
Karena aku membeku dan tidak langsung menjawab pertanyaan darinya, Arata memesankan burger untuk mengganjal perutku yang lapar untuk sementara waktu. Arata juga memesankan minuman coklat panas dan bukan kopi karena ingat dengan ucapanku jika kemarin aku tidak makan. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arata menyetir dengan lebih pelan hanya agar aku makan dengan tenang dan tidak buru-buru. Sesekali dia akan melirik ke arahku, hanya untuk memastikan aku memakan burger itu dengan benar.
Begitu burger dan coklat panas itu habis, Arata memberikan tisu padaku dan kemudian menginjak pedal gas mobil sport hitamnya dan menaikkan kecepatan mobilnya lagi seperti pertama ketika kami berangkat.
Bagaimana aku harus menilai situasi ini, aku tidak tahu. Ada banyak kemungkinan yang ada di dalam benakku: mungkin Arata adalah tipikal pria yang baik kepada semua wanita, mungkin Arata adalah tipikal pria baik yang tidak tega dengan apapun, mungkin Arata adalah tipikal pria yang suka menolong. Tapi semua pikiran itu musnah begitu saja karena beberapa tindakan Arata kepadaku yang melewati batasnya. Hingga saat ini selain menilai dia adalah aktor psikopat, aku tidak bisa menilai lagi tentang dirinya.
“Kita sudah sampai.”
Arata memarkir mobilnya dan berjalan keluar dengan cepat dari dalam mobil. Kukira dia cepat-cepat keluar dari mobil karena ingin menyembunyikan dirinya dari orang-orang yang mungkin mengenalnya. Tapi dia justru bergerak ke arah pintu mobil di mana aku duduk dan membuka pintu itu untukku.
“Te-terima kasih.” Aku berjalan keluar dari mobil Arata dan menunggu Arata menutup pintu mobil. Tiba-tiba aku teringat hal penting yang harusnya aku bawa ketika aku sedang menjenguk seseorang. “Ahhh bagaimana aku bisa melupakan hal itu!!!!!”
“Apa yang kau lupakan, Author??”
“Panggil aku Asha! Aku tidak ingin orang-orang tahu jika aku adalah seorang penulis di sini.” Aku melemparkan tatapan tajam ke arah Arata yang masih mengenakan kacamata, masker dan topi hitam di wajahnya.
“Baiklah, Asha. Apa yang kau lupakan??”
“Bodoh sekali aku ini! Harusnya aku memintamu berhenti di toko buah untuk membeli keranjang buah untuk Warda!” jawabku sembari memukul kepalaku beberapa kali
Arata meletakkan tangannya di atas kepalaku dan membuat tangannya terkena pukulan dari tanganku. Spontan, aku menghentikan tanganku karena tidak sengaja memukul tangan Arata. “Kenapa kau meletakkan tanganmu di sana dan membuatnya terkena pukulanku, Arata?”
“Aku hanya tidak ingin kau melukai dirimu sendiri, Asha. Karena itu. . . aku meletakkan tanganku di sana dan melindungi kepalamu yang berharga. . . ”
Tadinya aku hampir tersentuh dengan ucapan Arata itu tapi mendengar kelanjutan dari kalimat itu, aku justru menyesali perasaanku yang terlalu dangkal itu.
“. . . Bagaimana nantinya jika kau tiba-tiba menjadi bodoh dan tidak bisa menulis novel lagi? Jika hal itu terjadi, aku akan kesulitan karena akan sulit menemukan buku yang bisa membuatku tertarik.”
Aku menepis tangan Arata yang berusaha melindungi kepalaku. Tadinya aku ingin sekali mengumpat pada Arata, sayangnya sekali lagi aku ingat bahwa Arata bukanlah seseorang yang bisa kucari masalah. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya dengan kencang untuk melampiaskan rasa kesalku.
__ADS_1
“Sudahlah, aku lelah untuk berdebat denganmu. Kita harus menjenguk Warda. Ayo!!” Aku melewati Arata dan berjalan menuju ke bagian dalam gedung rumah sakit.
“Ya, Asha!”
Sembari berjalan menuju ke dalam rumah sakit, aku menghubungi Warda dan menanyakan nomor kamar di mana dia sedang dirawat. Aku juga memberi kode kepada Warda untuk menjaga penampilannya karena aku datang bersama dengan Arata dan bukan dengan Sena. Aku harap Warda dapat mengerti dan tidak menyalahkanku karena aku tidak memberitahu kedatangan Arata-idola tercintanya.
Di depan pintu rumah sakit, seseorang sudah berdiri menunggu kedatangan kami dengan membawa keranjang buah dan parcel yang berisi perlatan dan kebutuhan bayi. Dia adalah manajer Arata yang bernama Rama.
“Kau sudah datang, Kak?” sapa Arata dengan tangan ke atas menyapa Rama.
“Ya, Arata. Aku membawa permintaan yang kamu minta. Untung saja beberapa toko buka lebih pagi dan aku bisa meminta mereka membuat apa yang kamu minta. Kenapa mendadak sekali?”
Arata melihat ke arahku. “Maaf, Kak. Tiba-tiba aku berubah pikiran karena seseorang di sampingku ini.”
“Selamat pagi, Nona Asha.” Rama menyapaku dengan sopan.
“Pa-pagi, . .” Tadinya aku ingin memanggil manajer Arata dengan panggilan yang sama dengan Arata, tapi tiba-tiba aku merasa jika panggilan itu sedikit canggung karena sebelumnya aku tidak banyak bicara dengannya. “Bagaimana aku harus memanggil Tuan?”
