MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BENALU YANG MENOLAK UNTUK PERGI PART 4


__ADS_3

             “Cut!”


            Teriakan sutradara dengan pengeras suara itu benar-benar membuatku ingin sekali pergi dari tempat ini. Jika bisa. . . aku ingin memilih kembali ke apartemenku, memutar lagi dengan penyuara telinga milikku dan membuat jari-jariku menari menuliskan gambaran yang muncul di dalam benakku ke dalam laptop  milikku.


            “Oke, kita ganti ke adegan selanjutnya! Siapkan set berikutnya!”


            Setelah tiga hari selalu datang ke lokasi syuting dan duduk di belakang kursi sutradara dan mendengarkan pengarahannya di lokasi syuting, aku mulai merasa sedikit jenuh. Tidak seperti film jadi yang aku lihat di TV atau melalui layanan streaming, proses syuting untuk mendapatkan gambar yang bagus, adegan dan ekspresi yang sesuai benar-benar sulit. Beberapa kali satu adegan harus diulangi hingga belasan dan puluhan kali. Dan ketika itu terjadi. . .  aku hanya bisa melihat dengan mata bosan atau lebih memilih untuk pergi ke tempat lain selama masih di lokasi syuting.


            Entah kenapa berada di lokasi syuting ini dan tidak banyak melakukan kegiatan, hanya membuatku merasa aku telah membuang-buang waktuku yang berharga. Aku harap penulis skenario utama itu segera membaik dan membuatku cepat kembali ke apartemenku yang nyaman.


            “Ini, Author.”


            Di tengah lamunanku, segelas milkshake pisang disodorkan ke arahku dan membuatku sadar dari lamunanku.


            “Ini??” Aku menoleh ke arah tangan yang menyodorkan milkshake itu dan mendapati Arata sudah duduk di kursi kosong di sampingku yang mana biasanya digunakan oleh asisten sutradara. “Kenapa kau duduk di sini??”


            “Tanganku lelah, Author. Cepat terima dan biarkan tanganku ini sedikit beristirahat!”


            Dengan ragu-ragu, aku menerima milkshake itu dan bertanya pada Arata. “Ini untukku??”


            Arata meminum milkshake pisang miliknya sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya. “Tentu saja itu untuk Author. Jika bukan untuk Author, untuk siapa lagi?? Di sini aku-lah penggemar Author, jadi sudah seharusnya aku memberikan idolaku layanan service sebagai penggemar.”


            “Jika kau hanya memberiku, orang lain mungkin akan salah paham, Arata.” Aku masih memegang milkshake itu dan ragu untuk meminumnya karena tiba-tiba saja aku merasakan tatapan tajam mengarah padaku dan tatapan itu berasal dari Bora-lawan main Arata dan pemeran utama wanita dalam film ini.


            Slurp. Arata masih meminum milkshakenya sebelum menjawab pertanyaanku dengan mata tertutup. “Mereka juga akan mendapatkannya jika mereka datang ke truk minuman yang ada di parkiran. Author tidak perlu khawatir dengan hal itu, jadi sekarang minumlah minuman itu dan biarkan dirimu yang sudah terlihat nyaris mati karena bosan merasa sedikit senang karena milkshake ini rasanya benar-benar enak.”


            “Benar mereka akan mendapatkannya juga??” tanyaku lagi memastikan.

__ADS_1


            Arata membuka matanya dengan tiba-tiba, menarik tubuhnya yang bersandar dan kemudian melihat ke arahku. Tangannya yang kosong kemudian memegang milkshake yang berada di dalam genggamanku. Arata mendorong gelas milkshake itu mendekat hingga ujung sedotannya menyentuh bibirku. “Benar, Author. Sekarang minum dan cicipi rasanya!”


            Slurp. Aku melakukan apa yang diminta Arata dan mencicipi rasa dari minuman milkshake rasa pisang itu.


            “Bagaimana rasanya?” Arata bertanya padaku sembari menyandarkan tubuhnya kembali ke tempat duduk milik asisten sutradara.


            “Enak. Ini benar-benar enak. Tidak terlalu manis dan menyegarkan.”


            “Sebagai penggemarmu, aku senang mendengarnya, Author.” Arata menjawab sembari meminum milkshake miliknya dan menutup matanya untuk beristirahat.


            Aku melakukan hal yang sama dengan Arata: menyandarkan diri di kursi milikku sembari menatap kru film yang sedang menyiapkan set untuk adegan berikutnya. “Kenapa kau duduk di sini dan bukan duduk di kursimu, Arata? Bukankah dengan duduk di sini, kau hanya akan menyulitkan Kak Rama?”


            Masih dengan menutup matanya, Arata menjawab pertanyaanku. “Author tidak perlu khawatir soal itu. Kak Rama itu manajer yang pengertian dan juga baik. Hal kecil seperti ini tidak akan membuat masalah baginya. Dan lagi. . . duduk bersama dengan idolaku, penulis tercinta adalah impian dari setiap penggemar. Apa Author tidak tahu itu?”


