
Percakapan antara Arata dan aku itu berakhir dengan aku yang memaksa dan mendorong Arata keluar dari apartemenku. Mengetahui Arata menemukan rahasia kecil yang selalu aku masukkan ke dalam novelku itu, aku merasa seolah sedang tertangkap basah olehnya.
Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia?
Dari sekian banyak penggemarku, kenapa harus dia yang menyadarinya?
Dua pertanyaan itu muncul di dalam benakku dan membuatku semakin kesal saja. Alhasil selama dua hari berikutnya, aku hanya mengurung di apartemenku dan bahkan melarang Sena untuk datang ke apartemenku. Warda yang masih sibuk mengurus Auriga-putra kecilnya bahkan sampai menghubungiku karena mendengar cerita dari Sena.
“Ada apa denganmu, Asha? Kenapa kau menolak kedatangan orang lain lagi ke apartemenmu? Apakah ada orang yang merundungmu lagi?”
Warda yang bekerja sebagai editorku, sudah kuanggap sebagai temanku dan karena itu, dia tahu dengan alasanku menolak untuk tidak banyak keluar dari apartemenku. Warda tahu bagaimana kisah kelam milikku yang selama ini kusimpan di jurang di dalam hati dan pikiranku. Karena tahu hal itu, Warda selalu berusaha sebagai editor terbaikku dan menjagaku dengan baik selama ini.
“Kau yang merundungku, Warda,” balasku. Karena sempat merasa kesal dengan Arata, aku lupa dengan niatku untuk membuat perhitungan dengan Warda soal dirinya yang mungkin lupa atau sengaja tidak memberitahuku jika Arata adalah pemeran utama pria dalam film yang diangkat dari novel keduaku yang berjudul: Love Like Ectasy.
“Aku??? Kapan aku melakukannya, Asha? Aku bahkan tidak bertemu denganmu hampir dua bulan lamanya.” Warda bertanya padaku pasti dengan wajah terkejut.
Huft. Aku menghela napasku sebelum membalas ucapan dari Warda itu. “Kau. . . kenapa tidak mengatakan padaku jika Arata adalah pemeran utama pria dari film Love Like Ectasy karyaku itu?? Kau lupa atau kau sengaja tidak memberitahuku tentang hal itu?”
__ADS_1
“Ahh. . . itu.” Aku mendengar nada suara Warda yang berubah setelah mendengar ucapan balasan dariku. “Tadinya aku lupa. Tapi ketika mendengar dari Sena bahwa kau benar-benar sibuk dengan perbaikan novelmu, aku tidak jadi untuk memberitahukan hal itu. Aku tidak mengira jika penulis utama dari skenario itu akan kecelakaan lalu menunjukmu sebagai pengganti sementaranya.”
“Lalu kapan kau tahu?” tanyaku menyelidik.
“Setelah Arata datang ke rumah sakit bersamamu. Kukira melihat kalian bersama waktu itu, hubungan kalian menjadi lebih dekat.”
Huft. Aku menghela napas untuk kedua kalinya. Tadinya. . . aku berniat untuk membalas Warda dengan menyembunyikan fakta penting bahwa aku dan Arata adalah tetangga dan fakta itulah yang menjadi alasan kenapa aku bisa datang bersama dengannya saat menjenguk Warda. Tapi. . . mendengar bahwa Warda sempat lupa dengan hal itu, aku tidak tega karena aku tahu dengan baik betapa Warda begitu mengidolakan Arata.
“Alasan aku datang bersama dengan Arata waktu itu karena Arata memaksa untuk ikut denganku. Dia adalah tetangga baru yang mengisi apartemen kosong di samping apartemenku, Warda.”
Gubrak. Sesuatu seperti benda jatuh terdengar dari dalam speaker ponselku yang kurasa Warda mungkin menjatuhkan sesuatu atau mungkin justru menjatuhkan ponsel itu sendiri.
“Asha, kau!!!!” teriak Warda bersama dengan suara berisik yang kurasa dugaanku benar-benar terjadi: Warda menjatuhkan ponselnya karena terkejut mendengar ucapanku. “Kenapa kau tidak mengatakan hal itu padaku? Apa Sena tahu hal itu? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Sial. . . aku menyesali cutiku yang masih tersisa satu bulan lebih ini!! Karena cuti ini, aku tidak bisa mengunjungi apartemenmu dan melihat Arata-ku tersayang.”
