MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BABAK BARU KEHIDUPAN PART 2


__ADS_3

           


            Setelah tiga hari berlalu, Arata dan keluarganya akhirnya mengizinkan aku untuk keluar dari rumah sakit. Awalnya Ibu dan kedua kakak Arata memintaku untuk tetap tinggal di kediaman Wiyarta. Tapi aku menolak permintaan itu dengan sopan. Aku ingat di kulkasku masih banyak bahan makanan dan masakan terakhir ibuku yang dibawakan oleh Warda dan Sena waktu itu. Jadi ... aku berniat untuk menghabiskan makanan itu sebagai makanan terakhir dari ibuku. Arata yang tahu alasanku menolak pulang ke kediaman keluarganya, akhirnya membantuku dengan membujuk Ibu dan kedua kakaknya yang sepertinya benar-benar menyayangiku dan menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka.


            Begitu keluar dari rumah sakit, hal pertama yang aku lakukan adalah mengunjungi makam empat keluargaku yang dimakamkan di makam yang sama dan berjejer. Aku meminta Arata untuk tidak ikut bersamaku dan segera menyelesaikan pekerjaannya karena sempat tertunda karena aku dan berusaha untuk menyelamatkan aku.


            “Aku sudah menemukan orang yang membunuh kalian semua.”


            Aku mengucapkan kalimat itu di depan makam Ayah, Ibu dan dua adikku ketika tiba. Setelah itu ... aku menceritakan segalanya di depan makam mereka termasuk alasan kematian mereka yang tragis karena aku.


            “Maaf. Sebagai seorang anak dan kakak, aku hanya menyusahkan kalian. Aku  benar-benar tidak berguna! Di alam baka, kalian bisa mengutukku, kalian bisa menolak permintaan maafku. Bagaimana pun karena aku, nyawa kalian melayang. Tapi satu hal yang ingin aku tegaskan pada kalian. Meski selama ini aku menolak pulang dan mengunjungi kalian, aku tetap menganggap kalian sebagai keluargaku. ”


            Di akhir cerita, aku mengatakan kalimat itu sebagai ucapan terakhirku di depan makam keluargaku. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa meski selama ini aku tidak pulang, aku tidak pernah mengunjungi mereka, aku tetap menganggap mereka sebagai keluargaku dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.


            Seminggu kemudian ...


            Film Love Like Ectasy yang sempat membuat kehebohan karena hari penayangan perdananya berubah menjadi hari mengerikan karena pembunuhan yang dilakukan oleh Sena, ditayangkan ulang. Secara serentak film itu juga masuk ke dalam daftar film yang diputar di seluruh bioskop di negeri ini. Hal itu dilakukan untuk menghormati Aktris Bora yang kehilangan nyawanya dengan cara tragis oleh Sena.


            Nama Bora yang sempat tercemar karena perbuatan buruknya padaku, kini mati dengan dikenang baik oleh seluruh orang di negeri ini setelah kematian tragis dan mengerikan menjemputnya. Semua orang tiba-tiba merasa iba pada Bora dan mulai melupakan kesalahan yang pernah diperbuatnya selama ini.


            Yah begitulah manusia.


            Terkadang hal seperti ini terjadi dan hal itu bukan satu dua kali terjadi. Aku belajar hal itu dari Aktor Rangga yang berulang kali membuat masalah dan sensasi tapi selalu bisa membalikkan pandangan orang-orang dengan bakat aktingnya yang luar biasa. Dan kali ini ... aku melihat hal serupa terjadi setelah kematian mengenaskan dari Bora.


            Xxx1: Love Like Ectasy merajai box office dalam negeri. Aku salut pada tim produksi beserta para pemerannya.


            Xxx2 membalas komentar xxx1: Ya harus begitu. Film itu diangkat dari salah satu novel milik Author Wallflower-salah satu dari sepuluh Author terbaik di negeri ini. Lalu diperankan oleh Arata-satu dari sepuluh aktor terbaik dan populer di negeri ini.


            Xxx3 membalas komentar xxx1: Ya, kombinasi itu memang kombinasi terbaik yang pernah ada. Dan aku berharap ... Arata akan memerankan lagi jika novel dari Author Wallflower diangkat menjadi film lagi. Yang disayangkan adalah kejadian nahas di hari pemutaran perdana film itu.


            Xxx1 membalas komentar xxx3: Meski berusaha ditutupi, tapi berita mengenai kematian Aktris Bora  tidak bisa ditutupi. Meski perbuatannya buruk kepada banyak orang terutama kepada Author Wallflower, Aktris Bora tidak seharusnya mati dengan cara seperti itu. Pelaku yang membunuhnya benar-benar kejam.

__ADS_1


            Xxx2 membalas komentar xxx3: Aku setuju. Pelaku memang benar-benar kejam. Membunuh banyak orang dan bahkan membunuh semua keluarga Author Wallflower. Dan buruknya selama ini dia adalah orang yang pernah bekerja sama dengan Author Wallflower. Obsesi seperti itu benar-benar mengerikan.


            Yyy1: Turut berduka cita untuk Aktris Bora. Turut berduka cita untuk keluarga Author Wallflower.


