MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
TIDAK PERNAH BISA TENANG PART 3


__ADS_3

            “Cut!”


            Seperti biasa, Arata langsung duduk di kursi milik asisten sutradara ketika pemiliknya sedang sibuk mengganti set untuk adegan berikutnya.


            “Author masih marah padaku??” tanya Arata.


            Hari ini adalah tiga hari sejak Arata datang ke apartemenku dalam keadaan basah karena hujan yang deras. Hari itu. .. karena melihat Arata dalam keadaan basah, aku lupa jika Arata tinggal di apartemen di sebelahku dan justru datang ke apartemenku. Ketika aku bertanya padanya mengenai alasannya datang ke apartemenku, aku benar-benar kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya.


            “Bukankah Author yang membawaku masuk ke dalam apartemenmu??”


            Jelas saja. . . begitu mendengar jawaban itu, aku benar-benar marah kepada Arata. Rasanya seolah Arata selalu mampu mempermainkanku. Aku marah padanya tapi hal itu tidak membuat Arata beranjak keluar dari apartemenku.


Karena hujan yang membasahi tubuhnya dan aku tidak tahu berapa lama dia kehujanan, tubuhnya langsung demam tidak lama kemudian. Alhasil. . . meski aku marah sekali padanya, aku merawatnya semalaman. Aku membiarkannya tidur di atas tempat tidurku dan hampir terjaga semalaman karena menjaganya. Aku sempat panik dan menghubungi Warda untuk mengambil tindakan yang tepat karena demam Arata yang tidak kunjung turun. Aku sempat berpikir untuk menghubungi Kak Rama tapi aku melihat ke arah luar jendela di mana hujan masih terus turun tanpa berniat untuk berhenti, akhirnya aku mengurungkan niatku dan hanya menghubungi Warda untuk bertanya tindakan yang bisa aku ambil.


Pagi harinya. . . setelah memastikan demam Arata turun, aku meminta Arata menghubungi Kak Rama dan memintanya untuk membawa Arata ke rumah sakit. Tapi. . . Arata menolak mentah-mentah ucapanku itu karena tidak suka tinggal di rumah sakit. Arata yang masih dalam keadaan pucat itu bahkan berangkat ke lokasi syuting seperti biasanya dan memintaku untuk berada dalam satu mobil dengannya bersama dengan Kak Rama dan Nara.


            “Kenapa aku harus naik mobilmu??” tanyaku.


            “Aku masih khawatir dengan Author,” balas Arata. Melihat Arata mengatakan itu, aku membuka ponselku, membuka fitur kamera dan membuat Arata melihat bagaimana wajahnya sendiri dengan kamera depan ponselku.


            “Kau lihat, Arata!! Yang tidak baik-baik saja adalah kau dan bukan aku!”


            “Kalau Author tidak mau naik mobil bersamaku maka aku yang akan naik mobil bersamamu, Author!”


            Mendengar ancaman kecil yang keluar dari mulut Arata itu, aku melihat ke arah Kak Rama dan tadinya berniat untuk meminta bantuan Kak Rama. Tapi siapa yang akan menyangka jika Kak Rama itu memihak Arata dengan memintaku naik ke mobilnya juga.


            “Mohon ikut bersama dengan kami, Nona Asha. Ketika sedang tidak sehat, penyakit ngeyel Arata itu akan lebih buruk dari saat dirinya masih sehat. Aku akan kesulitan jika Arata tidak mau naik ke mobilnya dan justru naik ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.”

__ADS_1


            Karena Kak Rama sampai memohon kepadaku, aku yang tidak tega akhirnya menerima permintaan konyol Arata itu. Selama  tiga hari ini, setiap kali datang ke lokasi syuting. . . aku akan naik mobil Arata bersama dengan manajer Arata-Kak Rama dan Nara.  Meski aku menuruti permintaan Arata itu, sepanjang perjalanan aku hanya diam dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arata. Tentunya. . . aku masih marah pada Arata yang selalu bertindak melewati batas dengan memanfaatkan kelemahanku.


            “Author berhentilah marah padaku,” ucap Arata lagi dengan nada sedikit memohon padaku. “Aku benar-benar kesepian jika Author tidak bicara. Rasanya. . . aku seperti bicara dengan patung besi yang sangat dingin sekali.”


            Selama tiga hari aku diam, Arata berusaha keras untuk membujukku agar aku berhenti marah kepadanya. Selama tiga hari itu, Arata melakukan banyak hal agar aku tidak lagi berhenti marah kepadanya, dari memberiku minuman, membawakanku berbagai macam makanan dan merayuku dengan berbagai cara.


