MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KEGELAPAN MILIK WALLFLOWER PART 3


__ADS_3

            “Bagaimana kabarmu, Asha?” Lusi bertanya padaku dengan senyuman di wajahnya seolah perundungan yang menimpaku di masa lalu hanyalah angin lalu baginya.


            “Ka-kabarku baik. Maafkan aku, Lusi. Aku harus segera pergi.” Rasanya ingin sekali aku pergi dari tempat itu juga dan segera kembali ke apartemenku. Aku ingin sekali mengurung diriku lagi dan tidak pernah keluar lagi.


            “Mau ke mana?” Lusi menangkap tanganku dan menghentikan langkahku yang hendak pergi kembali ke lokasi syuting. “Kita sudah lama tidak bertemu, sayang sekali jika kita tidak mengobrol, bukan?”


            “Ta-tapi. . . aku benar-benar harus segera kembali bekerja, Lusi.”


            “Bekerja??” Lusi bertanya padaku dengan tatapan menyelidik dan senyuman khasnya yang begitu menyebalkan. Senyuman itu seolah berkata padaku, aku telah menangkapmu dan kau tidak bisa lari dariku. “Apa pekerjaanmu sekarang, Asha?”


            Lusi terus menarik tanganku dengan kuat dan akhirnya memaksaku untuk duduk di sampingnya. Tangannya yang menggenggamku dengan kuat sepertinya benar-benar berusaha untuk menahanku. Dari sekian banyak waktu. .  kenapa aku harus bertemu dengannya di waktu ini dan di sini?


            “A-aku seorang penulis. Kebetulan saat ini, aku jadi penulis skenario untuk film.”


            “Ahhh. . .” Lusi melepaskan tanganku dan tersenyum licik ke arahku. “Kau memang pandai menulis sejak dulu. Itu memang keahlianmu, Asha. Lalu bagaimana dengan keahlianmu yang lain?”


            “Ke-keahlian yang lain? Apa yang kau maksud Lusi?” Tanganku semakin bergetar hebat karena kenangan buruk yang terus berputar di dalam kepalaku dan kakiku merasa ingin sekali berlari dengan kencang untuk segera pergi dari tempat ini sekarang juga.


            “Kudengar kau masih suka merusak hubungan orang lain dengan merebut pria milik orang lain. . ..”


            Deg. . . jantungku berdetak kencang mendengar ucapan Lusi. Aku memang sudah menduga Lusi akan mengatakan hal itu tapi tetap saja ketika mendengarnya, aku tetap merasa terkejut.


            “A-apa maksudnya dengan merebut pria lain, Lusi? Aku tidak pernah merebut pria milik wanita lain seperti yang kau katakan??”


            Lusi tersenyum licik ke arahku dengan mata yang menatap tajam ke arahku. “Sepertinya kau masih berlagak sok baik seperti dulu, Asha.”


            Kreettt. . . pintu cafe terbuka dan membuat ketegangan di antara aku dan Lusi sempat menurun. Tapi melihat sosok yang masuk ke dalam cafe itu, firasatku mengatakan jika hal yang lebih buruk akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


            “Kau sudah datang, Bora??” Lusi dengan tiba-tiba menyapa Bora yang baru saja masuk ke dalam cafe di mana aku dan Lusi berada.


            “Ya, Lusi. Lama tidak bertemu. Kau sudah lama menungguku??”


            “Tidak. Aku juga baru saja datang.”


            Aku berdiri dari dudukku dan hendak berjalan keluar dari cafe. “Aku harus pergi, Lusi. Kalian silakan bicara.”


            “Mau ke mana, Asha?” Lusi sekali lagi menghentikan langkahku dengan menangkap tanganku dan memaksaku untuk duduk di dekatnya. “Aku bahkan belum mengenalkanmu pada teman kuliahku-Bora.”


            “Ah. . . ini teman yang kau pernah ceritakan dulu padaku, Lusi??” ucap Bora dengan melihat ke arahku dan berusaha untuk mengintimidasiku.


            “Benar, dia adalah Asha. Bintang di sekolah lamaku yang telah merebut Garry dariku. Jika kau memiliki pria yang tampan dan keren, sebaiknya jaga baik-baik priamu itu. Karena keahlian lagi dari temanku Asha ini adalah merebut pria lain dan berlagak bukan dia yang menggodanya.”


            “Jaga ucapanmu,  Lusi! Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu katakan!” Aku menarik tanganku dan akhirnya bisa melepaskan genggaman kuat tangan Lusi di tanganku. Setelah berhasil menarik tanganku, kini getaran di tanganku semakin hebat dan kedua kakiku yang tadi merasa ingin berlari dengan kencang tiba-tiba mulai kehilangan semua tenaganya. Bayangan di mana aku akan jatuh seperti sebelumnya muncul di hadapanku. Tapi. . . karena saat ini dua orang di depanku ini sedang berusaha menjatuhkanku, aku tidak bisa jatuh di depan mereka dan membuat mereka menang karena telah menindasku.


