MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
GURU DAN MURID PART 2


__ADS_3

         Narator’s POV


            “Duduklah.” Aktor Rangga melepaskan tangannya yang sejak tadi terus menarik telinga Arata dari apartemen Author Wallflower ke apartemen milik Arata sendiri yang berada di samping apartemen milik Author Walflower.


            “Kenapa Guru menjewerku?” Arata mengomel sembari memijat-mijat telinganya yang ditarik oleh Aktor Rangga. “Berkat Guru, imageku di depan Author jadi burukkan??”


            “Jika wanita itu akhirnya melepasmu pergi hanya karena kau kehilangan semua popularitas  yang kamu miliki dan imagemu, maka tidak seharusnya kamu mempertahankan wanita itu di sisimu, Arata.” Aktor Rangga memberi peringatan kepada Arata dengan nada suara tajam. Aktor Rangga kemudian duduk di depan Arata dan memperhatikan Arata dengan saksama. “Tidakkah rencanamu kali ini sedikit gegabah, Arata? Aku tahu kamu ingin sekali membalas perbuatan Bora si wanita ular itu? Tapi jika kau salah saja melangkah, rencana itu akan membuatmu kehilangan segalanya!”


            “Guru bertanya pada Kak Rama mengenai rencanaku??” Arata membalas pertanyaan Aktor Rangga dengan berbalik bertanya. Wajah Arata yang tadi mengeluh kini berubah menjadi wajah serius.


            “Ya, Rama adalah orang kepercayaanku yang kuletakkan di sisimu, Arata. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku tahu kau sangat mirip denganku. Kau bisa membuat banyak masalah di masa depan, karena itu aku meletakkan Rama di sampingmu. Apalagi keinginanmu untuk menjadi terkenal adalah demi wanita itu, apa kau masih ingat hal itu?”


            Arata tersenyum kecil mengingat janji kecil yang dibuatnya ketika pertama kali bertemu dengan Asha dan menerima buku novel pertama karya Author Wallflower. Di masa lalu, Arata tidak pernah mengira wanita yang ditemuinya adalah penulis buku dari buku yang diterimanya karena Asha menyangkal ketika Arata bertanya.


            “Kelak. . . aku akan menjadi pemeran utama dalam novel karya Author Wallflower untuk menemukan penyelamatku.”


            “Tentu, aku masih ingat, Guru.” Arata membuka mulutnya sembari terus mengingat kenangan lamanya. “Bukankah alasan itu jugalah yang membuat Guru menerimaku jadi muridmu?”


            “Bantu aku, Tuan Rangga! Aku harus menjadi terkenal demi menemukan seorang wanita. Aku harus terkenal untuk menemukan penyelamatku. Jika aku tidak terkenal, menemukannya adalah sesuatu yang terasa mustahil untuk dilakukan!!”


            Sama seperti Arata, Aktor Rangga memikirkan hal yang sama. Aktor Rangga mengingat kenangan lamanya ketika bertemu dengan Arata.


            “Kau punya bakat, anak muda. Dan melihat kau tidak menyerah setelah mendengar banyak komentar buruk yang ditujukan padamu, aku menghargai usahamu itu, anak muda. Katakan padaku alasanmu terus bertahan dalam profesi ini bahkan setelah semua komentar buruk dan kegagalan yang kamu alami!”

__ADS_1


            “Ya, aku memang menyukaimu dan memilihmu menjadi muridku karena alasan itu. Tapi apakah Author Wallflower adalah wanita yang pantas kau berikan segalanya hingga mengorbankan semua hal yang kamu raih hingga saat ini? Karena usahamu untuk menyelamatkan Authormu itu, kau nyaris kehilangan segalanya karena rencanamu yang seperti pedang bermata ganda itu??”


            “Ya, Guru. Authorku tercinta itu adalah wanita yang pantas untuk kukorbankan segalanya agar dia bisa di sisiku dan menjadi milikku. Aku di sini, bisa bertemu dengan Guru dan menjadi murid Guru, semua karena ucapan Authorku itu.”


            Aktor Rangga menghela napasnya mendengar keteguhan hati dan jawaban tanpa ragu yang keluar dari mulut Arata. Murid bodoh ini.. . . bagaimana dulu aku bisa menyukainya dan mengangkatnya sebagai muridku?? Dia benar-benar meniruku.


            “Baiklah. . . aku tidak akan berdebat mengenai masalah itu lagi karena meski nyaris kehilangan segalanya, kau berhasil menyelesaikannya dengan baik, Arata.” Aktor Rangga mengalihkan pandangannya menatap sekeliling apartemen Arata. “Kau harus berterima kasih kepada penggemarmu yang setia itu karena berkat mereka, proyekmu bersama Authormu itu yang nyaris hancur karena kegegabahanmu itu berhasil diselamatkan!”


