
Kehidupan manusia itu penuh dengan rahasia dan misteri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi sepanjang hidup kita kecuali kita melaluinya. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan kita temui dalam hidup kita, baik itu pertemuan singkat maupun pertemuan yang tidak singkat. Kita hanya tahu hal yang pasti dalam hidup ini: kita pasti akan mengalami kematian yang entah kapan itu datang.
*
“Kau gila, Sena!!!” Aku menatap tajam ke arah Sena dengan wajah penuh amarah. “Keluargaku mungkin membuangku, mungkin bersalah padaku tapi aku tidak pernah menginginkan mereka mati! Bagaimana pun, mereka adalah keluargaku! Bora juga sama! Meski perbuatannya padaku begitu buruk, tapi dia sedang menjalani hukumannya!! Hak apa yang kau punya hingga kau memutuskan kematian orang-orang di sekitarku, Sena??”
Jika manusia normal akan merasa bersalah ketika diperlihatkan kesalahan mereka, maka manusia yang tidak normal seperti Sena akan bereaksi sebaliknya. Sena justru tertawa mendengar ucapanku dan sama sekali tidak menyesali perbuatannya.
“Aku melakukannya demi menyenangkanmu, Asha. Itu adalah bukti cintaku padamu! Tidakkah kau menyadarinya, Asha??”
Bagaimana pun aku berusaha memikirkannya, pikiranku tidak sanggup menerima perbuatan Sena yang mengatas namakan cintanya padaku.
“Kau gila, Sena!! Siapapun di dunia ini, wanita mana pun tidak akan menerima jika kau membunuh seseorang dengan alasan cinta untuknya!! Kau jelas-jelas sudah gila, Sena!!! Kau sakit!!!”
Sena memandangku dengan tatapan tajam di kedua matanya. Senyuman di bibirnya dalam waktu singkat menghilang. Aku rasa ucapanku baru saja, benar-benar menyakitinya atau mungkin memprovokasinya?
Sena mendekat ke arahku, menyentuh wajahku dan tidak lama kemudian sentuhan itu berubah menjadi genggaman kuat di leherku. Aku rasa ... Sena mungkin akan mencekikku karena ucapanku baru saja yang rupanya benar-benar memprovokasi dirinya.
“Kau tahu, Asha??”
Aku bersiap untuk menerima cekikan itu, tapi Sena mengurungkan niatnya dan justru bertanya padaku. Aku menatapnya tajam dengan tujuan untuk membuat Sena tahu bahwa aku tidak takut padanya.
“Apa yang harus aku tahu, Sena?” balasku.
__ADS_1
“Terkadang kau membuatku teringat dengan Ibuku.”
“Ibumu??” ulangku. Di saat seperti ini ... aku baru sadar jika selama aku mengenal Sena, aku belum pernah mengetahui tentang dirinya, latar belakang dan keluarganya. Aku dan Sena menghabiskan waktu sibuk dengan pekerjaan kami berdua. Dan hanya itu alasan yang menghubungkan kami berdua, alasan yang membuat kami bertemu dan alasan yang membuat kami menghabiskan waktu bersama.
“Ya, Ibuku.”
Sena bangkit dari duduknya dan tidak lama kemudian keluar dari ruangan di mana aku berada. Entah apa yang dilakukannya di luar sana, tapi setelah beberapa saat Sena kembali dengan membawa bingkai foto seorang wanita yang terlihat sudah lama karena warna kecoklatan yang timbul di sekitarnya. Aku harus sedikit menarik tubuhku untuk melihat ke arah Sena yang berdiri di depan pintu ruangan di mana aku berada. Dari wajahnya yang terlihat mirip dengan Sena, aku menduga wanita itu mungkin adalah ibu Sena yang baru saja disinggungnya.
“Apakah wanita di dalam foto itu adalah Ibumu, Sena?” tanyaku.
“Ya, dia ibuku, Asha. Ibu yang paling aku cintai dan juga wanita yang paling aku benci.”
Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya, “Apa maksudmu dengan wanita yang paling kau benci? Kenapa kau membenci ibumu, Sena?”
Setelah itu Sena menceritakan kisah kelamnya yang selama ini selalu dipendamnya seorang diri kepadaku. Dan itu membuatku memahami sedikit bagaimana Sena akhirnya menjadi seperti ini ...