            Aku nyaris tersedak mendengar ucapan Arata yang menyebutku ‘penulis tercinta’ sama seperti yang dilakukan oleh Warda ketika sedang membicarakan Arata. “Uhuk. . . uhuk. . .”


            “Uhuk. . . kau ini!!!” Aku menyemburkan sedikit milkshake yang aku minum dan membuat daguku basah oleh milkshake. “Benalu menyebalkan!! Kenapa kau mengatakan itu dan membuatku terkejut??”


            “Aku mengatakan apa?? Penulis tercinta?” tanya Arata masih menyodorkan sapu tangan miliknya kepadaku. “Gunakan ini, Author. Sepertinya kau ini punya kebiasaan untuk menyemburkan minumanmu ketika sedang terkejut. Ini sudah kedua kalinya aku melihat Author begini.”


            Tadinya. . . aku tidak ingin menerima sapu tangan itu, tapi. . . aku terpaksa melakukannya karena milkshake itu menyembur keluar dari mulutku dan hampir mengotori pakaian yang aku kenakan. “Terima kasih tapi. . . yang terjadi ini karena ulahmu juga, Arata!!!”


            “Oh ayolah, Author!! Kau terkejut dan menyemburkan minumanmu karena panggilanku itu padahal di luar sana penggemarku juga melakukan hal yang sama. Mereka memanggilku dengan panggilan Arata tersayang dan banyak dari mereka menyebutku suami masa depan mereka.” Arata tersenyum seolah senang karena berhasil mengerjaiku. “Dan satu lagi. . . kenapa Author menyebutku dengan benalu menyebalkan??”


            “Uhuk. . .” Aku batuk lagi karena terkejut mendengar pertanyaan dari Arata itu. Sepertinya. . . secara tidak sengaja aku menyebut kata benalu kepada Arata secara tidak sadar karena rasa kesalku tadi. “I-itu karena. . .”


            “Karena apa, Author?”

__ADS_1


            “Ka-karena kau terus menempeliku dan kita terus bertemu. Jadi tanpa sadar, aku menyebutmu dengan benalu. Kata itu tiba-tiba muncul di benakku begitu saja.” Aku selesai membersihkan bekas milkshake di bibirku dan daguku. Aku melihat sapu tangan itu dan berpikir tidak sopan jika mengembalikan sapu tangan itu dalam keadaan kotor ketika aku meminjamnya dalam keadaan bersih. “Sapu tangan ini, aku kembalikan setelah aku cuci.”


            Arata menarik sapu tangan miliknya yang hendak kumasukkan ke dalam tasku dengan gerakan yang super cepat. “Tidak perlu. Sapu tangan ini, biar aku saja yang mencucinya nanti.”


            “Tapi kan. . .”


            “Sssttt. . . . jangan berdebat lagi denganku, Author dan biarkan aku beristirahat dengan tenang di sini. “ Arata langsung memasukkan sapu tangan kotor miliknya itu ke saku celananya, bersandar kembali dan memejamkan matanya sembari meminum milkshakenya yang sudah tinggal seperempat gelas.


            “Kalau begitu terima kasih untuk pinjaman sapu tangan itu, Arata.” Mataku kembali mengarah kepada kru yang sedang mengatur set dan membiarkan Arata untuk beristirahat dengan tenang.


            “Itu, soal benalu. . .” Arata tiba-tiba membuka mulutnya dan membuatku terkejut.


            “Kenapa? Kau tidak terima aku memanggilmu dengan sebutan benalu??” tanyaku tanpa melihat ke arahnya.


            “Aku suka panggilan itu, Author. Tapi. . . meski aku menjadi benalu dalam hidupmu, aku bukan benalu dalam simbiosis parasitisme yang akan merugikanmu eperti yang tertulis dalam pelajaran biologi.”


            “Kalau bukan parasit, lalu apa??” balasku.


            “Aku adalah benalu pertama dan satu-satunya benalu yang akan memberimu simbiosis mutualisme, Author.”


            Satu alisku naik mendengar ucapan konyol dari Arata itu. Bagaimana pun aku memikirkannya, benalu adalah benalu dan benalu selalu menjadi contoh dalam simbiosis parasitisme karena cara hidupnya sudah ditentukan untuk menjadi parasit pada inangnya. “Apa nilai pelajaran biologimu begitu buruk, Arata? Bagaimana benalu bisa memberikan simbiosis mutualisme ketika cara hidupnya telah ditentukan menjadi parasit?”


            “Karena itu aku katakan, aku adalah benalu pertama dan satu-satunya benalu yang akan memberikan simbiosis mutualisme, Author. Aku akan menjadi benalu yang menguntungkan hanya untukmu, Author. Ingatlah itu, Author!”


            Aku membeku mendengar ucapan itu sembari melihat wajah Arata yang masih memejamkan matanya seolah sedang tertidur. Benalu ini. . . benar-benar benalu yang berbahaya, pikirku.


 

__ADS_1


__ADS_2