MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
WAKTU DAN TAKDIR YANG MENGIKAT PART 2


__ADS_3

            Narator’s POV


            “Jadi bagaimana, Kak? Apa kau menemukan sesuatu yang aneh??” Setelah memeriksa banyak pasien dan berkeliling di rumah sakit, Maha mampir ke ruang kerja Kendra-kakaknya dan mendapati Kendra sedang berbaring di sofanya dengan mata tertutup.


            “Sepertinya ... pria itu adalah penguntit atau hanya reporter yang bertugas untuk mendapatkan berita mengenai Arata dan Asha yang sekarang jadi kekasih Arata. .” Masih dengan mata tertutup, Kendra menjawab pertanyaan dari Maha. “Mana yang benar, aku tidak bisa memastikannya.”


            “Pria?” Maha duduk di kursi di depan Kendra, dengan wajah tidak percaya. “Kakak yakin penguntit itu adalah pria?”


            Kendra membuka matanya, bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk menghadap Maha dengan wajah serius. Kendra memijat-mijat dahinya setelah kedua matanya lelah melihat rekaman CCTV untuk memastikan orang yang mengikuti Asha. “Ya, aku yakin. Dari tinggi tubuhnya, bentuk badannya, dan caranya berjalan, aku yakin jika penguntit adalah pria. Karena dia adalah pria, maka aku tidak bisa memastikan jika orang itu adalah penguntit atau reporter.  Hanya saja ...”


            “Hanya saja apa, Kak?” Maha bertanya dengan wajah antusias.


            Kendra mengingat bagaimana rekaman CCTV memperlihatkan penguntit yang dilihatnya itu marah setelah melihat hasil jepretan fotonya dan memukul dinding rumah sakit dengan cukup keras sebelum pergi.  Kendra menatap Maha dan kemudian menunjukkan rekaman yang membuatnya merasa terganggu kepada Maha.


            “Lihat ini!” Kendra menyodorkan laptop miliknya pada Maha dan membuat Maha melihat apa yang membuat Kendra merasa terganggu.


            “Dia pasti bukan reporter, Kak!1” Maha langsung memberikan jawabannya ketika selesai melihat rekaman yang membuat Kendra terganggu. “Firasatku mengatakan jika sosok ini adalah penguntit. Tapi kenapa dia menguntit Asha?? Aku akan mengerti jika sosok ini adalah wanita, dia pasti menguntit Asha karena hubungannya dengan Arata.  Tapi ... ini adalah pria.”  


            Kendra menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari melihat ke langit-langit. “Itu juga yang membuatku merasa bingung.  Jika memang benar pria ini adalah penggemar Arata, kenapa dia menguntit Asha? Aku memikirkan banyak opsi, tapi melihat caranya memukul dinding, opsi lain yang aku pikirkan rasanya tidak sesuai. Satu-satunya yang sesuai adalah pria ini menguntit Asha. Hanya saja ... aku tidak dapat menemukan alasan yang tepat mengingat Asha selama ini mengurung dirinya di apartemennya.”


*

__ADS_1


 


            Arata melepaskan pelukannya dengan senyum kecil pertanda kepuasan yang dirinya. Siapa yang akan menyangka kecupan kecil itu benar-benar berhasil membuat Arata berhenti merajuk. Tidak heran banyak adegan film dan novel menggunakan cara ini di dalamnya.


            “Jadi Author ... tadi kau pergi ke mana? Kenapa tidak memberi tahuku dan membuatku merasa kau pergi meninggalkanku?”


            Ah, itu sebabnya. Itu sebabnya di berjongkok di depan apartemenku dan tidak menunggu di dalam. Arata berpikir aku meninggalkan dirinya. Setelah mengerti apa yang Arata pikirkan, aku mengangkat tanganku dan menjentikkan jariku di keningnya. “Kau ini!! Kenapa pikiranmu sempit sekali?? Meski akhirnya aku memilih untuk tidak menyukaimu, aku tidak akan pergi tanpa pamitan. Bagaimana pun kita awalnya adalah teman, tetangga dan memiliki hubungan ini antara penggemar dan idolanya.”


            Arata memegang keningnya yang menerima jentikan jariku dan mengusapnya beberapa kali. “Apa Author memilih untuk tidak menyukaiku setelah memberiku satu kecupan seperti tadi? Bukankah itu tindakan tidak bertanggung jawab, Author??”


            Aku mengerutkan alisku mendengar ucapan Arata yang sedikit menyebalkan itu. Aku mengulang ucapan Arata dan menekan kata tidak bertanggung jawab yang diucapkannya. “Tindakan tidak bertanggung jawab??”


