
“Dari pengalaman sebelumnya, aku sudah belajar untuk membawa tisu di dalam tasku, Nona Bora.” Aku membalas dengan sesopan mungkin karena firasat buruk yang mendatangiku.
“Ah sayang sekali. . . kukira aku bisa dekat dengan Author menggunakan sapu tangan ini seperti yang dilakukan Arata. Aku penasaran dengan Author Wallflower yang selama dua tahun ini selalu menyembunyikan dirinya, kini tiba-tiba muncul. Aku juga sangat penasaran dengan Author, karena membuat seorang Arata yang sangat terkenal dan digilai oleh banyak wanita bisa begitu mengagumi Author. . . .”
Mendengar ucapannya itu, aku sebagai penulis yang sudah banyak melakukan riset, menebak kalimat yang akan keluar setelah ini dari mulut Bora itu. Bagaimana caranya Author bisa dekat dengan Arata?
“. . . Bagaimana caranya Author bisa dekat dengan Arata?” Bora melanjutkan ucapannya.
Dugaanku benar-benar tepat. Wanita cantik pemeran utama ini mungkin menyimpan perasaan untuk Arata atau mungkin hanya ingin dekat dengan Arata karena popularitas milik Arata.
“Aku tidak dekat dengan Arata seperti yang kau pikirkan Nona Bora. Arata bersikap baik padaku karena aku adalah penulis idolanya. Dia bersikap baik karena dia adalah satu dari beberapa penggemarku. Tidak lebih, Nona. Kami sering bicara karena kami beberapa kali bertemu sebelum syuting ini dan juga dia bicara padaku untuk bertanya tentang naskah skenario karena kebetulan aku juga ikut menulisnya.” Karena di masa lalu aku punya pengalaman buruk bertemu dengan tipikal wanita seperti ini, naluriku langsung merasakan bahaya yang sama seperti yang aku rasakan di masa lalu. Aku berusaha mengatakan ucapanku sesopan mungkin tanpa membuat Bora curiga tentang aku dan Arata.
“Begitu rupanya. . .” Bora menarik tangannya yang tadinya sedang menawariku sapu tangan miliknya. Senyuman muncul di bibirnya dan kurasa dia puas dengan jawaban yang aku berikan. “Siapa yang akan menyangka Arata yang dikenal dingin pada setiap wanita itu ternyata bisa begitu perhatian kepada Author? Tapi mengingat Arata mengidolakan Author sejak lama, sikap Arata itu memang masuk akal sekali. Sama seperti semua orang yang penasaran dengan Author, Arata pasti juga penasaran dengan Author.”
“Bora!!” Teriakan seseorang dari arah luar toilet itu menjadi penyelamatku. “Syutingnya. . .akan dimulai lagi!!”
“Aku mengerti,” teriak Bora membalas panggilan untuknya. Sebelum pergi, Bora melihat ke arahku dengan senyuman di wajahnya tapi kedua matanya menatapku dengan tatapan bahwa aku mungkin adalah musuh yang akan menghalanginya mendapatkan apa yang diinginkannya. “Lain kali kita bicara lagi, Author Wallflower. Aku masih sangat penasaran denganmu, Author. Aku penasaran sekali apa bagian darimu ini yang membuat Arata begitu mengidolakanmu bahkan sebelum mengenalmu.”
Setelah mengatakan kalimat yang terdengar lebih kepada sebuah peringatan bagiku, Bora berjalan keluar dari toilet dan meninggalkanku seorang diri. Menyadari Bora benar-benar telah pergi, kedua kakiku tiba-tiba saja menjadi lemas dan kehilangan semua tenaganya untuk menahan tubuhku.
Buk.
__ADS_1
Aku jatuh terduduk dengan kedua tanganku yang gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Ingatan buruk dari masa lalu yang berusaha aku kubur dalam-dalam di sudut gelap pikiranku, dalam waktu singkat memaksa keluar dan memutar paksa dengan cepat di dalam benakku. Perlakuan buruk yang aku terima semasa sekolah dan semasa bekerja muncul kembali dan membuat keringat dingin menetes di pelipisku.
Di saat seperti. . . aku merindukan Warda. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu masa lalu dan keadaan burukku seperti saat ini. Di saat seperti ini. . . aku berharap Warda ada di sini dan memelukku seperti yang dilakukannya ketika berusaha menghiburku atau menenangkanku.
