
Kukira aku yang salah dengar ucapan Arata itu. Tapi nyatanya. . . aku salah. Telingaku baik-baik saja dan apa yang aku dengar memang benar adanya.
Dalam keadaan membeku karena terkejut, Arata mendorong tubuhku yang terbalut dengan selimut tebal milikku dan membuat mundur beberapa langkah. Di saat yang sama, Arata masuk ke dalam apartemenku dan menutup pintu apartemen sebagai penegasan mengenai ucapannya untuk menginap di apartemenku.
“Permisi,” ucapnya.
Dia berkata permisi tapi berjalan masuk ke dalam apartemenku untuk kedua kalinya tanpa seizini dariku. Lalu apa gunanya kata permisi itu diucapkannya??
“Apa yang kau lakukan???”
Arata meletakkan dua kantung yang berada di kedua tangannya ke atas meja di dapurku dan mulai mengeluarkan satu persatu isi di dalamnya sembari menjawab pertanyaanku. “Bukankah sudah kubilang aku akan menginap di sini, Author? Kukira tubuhmu memang sakit, pendengaranmu juga tidak baik.”
“Aku tidak butuh kau tinggal di apartemenku, Arata. Aku hanya butuh istirahat saja dan kau bisa kembali ke apartemenmu, sekarang!!”
Arata menghentikan kedua tangannya yang mengeluarkan isi di dalam dua kantung besar di meja dapur dan melihatku dengan tatapan mata tajam seolah sedang marah besar. “Aku tidak akan tinggal di sini malam ini, jika Author ada di rumah sakit. Sekarang katakan kenapa kau tidak ke rumah sakit dan justru ada di sini? Keadaanmu tadi tidak baik-baik saja, Author.”
“Aku tidak perlu ke rumah sakit. Aku tahu bagaimana keadaanku dan aku hanya perlu minum obatku dan beristirahat. Jadi biarkan aku beristirahat sekarang!!!” balasku dengan kesal. Saat ini. . . aku hanya ingin tidur. Hal itulah yang ada di dalam pikiranku. Tapi kedatangan Arata bena-benar membuatku tidak bisa beristirahat dengan tenang apalagi untuk bisa tertidur. Benalu ini. . benalu menyebalkan ini pasti akan mengusikku.
Kruyuk. . . kruyukkk. . .
Aku memegang perutku yang berbunyi di saat yang tidak tepat dan memecah ketegangan yang terjadi antara aku dan Arata.
“Hahahaha.” Arata tertawa kecil sembari kedua tangannya melanjutkan kegiatannya yang belum diselesaikannya. “Kebetulan aku membawa bubur dan beberapa jenis makanan untuk Author. Kira-kira Author ingin makan apa?”
Aku melihat ke meja makan di mana Arata mengeluarkan berbagai macam jenis makanan: dari buah apel, jeruk, pir dan stroberi, lalu ada makanan seperti bubur dan roti berbagai jenis rasa dan satu lagi yang kukenali adalah kotak makanan milik Warda yang selalu ada ketika Warda datang kemari.
__ADS_1
“Kotak itu?” Tanpa sadar jari telunjuknya keluar dari dalam selimut dan menunjuk kotak yang mirip dengan milik Warda.
“Benar kotak ini adalah titipan dari Nona Warda untuk Author. Ingin makan ini?” Arata mengangkat kotak itu dan mengarahkannya kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku karena sudah lama merindukan masakan Warda. Sejak sibuk menjadi penulis skenario, aku dan Sena jarang bertemu padahal biasanya Sena akan membawakan makanan dari Warda untukku.
“Jika ingin makan ini, Author harus membiarkanku untuk menginap di sini malam ini. Bagaimana?”
Aku menatap penuh curiga ke arah Arata. “Kenapa kau begitu ngeyel ingin tidur di sini malam ini, Arata?”
“Aku hanya. . . khawatir pada Author. Mengingat bagaimana sikap Author, aku yakin Author tidak akan berani mengetuk pintuku jika sesuatu terjadi seperti tadi siang.” Ucapan Arata memang benar adanya. Aku heran. . . bagaimana dia hanya mengenalku dalam hitungan kurang dari tiga bulan, bisa begitu mengenalku seperti Warda. “Kau berkata seolah sudah mengenalku dalam waktu lama saja.”
