
“Apa Tuan punya waktu untuk bicara? Ada yang ingin saya tanyakan?”
Kendra Wiyarta melihatku dengan senyuman kecil di bibirnya. “Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan! Panggil aku dengan Kakak seperti Maha dan Arata!! Meski masih jadi kekasih Arata, tapi aku sedikit menyukai kepribadianmu dan caramu bersikap, Asha.”
“Baiklah kalau begitu, Kak.”
Setelah mendengar jawabanku, Kendra Wiyarta-kakak pertama Arata melihat jam tangannya dan menimbang-nimbang waktu yang dimilikinya. “Bisakah kau menunggu, Asha? Aku ada janji lima menit lagi dengan pasien.”
“Tentu, Kak.”
“Bagus. Kalau begitu ikut aku sekarang, akan berbahaya jika orang-orang di sini ada yang mengenalimu. Sejak tadi ... sudah ada beberapa orang yang berbisik-bisik ketika melihatmu di sini.”
Aku menundukkan kepalaku meminta maaf karena sudah terlalu merepotkan. Kedatanganku secara mendadak, pasti telah membuat Kendra-Kakak pertama Arata jadi harus mengurusku karena statusku saat ini sebagai kekasih Arata.
Kendra kemudian membawaku ke ruang kerja miliknya yang lebih mirip ruang kerja direktur dari pada ruang kerja dokter. Sebelum pergi meninggalkan aku, Kendra mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa orang, yang aku rasa aku bisa menebak siapa orang yang dihubunginya.
Setelah sepuluh menit menunggu dengan hanya memainkan ponselku melihat berita teratas dan terpanas hari ini, seseorang masuk ke dalam ruang kerja milik Kendra dan menyapaku dengan senyuman lebar di bibirnya seolah dia merasa sangat bahagia melihatku.
__ADS_1
“Asha ... “
Aku melihat sosok wanita yang muncul dari pintu masuk ruang kerja Kendra dan mengenali sosok itu sebagai sosok Ibu Arata.
“I-Ibu ... “ Aku langsung berdiri dari dudukku dan memberikan salamku kepada Ibu Arata. “Selamat pagi, Bu.”
“Apa yang membawamu kemari, Asha? Kalau bukan karena Kendra menghubungi Maha yang kebetulan sedang berada di rumah, Ibu mungkin tidak akan tahu kamu datang kemari.” Ibu Arata berjalan mendekat ke arahku dan kemudian duduk di sampingku sembari membuatku duduk di sampingnya layaknya seperti anaknya sendiri.
“Saya ... saya datang kemari ingin bertanya pada Kak Kendra. Tapi karena Ibu ada di sini, bisakah saya bertanya pada Ibu?”
“Mungkin ini tidak seharusnya aku tanyakan karena aku adalah orang luar, tapi bisakah saya tahu kenapa Arata selalu menyebut dirinya kegagalan dalam hidup orang banyak ketika membahas keluarganya, Bu?” Aku sedikit gugup karena berusaha mengatur bahasa dan ucapanku agar tidak terkesan lancang dan tidak sopan karena menanyakan sesuatu yang aku rasa belum waktunya aku tanyakan. Di depanku saat ini, lawan bicaraku saat ini adalah ibu Arata sekaligus Nyonya Wiyarta-istri dari pemilik rumah sakit Wiyarta yang terkenal.
Aku mungkin gugup, aku juga mungkin merasa bahwa pertanyaanku ini sedikit lancang dan terkesan tidak tahu diri karena tidak pada tempatnya, tapi ... karena rasa penasaran yang terus menggangguku dan membuatku tidak bisa tidur, aku harus menemukan jawabannya.
“Kenapa kau bertanya hal itu, Asha?” Ibu Arata menatapku dengan senyuman hangat di bibirnya dan membuat rasa gugup di dalam diriku sedikit berkurang.
