
Meski merasa ingin tetap pergi, Arata akhirnya mengalah dan menerima usulan Kak Rama. Akan tetapi, Arata sendiri yang membawaku dalam gendongannya masuk ke dalam mobilku.
Klik. Arata memasang sabuk pengaman di kursiku. “Setelah syuting ini berakhir, aku akan segera menyusulmu, Author. Tunggu aku.”
Aku menatap ke arah mata Arata. Menatap matanya saat ini, aku tahu bahwa saat ini Arata sedang merasa putus asa, kesal, khawatir dan cemas. Tatapan mata itu adalah tatapan mata yang biasa aku lihat dalam drama di mana tokoh utama pria merasa akan kehilangan tokoh utama wanita dari hidupnya. Dan yang jadi pertanyaanku adalah kenapa dia melihatku dengan tatapan mata itu? Kenapa dia melihatku dengan tatapan mata yang tidak seharusnya dilakukannya kepadaku?
“Kak Rama, aku titip Asha.”
“Aku mengerti, Arata. Nanti. . . begitu tiba di sana, aku akan menghubungimu.” Kak Rama duduk di kursi pengemudi mobilku dan mulai menyalakan mesin mobilku. “Baik-baik saat syuting dan jangan menyusahkan Nara. Ingat itu!! Lalu beritahu sutradara jika Nona Asha dalam keadaan tidak sehat dan harus pergi.”
“Aku mengerti.” Arata menjawab ucapan Kak Rama sembari menutup pintu mobil di sisiku.
Kak Rama mulai menginjak pedal gas dan mobil yang membawaku itu mulai berjalan pergi. Dari kaca spion, aku melihat Arata yang masih berdiri memandang ke arah mobil yang membawaku masih dengan tatapan yang sama.
*
Narator’s POV
“Apa yang terjadi?? Arata ke mana??” Bora yang sejak tadi telah bersiap-siap untuk syuting mulai merasa kesal karena terlalu lama menunggu Arata.
“Bora.” Manajer Bora: Ulfa, akhirnya kembali setelah mencari tahu apa yang terjadi hingga syuting sempat ditunda selama beberapa menit karena Arata tak kunjung kembali.
“Apa yang terjadi??” tanya Bora dengan nada ketusnya karena sudah merasa benar-benar kesal menunggu. Bora berharap proses syuting ini segera terlewati dan berganti ke hari di mana dirinya dan Arata akan memeragakan adegan ciuman.
“Penulis skenario, Nona Asha sepertinya ambruk di toilet dan Arata yang menemukannya. Tadinya. . . Arata bersikeras membatalkan syuting karena ingin mengantar sendiri Nona Asha ke rumah sakit.”
Bora menggigit bibirnya karena kesal. Penulis itu ambruk setelah ucapanku itu. Apakah itu kebetulan atau dia sengaja melakukannya untuk membalas ucapanku?? “Lalu. . . sekarang, apakah syutingnya dibatalkan??”
“Tidak, Bora. Arata kembali bersama dengan penata riasnya-Nara. Sementara manajernya, Rama yang pergi mengantarkan Nona Asha ke rumah sakit. Tadi kata para kru yang melihat kejadian itu, Arata bahkan menggendong Nona Asha sendiri hingga ke dalam mobilnya dan menolak untuk membiarkan Rama-manajernya yang menggendong Nona Asha. Arata benar-benar mengidolakan Nona Asha hingga mau menggendongnya sendiri,” jelas Ulfa dengan penuh semangat sembari membayangkan cerita itu menjadi adegan yang dilihatnya di dalam drama-drama Korea.
__ADS_1
Buk. Bora memukul pegangan di kursinya karena merasa kesal. Sial!! Penulis itu sepertinya bukan penulis polos seperti yang aku pikirkan. Dia juga mengincar Arata seperti yang aku lakukan. Dia pasti memanfaatkan kenyataan bahwa Arata menyukai buku-bukunya dan mengidolakan dirinya.
“Ada apa, Bora? Kenapa tiba-tiba kau kesal??”
“Aku kesal karena menunggu terlalu lama!!” Bora melampiaskan amarahnya kepada Ulfa-manajernya yang polos. Aku tidak bisa meremehkan penulis itu. Jika aku tidak segera bergerak dengan cepat, bisa-bisa penulis sialan itu akan mengambil Arata dan membuatnya menjadi kekasihnya.
“Ayo kita mulai syutingnya!!” Sutradara berteriak ketika melihat Arata sudah muncul di lokasi syuting.
