MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KELUARGA WIYARTA DAN DRAMA DI DALAMNYA PART 6


__ADS_3

            “Aku yang baru saja melahirkan dengan persen kematian lebih tinggi dari pada persen kehidupan ditambah dengan merawat Arata dengan berbagai perawatan yang cukup rumit untuk membuatnya tetap hidup, masih harus menerima ocehan, keluhan dan ketidakpuasan  dari mertuaku. Mertuaku menyalahkanku untuk segala hal buruk yang terjadi pada Arata dan kejadian itu tidak hanya berlangsung setahun atau dua tahun saja. Bahkan sepuluh tahun berlalu pun, Ayah mertuaku masih terus mengungkitnya. Hal itu semakin memburuk ketika Arata menolak untuk belajar dan tidak tertarik dengan bidang kedokteran. Jadi ...” Ibu Arata menyesap kopi yang dibuatnya dan membasahi dinding kerongkongannya yang kering karena bercerita cukup panjang padaku. “secara tidak sengaja, aku melampiaskan kekesalanku dan amarahku padaku Arata. Setiap kali aku kesal pada Arata yang tidak menurut padaku dan menolak untuk belajar, aku selalu mengatakan kalimat ini kepadanya: Kau adalah kegagalan dalam hidupku, Arata!”


            Masalah seperti ini sering terjadi dalam dunia nyata. Menantu perempuan diinjak-injak harga dirinya karena bersalah dari keluarga dengan status dan kedudukan yang lebih rendah. Menantu perempuan dituntut untuk selalu tampil dengan sempurna. Menantu perempuan dituntut untuk memberikan anak laki-laki agar bisa melanjutkan silsilah keluarga. Menantu perempuan dituntut untuk membesarkan anak dengan baik. Jika anak tumbuh menjadi anak dengan karakter buruk, maka itu adalah salah dari sang ibu. Keluarga dari pihak laki-laki akan menyalahkan menantunya karena membawa gen yang buruk pada anaknya. Sebaliknya ... jika anak itu tumbuh dengan karakter yang baik dan bahkan memiliki kehidupan yang sukses di masa depan, maka sang ayah yang akan dibanggakan.


            Hal seperti ini bukan hanya satu dua kali terjadi. Melainkan berulang kali telah terjadi. Setiap kali anak membuat kesalahan, maka ibunya yang akan disalahkan. Tapi setiap kali anak membuat bangga, maka ayahnya yang akan menerima kebanggaan dan pujian. Bukankah ini ironis, mengingat ibulah yang selalu bersama dengan sang anak sejak di dalam kandungan hingga tumbuh dewasa??


            “Ibu ... adalah ibu yang buruk bukan?” Ibu Arata berbicara lagi padaku setelah aku tidak merespon cerita panjangnya karena terlalu sibuk dengan pikiranku.


            “Ah ... tidak, Bu. Meski aku belum menikah dan belum punya anak, aku tahu sedikit apa yang Ibu rasakan.  Aku punya teman yang terkadang mengeluhkan hal yang sama seperti cerita ibu.” Teman yang aku maksud di sini adalah Warda. Aku ingat beberapa kali dalam kunjungannya, Warda selalu merasa kesal setiap kali ibu mertuanya datang mengunjunginya. Ibu mertua Warda mengeluhkan ini dan itu termasuk Warda yang tidak segera mengandung dan memberikannya cucu. Keluhan itu tidak juga berhenti meski akhirnya Warda telah mengandung.


            “Benarkah?? Akan sangat senang sekali jika Ibu bisa mengenal teman Asha juga.”


            “Saya rasa ... teman saya akan sangat senang bisa mengenal Ibu,” balasku.


            Setelah menyelesaikan ceritanya padaku, Ibu Arata berpamitan padaku karena janji yang dimilikinya dengan Ayah Arata.


            “Lain kali ... bisakah kita makan siang bersama, Asha? Tidak perlu makan di luar jika kau merasa tidak nyaman. Kita makan di rumahku saja, bagaimana?” Sebelum  pergi, Ibu Arata memberi ajakan kecilnya padaku.


            “Jika Ibu tidak keberatan, maka saya juga tidak akan keberatan, Bu.”

__ADS_1


            Ibu Arata memeluk tubuhku dengan erat. Aroma harum seorang ibu membuatku merasakan sedikit perasaan rindu untuk ibu kandungku yang sudah lama tidak aku temui.


            “Punya anak perempuan adalah satu dari harapanku yang belum terkabul hingga saat ini, Asha. Aku harap kau bisa segera menikah dengan Arata, dengan begitu ... aku bisa dengan bebas mengajakmu pergi bersama denganku.”


            Setelah mengatakan hal itu, Ibu Arata pergi dan giliran Kendra yang muncul di depanku.


            “Bagaimana percakapannya, Asha?  Melihat wajah Ibuku yang pergi dengan senyuman, aku rasa Ibuku merasa sedikit lega karena bisa menceritakan masalahnya kepada seseorang.” Kendra melihatku dengan senyuman di bibirnya.