Aku berusaha untuk berdiri dengan kedua kakiku, tapi kakiku masih lemas dan tidak mau bergerak seperti perintahku. Dengan tangan yang masih gemetar hebat. . . aku mencoba mencari ponselku dan mencari seseorang yang mungkin bisa datang menjemputku. Hanya satu orang yang muncul di dalam benakku ketika aku melihat daftar kontak di dalam ponselku: Sena.
Aku berusaha menekan tombol panggil pada layar ponselku, tapi tanganku yang terus bergetar tidak mau menekan tombol itu hingga aku merasa membuat panggilan yang harusnya mudah menjadi sangat-sangat sulit.
“Author!”
Suara tak asing itu terdengar tepat dari balik dinding toilet di mana aku berada.
“Author, kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali?? Sebentar lagi syutingku akan dimulai dan kau harus melihatnya.” Suara itu mengulangi panggilannya ketika aku yang sedang ditunggu dan dicarinya tidak lekas menjawab panggilannya.
“Author?? Tolong jawab aku! Jika kau tidak menjawab, aku akan memaksa masuk setelah ini.”
“A-ra-ta. . .” Akhirnya aku berhasil membalas panggilan itu. “Bi-sa-kah ka-u ma-suk dan mem-ban-tu-ku ber-di-ri?”
Aku mendengar suara langkah kaki dari arah luar dinding toilet. Langkah itu terdengar semakin kencang karena pemiliknya sedang berlari menuju ke arahku. Begitu melihatku dalam keadaan duduk di depan wastafel toilet, pemilik langkah kaki itu langsung berjongkok di depan dengan wajah khawatir dan cemas. Wajahnya perlahan berubah menjadi takut ketika melihat kedua tanganku yang gemetar hebat.
“Apa yang terjadi padamu, Asha??”
__ADS_1
Di saat seperti ini. . . Arata yang biasanya selalu memanggilku dengan panggilan Author kini ingat namaku dan memanggil namaku.
“Ban-tu a-ku ber-di-ri, Ara-ta. Ka-ki-ku le-mas dan ta-ngan-ku te-rus ge-me-tar.” Aku berbicara kepada Arata dengan susah payah.
Bukannya membantuku berdiri seperti yang aku minta, Arata justru membawaku dengan cara menggendongku. Tangannya menyentuh pinggangku dan tangannya yang lain bergerak ke arah tanganku dan meletakkannya di atas bahunya untuk berpegangan padanya. Ketika aku sudah kembali membaik nanti, aku harus bilang pada Arata untuk memeriksa telinganya karena sepertinya. . . . pendengarannya itu sedikit terganggu.
Hup. Arata berhasil membawa tubuhku.
“Pegangan dengan erat, Asha!” ucap Arata sembari mengambil tas dan memberikannya kepadaku.
“Arata!!” Kali ini, aku mendengar suara Kak Rama yang sepertinya menyusul Arata karena Arata tak kunjung kembali. Kak Rama langsung memasang wajah terkejut ketika melihat Arata membawaku dengan cara menggendongku. “Apa yang terjadi?”
“Asha tiba-tiba lemas dan tidak bisa berdiri, aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang, Kak Rama!!”
Kak Rama menghalangi jalan Arata. “Tidak bisa, Arata!! Kita masih syuting dan tidak sopan ketika kamu pergi begitu saja.”
“Tapi aku harus membawa Asha ke rumah sakit, Kak. Sesuatu terjadi padanya, bahkan cara bicaranya saja terputus-putus.” Arata bersikeras untuk tetap membawaku ke rumah sakit dan meninggalkan lokasi syuting.
“Kau tidak bisa pergi, Arata!!!” Kak Rama tetap ingin Arata tinggal di lokasi syuting dan menyelesaikan proses syuting hari ini. “Berikan Asha padaku dan aku sendiri yang akan mengantarnya ke rumah sakit. Kau harus tetap menyelesaikan syuting hari ini, Arata!!!”
Kali ini Kak Rama mencoba bernegosiasi dengan Arata dan bersikap bijak. Bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Kak Rama memang benar adanya. Arata masih harus menyelesaikan proses syutingnya dan bertanggung jawab untuk pekerjaannya.
__ADS_1
“Sial!!” Arata mengumpat dengan wajah kesal dan itu adalah pertama kalinya, aku melihat dirinya marah dan tidak berdaya.