
Arata langsung pergi ketika Kendra datang bersama dengan Pak Raya-pengacara keluarga Wiyarta tiba. Melihat bagaimana Kendra langsung datang bahkan bersama dengan pengacara keluarga Wiyarta, aku sadar keluarga Wiyarta bukanlah keluarga biasa. Kekayaan, kekuatan, kedudukan dan martabat tinggi, Wiyarta memilikinya.
Tapi meski begitu ... meski memilikinya, Wiyarta tidak seperti kebanyakan keluarga kaya. Mereka terlihat biasa seperti kebanyakan orang lainnya. Kendra menerimaku dengan baik, Maha juga begitu, lalu Ayah dan Ibu Arata pun juga begitu. Dan Arata sendiri bahkan lebih tidak terlihat lagi sebagai anggota keluarga Wiyarta. Meski sudah menjadi bintang terkenal dan bintang top di negeri ini, Arata sama sekali tidak terlihat angkuh dan sombong. Dia bahkan bisa berjongkok dengan wajah seperti anjing yang kehilangannya tuannya, ketika mengetahui aku pergi dari apartemenku tanpa mengabarinya.
“Asha ... perkenalkan ini Pak Raya-pengacara keluarga kami.” Begitu Arata pergi setelah mendapat pukulan kecil dari Kendra, kakak pertama Arata itu langsung menghampiriku dan mengenalkan Pak Raya padaku.
“Salam kenal, Pak. Saya Asha.” Aku memberi salam kepada Pak Raya.
“Salam kena, Nona Asha. Saya sudah dengar kejadian nahas yang menimpa keluarga Nona. Dari informan, saya mengetahui bahwa kebakaran ini sepertinya adalah ulah seseorang yang mungkin menaruh dendam pada Nona. Jadi ... nanti ketika pihak kepolisian meminta keterangan pada Nona, katakan saja apa yang Nona ketahui.”
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
“Lalu satu lagi, saya dengar dari Tuan Kendra bahwa Nona dalam jangka waktu yang lama tidak pernah pulang ke rumah. Apakah benar begitu?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Ya, Pak. Saya memang sudah lama tidak mengunjungi rumah lama saya itu karena beberapa masalah di masa lalu. Tapi ... beberapa waktu yang lalu saya sempat datang meski tidak menemui keluarga saya.”
“Kapan itu tepatnya, Nona?”
“Dua hari yang lalu. Setelah saya mengunjungi rumah sakit Wiyarta.”
“Untuk berjaga-jaga, bisakah saya meminta rekaman kamera blackbox di mobil Nona?”
__ADS_1
“Tentu, Pak. Saya tidak keberatan.”
Pak Raya melihatku dengan senyum kecil di wajahnya. Meski Pak Raya terlihat sangar dan sedikit menakutkan karena kumis tebal dan sorot matanya yang tajam, nyatanya ... Pak Raya adalah orang yang ramah.
“Mohon maaf, Nona Asha.”
“Untuk apa, Pak?” Aku mengerutkan alisku mendengar permintaan maaf tiba-tiba dari Pak Raya.
“Mendengar bagaimana hubungan Nona dari cerita Tuna Kendra, saya tahu Nona memiliki masalah dengan keluarga Nona di waktu lalu. Dan hal itu mungkin bisa menjadi masalah bagi Nona karena pihak kepolisian selalu menaruh curiga karena memang itulah pekerjaan mereka. Jadi untuk berjaga-jaga, saya akan mengumpulkan semua bukti untuk Nona dan membersihkan tuduhan yang mungkin nanti akan dijatuhkan kepada Nona.”
Mendengar penjelasan itu, aku dapat melihat alasan Arata meminta Kak Kendra membawa pengacara keluarganya datang kemari. Mungkin Arata juga mengkhawatirkan hal yang sama dengan apa yang dikhawatirkan oleh Pak Raya.
Setelah mendengar hal itu ... Pak Raya meminta seseorang yang merupakan asistennya untuk pergi ke gedung apartemenku untuk mendapatkan bukti bahwa selama dua hari ini aku selalu di apartemenku dan meminta kunci mobilku untuk mendapatkan rekaman kamera blackbox. Hari ini sepertinya Tuhan tidak menyulitkanku karena musibah yang aku alami. Karena setelah mendengar berita buruk itu, aku terburu-buru. Jadi aku mengambil jaket di gantungan yang ternyata di dalamnya terdapat kunci mobil yang belum aku keluarkan sejak aku keluar menggunakannya.
