MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SEBELUM PENYESALAN DATANG PART 4


__ADS_3

            Begitu Arata tiba, Ibu Arata langsung menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat sama seperti yang dilakukannya ketika menyambutku. Hanya saja ... senyuman dan pelukan ini lebih hangat dari yang diberikannya padaku.


            “Arata ... Ibu senang sekali, kamu akhirnya pulang kemari.”


            Arata menerima pelukan itu meski tidak membalasnya dan hanya berdiri diam membiarkan ibunya memeluknya. “Ya, Bu. Aku pulang.”


            Setelah puas memeluk Arata, Ibu Arata melepaskan pelukannya dan membiarkan Arata untuk pergi menemuiku.  Tapi sebelum membiarkan Arata pergi, Ibu Arata meminta sesuatu dari Arata.


            “Nanti makan malam bersama, apakah Arata keberatan? Tentu Asha juga akan bersama dengan kita.”


            Arata melihat ke arahku dengan senyuman di bibirnya pertanda dia mungkin sudah sangat-sangat merindukanku. Aku membalas senyuman itu dan setelah menerima balasan dariku, Arata melihat ke arah ibunya lagi dan menjawab, “Ya, Bu. Aku akan makan malam bersama jika Author juga makan malam bersama dengan kita.”


            “Tentu, Arata.”


            Dari tempatku berada di lantai dua, aku melihat pemandangan yang cukup mengharukan antara ibu dan anak dengan nasib yang cukup tragis. Ibu begitu bahagia melihat Arata pulang dan menerima ajakan makan malam yang mungkin selalu ditolaknya selama ini. Sementara Arata yang selama ini selalu berbicara dingin kepada ibunya karena kenangan buruk di masa lalu, kali ini ... membalas ucapan ibunya dengan nada lembut dan sedikit senyuman hangat di bibirnya.


            Aku memikirkan alasan Arata yang selama ini selalu menolak keluarganya dan kali ini secara tiba-tiba menerima keluarganya. Mungkin musibah yang menimpa keluargaku dan aku, tidak selamanya membawa kisah sedih. Kali ini ... musibah yang aku alami, mungkin bisa jadi pelajaran berharga bagi Arata.


            “Ini beberapa pakaian dan laptop milik Author.” Begitu naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar di mana aku tidur, Arata langsung memberikan satu koper milikku dan tas tangan yang berisi laptop lengkap dengan peralatan yang aku butuhkan.


            “Te-terima kasih, Arata. Kali ini ... aku merepotkan kamu lagi. Kamu bahkan membawaku tinggal di rumah, padahal aku bukan apa-apa bagimu.”            


            Mendengar ucapanku, Arata menatap tajam ke arahku dan langsung memeluk tubuhku. Tangannya mendekap tubuhku dengan erat selama beberapa saat. “Author itu sangat berarti bagiku. Semua orang di negeri ini tahu Author adalah kekasihku, kenapa Author menganggap dirimu tidak berarti apa-apa bagiku? Aku sangat sedih mendengarnya. Authorku tersayang.”


            “Maafkan aku, Arata.” Untuk pertama kalinya ... aku benar-benar merasakan perasaan sedih dari ucapan Arata. Untuk sejenak ... aku menyadari jika aku yang selama ini merasa diriku tidak berguna, diriku menyedihkan dan diriku tidak berarti apa-apa, bisa begitu berharga di mata orang lain hingga orang itu tidak ingin kehilanganku.


            “Jangan diulang lagi, Author!” Arata melepaskan pelukannya dan kali ini mundur dua langkah untuk melihat bagaimana ekspresi yang aku buat ketika dia memintaku untuk tidak mengulangi ucapan itu lagi.

__ADS_1


            “Aku tidak akan mengulanginya,  Arata. Aku janji.”


            “Bagus.” Arata tersenyum mendengar jawaban yang diinginkannya dariku. “Lain kali jika aku mendengar Author mengatakan itu lagi, aku akan memberi hukuman pada Author. Harap diingat itu, Author!”


            Arata memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya dengan tujuan untuk membuatku tahu jika aku tidak boleh mengulangi ucapan itu lagi di masa depan. Aku memberikan jawaban untuk peringatan itu dengan menganggukkan kepalaku beberapa kali sebagai tanda mengerti dariku.


