
Tadinya. . . aku sudah memejamkan mataku dan berniat untuk tidur. Setelah seharian sibuk membuat plot untuk novel keenam dan membayangkan berbagai macam cerita, aku akhirnya menyerah dan memilih untuk tidur karena otakku yang sudah tidak bisa diajak kerja sama untuk berpikir. Alhasil pukul 9 malam, aku naik ke atas tempat tidurku dan menutup tubuhku dengan selimut hangatku.
Tapi baru lima menit menutup mata, aku merasa tiba-tiba tidak ingin tidur dan akhirnya memilih untuk melakukan sesuatu. Aku membuka sedikit tirai di kamarku dan mengintip ke arah bawah. Syukurlah para reporter itu akhirnya menyerah.
Setelah artikel kedua yang muncul untuk membelaku, tidak lama kemudian artikel ketiga yang berkaitan denganku muncul lagi dan berusaha untuk menjatuhkan namaku lagi sebagai Author. Seharian ini, beberapa kali aku mengintip jendela dan menemukan para reporter masih terus berkumpul di depan gedung apartemenku. Beruntungnya aku. . . penjagaan di apartemen kelas menengah ini cukup baik hingga mereka tidak mengizinkan reporter untuk masuk ke dalam gedung apartemen dan hanya membiarkan para reporter di depan gedung saja. Seharian ini juga. . . aku berharap bisa duduk di balkon apartemenku untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang berembus. Tapi. . . aku tidak bisa melakukannya karena jika aku duduk di balkon maka para reporter yang tidak pernah menyerah itu akan menemukan lantai dan nomor apartemenku.
Di malam yang cukup dingin ini, sepertinya keberuntungan berpihak padaku. Sore tadi hujan cukup lebat dan membuat jalanan sedikit terendam oleh air hujan. Para reporter yang keras kepala itu akhirnya memilih untuk kembali karena tidak memiliki tempat berlindung ketika hujan turun dan akhirnya tak satu pun dari mereka yang kembali ke depan gedung apartemenku.
Dengan mengenakan jaket yang tebal, aku membuka sedikit jendela kaca di balkonku dan membuat angin malam masuk ke dalam apartemenku. Aku duduk di samping jendela dan menatap langit malam yang gelap tanpa satu pun bintang di langit.
Drrrrtttt. . . . ponselku yang aku bawa di saku jaketku tiba-tiba bergetar. Aku mengambil ponselku itu dan melihat nama seseorang muncul di layarnya. Benalu Arata.
Aku ingat dengan jelas aku tidak pernah memberikan nomorku pada Arata. Jadi. . . bagaimana benalu menyebalkan ini bisa menghubungiku jika aku tidak pernah memberikan nomorku padanya.
Drrrtttt. . . ponselku terus bergetar dan sepertinya Arata tidak akan memutus panggilan ini hingga aku menerima panggilannya.
“Halo.”
“Ah, Author!!! Akhirnya kau mengangkat panggilanmu!!” Aku menangkap nada bahagia dalam suara Arata yang kudengar. “Jika Author ridak menerima panggilanku dalam hitungan 10 detik, aku mungkin akan melompat ke balkon apartemenmu dan mendobrak masuk.”
Syukurlah aku menerima panggilannya. Aku bersyukur di dalam benakku sembari membayangkan jika benalu menyebalkan ini akan benar-benar melompati pagar pembatas balkon yang terhubung dengan balkonku dan mendobrak masuk ke apartemenku. Artikel yang menyebutku sebagai pelaku perundungan masih belum selesai dan jika Arata benar-benar melompati pagar pembatas maka aku harus menyiapkan dihujat seluruh wanita di negeri ini.
“Kenapa kau menghubungiku malam-malam? Dan lagi bagaimana kau tahu nomorku??” Aku langsung mencecar Arata dengan dua pertanyaan penting.
__ADS_1
“Aku rindu pada idolaku dan aku butuh teman bicara, Author. Hingga saat ini. . . hanya Author lah yang mau mendengarku bicara.”
Arata hanya menjawab satu dari dua pertanyaan yang aku ajukan. Seperti biasa. . . dia memang benalu yang menyebalkan. Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya aku tetap menerima panggilannya meski tahu dia menghubungiku hanya karena dia butuh teman bicara. Aku mengeluarkan satu tanganku dari jendela apartemenku dan membuatnya merasakan embusan angin malam yang semakin menusuk.
“Ada apa hari ini?? Apa kau harus mengulang adegan lagi dalam syuting?”
“Tidak.”
Angin berembus lebih kencang dan membuatku harus sedikit merapatkan jaket tebal yang aku kenakan. “Kalau bukan itu, lalu apa??”
“Tiba-tiba. . . aku lupa apa yang ingin aku katakan pada Author.” Aku mendengar nada terkekeh dari cara Arata berbicara.
“Kau sedang mempermainkanku kan Arata??”
