
“Lalu apa yang terjadi?” Aku bertanya dengan penasaran.
Di masa lalu ... aku pernah membaca buku psikologi yang membahas tentang bagaimana psikopat lahir ke dunia ini. Dalam buku itu dijelaskan sifat psikopat itu awalnya dimiliki oleh semua orang, semua manusia. Hanya saja banyak manusia, banyak orang berhasil menekan sifat itu dengan kasih sayang orang tua, dukungan lingkungan yang baik dan ikatan pertemanan yang baik.
Aku meyakini, di dunia ini tidak ada manusia yang lahir dengan membawa takdir buruk dan sifat yang buruk. Manusia lahir dalam keadaan bersih. Tapi ... terkadang beberapa orang tua tidak menginginkan anaknya. Lalu anak itu lahir di lingkungan yang kejam dan anak itu memilih lingkaran pertemanan yang salah. Jika siklus itu terus berlangsung, maka sifat buruk dari lingkungan, teman dan orang tua akan tertanam dalam diri anak itu dan tanpa disadarinya, anak itu akan tumbuh seperti lingkungan, teman dan orang tuanya.
Dari siklus seperti itu, manusia yang bisa mempertahankan pikiran mereka dan tidak ikut terbawa arus hanya sebagian kecil saja. Lalu sebagian besarnya akan ikut terbawa arus dan akhirnya hidup seperti lingkungan, teman dan orang tuanya.
“Lima tahun kemudian aku mengingat ingatan itu, Asha. Semenjak kehilangan Ayahku dalam malam nahas itu, aku diasuh oleh Nenek dari Ayahku yang cerewet. Tapi meski begitu ... dia tetap membesarkanku hingga setidaknya aku berusia 17 tahun dan mampu mengelola semua uang peninggalan dari Ayahku. Dari Nenek, aku tahu bahwa Ibu sebenarnya tidak mencintai Ayah seperti yang aku lihat selama ini. Ibu terpaksa menikah dengan Ayah dengan tujuan mendapatkan warisan dari keluarganya dan pria yang membunuh Ayahku adalah kekasih lama Ibuku sebelum bertemu dengan Ayahku ... “
Sena menghentikan ceritanya untuk sejenak dan kemudian membuka jendela di kamar di mana aku berada. Pertama tirainya yang berwarna putih lalu jendela besar di belakang tirai. Wush .... begitu jendela terbuka, angin dari danau berembus masuk ke dalam kamar dan membuatku merasa sedikit kedinginan.
“Lalu setelah mendapatkan ingatanmu, apa yang kau lakukan, Sena?”
__ADS_1
Sena memandang ke arah danau untuk sejenak dan membiarkan angin yang berembus menerpa wajahnya. Setelah melakukan itu, Sena mengambil selimut di dekat kakiku dan menyelimuti tubuhku yang kedua tangan dan kakiku terikat di kaki tempat tidur. Setelah melakukan hal itu, Sena duduk di samping tempat tidurku dan menjawab pertanyaanku.
“Nenekku yang cerewet itu adalah seorang penjual daging. Sejak awal Nenek tidak menyukai ibuku karena memisahkan dirinya dari anak tunggalnya. Nenek membenci ibuku tapi tidak denganku. Selama lima tahun aku tinggal dengannya, dia membesarkanku dengan baik. Mengajari banyak hal padaku. Tapi sayangnya ... umurnya tidak panjang. Kematian Ayahku menjadi pukulan yang besar bagi Nenek yang selama hidupnya menjanda demi membesarkan putra tunggalnya. Nenek bertahan hidup sedikit lebih lama hanya untuk membesarkanku yang sudah sebatang kara. Ketika Nenek hendak mengembuskan nafas terakhirnya, Nenek memintaku untuk berjanji, Asha.”
“Apa yang Nenekmu minta padamu, Sena?”
