
"Diiih... Gak ada segan-segan nya nih anak." gumam Shifa kemudian berdiri dari duduknya.
"Biarin! dari pada nanti aku tinggal sendiri terus pulang taunya kak Shifa udah jatuh cinta ama tu Opa Opa gimana?"
Shifa hanya menyernyit.
"Gagal dong kak Shifa punya adik ipar seimut ini..," Lia mengedip-ngedipkan mata sembari membuat wajahnya seimut mungkin.
"Dih! Mau muntah aku," Shifa menjitak kepala Lia.
"Auuww!" Lia mengusap kepalanya,
"Emang imut kok! kak Aska juga bilangnya gitu!"
"Titip dia yah!" Shifa mununjuki ruangan Nabil kemudian melenggang pergi tanpa merespon kalimat gadis itu.
Lia tersenyum menatap kepergian Shifa. Ia tahu bagaimana kisah cinta Aska dengan Shifa. Saat ini wanita itu sedang menjahui kakaknya entah apa sebabnya.
Tapi Lia akan berusaha mempersatukan mereka karena ia tahu Aska masih menyukai Shifa. dan satu hal lagi yang ia harapkan dari hubungan keduanya adalah.. agar Shifa bisa membawa Aska kejalan yang benar dan lebih baik lagi.
Lia menghentikan lamunan harapannya. Meningat ada yang harus ia jaga di dalam ruangan itu.
"Aktor dari mana sih..," Gumamnya setelah Melihat wajah tampan seseorang yang terbaring di atas berangkar. sedikit senyumnya menerkah.
"Umurku udah cukup gak yah?
dibimbing seseorang,"
sesaat kemudian ia terkekeh sendiri. Mengingat, usianya baru 17 tahun tetapi sudah memikirkan seorang pendamping.
Setelah cukup puas memandangi dan larut dalam pikiran halunya, ia memilih beristirahat di kursi samping meja brankar.
Sebenarnya bukan untuk istirahat tetapi mencari tempat nyaman untuk membuka akun instagram nya.
Ting! Tingting! Ting! Ting!
Baru mengaktifkan Data seluler, Suara pesan dan komentar bergantian masuk ke layar panel notifikasi ponselnya dan cukup memecah keheningan di ruangan itu.
Bagaimana tidak, Lia adalah salah satu selegram yang sangat berkualitas. banyak yang menggunakan jasanya untuk sekedar mengiklankan dagangan mereka. Hingga hal itu membuatnya sangat sibuk jika harus membuka ponselnya, Apalagi setelah ia menjadi seorang mu'alaf.
Banyak yang menawarkannya untuk menjadi Dropshipe barang gamis mereka.
Sehingga sampai sekarang Lia fokus pada perjualan gamis dan barang-barang yang bernuansa islami lainnya.
Hampir 10 menit, mata dan pikirannya hanya tertuju ke layar ponsel namun sesekali ia menyempatkan pandangannya untuk melihat keadaan pria di samping kirinya.
15 menit
20 menit
Sudah berlalu, sedari tadi pikiran gadis itu fokus pada ponsel miliknya hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan gerak geriknya.
Karena merasa lelah, ia mengangkat kedua tangannya, namun tangannya tergantung ketika melihat mata pria di sampinya itu sudah menatapnya entah sejak kapan.
"Alhamdulillah, udh bangun kak?" Lia menurunkan tangannya, kemudian menghampiri pria tersebut "Bagaimana keadaannya kak? udah baikan?"
__ADS_1
“Kamu buka orang yang saya tolong,”
Ucap pria itu, seketika senyum dibibir Lia perlahan hilang terganti dengan kebingunaannya.
"Oh! kak sifa..," gumam lia.
"Ah, iyah Shifa. namanya Shifa," Ucap pria itu sambil menekan kepalanya yang mulai pusing.
“iya, yang kakak tolong itu kak Shifa.
Dia yang membawa kakak kesini."
Jantung Lia mulai berdebar ketika pria itu menatapnya.
"duu... gantengnya nambah pas Dia membuka mata. Hemm... kala dengan oppaku."
Sementara pria yang di pikirkannya itu sudah menyebarkan pandangan dibelakangnya dan di balik jendela, seakan mencari sesuatu.
"Cari kak Shifa?"
pria itu menatapnya sebentar namun tak merespon pertanyaannya, malah ia mencoba untuk duduk.
"Mari kubantu," Lia ingin meraih lengan tersebut, namun segera pria itu menunjukkan telapak tangannya sebagai tanda ia tidak ingin dibantu.
"Aku bisa Sendiri," ucapnya.
Lia mengangguk dan menarik tangannya menjauhi pria itu.
"Dimana temanmu?" Tanya pria itu sambil memijat plipisnya karena merasakan pusing usai mengambil gerakan untuk duduk.