            “Aku mengerti, Guru. Terima kasih untuk nasihatnya.”


            “Kau juga harus berterima kasih pada Rama, Nara, juru bicara di agensi, seluruh staf di agensi. . .”


            Mendengar ucapan panjang Aktor Rangga, alis Arata berkedut karena kesal dan tahu bahwa ucapan Aktor Rangga itu tidak akan berakhir dengan cepat.


            “Guru!!!” Arata dengan cepat memotong ucapan Aktor Rangga dan menyelamatkan telinganya dan ucapan panjang yang mungkin tidak akan berakhir dengan cepat. “Aku tahu siapa saja yang sudah aku repotkan dalam masalah ini, Guru. Guru tidak perlu mengatakannya dan mengingatkanku, aku akan memberi mereka bonus dan bekerja lebih keras dari sebelumnya.”


            “Baguslah jika kau mengerti, Arata. Tokoh publik figur mungkin terlihat memiliki segalanya dan dipuja-puja oleh banyak orang, tapi untuk mendapatkan semua perhatian itu tokoh publik figur memberikan pengorbanan yang besar. Kehidupannya, kisah cintanya, dan setiap langkahnya akan menjadi sorotan karena perhatian yang besar yang kamu inginkan. Semua perhatian itu bisa membuat kita terbang hingga ke langit ke tujuh tapi di saat yang sama,  dalam sekejap perhatian itu juga bisa membuat kita jatuh ke neraka terdalam. Aku datang kemari hanya untuk membuatmu ingat akan hal itu saja, Arata.”


            Arata menganggukkan kepalanya paham. “Sekali lagi, terima kasih nasihat Guru. Mendengar nasihat ini, aku tahu Guru sangat menyayangi muridmu ini meski muridmu ini adalah murid bermasalah yang akan menyusahkan seterusnya.”


            Arata tersenyum kecil mengucapkan kalimat itu sementara Aktor Rangga yang kesal mendengar kenyataan dari mulut Arata itu segera meraih bantal di sofa milik Arata dan melemparkannya ke Arata dengan sekuat tenaganya.


            Wush. . . buk.

__ADS_1


            Bantal itu jatuh tepat di wajah Arata dan membuat Arata sedikit tersentak karena tidak siap menerima pukulan bantal itu.


            “Guru!!!! Kau memukulku dengan bantal?? Aku bukan anak kecil lagi, Guru!!! Tadi menjewerku sekarang memukulku dengan bantal! Tidak cukupkah Guru mengomel dan memarahiku saja???”


BAB    “Tidak akan pernah cukup. Salahkan dirimu yang mau jadi muridku!! Karena aku adalah Guru yang tidak cukup berkata-kata saja!!” Aktor Rangga tersenyum melihat wajah Arata yang kesal. “Apakah kau akan terus tinggal di apartemen ini, Arata?”


            Arata yang tadinya berwajah kesal dan ingin sekali melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke arah Aktor Rangga untuk membalasnya, langsung mengurungkan niatnya karena ucapan Aktor Rangga yang kini justru membahas apartemen miliknya.


            “Ya, Guru.”


            “Karena dekat dengan wanita tercintamu itu? Atau karena ada alasan lain?” Aktor Rangga berkeliling memperhatikan seluruh ruangan di apartemen milik Arata. Aktor Rangga bahkan memeriksa bagian balkon apartemen milik Arata.


            “Ya, itu alasan besar aku memilih tinggal di sini, Guru.”


            Aktor Rangga kemudian duduk lagi di sofa milik Arata setelah berkeliling dan mengubah ekspresinya menjadi serius lagi. “Karena kau berniat untuk terus tinggal di sini dan kau sangat peduli dengan authormu itu, aku akan memberi saran padamu, Arata,”


            “Apa itu, Guru?”


            “Kau seorang idola yang punya banyak basis penggemar. Jumlah penggemarmu mungkin sudah mencapai setengah dari jumlah penduduk di negeri ini, Arata. Penggemarmu itu mungkin memberi dukungannya untukmu, tapi belum tentu mereka akan memberi dukungan untuk kisah cintamu dengan Author Wallflower.”


             “Aku tahu hal itu, Guru.” Arata memiringkan kepalanya. “Tapi. . . aku tidak mengerti maksud Guru mengatakan hal itu padaku.”


            Aktor Rangga mengeluarkan amplop hitam dari dalam saku jasnya dan melemparkannya ke arah Arata. “Buka itu dan kau akan tahu maksud dari ucapanku, Arata.”

__ADS_1


__ADS_2