MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
AKTOR PSIKOPAT PART 2


__ADS_3

“Pagi.” Aku membalas dengan singkat sapaan pagi dari Arata sembari melirik sedikit ke arahnya. Pagi ini Arata mengenakan setelan pakaian hitam, jaket hitam, celana hitam, sepatu hitam, kacamata hitam, masker hitam dan topi hitam. Tadinya aku hanya ingin meliriknya saja, tapi karena penampilan Arata yang serba hitam membuatku tercengang dan berakhir menatap ke arahnya.


            “Kenapa melihatku? Apa hari ini aku terlihat tampan di matamu, Author?”


            Aku ingin sekali memukul kepala pria di hadapanku ini ketika mengingat usianya yang empat tahun lebih muda dariku. Tapi sekali lagi. . . aku mengingat siapa aku dan siapa dirinya, aku menahan diri dan hanya bisa mengepalkan tanganku.


            “Bagian mana darimu sekarang yang bisa memperlihatkan dirimu ini tampan? Kau menutup hampir seluruh wajahmu dengan kacamata hitam, masker hitam dan topi hitam?” balasku. “Aku melihatmu karena heran kau mengenakan setelan serba hitam di hari yang cerah ini, apa mungkin kau ingin mengunjungi rumah seseorang yang baru saja meninggal??”


            “Ah ini. . . hitam adalah warna favoritku, Author. Harap Author harus mengingatnya.”


            Ting. . . lift yang akan membawaku membuka pintunya. Kebetulan sekali lift itu dalam keadaan kosong dan membuatku harus berdua saja bersama dengan Arata selama beberapa menit. Kebetulan itu seolah sedang mengatakan padaku bahwa kesialanku tidak akan pernah habis ketika bersama dengan Arata.


            “Lantai berapa, Author?” Arata yang berdiri di samping tombol lift bertanya padaku.


            “Lobi, terima kasih.”


            Pintu lift tertutup dan mulai membawa kami berdua turun.


            “Author mau ke mana? Berpakaian rapi begini?” Arata memulai percakapan di antara kami berdua dan memecah keheningan yang jadi teman ketiga kami. “Bukankah Author benci keluar dari apartemenmu??”


            “Aku harus menjenguk Warda. Kemarin dia melahirkan. Harusnya aku datang mengunjunginya kemarin tapi karena aku tidak tidur selama tiga hari karena pekerjaanku, alhasil aku baru bisa menjenguknya hari ini.” Aku menutup mulutku setelah menjawab pertanyaan dari Arata karena merasa ada yang aneh dengan diriku saat ini. Pikiranku membuat pertanyaan kepada diriku karena perbuatan anehku ini. Kenapa aku menjawab pertanyaan Arata dengan mudahnya? Aku yang biasanya tidak akan mengatakan apapun bahkan jika orang itu adalah pegawai di kantor Warda bekerja.


            “Kalau begitu kenapa Author turun di lobi dan bukan di parkiran bawah?” Arata bertanya lagi padaku.

__ADS_1


            Dan seperti sebelumnya aku menjawab pertanyaan Arata itu lagi seolah kami berdua sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama. “Aku malas menyetir mobil sendiri. Karena itu pengganti Warda-Sena datang menjemputku.”


            Aku mencubit kaki kiriku dengan tangan kiriku. Aku mencubit kakiku agar membuat diriku sadar bahwa tidak seharusnya aku menjawab pertanyaan Arata, bahwa aku tidak seharusnya dekat dengan Arata. Aktor, artis, penyanyi dan tokoh publik figur adalah sekumpulan orang yang memiliki banyak pengikut dan penggemar. Kehidupan mereka jauh dari kata tenang karena selalu menjadi sorotan kamera dan banyak orang. Karena itulah aku tidak menyukai mereka dan tidak ingin dekat dengan mereka. Bukannya aku tidak suka dengan mereka, hanya saja aku tidak suka menjadi sorotan dan menjadi pusat perhatian seperti apa yang mereka jalani. Alasan yang sama juga selalu menjadi alasanku yang selalu menyembunyikan diriku dibalik nama pena Wallflower.


            Kalau bukan karena ancaman yang ditujukan kepada Warda, mungkin selamanya aku akan memilih untuk bersembunyi di balik nama Wallflower dan dinding apartemenku itu.


            Ting. Pintu lift terbuka dan membuatku bisa dengan jelas melihat lobi. Aku mengangkat kaki kananku dan hendak berjalan keluar. Tapi langkahku terhenti dan dengan cepat pintu lift tertutup karena ulah Arata yang menarik lenganku dan membuatku nyaris terjatuh ke arahnya.


