
Aku tidak akan berkomentar jika Arata-si aktor terkenal itu membelikanku makanan dengan menggunakan layanan drive thru. Aku juga tidak akan berkomentar karena sesuai dengan ucapannya dia mengantarku ke apartemenku. Tapi. . .
“Kenapa kau juga ikut masuk ke dalam apartemenku, Arata??”
Sekali lagi benalu menyebalkan ini memaksa masuk ke dalam kehidupan, mengusik ketenanganku dan bersikap seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa.
“Aku membeli tiga porsi, Author. Dua untukmu karena kau mengatakan kau belum makan sejak pagi dan satu untukku sebagai makan siangku.”
Aku tidak akan berkomentar jika dia meminta bayaran untuk makanan yang tadi dibelinya. Aku juga tidak berkomentar jika dia meminta upah karena telah mengemudikan mobilku dan mengantarku pulang. Tapi. . .
“Aku tahu kamu membeli dua porsi untukku dan satu untukmu. Tapi kenapa kamu harus memakannya di sini?? Di apartemenku?? Dan bukan di apartemenmu?? Apartemenmu ada di balik dinding ini, Arata. Apa kau lupa??”
“Tidak.”
Ketika aku menatap dan bertanya padanya dengan kesal, Arata justru menjawab pertanyaanku dengan senyuman di bibirnya seolah kemarahanku bukanlah masalah besar baginya, seolah kemarahanku ini adalah tontonan seperti lelucon yang ada di TV.
“Kamu tidak mau pergi??” tanyaku lagi, tentunya masih dengan semua kekesalanku padanya. Aku harap sering bertemu dengannya selama sebulan ke depan tidak membuatku menderita tekanan darah tinggi karena aku harus berkali-kali menahan amarah dan rasa kesalku.
“Tidak.” Sekali lagi Arata menjawab dengan senyuman di bibirnya.
“Baiklah, lakukan yang kamu inginkan. Makan di sini dan setelah itu pergilah. Setelah makan. . . aku harus tidur sebentar karena aku pekerjaanku yang masih menunggu untuk kukerjakan.”
“Baik.”
Kami berdua makan dengan tenang di meja di depan TV ruang tengahku dan bukan di meja makan. Satu dari beberapa kebiasaanku adalah makan di depan TV jika sedang santai. Aku suka lebih suka makan di depan TV karena membuatku merasa aku tidak sedang makan sendirian. Arata tidak berkomentar apapun tentang kebiasaan makan itu dan hanya mengikutiku makan di depan TV.
Seperti biasa, aku menyalakan TV sembari makan dan melihat beberapa saluran TV. Saluran yang aku pilih kebetulan sedang mengulang sinetron lama Arata yang membuat nama Arata terkenal.
__ADS_1
“Apa kau pernah melihat sinetronmu sendiri?” tanyaku tiba-tiba karena merasa penasaran. Beberapa artis pernah mengatakan jika mereka tidak punya waktu untuk melihat sinetron atau film yang mereka perankan dan aku penasaran apakah Arata termasuk di antara mereka atau tidak.
“Tidak semuanya. Ketika sinetron itu adalah sinetron kejar tayang, aku tidak akan sempat melihatnya dan hanya menilai aktingku dari rating sinteron itu sendiri. Tapi beda ladi dengan film laya lebar, Author. Karena ditayangkan dalam jangka waktu tertentu terkadang aku akan memilih bioskop di tengah malam untuk bisa melihat film di mana aku menjadi bagia dalam perannya.”
“Bioskop tengah malam?” tanyaku sambil memakan ayam gorengku dengan lahap.
“Ya.”
“Apa tidak ada yang mengenalimu di sana? Kau kan artis terkenal.” Kali ini aku mengambil daging ayam dan mencelupkannya ke sambal sebelum memasukkannya ke dalam mulutku.
Arata melakukan hal yang sama sebelum menjawab pertanyaanku. “Tidak ada. Pengunjung yang datang di jam midnight hanya beberapa orang saja, bahkan terkadang hanya aku seorang. Kebanyakan orang yang datang di jam itu adalah orang-orang yang ingin menonton dengan tenang dan tidak ingin dikenali.”
“Sepertinya. . . aku harus mencobanya lain kali. Mungkin menyenangkan bisa menonton di bioskop lagi setelah lama tidak ke sana.”
Arata menyelesaikan makannya dan menjilati satu persatu jarinya yang berlumuran bumbu ayam goreng. “Jika Author ingin pergi ke sana, Author harus mengajakku. Aku akan menunjukkan beberapa bioskop yang nyaman dan memberikan pelayanan baik meski di jam tengah malam.”
“Hahahahaha. . .” Arata tertawa sembari bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan ke wastafel di dapurku, mencuci tangannya dan kembali duduk di sampingku. “Benarkah itu yang mereka bicarakan tentang aku, Author?? Mereka penasaran dengan kisah cintaku.”
