu calon suami nabila adalah nabil. tapi kenapa tante gak kasih tahu syifa… kenapa!?”
“Sayang….,” tante mirna menepuk pundak syifa, “dia sudah tiada, kamu pasti belum minum_” tante mirna tak melanjutkan kalimat sebab terkejut syifa menapik kasar tangan itu.
"Untuk apalagi tante berbohong! aku tidak gila tante! aku sudah ketemu nabil, dia masih hidup!” Syifa terlalu syok mendapat kebohongan besar, bahkan dari tantenya sendiri. tubunya lemas dan akhirnya duduk dilantai.
“Kenapa tante harus bohongin aku.. kenapa…” lirinya putus asa.
Melihat keterpurukan pokannya, mirna ikut duduk, ia bingung harus menjelaskan dari mana, “maafkan tante, sayang. tante tidak berniat membohongimu. saat itu tante benar benar bingung. perusahan ayahmu mengalami penurunan, disaat yang bersamaan Maxgrum membuka penawaran kerja sama. tante mendaftarkan Ifacrops disana, tak disangka ternyata mereka meresponnya. dan waktu pertemuan di Mal itu, tante juga terkejut melihat nabil selaku pemilik Maxgrub. dia meminta agar tante tidak memberitahu keberadaanmu. jika tidak, kerjasama ini akan batal. jika itu terjadi, pasti Ifacroups hanya tinggal kenangan.”
Mendengar penjelasan tantenya, syifa tak bisa menyalahkan wanita itu lagi. keputusan yang dipilih untuk Ifacroups memang tepat, tapi apakah ini juga jalan yang terbaik untuknya?
-Bersambung.
@Airaannur_ kalian bisa cek Ig ku, yah. terimah kasih😊
__ADS_1