
“Warda??” panggilku.
“Apa kau mendengarnya, Asha? Arata mengatakan jika kalian pernah bertemu dan kau pernah mengatakan alasanmu menjadi penulis, apa itu benar? Apa itu hanya karangan Arata saja??” Warda langsung mencecarku dengan banyak pertanyaan setelah mendengar pernyataan Arata dalam konferensi persnya.
“Ya, itu benar, Warda. Sepertinya kami berdua memang pernah bertemu.”
“Apa, apaaa??????” Warda berteriak dengan sangat kencang hingga membuat suara melengking dalam panggilanku yang menggunakan mode speaker. “Bukankah kau bilang kau akan ingat jika bertemu dengan Arata yang memiliki wajah tampan? Tadi kau bilang kau tidak pernah bertemu dengan Arata, kenapa kau sekarang bilang jika kau pernah bertemu dengan Arata??”
“Saat itu. . . dia mengenakan kostum Winnie The Pooh di kepalanya. Jadi bisa aku katakan, aku tidak tahu jika hari itu aku bertemu dengan Arata.”
“Jadi begitu. . . akhirnya semua perlakuan Arata padamu terjawab sudah.”
“Apa maksudmu, Warda?” tanyaku bingung.
“Kau ingat Arata membelikanmu gaun dan sepatu saat dia menjadi bintang tamu di acara tanda tanganmu?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Ya, aku ingat itu.”
“Arata mungkin sengaja pindah ke apartemen di sebelahmu. Arata juga sengaja menjadi pemeran utama dalam novel Love Like Ectasy milikmu. Arata yang dikenal dingin kepada banyak wanita, berbaik hati mengantarmu ke rumah sakit untuk menjengukku. Di lokasi syuting, Arata menjagamu dengan baik karena kau adalah orang baru. Arata selalu mengawasimu, menjagamu dan melindungimu. . . karena sejak awal dia sudah menyukaimu.”
Ucapan Warda itu membawaku pada waktu-waktu yang aku habiskan bersama dengan Arata selama beberapa waktu ini. Pertemuan kami pada acara tanda tanganku, dia memberiku gaun yang cantik dan sepatu yang cantik, dia membantuku yang berulang kali hampir terjatuh, dia bahkan memegang kakiku yang kotor dan memasangkan sepatu dengan tangannya langsung. Saat itu. . . aku benar-benar heran melihat tindakannya padaku yang begitu baik dan sempat mengira dia adalah pria berbahaya yang pandai menjaga sikapnya di depan wanita.
“Author.”
“Aku adalah penggemar pertamamu, Author.”
Pertemuan kami berikutnya pada saat dia muncul di balkon sebelah sebagai tetanggaku. Awalnya. . . aku terkejut karena dia mengingatku dengan baik. Dia bahkan menyapaku lebih dulu. Selanjutnya Arata muncul di depanku untuk mengantarku ke rumah sakit di mana Warda dirawat. Arata bahkan sengaja mengambil jalan pelan untuk membiarkanku makan sebelum ke rumah sakit karena aku kelaparan. Pertemuan kami berikutnya adalah ketika kecelakaan yang menimpa penulis skenario utama dari novelku yang diadaptasi ke dalam film. Saat itu. . . aku benar-benar tidak menyangka jika Arata akan menjadi pemeran utama dari film yang diangkat dari novelku itu.
__ADS_1
“Selamat pagi, Author.”
Sejak hari itu, Arata selalu menempel padaku seperti benalu yang memaksa mengambil keuntungan dari inangnya. Arata duduk di sampingku, Arata memberiku minuman, Arata bicara padaku, Arata tersenyum padaku dan Arata menggenggam tanganku. Arata si benalu menyebalkan, si aktor psikopat itu terus melewati batasan yang aku buat dengan seenaknya sendiri. Saat itu. . . aku benar-benar merasa kesal karena sosoknya berputar-putar dalam roda kehidupanku. Dia muncul begitu saja dan memaksa masuk ke dalam keseharian hidupku yang sepi.
“Bukankah rasanya sepi saat makan seorang diri, Author?”
“Bisakah Author tidak melihat syutingku hari ini?”
Tapi. . . di saat aku membutuhkan bantuan, Arata selalu ada di sampingku. Arata menggendongku, Arata menemaniku dan Arata menjagaku. Dia melindungiku dengan caranya yang terkadang membuatku kesal.
“Kau baik-baik saja, Author?”
“Kenapa tidak ke rumah sakit, Author?”
“Aku akan membawamu ke vila milik saudaraku, Author.”