            Yyy2 membalas komentar yyy1: Aku juga turut berduka cita.


            Yyy3 membalas komentar yyy1: Aku juga turut berduka cita.


            Xxx1 membalas komentar yyy1: Aku juga turut berduka cita.


            Xxx2 membalas komentar yyy1:Aku juga turut berduka cita.


            Zzz1 membalas komentar yyy1: Aku juga turut berduka cita.


            1.000.000 suka.


            Lihat 2.555.021 balasan.


           


            Sebulan berlalu. Arata yang sibuk dengan banyak jadwalnya terutama berkeliling ke negeri ini untuk jumpa fansnya setelah film Love Like Ectasy meledak di pasaran, akhirnya menemuiku dengan wajah kusut.


            “Authorku tercinta ... “


            Aku yang baru saja membuka pintu apartemenku mendengar suara panggilan Arata itu padaku dan hendak memelukku. Sayangnya ... aku langsung mendorongnya menjauh dariku, karena aku ingat di apartemenku ada Warda dan anaknya yang sedang bermain ke apartemenku.


            “Author jahat!!!” Arata yang kesal karena aku langsung mendorongnya menjauh langsung mengataiku dengan sebutan jahat ditambah dengan bibirnya yang cemberut.


            “Terserah apa katamu.”


            Tapi meski mengataiku seperti itu, Arata tetap masuk ke apartemenku dan kemudian menyapa Warda dan anaknya-Auriga.

__ADS_1


            “Selamat sore, Nona Warda. Halo, Auriga.”


            Karena Auriga sekarang sudah bisa dibawa ke mana-mana, beberapa kali Warda akan membawa Auriga ketika berkunjung ke apartemenku. Dan hal itu adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. Auriga adalah anak yang menggemaskan. Dia mudah dekat dengan orang lain dan tawa kecilnya benar-benar menggemaskan. Melihat bagaimana Auriga mudah dekat dengan orang lain dan mudah tertawa, membuatku melihat betapa miripnya Auriga dengan Warda. Dan berkat itu ... Auriga menjadi anak bagi banyak orang termasuk rekan kerja Warda di kantor penerbit dan aku tentunya.


            Melihat Auriga datang berkunjung, Arata langsung meminta Auriga pada Warda agar dia bisa menggendongnya dan bermain bersamanya.


            “Novel keenammu sukses, Asha. Mungkin karena insiden itu, semua orang kini tahu namamu dan siapa di balik nama Author Wallflower.” Warda melanjutkan pekerjaannya denganku selagi membiarkan Arata bermain dengan Auriga. “Apa kau sudah punya konsep untuk novel ketujuhmu, Asha?”


            “Ada beberapa. Tapi masih belum aku putuskan mana yang akan lebih dulu aku kerjakan.” Aku menjawab pertanyaan Warda sembari sesekali melihat ke arah Arata yang bermain dengan Auriga.


            “Apa kau masih butuh waktu untuk istirahat lebih lama lagi, Asha?” Sejak kejadian nahas yang menimpa keluargaku dan menimpaku karena Sena, pihak penerbit memberikanku waktu beberapa bulan untuk beristirahat. Tapi aku hanya menerima sebulan sebagai waktu istirahatku karena istirahat terlalu lama, hanya akan membuatku mengingat kejadian mengerikan itu lagi.


            Beberapa malam sejak kejadian nahas itu, aku sering bermimpi buruk di malam hari mengingat bagaimana aku kehabisan nafas di dalam air dan melihat wajah Sena yang tewas di sana.


            “Aku sudah merasa lebih baik, Warda. Percayalah padaku.” Aku berusaha meyakinkan Warda dengan tersenyum di depannya.


            “Author!” Arata memanggilku sembari bermain dengan Auriga.


            “Ya, ada apa?”


            “Menurutmu Auriga ini benar-benar lucu bukan???” Arata bertanya padaku dan pertanyaan itu membuatku sedikit bingung.


            “Ya, Auriga benar-benar lucu. Semua orang juga mengatakan hal yang sama. Kenapa kau bertanya, Arata?”


            “Kau tidak ingin punya anak menggemaskan seperti Auriga, Author??” Arata bertanya padaku dengan senyuman di wajahnya sementara Warda yang tadinya sedang meminum minumannya langsung menyemburkan minumannya mendengar pertanyaan yang diajukan Arata padaku.


            Sial .... benalu satu ini!!! Tidak bisakah dia membiarkanku sedikit bernafas lega setelah semua hal buruk yang terjadi dan sekarang ... dia menagih janji yang pernah aku dan dia buat di saat seperti ini!! Aku menatap Warda dengan wajah terkejut. “Kau baik-baik saja. Warda??”


            “Aku baik-baik saja, Asha.” Warda langsung menyeka mulutnya dan muntahan minumannya degan tisu.


            “Kau yakin?” tanyaku lagi.

__ADS_1


            “Ya, aku baik-baik saja, Asha.” Warda melihat ke arahku sebelum akhirnya melihat ke arah Arata yang masih bermain dengan Auriga. “Yang sedang tidak baik-baik saja adalah pria di sana. Dia sepertinya sudah tidak sabar menunggumu, Asha.”


__ADS_2