“Kalau begitu biar aku ulangi. Selamat pagi, Kak Rama.” Aku tersenyum mendengar ucapan Rama yang sopan dan sekaligus terlihat bersahabat. Setelah membalas sapaan Kak Rama, aku melihat ke arah Arata dengan tatapan tajam. “Kenapa kau tidak bilang jika sudah menyuruh seseorang untuk membeli sesuatu untuk Warda?? Harusnya. . .aku tidak memukul kepalaku tadi.”
“Bukankah aku tadi berhasil menghentikan tindakanmu yang tidak perlu itu, Asha? Nah sekarang berterima kasihlah padaku atas kebaikanku.”
Aku membuang muka dan melihat ke arah Rama dengan senyuman. Tidak seperti permintaan Arata, aku justru mengucapkan kata terima kasih kepada Rama dan bukannya kepada Arata. “Terima kasih untuk kedatangannya, Kak Rama. Terima kasih juga telah mau repot-repot datang dengan membawa dua barang itu.”
“Sama-sama,” balas Rama.
“Asha, bagaimana denganku? Kenapa tidak berterima kasih padaku? Kak Rama datang dan membawa dua barang itu karena aku yang memintanya. Harusnya kau juga berterima kasih padaku??” protes Arata.
Aku mengabaikan protes dari Arata itu dengan berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan mulai mencari kamar di mana Warda dirawat. Arata terus mengikuti tepat di belakangku masih dengan terus memprotesku hanya karena ucapan terima kasih. Sementara Kak Rama yang membawa dua barang di tangan kanan dan kirinya membantuku bertanya kepada resepsionis tentang letak kamar rawat Warda dan berjalan di sampingku sembari mencari kamar Warda. Sesekali aku melihat senyuman kecil di bibir Kak Rama karena mendengar protes konyol Arata yang tidak ada hentinya.
__ADS_1
Tiba di depan kamar tujuan kami, aku membuka pintu dan hendak mengucapkan selamat kepada Warda untuk kelahiran pertama putranya. Tapi seperti yang seharusnya aku duga, Warda mengabaikan dan heboh sendiri karena melihat Arata yang berjalan mengikuti tepat di belakangku.
“Kyaaaaaaaa. . . . . Apa aku sedang bermimpi, Asha?? Kau datang kemari bersama dengan Arata???”
“Kau tidak bermimpi Warda,” balasku sembari mendekat ke arah Warda dan suami Warda yang duduk di samping tempat tidur Warda. Aku menyalami suami Warda dan mengucapkan selamat kepadanya. “Selamat untuk kelahiran putra pertamanya, Tuan Yusuf.”
“Terima kasih, Nona Asha. Terima kasih juga karena bersedia datang kemari dan menjenguk istriku.” Suami Warda yang terlihat pengertian itu kemudian bangkit dari duduknya dan memberikan kursinya padaku. “Duduklah di sini, Nona Asha. Aku akan meninggalkan kalian untuk berbincang-bincang dengan Warda.”
“Terima kasih, Tuan.”
Suami Warda keluar dari kamar rawat Warda dan memberi kami privasi untuk berbincang dengan Warda dan membiarkan istrinya itu sedikit menggila karena melihat kedatangan Arata tercintanya.
“Ini untuk Nona Warda.” Rama menyerahkan dua keranjang bawaannya di meja di samping Warda. “Dan selamat untuk kelahiran putra pertamanya, Nona Warda.”
“Te-terima kasih banyak, Tuan Rama.” Warda melihat ke arahku, menarik tanganku dan memaksaku mendekat kepadanya. “Kenapa kau tidak bilang jika kau datang dengan Arata?? Aku jadi tidak berdandan dan membuat Arata melihat wajahku yang berantakan ini.”
“Aku sudah memberimu kode tadi ketika aku bertanya nomor kamarmu bukan?? Kau tidak memahaminya??”
“Aku membawa bintang keberuntungan sebagai hadiah kelahiranmu.”
Warda sepertinya tidak memahami ucapanku itu padahal sebelumnya dia sendiri yang memberi label pada Arata sebagai bintang keberuntunganku.
“Siapa yang akan mengira bintang keberuntungan yang kamu maksud adalah Arata? Dan lagi, bagaimana kau bisa membawa Arata datang kemari untuk mengunjungiku, Asha??” Warda menginterogasi dengan dua pertanyaan karena melihat keanehan yang terjadi padaku. Warda tahu dengan baik bagaimana aku ini yang selalu menolak keberadaan orang asing dan orang yang memiliki popularitas yang tinggi seperti Arata.
“Ceritanya panjang, Warda. Aku tidak bisa men-“
“Bagaimana keadaanmu, Nona Warda??” Arata sepertinya tahu jika aku enggan menceritakan bahwa dirinya adalah tetangga baruku. Arata dengan cepat menilai situasiku dan memotong ucapanku dengan mengajukan pertanyaan kepada Warda. Arata sepertinya tahu jika Warda akan mengalihkan perhatiannya dariku jika Arata membuka mulutnya dan bertanya kepada dirinya.
“Ba-baik, Tuan Arata. Baik sekali.” Warda langsung mengabaikanku begitu Arata bertanya padanya dan membuatku seolah-olah tidak ada di sana karena matanya yang sibuk memandang ke arah Arata.
__ADS_1