“Membalas dendam kematian putra tunggalnya.” Sena menatapku dengan seringai mengerikan di wajahnya dan hal itu membuatku sedikit merasa takut melihatnya. “Saat itu ... aku masih kehilangan ingatanku dan tidak bisa mengingat bagaimana Ayahku meninggal dengan cara tidak adil. Tapi tidak lama setelah kematian Nenek, aku melihat Ibuku hidup bersama dengan kekasihnya dan ingatanku langsung kembali begitu aku melihat wajah pria itu. Setelah membuat rencana yang matang, aku membawa pisau jagal yang digunakan Nenekku untuk berjualan dan kemudian membunuh Ibuku dan kekasihnya. Aku menepati janjiku pada Nenek untuk membalaskan dendamnya pada Ibuku untuk kematian Ayahku.”
Nafasku terhenti ketika aku mendengar cerita mengerikan dari Sena tentang keluarganya. Cerita itu begitu kelam, cerita itu begitu mengerikan dan di sisi lain, cerita itu begitu menyayat hati. Bagaimana tidak? Anak kecil yang harusnya menerima kasih sayang dipaksa terlibat dalam lingkaran hubungan yang tidak baik yang terjadi antara orang tuanya. Lalu setelah lingkaran itu berakhir, Nenek yang merawatnya justru meminta anak kecil yang harusnya menghabiskan masa remaja dengan belajar dan menikmati hidup, untuk membalas dendam kematian putra sekaligus ayah dari anak kecil itu.
Aku menatap Sena dengan berbagai pertanyaan di dalam benakku. Jika terjadi hingga seperti ini, siapa yang harus disalahkan Sena tumbuh menjadi anak seperti ini? Ibunya? Kekasih Ibunya yang membunuh Ayahnya tepat di depan matanya? Atau Neneknya yang memintanya untuk membalas dendam?
“ ... Dan sialnya, bakat yang Ibuku miliki justru menurun padaku, Asha.”
__ADS_1
“Bakat?” Aku mengerutkan keningku mendengar ucapan Sena yang dilanjutkannya ketika aku sibuk dengan benakku. “Bakat apa yang kamu maksud, Sena?”
“Ibuku adalah penulis novel, Asha. Aku menjadi editor karena sejak kecil, aku biasa mendengarkan Ibuku yang membaca novel yang dikerjakannya. Setiap kata, setiap dialog yang dituangkannya ke komputer, selalu diucapkannya dengan keras padaku agar aku mengerti cerita yang ada di dalam benaknya. “
Mataku membulat besar mendengar cerita Sena. “Si-siapa nama Ibumu, Sena?”
“Kau tidak akan mengenal nama Ibuku, Asha.” Sena tersenyum melihat ke arahku. Senyuman yang aku rasa adalah senyuman kebanggaan Sena yang merasa bangga dengan Ibunya. “Karena Ibuku menggunakan nama pena ketika menulis novel. Kalau nama ini ... kau pasti akan mengenalinya, Asha. Nama pena Ibuku adalah The Lady.”
Mendengar nama The Lady, aku ingat nama pena itu. Di masa lalu Warda pernah menceritakan nama itu padaku.
“The Lady adalah penulis pertama di negeri ini yang menggunakan nama pena. Dia terkenal dengan novel misteri dan horornya yang selalu berhasil mengecoh pembacanya. Hingga saat ini ... tidak ada yang tahu siapa orang di balik nama The Lady. Karena The Lady tiba-tiba menghilang begitu saja dari dunia belasan tahun yang lalu.”
Aku ingat Warda pernah menceritakan hal itu padaku karena Warda adalah penggemar dari karya The Lady. Aku juga ingat Warda juga menceritakan novel terakhir The Lady adalah novel pembunuhan di mana suami dari tokoh utama wanita mati dibunuh oleh kekasih gelap dari tokoh utama wanita yang kebetulan memiliki cerita yang sama dengan kisah Sena.
__ADS_1
Sena sepertinya menangkap ekspresiku saat ini. “Sepertinya kau tahu nama itu, Asha. Kau juga harus tahu ... novel terakhir dari The Lady bukan ditulis oleh ibuku tapi ditulis olehku yang telah membunuh ibuku sendiri dan membuat tubuhnya tersimpan di dalam danau ini.”