Satu jam kemudian ... aku dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai satu-satunya keluarga yang masih hidup dan seperti yang Pak Raya duga, meski dimintai keterangan sebagai saksi, pihak kepolisian menaruh curiga padaku karena kedatanganku ke rumah dua hari yang lalu. Tapi ... kecurigaan itu langsung hilang ketika Pak Raya memberikan salinan rekaman yang dibawakan oleh asistennya tepat sebelum pemeriksaan dimulai.
“Terima kasih banyak, Pak.” Aku mengucapkan kalimat itu ketika selesai memberikan keterangan dan menjalani pemeriksaan.
“Jangan sungkan, Nona Asha. Ini sudah menjadi tugas saya untuk melayani Keluarga Wiyarta.”
Mendengar itu kalimat itu, aku sedikit terkejut. Sementara Kendra yang berdiri di sampingku tersenyum puas melihat ke arahku.
__ADS_1
“Ya ... tidak lama lagi, kau akan menjadi bagian dari Wiyarta dan dengan begitu setiap masalah terjadi, Pak Raya yang akan maju untuk menyelesaikan masalahmu, Asha.”
“Kakak begitu yakin aku akan menjadi bagian dari Wiyarta??” tanyaku.
“Tentu. Jika kau menolak Arata dan memilih untuk tidak menikahinya, masih ada aku dan Maha yang akan mengejarmu menggantikan Arata. Bukankah dengan begitu kau tetap akan jadi bagian dari Wiyarta, Asha?”
Aku membelalakkan mataku sembari membayangkan ucapan Kak Kendra padaku. Arata sudah cukup menyulitkanku dengan selalu menempel padaku seperti benalu. Jika Kak Maha dan Kak Kendra melakukan hal yang sama, maka aku ... bisa-bisa tidak memiliki umur yang panjang. Kak Maha adalah pria dengan mulut yang sedikit tidak bisa direm, bahkan lebih parah dari Warda. Sementara Kak Kendra adalah pria yang sedikit bicara tapi begitu bicara terkadang ucapannya sedikit menusuk. Mereka berdua adalah versi yang lebih buruk dari Arata, menurutku.
Melihatku terdiam masih terus memandangnya, Kak Kendra menjentikkan jari telunjuknya di keningku. “Aku hanya bercanda, Asha!! Kenapa wajahmu serius begitu??”
“Ahh ... syukurlah kalau begitu.”
Setelah masalah di kantor kepolisian berakhir dan setelah memastikan jika keempat jenazah keluargaku akan diantarkan besok ke kediaman Wiyarta-itu adalah perintah dari Kak Kendra dan Arata, Kak Kendra membawaku ke kediaman Wiyarta karena permintaan Arata.
Aku benar-benar terkejut ketika akhirnya tiba di kediaman Wiyarta yang berada di pinggiran kota. Kediaman ini sangat-sangat besar bahkan dari pagar luar untuk masuk ke dalam bangunan membutuhkan waktu mungkin kira-kira dua menit dengan mengendarai mobil dan sekitar lima menitan dengan berjalan. Kediaman ini punya halaman yang luas, taman yang luas dan bahkan bangunannya pun juga sangat luas. Kediaman ini punya pintu dan jendela dengan ukuran besar layaknya kastel dalam dongeng. Yang membedakan mereka hanyalah rumah ini punya kesan modern dan lebih mengikuti gaya modern yang berkembang.
“Selamat datang, Asha.” Begitu turun dari mobil Kendra, Ibu Arata langsung menyambut kedatanganku dan memelukku. “Ibu turut berduka cita atas apa yang dialami oleh keluargamu, Asha.”
Aku membalas pelukan itu untuk sejenak dan berkata, “Terima kasih banyak, Bu. Lalu maafkan saya, karena membuat Ibu repot dengan saya tinggal di sini.”
“Kalau kamu yang datang, Ibu tidak akan keberatan, Asha. Ibu tahu saat Ibu pertama kali melihatmu di TV saat pengumuman hubunganmu dengan Arata. Ibu tahu kaulah orang yang akan membawa Arata kembali ke rumah ini. Dan benar ... berkatmu, Arata nanti akan pulang kemari.” Ibu Arata melepaskan pelukannya di tubuhku dan melihatku dengan senyum bahagia. “Tapi ... bukan maksud Ibu untuk mensyukuri kejadian nahas yang terjadi pada keluargamu, Asha. Mohon mengerti perasan Ibu yang sudah lama tidak melihat anaknya ini.”
__ADS_1
Aku menganggukkan kepalaku mengerti. “Ya, Bu. Saya mengerti dengan maksud Ibu.” Dalam hatiku, aku bicara, Yah ... siapa Ibu yang tidak senang ketika anak yang lama tidak pulang akhirnya pulang ke rumah?? Mungkin hanya ibuku dan keluargaku yang tidak menyukai kepulanganku.