            “Bagaimana keadaanmu, Author? Apa Author baik-baik saja??”


            “Aku baik-baik saja, Arata.”


            “Yakin?”


            Aku menatap Arata dengan tatapan dalam. Aku menatapnya dan menyadari jika ada sedikit kekhawatiran di sorot matanya yang sedang melihatku. Seharian ini ... Arata pasti terus memikirkanku di setiap pekerjaannya.


            “Aku memang sedih tadi, Arata. Aku sedih karena beberapa hari yang lalu aku datang berkunjung tapi tidak berani menemui mereka. Aku menyesali pilihanku itu.  Tapi ... meski aku sudah menangis sepuas apapun, kenyataan bahwa keluargaku telah tiada tidak akan berubah. Pada akhirnya ... aku harus menerima kenyataan dan itulah yang sedang aku lakukan sekarang: menerima kenyataan.”    


            Aku mengerutkan alisku mendengar ucapan itu. “A-apa kau sedang melamarku, Arata?”


            Arata langsung menarik tangannya menjauh dari wajahku dan justru menutup mulutnya setelah mendengar pertanyaanku. Kedua mata Arata membulat besar seolah mengatakan padaku jika saat  ini dia sama terkejutnya dengan aku.


“A-aku hanya ... “


            “Hanya apa??” tanyaku menuntut.


            “Anggap saja sedang latihan melamarmu, Author.”


            Malu dengan ucapannya sendiri, Arata langsung berlari keluar dari kamarku masih dengan menutup mulutnya. Aku mengikutinya berlari dan mendengar gumaman kesal Arata pada dirinya sendiri, yang membuatku ingin tertawa ketika mendengarnya.

__ADS_1


            “Mulutku ini ... dasar!!!”


            Mengintip Arata yang berlari pergi, aku menemukan jika kamar Arata berada tepat di samping kamarku sama seperti apartemen kami yang bersebelahan. Aku tersenyum melihat keadaan ini. kira-kira rencana siapa yang membuatku tinggal di samping kamar Arata? Mungkinkah ini ulah Ibu Arata yang ingin berterima kasih padaku karena berhasil membuat putranya pulang ke kediaman ini lagi setelah waktu lama?


            Lima belas menit kemudian, makan malam telah siap. Kami semua berkumpul di ruang makan yang cukup mewah di kediaman Wiyarta. Makan malam itu dihadiri oleh semua orang kecuali Maha-kakak kedua Arata karena kebetulan hari ini bertugas jaga malam di rumah sakit. Malam ini ... meski aku merasa sedih karena musibah yang dialami oleh keluargaku, tapi berkat keluarga Arata, aku merasa terbantu. Keluarga Wiyarta menyambutku dengan tangan terbuka. Mereka memberikan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak aku rasakan. Kami makan bersama dengan beberapa omelan dari Arata dan Kendra yang beberapa kali keluar karena pendapat mereka yang jarang searah.


            Makan malam bersama,  perdebatan kecil di meja makan, dan saling memberikan lauk pauk ke piring orang lain. Inilah yang dinamakan keluarga.


*


            Narator’s POV


            “Bisakah kita bicara, Arata?”


            Setelah memastikan Asha tertidur, Arata kembali ke kamarnya.  Namun seseorang muncul dan menunggu Arata di depan pintu kamarnya. Orang itu adalah Kendra-kakak pertama Arata.


            “Tentu, Kak.” Arata membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Kendra masuk ke dalam kamarnya.


            “Bagus kalau begitu.”


Arata langsung menutup pintu kamarnya ketika memastikan Kendra masuk ke dalam kamarnya. “Jadi ... apa yang ingin Kakak bicarakan denganku??”


Kendra langsung menyodorkan ponsel miliknya di mana rekaman rumah sakit yang diambil telah disalin ke dalam memori ponsel miliknya. “Lihatlah ini, Arata!”


Arata menerima ponsel Kendra dan melihat rekaman yang diperlihatkan oleh Kendra padanya. Arata langsung memasang ekspresi terkejut begitu melihat seseorang dengan pakaian serba hitam yang mengikuti Asha. “Ini??”


“Sepertinya ada seseorang yang sedang menguntit Asha, Arata!”

__ADS_1


 


__ADS_2