“Warda itu adalah penggemarmu. Dia juga ikut dalam klub penggemarmu dan tahu berita terbaru tentangmu, Arata. Bahkan ketika datang kemari, dia akan memonopoli TV ku ini dan memutar apapun yang berhubungan denganmu.” Menyebut nama Warda, tiba-tiba aku ingat aku harus membuat perhitungan dengan Warda. Aku harus membuat perhitungan dengannya karena tidak memberi tahuku tentang Arata yang menjadi pemeran utama pria dalam film yang diangkat dari novelku. “Ah. . . Nyaris saja aku lupa. Nanti aku harus membuat perhitungan dengan Warda.”
“Perhitungan? Perhitungan apa?”
“Perhitungan karena tidak memberi tahuku jika-“ Tadinya aku berbicara dengan Arata tanpa sekalipun melihat ke arahnya dan hanya sesekali melirik ke arahnya karena aku fokus melihat TV di depanku. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku ingin melihat ke arahnya dan menangkap basah Arata yang sedang memandangku dengan senyuman di bibirnya.
“Kenapa Author tidak melanjutkan ucapanmu?”
Aku membuang mukaku dan melihat kembali ke arah TV karena perasanku yang tiba-tiba merasa tidak enak menerima tatapan dari Arata bersama dengan senyuman di bibirnya itu. “Tidak jadi. Tiba-tiba aku merasa tidak ingin mengatakannya.”
__ADS_1
“Author tidak perlu mengatakannya jika tidak ingin. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa senang.”
Aku memakan ayam goreng dan suapan terakhir dari nasiku sembari melihat ke arah TV. Tanpa melihat ke arah Arata yang duduk di sampingku, aku bertanya padanya untuk menanggapi ucapannya. “Apa yang membuatmu senang?
Tangan Arata tiba-tiba menyentuh daguku dan membuatku tersentak. Spontan. . . aku langsung melihat ke arahnya dengan perasaan marah karena berulang kali Arata telah melewati batasnya.
“Kau!!!” Aku melihat tangan Arata yang memegang sebutir nasi yang berasal dari daguku dan kemudian memakannya. Mataku melotot melihat tindakannya itu karena tindakan itu bukanlah tindakan yang akan dilakukan oleh orang asing atau tetangga. “Kenapa memakannya??”
“Kenapa tidak boleh?? Sayang sekali jika nasi ini tertinggal dan akhirnya terbuang.” Arata menelan nasi itu dengan senyuman senang seolah sudah mendapatkan sesuatu yang berharga.
Aku membuang mukaku lagi dan melihat ke arah TV. “Pulang sana! Bukankah kubilang tadi kau harus pulang ketika kau sudah selesai makan? Jangan bilang kau melupakannya, Arata!”
“Aku akan pulang setelah Author selesai makan. Bukankah rasanya sepi saat makan seorang diri, Author?”
Aku bangkit dari duduku, berjalan menuju ke wastafel dapur, mencuci tanganku dan kembali ke tempat di mana Arata kini berada. “Kenapa kau yakin jika aku kesepian saat makan seorang diri.”
Arata melirik ke arah TV. “Ini buktinya.”
“Hanya karena TV saja, bukan berarti aku kesepian saat makan seorang diri. Banyak orang di luar sana yang juga makan sambil melihat TV seperti yang aku lakukan. Jangan seenaknya kamu menyimpulkan sesuatu, Arata.”
“Apa Author lupa? Tokoh utama dalam novel pertamamu yang berjudul Hidup Itu Mungkin Sulit adalah tokoh wanita yang kesepian. Dia punya kebiasaan makan sambil menonton TV sama sepertimu.”
“Lalu apa hubungannya itu denganku?”
“Dalam setiap novelmu, novel yang kau buat akan selalu ada satu tokoh di sana yang memiliki sikap introvert dan tertutup dari dunia luar. Baik itu tokoh utama atau tokoh pembantu dalam novelmu selalu ada tokoh dengan sifat itu. Mereka muncul dengan membawa satu atau beberapa kebiasaan yang kau miliki, Author. Setelah mengenalmu secara langsung, aku menemukan persamaan mereka dengan dirimu.”
Deg. Jantungku tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Ini adalah pertama kalinya orang selain Warda mengetahui rahasia dalam novel yang selama ini kutulis.
__ADS_1
Apa yang Arata katakan memang benar adanya. Dalam setiap novel yang aku tulis, aku selalu memasukkan satu tokoh dengan karakter sama baik itu tokoh pembantu, tokoh sampingan atau tokoh utama. Aku selalu memasukkan mereka dengan membawa beberapa kebiasaan yang aku lakukan dalam kehidupan sehari-hariku. Tidak akan aneh jika Warda mengetahuinya karena Warda adalah editorku selama ini. Tapi. . . aku tidak menyangka jika Arata juga akan menyadarinya.