“Hei. . . hei mama muda, bagaimana kau bisa dengan mudahnya menyesali cutimu dan berniat untuk menelantarkan putramu itu hanya agar bisa bertemu dengan Arata??” balasku sembari terkekeh.
“Aku masih punya banyak waktu untuk bisa melihat putraku, tapi aku tidak punya banyak kesempatan untuk bertemu langsung dengan Arata.”
__ADS_1
Aku tertawa kecil mendengar ucapan Warda ini. Jika orang lain yang mendengarnya, orang itu mungkin mengira jika Warda lebih mencintai Arata dari pada Auriga-anaknya sendiri. “Tenang saja. . . kau pasti masih punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan Arata.”
“Aku harap begitu. Kembali ke topik sebelumnya, kenapa kau bertanya tentang Arata yang menjadi pemeran utama dalam film Love Like Ectasy.”
“Aku hanya terkejut saja ketika tiba di sana dan mengetahui bahwa Arata-lah yang mendapatkan peran itu.” Tadinya. . . aku ingin memprotes banyak hal tentang Arata dan sikapnya yang sering melewati batas ketika bersamaku. Tapi aku menutup rapat niatku itu karena aku tidak membuat Warda khawatir di masa cutinya dan masa ‘bahagia’nya menjadi seorang ibu.
“Apa kau tidak suka jika Arata yang memerankan peran itu?” tanya Warda saja.
“Aku hanya terkejut saja dan tidak mengira jika Arata mau memerankan tokoh itu.” Harus kuakui. . . kudengar banyak sutradara dan banyak produser yang berebut untuk membuat Arata bekerja sama dengan mereka. Karena Arata sekarang adalah satu dari sepuluh aktor terkenal di negara ini, pamor dan popularitasnya yang menanjak tajam menjadi satu dari daya tarik dan daya jual di industri perfilman. Aku hanya tidak menduga, Arata yang harusnya menerima bayaran mahal mau bermain di film pertamaku ini yang mungkin saja bisa berakhir dengan merusak popularitasnya.
“Pendapatku, Arata memang yang paling cocok memerankan tokoh utama pria dalam Love Like Ectasy. Wajah Arata yang merupakan campuran dari Jawa, Cina dan Belanda itu benar-benar campuran yang sempurna. Semua kelebihan dalam setiap ras, diambilnya dengan baik. Selain wajah yang tampan dan nyaris sempurna, tubuh Arata itu juga tinggi, tegap dan atletis. Setelan apapun pasti akan cocok jika Arata yang menggunakannya. Ditambah lagi wajah dingin Arata ketika tidak sedang tersenyum, sudah dikenal semua penggemarnya dan hal itu sangat sesuai dengan gambaran dalam tokoh utama pria Love Like Ectasy. Arata itu sudah seperti ekstasi itu sendiri yang mampu membuat wanita yang melihatnya kecanduan.”
Jika sebelumnya. . .aku ingin membuat perhitungan dengan Warda dan ingin mengeluarkan protesku pada Warda, keinginanku tiba-tiba menghilang ketika aku mendengar penjelasan Warda itu. Sembari terus mendengar pujian-pujian Warda tentang Arata, mataku menatap ke arah TV ku yang menyala dan memutar iklan di mana Arata adalah modelnya.
Dalam iklan dengan durasi satu menit itu, aku melihat bagaimana Arata memamerkan pesona dan senyuman di bibir merahnya itu. Dalam waktu satu menit itu, benakku memutar kembali beberapa kenangan yang menyimpan ingatan kejadian antara aku dan Arata. Barata atau yang dikenal dengan nama panggung Arata itu sebelumnya tidak terlihat istimewa di mataku. Tapi. . . ketika melihatnya lagi di iklan itu, aku baru sadar jika Arata itu benar-benar memesona ditambah lagi jika dia sedang tersenyum.
Kenapa dia harus menemukan rahasia kecil yang aku letakkan di dalam novelku itu? Dari banyak orang kenapa harus dia lagi, dia lagi??
__ADS_1