“Saya ... sebenarnya adalah anak yang bisa dikatakan dibuang oleh kedua orang tua saya. Karena dianggap sebagai pencemar nama baik keluarga, sejak muda saya pindah tinggal dengan nenek saya. Berkat nenek, kondisi saya membaik dan akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah dan diterima bekerja di perusahaan. Tapi ... ketika saya bekerja, saya mengalami hal yang sama ketika saya bersekolah. Ditambah dengan kematian nenek saya secara tiba-tiba karena usianya yang sudah tua, pukulan yang saya terima saat itu tidak bisa saya atasi dan akhirnya ... saya memilih untuk mengurung diri saya.” Aku menceritakan kisah kelam hidupku kepada Ibu Arata secara singkat, untuk memberikan penjelasan mengenai alasan pertanyaan yang aku ajukan. “Dari keadaan itu dan pengalaman itu, saya tahu bagaimana kedua orang tua saya melihat saya. Tapi ketika saya bertemu dengan keluarga Arata, cara Ibu melihat Arata, cara dua kakaknya melihat dan cara Ayah Arata melihat Arata, semuanya berbeda dengan cara kedua orang tua saya melihat saya. Sesuatu yang salah ada di antara kalian yang membuat Arata mungkin salah menilai hingga akhirnya salah paham. Benar begitu bukan, Bu?”
__ADS_1
Prok ... prok ... Ibu Arata mengangkat kedua tangannya dan kemudian memberikan tepuk tangan kecilnya padaku dengan bibir tersenyum. “Aku tidak tahu jika para penulis akan memiliki otak yang cukup cerdas. Sepertinya ... banyak orang di dunia ini yang menilai remeh para penulis, padahal kalian melihat dan menilai lebih baik dari kebanyakan orang.”
Ibu Arata bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke meja di dekat jendela di mana terdapat mesin pembuat kopi di sana. Ibu Arata kemudian membuat dua cangkir kopi panas dan membawanya ke arahku. “Minumlah ini, Asha. Melihat bagian bawah kedua matamu sepertinya kau tidak tidur selama beberapa hari.”
“Te-terima kasih, Bu.” Aku menerima cangkir kopi itu dan langsung menyesapnya. Srup .... Begitu kopi itu masuk ke dalam kerongkonganku, mataku yang terasa sedikit lelah langsung terbuka sedikit lebih lebar dan energi di tubuhku terasa langsung diisi dengan baik.
Setelah menyesap kopi yang dibuatnya sendiri, Ibu Arata membuka mulutnya dan menyelesaikan ucapannya yang tadi belum sempat diselesaikannya. “Itu benar, Asha. Salah paham terjadi di antara keluarga ini dan aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya ....”
Ibu Arata kemudian menjelaskan segala hal yang membuat kesalahpahaman itu terjadi. Rahayu Wiyarta atau dikenal sebagai Ibu Arata adalah wanita dari keluarga yang sederhana pada awalnya. Dia mendapatkan keberuntungan bekerja di rumah sakit Wiyarta sebagai perawat. Karena kecerdasan dan ketangkasannya sebagai perawat, dalam dua tahun Rahayu sudah menjadi satu kepala perawat di rumah sakit Wiyarta.
Posisi sebagai kepala perawat, membuat Rahayu bertemu dengan Intar Wiyarta yang kelak akan menjadi penerus dari keluarga Wiyarta. Rahayu yang tidak tahu status Intar Wiyarta sebagai pewaris, menyukai Intar murni karena cinta. Begitu pula dengan Intar.
Hubungan dokter dan perawat itu kemudian sampai di telinga Naraji Wiyarta-Ayah dari Intar Wiarta sekaligus Kakek dari Arata. Naraji awalnya tidak menyukai Rahayu karena Rahayu hanya berasal dari keluarga biasa, tapi Naraji mengubah pandangannya ketika melihat bagaimana Rahayu bekerja dan kariernya yang menanjak dengan cepat.
Tidak lama kemudian Intar dan Rahayu menikah. Rahayu mengira keberuntungan yang datang padanya akan terus datang menghampiri kehidupannya hingga sesuatu terjadi. Tidak seperti Kendra dan Maha yang sejak kecil menunjukkan kecerdasan yang luar biasa untuk anak seusianya, Barata atau biasa dipanggil dengan nama Arata sama sekali tidak menunjukkan mintanya di bidang dokter dan hal itu membuat Naraji marah. Naraji menyahkan Rahayu atas yang terjadi pada Arata, karena Rahayu sempat mengalami pendarahan hebat yang membuat Arata lahir lebih cepat dari seharusnya dan harus menjalani serangkaian perawatan ketika lahir ke dunia.
__ADS_1