Pria itu hanya terdiam dan kembali menekan nekan kepalanya. Membuat Lia mulai bosan mengajaknya berbicara meski hanya sekedar menawarkan bantuan.
"Ah sabar Lia, mungkin pria ini masih syok."
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Lia, segera ia membuka aplikasi instagram dan membalas beberapa chat disana hingga membuat jemari dan pikirannya sibuk.
Usai membalas pesan, Lia ingin memasukkan ponselnya ke dalam tas namun ia tahan karena mata pria itu menatap ponselnya.
Lia memicing, kemudian tersenyum licik. Ia tahu bagaimana cara mengerjai kejutekan pria itu. Ia menggoyang-goyangkan pelan lengannya yang memegang ponsel kekanan dan kekiri, Tentu mata pria itu mengikuti.
Lia tersenyum menang dalam pikirannya. ia berhasil membuat pria itu terlihat bodoh. Namun segera ia menyebik ketika pria itu sadar dan menatapnya.
"Mau pinjam?" Lia mencoba menebak keinginan pria tersebut dengan mengangkat ponselnya.
"Jika boleh."
Sungguh, kali ini Lia ingin sekali tertawa mendengar jawaban pria itu yang kini terlihat sungkan padanya.
Lia menyodorkan Hp nya. "Pakai saja, Data sama TM nya masih banyak, kok."
"Aku hanya ingin menghubungi orang tuaku," balas pria itu sambil menerimanya.
"terserah!"
__ADS_1
Pria itu mengetik beberapa angka dalam ingatannya, kemudian melakukan panggilan telpon. Lia bisa mendengar bahwa panggilan pria itu belum juga di respon diseberang sana.
"Assalamu alaikum mah,... dirumah sakit,.. gak kok mah cuman luka kecil,.. iya..,... hem,..."
Sedikit pembicaraan hinggap ditelinga Lia ketika mendengar percakapan anak dan ibu itu. meski berulang kali pria itu menatapnya agar tidak memperjelas pendengaran, tapi Lia berlagak seperti tidak peka dan dari sana ia mendapat informasi dan menyimpulkan bahwa, kedua orang tuanya pria itu besok akan menjenguknya.
"Iyah..., mama gak usah khawatir, Nabil baik-baik saja maah,"
Sebuah kalimat dari pria itu sedikit memecah salah satu penasaran Lia.
"Ooooh namanya Nabil," batinnya.
"Ok oke.. istirahat yah, mah. assalamu alaikum."
Usai memutuskan panggilan telepon, pria itu menyodorkan ponsel ke pemiliknya, "Makasih yah."
Namun wanita disampingnya hanya diam menatap dan terlihat bingung. bagaimana tidak, pria didepannya itu jelas dalam kondisi lemah, namun seolah memberi kabar bahwa ia baik baik saja.
Tak mau ikut campur, Lia mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya kembali.
"Siapa namamu?"
Mendengar itu membuat senyum Lia mengembang, "Lia, kak." jawabnya kemudian meyebik. bagaimana tidak, pria tampan sedang menanyakan namanya.
Sungguh jawaban yang singkat membuat pria itu terheran, ia tahu wanita itu tersenyum karena mengagumi ketampanannya.
"Kamu tidak ingin tahu namaku?"
"Kak Nabil, kan?" tebak Lia masih dengan senyuman.
Pria itu mengernyitkan alis, menduga sesuatu. "Jangan menguping pembicaraan orang," sindirnya.
Seketika senyum di bibir Lia perlahan hilang, Itu memang benar, sedari tadi ia menangkap beberapa percakapan pria itu di ponselnya. namun ia tidak mau terlihat bodoh di sana. Baru ingin membela diri, pria itu sudah membaringkan tubuhnya.
"Aku mau istirahat."
Lia mengangguk, mengerti jika pria itu sedang mengusirnya secara halus.
Segera ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian keluar.
Tak henti bibirnya terusnya mengumpat dan memaki- maki pria asing itu ketika duduk. Ini memang aneh, Dia tidak mengenal pria itu tapi entah kenapa pembicaraan tadi membuatnya sangat kesal.
"Duuuh! kak Shifa mana sih! lama banget." kelu nya yang mulai haus dan lapar.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya seseorang yang ditungguinya datang juga.
"Maaf yah, lama." Shifa duduk di samping gadis yang memanyun itu kemudian menyodorkan kantung plastik "Nih! makan."
Lia menerima dan membukanya, "Kok cuman satu," tanyanya. "kak Shifa nggak mau makan?"
"Udaah, tadi." Shifa tersenyum mengeratkan gigi-giginya karena merasa tidak enak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, "Nanggung, nunggu pesanan kamu lama sih, jadi aku makan duluan."
-Bersambung-
Author cuman minta Suppornya. jangan lupa Like, Komen klo perlu Share jga yah! kak. terimah kasih.
__ADS_1