            Jangan jatuh sekarang!!! Tubuhku dan kedua kakiku, untuk sekali ini jangan biarkan aku dipandang buruk oleh mereka! Untuk kali ini saja, bantu aku berdiri tegap di hadapan dua wanita ini, kumohon!!! Kata-kata itu, kuulang beberapa kali di dalam benakku sebagai peringatan pada tubuhku dan pikiranku. Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun lamanya, keberanian yang hilang dariku tiba-tiba kembali dan membuarku ingin membuktikan pada dua wanita mulut ular ini bahwa ucapan mereka adalah salah.


            Aku tidak tahu dari mana keberanian ini berasal. Tapi. . . untuk kali ini saja, aku tidak ingin terlihat sebagai wanita lemah di depan dua wanita mulut ular ini.


            “Siapa kau sebut dengan priamu, huh?” Seseorang dengan tiba-tiba masuk ke dalam cafe, dengan cepat berdiri di sampingku, menggenggam tanganku yang sudah gemetar hebat dan berbicara dengan nada dingin.


            Aku menatap sosok itu dan mengenali wajahnya. Dia adalah Arata.


            “A-Arata, ke-kenapa kau di sini?? Bu-bukankah kau sedang syuting sekarang??” Tiba-tiba nada suara Bora yang tadinya terdengar angkuh dan tidak terkalahkan, berubah menjadi gugup dan salah tingkah.


            “Aku tanya lagi siapa yang kau sebut dengan priamu, huh??” Arata mengulangi pertanyaannya lagi dan kali ini nadanya sedikit naik dari nada sebelumnya. “Aku peringatkan kau sekali ini saja, Bora. Karena kita bermain bersama sekarang, aku tidak ingin membuat masalah dan juga aku tidak ingin membuat film ini hancur karena film ini begitu berarti untuk Author. Tapi jika kau membuat masalah lagi dan mengaku-ngaku bahwa kau adalah kekasihku, aku tidak akan tinggal diam. Camkan itu!!”

__ADS_1


            Bora menutup mulutnya dan kehilangan semua kata-katanya  ketika melihat Arata marah besar padanya.


            “Aku tidak tahu kenapa Aktor sepertimu yang terkenal mau bersama dengan wanita ini, tapi wanita ini adalah wanita perebut pria milik orang lain dan dia selalu melakukannya sejak sekolah dulu. . .”         


            Tatapan dingin Arata yang tadi mengarah pada Bora kini beralih pada Lusi. “Kau, wanita yang mengaku-ngaku sebagai teman lama Author, jaga mulutmu!! Hanya karena pria yang kau sukai tidak menyukaimu dan menyukai wanita lain, bukan berarti wanita itu telah merebut priamu!”


            Arata menarik tanganku dan berjalan keluar dari cafe di mana di luar cafe, Kak Rama telah berdiri seolah sedang menunggu kami berdua datang.


            “Kau sudah selesai, Arata?”


            “Sudah, Kak. Tolong bereskan masalah ini, Kak.”


            “Aku mengerti. Kau bisa pergi dengan Nona Asha, Arata.”


            Arata terus menarik tanganku dan memaksaku untuk pergi dari cafe itu, sementara Kak Rama masuk ke dalam cafe dan entah apa yang dilakukannya di sana, aku tidak tahu. Arata terus menarik tanganku dan memaksaku terus berjalan hingga kami hampir tiba di lokasi syuting.


            “Bukankah aku sudah memasukkan nomor ponselku ke dalam ponsel Author? Kenapa Author tidak menghubungiku jika butuh bantuan??” Arata menghentikan langkah kakinya dan berbalik mengajukan pertanyaan kepadaku.


            Aku ingin menjawab pertanyaan Arata itu tapi kedua kakiku yang tadi sudah lemas dan kupaksa untuk terus berjalan karena Arata  menarik tanganku, kini telah benar-benar kehabisan semua tenaganya.  Sebelum menjawab pertanyaan Arata itu, aku hampir jatuh dalam posisi duduk seperti terakhir kalinya.


            “Author!!” Arata yang masih memegang tanganku langsung menarik tangan itu dan menghentikan tubuhku yang hampir terjatuh. “Ini sama seperti sebelumnya.”


            “Ka-ki-ku le-mas,” Aku berusaha untuk membuka mulutku untuk bicara kepada Arata dan menjelaskan situasi dan keadaanku.


Tapi. .  kali ini keadaannya berbeda. Mungkin karena aku sudah bertahan lebih lama dari sebelumnya, mungkin aku merasa ketakutan lebih lama dari sebelumnya, atau mungkin karena alasan lain yang tidak aku ketahui, kali ini seluruh tubuhku tiba-tiba kehilangan tenaganya. Pandanganku mulai buram dan pendengaranku mulai memburuk.


Aku tidak bisa mendengar teriakan Arata dengan telingaku dan semakin lama, aku juga tidak bisa melihat wajah Arata lagi.

__ADS_1


__ADS_2