            Glup. Aku menelan ludahku. Niatku ... aku hanya memberi contoh dengan mengatakan  memilih untuk tidak menyukainya tapi Arata sepertinya menganggap serius ucapanku. “A-aku hanya membuat pemisalan, Arata. Kenapa kau tiba-tiba bicara serius sekali?”


            “Jadi Author tidak akan pergi dariku?? Tidak akan memilih untuk tidak menyukaiku??” Arata bertanya padaku dengan senyuman di wajahnya pertanda bahwa dirinya menang beradu mulut denganku dan mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya dariku.


            Gawat!! Sepertinya aku masuk ke dalam jebakan ucapannya!! Aku terlambat menyadari jebakan itu dan sudah terlanjur jatuh ke dalam jebakan yang Arata buat. Sial!!!


            “Author?? Aku belum mendengar jawaban darimu.” Arata bertanya padaku lagi dan kali ini wajahnya mengatakan menuntut jawaban dariku sekarang juga.


            Huft. Aku mengembuskan nafasku sembari menatap wajah Arata. Tidak lama kemudian aku menganggukkan jawabanku tanpa mengatakan apa-apa. Dan Arata ... langsung tersenyum lebar melihat anggukan kepalaku itu.

__ADS_1


            “Baiklah ... aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Wajah Author sudah seperti buah tomat yang merah dan aku tidak sanggup melihat rona itu semakin merah lagi.” Arata menutup bagian wajahnya sepertinya berusaha menyembunyikan senyuman pertanda kemenangannya hari ini. “Lalu  kembali ke pertanyaanku yang sebelumnya, tadi ... Author pergi ke mana?”


            Tadinya ... aku ingin mengatakan pada Arata bahwa aku datang ke rumah sakit milik keluarganya, bertemu dengan Kendra dan ibunya. Tapi ... aku merasa jika saat ini bukan saat yang tepat bagiku untuk membuat Arata mendengarkan apa yang aku dengar dari Ibu Arata. Jadi ... aku hanya mengatakan setengah kebenaran dan menyembunyikan setengahnya yang lain di dalam benakku saja.


            “Setelah melihat keluargamu dua hari yang lalu, tiba-tiba aku merindukan keluargaku. Jadi hari ini ... aku pergi mengunjungi rumah lamaku. Karena bertahun-tahun lamanya tidak kembali dan banyak tempat yang berubah, aku kesulitan untuk menemukan rumah di mana aku sempat tinggal untuk waktu yang lama.”


            Arata mendengarkan ceritaku dengan cukup saksama. Lalu ketika aku menghentikan ucapanku, dia bertanya padaku. “Apakah Author menemui mereka akhirnya?”


            Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak.”


            “Kenapa?”


            “Karena mereka bahagia tanpa aku, Arata. Jadi aku tidak ingin kebahagiaan mereka hancur karena kehadiranku.” Kalimat yang aku ucapkan itu ... aku merasa bahwa ini adalah kesempatan kecilku untuk membuat hubungan Arata dan ibunya membaik. “Jadi ... kau yang masih punya kesempatan untuk berbaikan dengan keluargamu, kau yang masih dipedulikan oleh orang tuamu, jangan sia-siakan waktu yang kamu miliki. Karena jika mereka sudah tidak memedulikanmu, mereka sudah mengabaikanmu, kau tidak akan punya kesempatan untuk kembali pada mereka lagi.”


            Arata langsung mengubah pandangannya ketika mendengar ucapanku. Tatapannya menjadi tajam seolah ingin marah kepadaku.  Tapi ... begitu aku menyadari tatapannya padaku, Arata langsung mengubah tatapannya padaku.


            “Aku sangat berterima kasih kepada Author karena mengkhawatirkanku dan keluargaku, tapi untuk masalah itu ... aku harap Author tidak ikut campur.”


             Aku menundukkan kepalaku merasa bersalah. Sudah kuduga, ini tidak akan mudah. Arata dan sifat keras kepalanya, benar-benar sesuatu yang sangat sulit. Dalam situasi seperti ini, aku hanya bisa meminta maaf pada Arata untuk kelancanganku terhadap hubungannya dengan keluarganya. “Ma-maafkan aku, Arata. A-aku hanya tidak ingin kau mengalami hal buruk yang aku alami.”


            Arata memeluk tubuhku dan kemudian menepuk bahuku dengan lembut. “Aku tahu Author hanya mengkhawatirkan aku dan aku sudah sangat berterima kasih pada Author untuk perhatian itu. Senang rasanya melihat Author memikirkan dan mengkhawatirkan aku.”

__ADS_1


__ADS_2