            “Sebelum itu, bagaimana Kakak tahu jika aku ingin bertanya mengenai hubungan Arata dan ibunya hingga Ibu Arata datang kemari?” Tadi aku tahu jika Kendra menghubungi Maha. Kukira dia meminta Maha datang kemari untuk menemaniku. Tapi aku benar-benar terkejut ketika yang muncul di depan pintu bukan Maha, melainkan Ibu Arata.


            “Dari tatapanmu saat kau pergi meninggalkan resto pertemuan terakhir kali. Aku merasa akan lebih baik jika kamu mendengar masalah ini dari orang yang bersangkutan.”


            Aku tersenyum melihat jelinya mata Kendra menangkap ekspresi seseorang.  “Dokter memang beda. Tidak heran kebanyakan orang yang mengambil profesi dokter adalah orang yang cerdas.”


            Huft, aku menghela nafasku panjang dan kemudian menganggukkan kepalaku. “Sedikit rumit. Kesalahpahaman ini sudah terlalu terjadi dan dibiarkan begitu saja. Kenangan buruk itu sudah terekam dan tertanam cukup dalam pada Arata, jadi jika ingin meluruskannya rasanya ... mungkin akan sedikit sulit. Jika harus menyalahkan maka aku hanya bisa menyalahkan kebiasaan buruk tetua yang selalu menuntut banyak hal dari menantunya. Membuat Arata mengerti keadaan Ibu, sepertinya akan cukup sulit.”


            Kendra duduk di hadapanku dengan kedua tangannya yang melebar ke arah sandaran kursinya. Posisinya itu jelas-jelas memperlihatkan jika dirinya adalah seseorang dengan tipe yang mendominasi di mana pun dirinya berada dan karakter itu sepertinya cocok untuk menjadi bahan dari karakter novelku berikutnya. Aku belum pernah menulis kisah cinta dokter, mungkin akan sangat menarik jika aku mencobanya.


            “Itu benar, memang sangat sulit. Aku dan Maha yang berusaha menjelaskan keadaan Ibu, tidak pernah berhasil.”

__ADS_1


            Sudah aku duga. Mengingat bagaimana keras kepalanya Arata selama ini yang selalu mengejarku, aku sudah bisa menduga bagaimana watak Arata. Dalam kasus ini pun Arata yang merasa tersakiti, menanamkan ucapan Ibunya dalam memorinya selama bertahun-tahun.


            “Menyelesaikan masalah ini sebenarnya mudah. Keduanya hanya perlu bicara satu sama lain dari hati ke hati dan melepas ego mereka masing-masing. Hanya saja ... “


             “Hanya saja Ibu dan Arata sama-sama keras kepala dan mempertahankan ego masing-masing.” Kendra melanjutkan ucapanku sembari menganggukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian .... Kendra memberikan tepuk tangan kecilnya padaku. Prok ... prok ... dan membuatku menatapnya dengan tatapan bingung. “Kenapa Kakak bertepuk tangan?”


“Tak kusangka jika seorang penulis ternyata orang yang jeli dan juga cerdas. Sepertinya ... selama ini aku sedikit meremehkan profesi ini.”


“Aku akan terima ucapan itu sebagai bentuk pujian dari Kakak.” Aku menundukkan kepalaku sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada Kendra. Setelah itu  ... aku mengucapkan kalimat perpisahanku untuk segera angkat kaki dari ruang kerja kakak pertama Arata.


            “Satu lagi ... bisakah aku bertanya lagi, Asha?” Kendra menghentikan niatku untuk kedua kalinya.


            “Silakan, Kak.”


            “Terlepas dari keadaan dan situasi yang kau hadapi sebelum ini, bisa kau katakan padaku alasanmu menjadi penulis, Asha?”


            Aku mengangkat tanganku dan menatapnya dengan senyuman kecilku. Kali ini jawaban dari pertanyaan ini, akan kugunakan untuk membalas sedikit intimidasi Kendra yang tadi diarahkannya padaku.  “Kuasa Tuhan yang tidak aku miliki.”

__ADS_1


            “Maksudmu?” Aku melihat sedikit raut wajah Kendra yang sedikit terkejut mendengar jawaban yang aku berikan.


“Karena hidup manusia terikat dengan waktu dan takdir, banyak hal berjalan di luar rencana yang kita buat. Kita tidak tahu kapan kematian akan datang menjemput, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi besok, nanti atau bahkan satu jam dari sekarang. Terkadang ... kita mengambil keputusan yang salah dalam hidup ini dan akhirnya menyesali segalanya. Hal-hal yang sudah terjadi juga tidak bisa kita ubah. Dengan banyak alasan itu, aku memilih jadi penulis di mana dalam buku yang aku tulis, aku menentukan segala hal yang akan terjadi di dalamnya. Di dalam karyaku, aku bisa memiliki kuasa Tuhan untuk mengatur jalan cerita di dalamnya. Apa itu menjawab pertanyaan Kakak?”


__ADS_2