Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
gadis pengajar


__ADS_3

Warna keabuan dilangit Malang menandakan percikan air sebentar lagi menyapa daratan kota itu.


Terlihat seorang Wanita muda, ia setengah berlari menghidari gerimis yang perlahan menembus kerudung dan gamisnya yang berbahan wolfis.


Sebuah ruko sebelah kiri jalan yang memiliki atap lebih, kini menjadi tujuan utamanya untuk bernaung.


Ia mengibaskan gamis nya ketika sampai disana. Beberapa orang yang juga berteduh disana melihatnya aneh, namun gadis itu membalasnya dengan senyuman, senyuman yang memperlihatkan kedua gigi ginsulnya.


Hanya sebuah senyuman sudah membuat orang-orang yang memandangnya kini menunduk.


Menunduk tak sanggup menatap wajah gadis itu yang begitu sempurna rupanya hingga membuat mereka salting sendiri.


Gadis berkerudung navy itu, sesekali ia melihat jam tangannya dan menengok di ujung jalan sana. sikapnya yang begitu gelisah membuat wanita setengah baya yang berada disampinya penasaran.


"Mau kemana, dek?" tanya wanita itu, "Dari tadi saya perhatikan adik ini gelisah sekali."


Gadis itu tersenyum kemudian menunjuk sebuah kubah Musollah sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri.


"Mau ke TPA samping Mushollah situ bu," ucapnya.


"Oooo..., Mau ngantar adiknya ngaji juga?" tanya wanita paru baya itu, ia menunduk tetapi tidak mendapat satu anak kecil pun yang mengikuti gadis itu.


Gadis itu tersenyum kemudian menggeleng "Saya yang mengajar disana buk," ucapnya.


"Oh yah! anak saya juga ngaji disana loh."


Gadis itu menyernyit bingung, ia baru sadar penampilan wanita setengah baya ini terlihat seperti orang kaya, tetapi mengapa anaknya mengaji ditempat terpencil seperti ini.


"Tante juga gak tahu kenapa kakaknya nyaranin adiknya ngaji disini," ucap wanita itu seakan sudah mengerti dengan ekspresi nya.


"Tadi kakaknya juga ikut anter kesini," lanjut wanita itu sambil menelisik tiap wajah yang ditemuinya.


Gadis itu ikut mencari sosok yang dimaksud wanita paru baya itu. namun pandangannya terhenti pada seorang gadis yang berjalan diujung sana dengan sebuah payung ditangannya.


"Lia..," batinnya.


"Maaf bu, saya harus kesana," ucapnya pada wanita setang baya itu, ia menunjuki gadis yang memegang payung disana.


Wanita paru baya itu mengangguk dan tersenyum.


"Assalamu alaikum" pamit gadis itu kemudian setengah berlari meninggalkan wanita yang diajak nya bicara.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Wanita paru baya itu masih menatap kepergiannya. Ia tersenyum mengagumi sosok gadis yang baru dia temui.


"Ya Allah, apa karena gadis itu, yang membuatnya setiap hari ingin mengantar adiknya," batinnya.


diseberang sana,


"Lia! " Panggil gadis berkerudung Navy itu, ia belari menghampiri seorang gadis yang linglung memegangi payung.


"Kak sifa! " Sahut Lia, melihat siapa yang memanggil namanya, ia setengah berlari kemudian memayungi shifa disana.


Umur boleh Lebih muda, namun nyatanya gadis yang bernama Lia itu fisiknya lebih tinggi darinya.


"Kemana aja sih, kak? Kita pada nunggu nih," kelu nya disela-sela perjalanan.


Cukup lama menunggu seorang gadis yang akan mengajarinya mengenal huruf huruf dalam IQRO.


Lia.


gadis berwajah oriental, Yang memiliki nama asli Lae Mon Tae. Dia 4 tahun lebih muda dari shifa. Ia adalah seorang Mu'alaf keturunan Korea, baru memeluk islam 2 minggu lalu bersama kakak laki-laki nya yang bernama Alaska Siaga.


Kok namanya beda? Yah, mereka adalah anak blasteran Korea dan Indonesia tapi lebih dominan ke wajah Korea.


Rintikan hujan kini perlahan sirna, awan hitam tak lagi terlihat disana, kini terganti silauan cahaya matahari yang mengambil alih singgasananya.

__ADS_1


seperti bersinar dipagi hari, silauannya mampu membuat tampang diatas rata-rata semakin  berseri.


Seorang pria muda bertubuh tinggi dengan berjaket hitam kulit yang dalaman dipadukan kaos berwarna putih dan sebuah topi menutupi rambut pirang coklatnya. Sedang berada dibawah pohon mangga, kini menjadi pemandangan indah disana.


Bak nabi Yusuf, ketampanannya mengambil alih konsentrasi para ukhty yang sengaja maupun tak sengaja berpapasan dengannya.


Sebuah topi yang ia kenakan berusaha ia tarik menutupi wajahnya, bersikap risih dengan pandangan itu.


"Ah iyah, iyah. gue emang ganteng. udh dong, Risih nih!" Gumam pria itu masih berusaha menarik narik topinya.


Kenapa tidak pergi saja dari situ?


dia ingin sekali, hanya saja seorang gadis berkerudung navy yang tengah berjalan di bawah payung sana membuatnya tetap bertahan.


Brug!


"Auuu..," pekik Lia, ia terjatuh karena mata dan pikirannya tertuju disana.


"Hati-hati dong Lia," Shifa membantu Lia berdiri.