Aku membuang nafasku dengan kencang mendengar ucapannya. Mana berani katanya? Bukankan selama kita kenal, kau selalu mempermainkanku benalu menyebalkan?? Setelah puas melampiaskan ucapan di dalam benakku, aku kemudian teringat dengan artikel kedua yang membelaku dan mengatakan jika aku adalah korban perundungan dan bukan pelaku dari kasus perundungan.
“Arata, bisakah aku bertanya?”
“Silakan, Author.”
“Artikel dengan judul Author Wallflower bukan Pelaku Perundungan melainkan Korban Perundungan, apakah itu ulahmu?”
“Ya, Author. Itu ulahku bersama dengan Kak Rama.” Arata berbicara dengan nada entengnya seolah apa yang dia perbuat itu adalah hal yang wajar yang harus dilakukannya.
__ADS_1
“Kau bekerja dengan sangat keras untuk hal yang tidak perlu, Arata. Aku bahkan tidak keberatan untuk dipandang buruk oleh orang lain. Aku juga tidak keberatan jika aku harus mengurung diri di apartemenku lagi karena sebelumnya aku juga selalu melakukan hal itu.”
“Maafkan aku, Author.” Tiba-tiba nada suara Arata terdengar sedih seolah ucapanku telah menyakiti hatinya. “Mungkin Author tidak keberatan, tapi aku keberatan, Author. Sebagai penggemarmu, aku tidak suka idolaku dipandang buruk oleh orang lain. Sebagai penggemarmu, aku juga tidak suka jika idola yang begitu aku hormati dirusak namanya atas perbuatan yang tidak pernah kau lakukan. Sebagai kenalanmu, aku tidak terima kau memilih diam dan menanggung kesalahan yang tidak kau perbuat. Sebagai tetanggamu, aku tidak bisa tinggal diam melihat tetanggaku mengurung diri di apartemennya yang dingin. Sebagai temanmu, aku tidak bisa tidak melakukan apapun ketika aku bisa melakukannya.”
“Sebagai penggemarku, kau melakukan terlalu banyak, Arata. Popularitasmu, ketenaranmu dan karirmu yang cemerlang dipertaruhkan. Kau sudah bekerja dengan keras untuk bisa mendapatkan posisi yang tinggi seperti ini, kau tidak bisa melakukan hal yang mungkin bisa merusak semua usahamu, Arata. Jadi berhentilah dan biarkan aku saja!! Anggaplah kau tidak pernah bertemu denganku dan tidak pernah mengenalku!!” Aku tahu. . . ucapanku ini mungkin terdengar kejam. Tapi. . . Arata adalah bintang bagi banyak orang. Membuat bintang milik banyak orang, terluka dan jatuh adalah sebuah kesalahan dan aku tidak ingin melihat Arata berada di posisiku.
“Author. . . bisakah kau keluar ke balkon apartemenmu sebentar saja?”
Aku menolehkan kepalaku dan mengintip keluar jendela apartemenku. Dari tempatku duduk. . . aku melihat Arata sedang berdiri di balkon apartemennya dan melihat ke arahku.
“K-kau?? Se-sejak kapan kau di sana??”
Harusnya aku tetap bersembunyi, tapi. . . entah apa yang merasukiku, aku justru melompat keluar dari jendela dan berdiri memandang Arata dengan tatapan terkejut. Mungkin aku sangat terkejut, mungkin juga aku tidak mengira akan melihat Arata di sana di malam yang gelap tanpa bintang ini dan mungkin saja. . . jauh di dalam hatiku, aku sedikit merindukan benalu menyebalkan yang selalu menempel dan mengikatku dengan erat di setiap kali kami bersama.
Wushhhhh. . . embusan angin kencang tiba-tiba menerpa ke arah kami. Di saat yang sama awan mendung yang tadi menutupi langit tertiup angin dan bergerak menjauh. Langit yang tadinya gelap kini memberikan pemandangan terbaik dengan bintang-bintang yang menghiasinya. Pemandangan bintang-bintang itu harusnya mampu membuatku terpesona karena dulu aku sering sekali merasa senang ketika melihatnya. Tapi sekarang. . . pemandangan bintang-bintang itu tidak lagi indah ketika sosoknya ada di hadapanku dan sedang memandangku dengan senyuman terbaik yang dimilikinya.
“Maafkan untuk kelancanganku setelah ini, Author.”
“Kelancangan apa yang kau maksud, Arata?” Aku merasakan firasat buruk secara tiba-tiba ketika mendengar ucapan Arata itu.
“Aku merindukanmu, Author.”
Deg. Jantungku berdetak dengan kencang mendengar kata rindu yang keluar dari mulut Arata untukku. Ku-kurasa. . . tanpa aku sadari, aku mungkin sudah tertarik dengan benalu menyebalkan yang selama ini terus menempel padaku. Aku mungkin terkena racun dari benalu menyebalkan ini atau mungkin ikatan benalu menyebalkan yang selalu menempel padaku itu membuatku merasa candu. Mana yang benar aku tidak tahu, tapi yang jelas: inang yang dirugikan oleh benalu, kini mungkin justru menyimpan rasa untuk benalu itu.
__ADS_1