Bora segera bersiap-siap. Bora melihat cermin miliknya dan memastikan penampilannya telah sempurna. Setelah benar-benar yakin dengan penampilannya sekarang, Bora bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke lokasi syuting di mana Arata sedang berdiri dan bersiap. Melihat ke arah Arata dan ketampanannya, Bora membayangkan harapan-harapan kecilnya yang selalu tersimpan dengan baik di dalam benaknya.
Bora membayangkan dirinya bisa menggandeng lengan Arata di muka umum dengan status kekasih Arata. Bora membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian dan pusat kecemburuan banyak gadis yang menginginkan Arata,
“Nona Bora benar-benar beruntung.”
“Kebaikan apa yang dilakukannya di masa lalu hingga bisa bersanding dengan Arata??”
“Aku iri dengan Nona Bora bisa menggandeng Arata yang sangat tampan itu.”
Bora tersenyum melihat bayangan di dalam benaknya sendiri. Setelah syuting ini berakhir, Arata akan benar-benar jatuh dalam pelukanku. Aku akan membuat semua orang iri kepadaku dengan membuat Arata benar-benar jatuh hati padaku seperti dalam cerita Love Like Ectasy. Aku akan membuat Arata kecanduan pada cintaku.
“Kau siap, Arata?” Sutradara berteriak kepada Arata sebelum memulai proses syuting.
“Aku siap, sutradara.”
“Bagaimana denganmu, Bora?” Setelah bertanya kepada Arata, sutradara bertanya kepada Bora.
“Aku juga siap, sutradara.”
Bora melihat ke arah Arata dan berharap mendapatkan senyuman Arata sebelum proses syuting dimulai. Namun. . . yang terjadi justru sebaliknya, Arata memandang dingin ke arah Bora seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Bora ingat dengan baik, Arata terkadang diam-diam tersenyum ketika bersama dengan Asha, Author Wallflower. Bahkan di dekat Author Wallflower, Arata yang dikenal dingin itu bisa bercanda bersamanya seolah dia bukan Arata yang dikenal dingin. Sementara bersama dengan Bora, Arata terus mengabaikan Bora, Arata terus menjaga jarak dari Bora. Bahkan senyuman Arata itu hanya terjadi ketika proses syuting itu dimulai. Begitu ‘Cut’ terdengar, Arata akan memandang dingin ke arah Bora dan hal itu mengusik Bora.
Kenapa Arata hanya tersenyum di sekitar penulis itu saja? Apa karena Arata mengaguminya? Bora menggelengkan kepalanya karena benaknya sendiri. Bora kembali mengingat bagaimana pengamatannya selama beberapa waktu ini yang tidak pernah lepas dari Arata dan Asha-Author Wallflower. Mungkinkah Arata. .
“Action!”
*
Ting. . . tong. . .
Aku membuka mataku karena mendengar bel apartemenku berbunyi. Aku melirik ke arah jam di ruang TV apartemenku dan melihat jarum jam menunjuk pukul 9 malam. Aku membalut tubuhku dengan selimut tebal milikku dan bangkit dari sofa di mana aku tertidur. Dengan kaki yang masih sedikit lemas, aku berjalan menuju ke pintu apartemenku dan membuka pintu itu.
“Kenapa tidak ke rumah sakit, Author???”
Begitu aku membuka pintu teriakan kencang itu kudengar dan aku melihat sosok Arata yang membawa banyak barang di kedua tangannya.
“Apa yang membawamu kemari? Di jam segini?”
“Author lupa dengan ucapanku tadi siang???” Arata berbalik bertanya padaku.
“Ucapan yang mana yang kamu maksud, Arata??” tanyaku. Kami berdua saling mengajukan pertanyaan tanpa ada satu pun yang mau menjawab pertanyaan lawannya.
“Ah sudahlah. . .” Arata mendorongku mundur dan memaksa untuk masuk ke dalam apartemenku. “Aku akan bermalam di sini untuk menjagamu, Author.”
“A-apa??” tanyaku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. “Bi-bisa kau ulangi, sepertinya telingaku salah dengar.”
“A-ku a-kan me-ngi-nap di si-ni ti-tik.”
Aku ingat tadi siang, aku merasa Arata perlu memeriksakan telinganya karena salah mendengar ucapanku. Tapi. . . sepertinya kali ini telingaku yang salah karena mendengar Arata mengatakan bahwa dia akan menginap di sini.
__ADS_1