            Selama tiga hari itu pula, tatapan sengit yang aku terima dari Bora semakin jelas kurasakan. Setelah percakapan kami di toilet itu, sepertinya Bora tidak lagi menyembunyikan niat dan sikapnya jika dia ingin dekat dengan Arata. Dari kursiku yang selalu berada di belakang sutradara, berulang kali aku melihat Bora berusaha untuk mencari perhatian Arata ketika syuting hendak dimulai. Tapi. . . Arata mengabaikan Bora seperti debu yang tak ternilai dan selalu melihat ke arahku. Padahal Bora adalah aktris yang memiliki wajah cantik meski aku tahu hatinya itu tidak sebaik wajah yang dimilikinya.


            Sebagai penulis. . . aku selalu bertanya-tanya kenapa Tuhan membuat karakter seperti Bora itu ada di dunia. Terlihat sempurna dari luar, seolah memiliki segalanya dari luar tapi hati di dalamnya tidak sebaik wajah yang dimilikinya.


            “Author. . .” Arata merengek padaku lagi karena aku masih mengabaikannya.


            Drttt. . . ponsel yang berada di genggamanku bergetar. Aku langsung bangkit dari dudukku ketika aku melihat nama yang muncul di layar ponselku itu: Sena.


            “Author mau ke mana???’ Arata menarik tanganku berusaha untuk menghentikanku pergi menjauh dari pandangannya.


            “Janji dulu jika Author berhenti marah padaku dan aku akan melepaskan tanganmu??”


            Aku panik melihat Arata menggenggam tanganku dan menolak untuk melepaskannya. Aku berusaha keras untuk melepaskan tangan Arata dari tanganku sembari terus melihat ke sekeliling dengan wajah panik.  “Lepaskan tanganmu, Arata!! Ini di lokasi syuting!! Bagaimana jika ada yang melihatnya dan salah paham dengan hal ini??? Reputasimu bisa hancur karena gosip!!”


“Janji dulu jika Author berhenti marah padaku dan aku akan melepaskan tanganmu??” Arata mengulangi permintaannya lagi sembari mengeratkan genggamannya di tanganku.


Mataku melotot ke arah Arata ketika dia justru mengeratkan genggaman tangannya di tanganku. Sekali lagi. . . tidak ini bukan hanya sekali saja, Arata melakukan ini. Arata memaksaku melakukan apa yang diinginkannya dengan caranya yang kurasa sedikit kekanakan. Bagaimana bisa ada aktor terkenal seperti dirinya??? Betapa sialnya aku tahun ini, bertemu dengan aktor yang mengaku sebagai penggemarku, menjadi tetangganya dan harus bekerja sama dengannya?


            “Kau akan melepaskan tanganmu jika aku berhenti marah padamu?” Aku menatap Arata dengan wajah geram.


            “Ya, Author.”

__ADS_1


            “Aku tidak akan marah lagi.” Aku berusaha untuk melepaskan tangan Arata di tanganku sembari melihat ke sekeliling berusaha memastikan jika tidak ada orang lain yang melihat kami. Tapi sayangnya Bora yang selalu memperhatikan Arata, melihat kejadian ini.  “Lepaskan tanganmu sekarang, Arata! Bora melihatnya.”


            Arata melepaskan tanganku dengan senyuman di bibirnya sembari berkata, “Jangan marah lagi padaku, Author.”


            Huft, aku menghela napasku lagi berusaha untuk tidak meluapkan rasa kesalku pada benalu menyebalkan yang mengikatku semakin erat. Aku hanya bisa membalas Arata dengan tatapan tajam sebelum akhirnya aku berjalan pergi dan menerima panggilan masuk dari Sena.


            “Maaf lama, Sena. Ada apa menghubungiku?”


            “Naskah finalnya sudah selesai, Asha. Aku sudah mengirimnya lewat email, mohon untuk diperiksa nanti.”


            “Aku mengerti.”


            “Lalu itu. . .”


            Sena tiba-tiba menghentikan ucapannya dan aku mendengar nada suara Sena yang berubah menjadi sedikit ragu-ragu karena alasan yang tidak aku ketahui. “Lalu apa, Sena? Kenapa tidak mengatakannya?”


            “Aku tidak tahu apakah aku harus ikut campur dengan masalah ini? Tapi saya hanya ingin bertanya mengenai foto-foto yang baru saja beredar.”


            “Foto? Foto apa yang kamu maksud, Sena?”


            “Mohon buka link yang saya kirimkan, Asha.”


            Masih dengan panggilan yang terhubung, aku membuka link yang dikirim oleh Sena. Link itu adalah link instagram penggemar dari Arata. Dan ketika aku membuka link itu, muncul banyak foto antara aku dan Arata dengan caption kekasih rahasia Arata.


            “Kenapa bisa begini???” ucapku terkejut.


            Sudah kuduga. . . dengan Arata di sampingku, dengan Arata yang selalu menempeliku seperti benalu, hidupku yang tenang tidak akan pernah bisa tenang.

__ADS_1


__ADS_2