            “Apa yang kau lakukan, Arata?” Aku bertanya dengan nada sedikit marah dan kesal karena ini bukan pertama kalinya Arata menyentuhku tanpa seizin dariku.


            “Aku berubah pikiran, Author. Tadinya aku ingin pergi bersenang-senang dan mengunjungi orang tuaku tapi. . .”  


            Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya di tanganku. Tapi seperti sebelumnya, usahaku gagal karena tangannya yang memperlihatkan urat venanya itu jauh lebih kuat dari tanganku.


            “Aku yang akan mengantar Author menjenguk Nona Warda. Hari ini aku akan meluangkan waktuku untuk Author. Bukankah Nona Warda adalah penggemar beratku? Dia pasti senang jika aku datang menjenguknya bersama dengan Author.”


            Aku menatap tajam ke arah Arata, sembari masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya di tanganku. Karena kacamata hitam dan masker yang menutupi wajahnya, aku tidak bisa melihat bagaimana sorot matanya dan ekspresinya saat ini. Tapi aku tidak peduli lagi tentang siapa Arata karena menurutku dia sudah sangat keterlaluan.


*


            Tidak ada kata yang tepat selain psikopat untuk menggambarkan apa yang Arata lakukan kepadaku. Kukira awalnya dia hanya berniat untuk membantuku tapi berulang kali Arata melewati batasnya dan bertindak lebih dari seharusnya. Aku paham jika aku adalah idolanya dan dia berusaha untuk menarik perhatianku seperti yang banyak dilakukan oleh penggemarnya. Tapi bagaimana pun aku melihat, apapun yang dilakukannya adalah sesuatu yang sudah lebih dari seorang penggemar dan bisa dikatakan fanatik. Selain itu caranya yang terkadang suka memaksa itu, membuatku teringat dengan beberapa film psikopat yang aku pelajari dalam membuat karakter dalam novel-novel karyaku.


            “Hai, Sena. Aku benar-benar minta maaf, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan terjadi. Kita bertemu saja di rumah sakit. . .” Karena ulah aktor psikopat yang tidak lain adalah tetangga baruku ini, aku buru-buru mengambil ponselku dan mengabari Sena yang telah menungguku di depan apartemenku. Aku merasa benar-benar tidak enak karena telah membuat janji dengan Sena dan membuatnya menunggu lama sebelum akhirnya aku membatalkan janji itu karena si pemaksa-Arata.

__ADS_1


            Kruyuk. . . kruyuk. . .


            Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit di mana Warda dirawat, perutku berbunyi karena sudah tidak lagi bisa menahan rasa lapar.


            “Author belum sarapan?” Arata melirik ke arahku karena mendengar suara perutku yang mendemoku karena sudah tidak bisa menahan lapar lebih lama lagi.


            “Harusnya sudah. . . tapi karena seharian kemarin aku hanya tidur dan tidak makan, perutku lapar lagi. Karena kau, aku tidak jadi memakan sarapan yang Sena belikan untukku.”


            “Baguslah jika begitu. Pilihanku ternyata tidak pernah salah.”


            “Apanya yang sa-“ Aku belum menyelesaikan pertanyaanku ketika Arata tiba-tiba memutar setir mobil dan membuat mobil sport hitam miliknya berbelok masuk ke dalam resto yang menyediakan layanan drive thru. “Kau lapar juga?”


            “Tidak.” Mobil sport hitam milik Arata mengambil jalur drive thru.


            “Lalu kenapa kemari??”


            “Tentu saja memberi makan Authorku yang sudah sangat kelaparan. Aku ini adalah penggemar yang perhatian. Jadi karena Authorku ini kelaparan, aku harus memberi Author makanan.”


            Glek. Aku menelan ludahku mendengar ucapan Arata itu. Aku bingung bagaimana aku harus bereaksi dengan benar dalam situasi ini. Sebelum-sebelumnya. . . aku telah banyak mempelajari situasi seperti ini untuk membuat alur dalam novelku. Tapi. . . ketika aku berhadapan dengan Arata dan mengalami situasi yang sama, semua yang aku pelajari mendadak hilang dari dalam pikiranku seolah mereka tidak pernah ada dan tidak pernah aku pelajari.


            “Kau ingin makan nasi atau roti, Author?” Arata bertanya lagi padaku di saat aku masih belum bisa mengatur pikiranku dengan benar.


 

__ADS_1


__ADS_2