Aku duduk di atas sofa di depan TV-ku masih dengan selimut tebal yang membalut tubuhku. Arata kemudian muncul dengan membawa piring, mangkuk yang berisi bubur dan kotak makanan pemberian Warda.
“Makan buburnya lebih dulu, Author. Baru setelah itu. . . kau bisa memakan makanan yang diberikan oleh Nona Warda untukmu.” Arata memberikan mangkuk yang berisi bubur ke arahku dan sendok yang akan kugunakan.
Bagus. Rendang khas masakan Ibu Warda. Aku mengambil beberapa potong daging rendang pedas dan meletakkannya di atas mangkuk bubur yang belum aku habiskan.
Ketika aku sibuk memakan makananku, Arata bolak-balik dari meja makan di dapur ke meja di depan TV untuk menyiapkan semua makanan yang dibawanya. Arata juga mengambil air minum hangat untukku dan ketika semua yang dirasanya sudah memenuhi kebutuhanku berada di atas meja, Arata duduk di sampingku dan mengupas buah-buahan.
“Aku memang mengenalmu sejak lama, Author,” katanya tiba-tiba dan nyaris membuatku tersedak.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya??” tanyaku sembari menoleh ke arah Arata yang masih sibuk mengupas apel dan berusaha membuat kulit yang dikupasnya itu tidak terputus.
“Tidak.” Arata menjawab dengan datar, masih dengan kedua matanya yang fokus mengupas kulit apel dan berusaha untuk tidak memutus kulit apel itu.
__ADS_1
“Lalu jika kita tidak pernah bertemu, bagaimana kau bisa mengenalku??” tanyaku lagi dan kali ini aku benar-benar penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Arata. Aku melihat ke arahnya dan memperhatikan dirinya yang fokus dengan kulit apel sembari menunggu mulutnya memberikan jawaban untukku.
“Dari. . sudut itu, apakah aku terlihat tampan, Author??”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Arata justru mengajukan pertanyaan konyol yang tidak perlu ditanyakannya kepadaku. “Haruskah kau menanyakan pertanyaan itu ketika hampir semua gadis dan wanita di negeri ini tergila-gila padamu?”
“Ya. Jawaban Author adalah jawaban yang penting bagiku, karena Author adalah idolaku.” Arata meletakkan kulit apel yang berhasil dikupasnya tanpa terputus, Arata kemudian memotong-motong buah apel itu dan meletakkan pisaunya. Tangannya kemudian mengambil jeruk dan ganti mengupas kulit jeruk itu.
“Jika aku menjawabnya, apa kau akan menjawab pertanyaanku??” tanyaku balik. Tiba-tiba aku merasa de javu dengan keadaan ini. Rasanya kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
“Ya.” Arata menjawab dengan datar setelah berhasil mengupas satu kulit jeruk.
“Kenapa rasanya tidak adil?? Bukankah aku yang bertanya lebih dulu padamu??”
Kilatan senyuman muncul di bibir Arata seolah dia baru saja mendapatkan apa yang diinginkannya yang aku tidak tahu.
“Author tidak mau menjawab?” Arata bertanya padaku masih dengan senyuman di bibirnya yang kini terlihat semakin lebar. Tiba-tiba. . . aku merasa jika senyuman di bibir Arata itu terlihat begitu memesona.
Huft. Aku menghela napasku menyadari aku hampir saja terkena sihir dari senyuman milik Arata. “Cukup tampan. Apa kau puas mendengarnya, Arata??”
Senyuman Arata semakin melebar lagi dan membuat jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Dag. . . dig. . . dug. . . Merasa ada yang tidak beres, aku meletakkan mangkuk makananku dan mengalihkan wajahku dari Arata. Dag. . dig. . dug. . . Masih merasa tidak tenang dengan jantungku yang berdetak lebih kencang, aku menyalakan TV dan berusaha untuk membuat pikiranku beralih ke arah lain.
“Aku sudah mengenal Author sejak lama lewat tulisan Author, lewat buku Author.” Arata tiba-tiba membisikkan kalimat itu di telingaku.
Spontan. . . aku menolehkan wajahku dengan tatapan kesal ke arahnya dan menemukan dia tersenyum ke arahku. Dag. . . dig. .. dug. . . jantungku berpacu lebih kencang lagi hingga aku merasa, aku mungkin akan terkena serangan jantung karena senyuman itu.
__ADS_1
Sudah kuduga. . . dengan dia di dekatku, aku tidak akan pernah bisa merasa tenang.