Lia menatap gamisnya yang terkena genangan air hujan, "Yah! basah."


"Makanya, mata jangan kemana-mana," omel Shifa ia membantu mengibaskan gamis Lia. "klo jalan yah liatnya kebawa, bukan kesamping sana, Liaa..."


"Ganteng sih kak," seru Lia, ia masih cengengesan mengingat pria tampang itu.


Shifa mengerjap, ia menengok kesamping kanan dimana mata Lia tadi terpaku.


"Gak ada siapa siapa tuh! " kata shifa.


Lia mendongakkan kepalanya menyelisik pandangannya di bawah pohon mangga.


"Tadi ada kok," Lia celikungan mencari pria itu, namun ia tidak menemukan jejaknya, "cepat banget ilangnya."


"Ganteng? Tapi tiba-tiba ngilang? Hemm..., Bidadara kali yah!" shifa berlalu meninggalkan Lia.


"Bidadari kan ada, masa bidadara nya gak ada." sahut shifa.


"Iss!.." decak Lia, ia memilih mengikuti langkah wanita yang memberi jawaban garing itu.


Tidak terlalu jauh untuknya berjalan kaki akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan. di sebuah bangunan kecil beratap daun aren.


"Assalamu alaikum adik-adik."


“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut para anak-anak  TPA.


“Yee... kak syifa udah datang,“ sambut salah satu murid berusia 8 tahun bernama mina.


Lia ikut masuk dan duduk bersilah menopang kedua sikunya diatas meja, sementara kedua  telapak tangannya mamangku dagunya. ia memanyun kesal tak ada yang menyambut kedatangannya.


Sambil tersenyum, gadis yang bernama shifa ia berjalan kearah meja yang dekat dengan papan tulis.


“Ada apa ini? nampaknya kalian sangat bahagia hari ini," tanya shifa ketika duduk bersilah dan mengeluarkan beberapa barang dari tasnya.


Hanya sebuah meja, tak ada satupun kursi disana. layaknya TPA yang Lain, hanya ada sebuah meja kecil untuk menempatkan kedudukan Al-Qur'an.


Senyuman nya bagai penyembuh  yang terluka, penawar bagi yang sakit.


Seperti namanya, Asyifatul Markhamah


As-Syifa yang menyembuhkan.


“Iya dong inikan hari saptu, ingat janji kakak kan?” sahut salah satu anak berkerudung merah.


“Janji apa? emang kakak pernah  janji sama kalian?”


Semua bungkam mendengar sanggahan Sifha.

__ADS_1


“Udah yah, orang kakak gak pernah janji," ujar shifa, ia menyebikkan bibir menahan tawa usai melihat raut kecewa dari murid-muridnya.


"Mending kalian ambil Al-Quran nya terus kita ngaji bareng-bareng, yuk!” lanjutnya.


“kak? barang siapa yg tidak menepati janji maka dia akan mendapat laknat dari Allah!”


ujar anak berkerudung merah, ia memanyun menatap kesal wanita yang pipinya sedang bersemu merah itu.


“Wih aku dikutuk, nih!" ujar shifa di akhiri tawa meledaknya, "Hahaha..."


"kaaak"


Shifa mengusap sudut matanya, puas tertawa.


"Iyah deh, iya. kakak ngalah.


Kakak ingat kok janji apa, kakak janji hari ini kita main seru-seruan kan?” sahutnya.


“Akhirnya ngaku juga deh” ujar Mina.


“Taapiii.... sebelum itu, kita ngaji dulu yah! adik-adik.”


“Ok deh kak,” sahut murid-murid Syifa gembira.


Seperti biasa pembukaan diawali membaca surah Al-Fatiha kemudian di lanjutkan membaca doa sebelum belajar.


Satu persatu anak-anak mulai maju ke meja Shifa. Melancarkan bacaan ayat suci mereka lewat binaan wanita yang kini serius memperhatikan irama yang seharusnya seimbang dengan Makrijul huruf di Al-Qur'an mereka.


Berbeda dengan Lia,


gadis itu sedang hikmat memperhatikan huruf-huruf Arab di atas mejanya.


sesekali ia membuka lembar depan untuk memastikan apakah pengucapannya dengan huruf itu benar.


Yah, sebagaimana seorang mu'alaf mereka akan mempelajari dari awal.


meski lebih tua dari anak disana, namun Lia tetap fokus pada Niatnnya untuk belajar.


ia bersikap tidak peduli dengan tatapan anak-anak yang mungkin melihatnya minim ilmu di banding mereka.


"mereka masih anak-anak, belum tahu perbedaan."


itulah kalimat dari shifa yang membuat gadis berwajah oriental itu, bersikap bodoh amat dengan pandangan orang lain tentangnya.


Pukul 14:33


Seharusnya waktu belajar tambahan seusai mengaji, namun waktu itu di isi dengan hiburan sesuai dengan janji Shfa minggu lalu.


“Ok jadi sesuai janji kakak, kita akan lakuin suatu game Tanya jawab, ok!"


Sentakan Shifa membuat anak-anak disana sedikit terkejut. Tapi tidak dengan gadis yang mengenakan kerudung selutut disana.


Ia menatap datar pemilik suara itu.


"Gak seru banget! ini permainan anak kecil," Gumamnya.


-Bersambung-


Assalamu alaikum semuanya,


gak bosan bosan nih sang Author minta penyemangat.


Jangan lupa LIKE, beri tanggapan kalian mengenai cerita ini di kolom KOMENTAR DAN SHARE AND VOTE


sebanyak-banyaknya


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2