Arata selalu muncul membantuku. Arata selalu ada untukku. Arata selalu di sampingku. Arata selalu memperhatikanku. Dan aku tidak bisa mengerti alasannya berbuat sejauh itu hanya demi idolanya yang hanya menulis buku.
“Setelah ini. . . aku akan membuat Author membuka pintu ini dengan sendirinya dan berlari ke arahku.”
Aku tidak mengerti dengan semua usaha kerasnya. Aku tidak paham dengan semua tindakannya untukku. Aku tidak mengerti arti senyuman manis yang diperlihatkannya padaku. Aku tidak mengerti arti tangannya yang selalu menggenggam tanganku. Aku tidak mengerti dengan dirinya yang selalu berusaha untuk ada di sampingku.
“Untuk bisa bertemu denganmu, kesialan sebanyak apapun akan aku terima. Aku rela menggunakan semua keberuntunganku di dunia, hanya untuk bisa bertemu denganmu, Author.”
Aku tidak mengerti hingga mendengar jawaban itu keluar dari mulutnya sendiri.
“Kita sepertinya mirip. Kau menjadi penulis karena skenario dalam hidupmu yang mengalami banyak kegagalan dan aku terjun ke dunia peran karena hal yang sama denganmu, aku dianggap sebagai kegagalan dalam hidup banyak orang.”
__ADS_1
“Warda!!” Aku berteriak sembari mengambil jaket dan topi untuk keluar dari apartemenku.
“Ya, Asha. Kenapa kau berteriak??”
“Katakan padaku di mana Arata sekarang melakukan konferensi pers! Bukankah kau ikut dalam klub penggemar Arata??” teriakku sembari menata wajahku dan rambutku yang masih belum kering sepenuhnya. Aku memasukkan rambutku ke dalam topi dan mengenakan jaket.
“Kau mau ke mana? Kau mau menyusul ke tempat Arata? Bukankah kau bilang kau tidak akan keluar dari apartemenmu lagi??”
“Warda, ada yang harus aku katakan pada Arata sekarang juga. Bisa kau katakan padaku di mana Arata sekarang berada?” Aku memakai kaus kakiku dan mengambil sepatu yang bisa aku temukan di rak sepatu.
“Aku akan mengirim alamatnya melalui pesan, Asha.”
“Terima kasih, Warda. Aku berhutang padamu untuk hal ini.” Aku hendak menutup panggilan itu tapi Warda masih berkicau membalas ucapanku.
“Nanti aku akan menagihnya dengan makanan mahal. Kau tidak keberatan kan, Asha?”
“Tidak.”
Klik. Aku mematikan ponselku dan memasukkannya ke dalam tas kecilku bersama dengan dompet. Dengan mengenakan masker di wajah dan kacamata kerja yang aku gunakan, aku berjalan keluar dari apartemenku setelah berhari-hari menolak untuk keluar lagi.
“Setelah ini. . . aku akan membuat Author membuka pintu ini dengan sendirinya dan berlari ke arahku.”
Aku tersenyum mengingat ucapan Arata itu dan nyatanya. . . aku benar-benar melangkah keluar dari apartemenku sendiri, tanpa paksaan dari siapapun seperti ucapan Arata. Sial kau benalu menyebalkan!! Bagaimana kau bisa tahu jika aku akan melangkahkan kakiku keluar dari apartemen ini dan berlari ke arahmu???
Aku berlari melewati tangga darurat dan terus berlari menuju ke area parkir bawah tanah di gedung apartemenku. Kau mengenalku terlalu dalam, Arata.
Begitu tiba di area parkir, aku langsung masuk ke dalam mobil milikku, memasang safety belt dan menyalakan mesin mobilku. Brooom. . . tidak lama kemudian mobil yang aku tumpangi, mulai berjalan keluar dari area parkir bawah tanah menuju ke pintu belakang lingkungan apartemenku. Rasanya tidak adil, Arata. Kau mengenaliku sejak awal, tapi aku tidak mengenalimu sama sekali. Harusnya sejak kita bertemu di acara itu, kau menceritakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya, bukannya membuat kejutan seperti ini!!
__ADS_1
Wajah Arata muncul di dalam benakku dengan berbagai ekspresi, tapi dari semua ekspresinya. . . hanya senyumannya saja yang menetap untuk waktu yang lama di dalam benakku dan meninggalkan kesan yang mendalam. Sial kau, Arata!! Kau benar-benar benalu yang menyebalkan yang mampu mengaduk-aduk perasaan dan hidupku seenakmu sendiri!!