Sena kecil adalah anak laki-laki yang sangat mencintai ibunya. Keluarga di mana Sena lahir dan dibesarkan awalnya adalah keluarga yang bahagia seperti kebanyakan keluarga lain. Kehidupan mereka normal di mana di hari libur, mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan berlibur ke tempat liburan. Semua terasa begitu membahagiakan bagi Sena kecil. Ayah dan Ibunya yang menyayanginya, waktu kebersamaan yang menyenangkan dan membahagiakan, hidup Sena kecil seolah mampu membuat banyak anak di luar sana akan merasa iri dengannya.
Tapi semua itu berubah ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Hari itu adalah hari ulang tahun Sena yang ke-10, Ayahnya yang menyayangi Sena kemudian membawa Sena dan istrinya berlibur ke vila di mana aku sekarang berada. Ayah Sena memasang tenda, membeli banyak daging, kue tar untuk berpesta. Sena dan keluarganya berpesta hingga akhirnya Sena tertidur karena kekenyangan.
Di tengah malam, hujan badai datang bersamaan dengan petir yang menyambar beberapa kali. Suara gelegar petir itu biasanya tidak akan membuat Sena terbangun dari tidurnya apalagi setelah kekenyangan. Tapi malam itu ... perdebatan Ayah dan Ibunya, membuat Sena yang berusia 10 tahun akhirnya terbangun dari tidurnya. Sena membuka sedikit pintu kamarnya dan berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi antara Ayah dan Ibunya di malam hari.
__ADS_1
Dari celah pintu kamarnya tidur, Sena melihat bagaimana Ibu dan Ayahnya berdebat satu sama lain. Tidak lama kemudian ... seorang pria masuk dari pintu belakang dan menyerang Ayahnya.
Jleb. Sebuah pisau yang tajam dan berkilau karena kilatan kilat sebelum petir menyambar, menembus tubuh belakang Ayah Sena.
“Kau benar-benar ... “ Ayah Sena yang terkejut mendapat serangan tidak terduga kemudian melihat istrinya dengan tatapan penuh amarah.
Jleb ... jleb ... jleb. Tidak cukup dengan satu tusukan pria asing itu menusuk Ayah Sena beberapa kali hingga ambruk dengan cairan merah yang mengalir dari luka di tubuhnya. Malam itu ... di hari ulang tahunnya yang ke-10, Sena kecil kehilangan kebahagiaannya.
Seolah tidak cukup dengan kematian Ayahnya, pria itu kemudian menyadari keberadaan Sena kecil yang mengintip dari balik celah pintu kamarnya. Pria itu menarik pisau yang menancap di tubuh Ayah Sena, mengacungkannya dan berjalan menghampiri Sena. Pria itu harusnya menusuk Sena hingga tewas, tapi niat itu dihentikan oleh Ibu Sena. Tapi sebagai gantinya, Ibu Sena memukul kepala Sena dengan vas bunga di dekatnya dan membuat kepala Sena berdarah dan jatuh tidak sadarkan diri.
Sena kecil ambruk dan kemudian tidak sadarkan diri.
“Nak ... kau bisa mendengarku?”
Begitu membuka matanya, Sena mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit dengan beberapa pria dengan seragam kepolisian yang sedang menatap dirinya.
“Nak, kau bisa mendengarku?”
Sena kecil yang masih bingung dengan keadaannya kemudian menatap kosong ke arah pria-pria itu. “Siapa kalian? Dan siapa aku?”
Sena menatapku dan melihatku dengan tatapan sedih. Dia menghentikan ceritanya untuk sejenak dan kemudian duduk di kursi di samping tempat tidur di mana aku berada. Sena meletakkan bingkai foto milik ibunya. Tidak lama kemudian ... Sena membuka mulutnya lagi dan melanjutkan ceritanya. “Hari itu aku kehilangan semua ingatanku. Entah karena pukulan keras yang diberikan ibuku untuk menyelamatkanku atau mungkin karena aku tidak sanggup melihat kematian Ayahku, aku tidak tahu. Aku kehilangan ingatanku dan sempat melupakan kejadian nahas itu.”
__ADS_1