MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
DI AMBANG KEMATIAN PART 4


__ADS_3

            “Bukankah tempat ini adalah tempat dengan kenangan buruk bagimu, Sena?? Lalu kenapa kau membawaku kemari,  Sena?”


            Pikiranku saat ini mengatakan alasan Sena membawaku kemari adalah alasan yang buruk bagiku. Setelah mendengar rentetan kisah kelam milik Sena, aku mungkin sedikit merasa iba padanya. Tapi hingga hari ini dia sudah membunuh cukup banyak orang dalam pengetahuanku, bagaimana jika korbannya lebih banyak dari yang aku tahu? Bagaimana jika selama ini ada lebih banyak orang yang kehilangan nyawanya di tangan Sena?


            Jika itu yang terjadi, maka aku tidak bisa memiliki rasa iba meski aku memilikinya. Sena ... tidak seharusnya menerima rasa iba ketika dia dengan mudahnya membunuh orang lain dengan menggunakan cinta sebagai alasan.


             Sena melihatku dengan senyuman di bibirnya. Tangannya merogoh ke saku jaketnya dan mengeluarkan benda dengan warna putih. Benda itu adalah saputangan putih yang aku rasa adalah benda yang tadi digunakan oleh Sena untuk membiusku.


            “Maafkan aku, Asha.”


            Aku melihat Sena mengeluarkan botol yang berisi cairan dan menuangkannya ke saputangan putih itu. Tanpa harus bertanya pada Sena, aku tahu apa yang akan Sena lakukan padaku beberapa menit ke depan, dia akan membiusku lagi.


            “Jangan lakukan itu, Sena!!!” 


            Aku berusaha keras untuk menjauh dari Sena. Aku berusaha menarik kedua tangan dan kedua kakiku yang terikat sekuat tenaga, berharap salah satu dari mereka akan lepas. Tapi sekuat apapun aku berusaha, usaha itu berakhir dengan kegagalan. Kedua tangan dan kedua kakiku justru terluka dalam setiap usaha yang aku kerahkan. Dan hal itu justru membuat Sena sama sekali tidak menghentikan apapun yang akan dilakukannya kepadaku.


            “Maafkan aku, Asha!!”


            Aku menatap tajam Sena ketika mendengar kalimat itu lagi. Aku melempar tatapan tajam dan tetap berusaha meski aku tahu usahaku itu hanya memiliki kemungkinan yang sangat kecil.


            “Kau meminta maaf padaku, tapi kau justru mengikatku di sini, Sena??? Kau bilang mencintaiku, tapi kau menyiksaku seperti ini??” Merasakan sesuatu yang berbahaya, aku tidak lagi bisa menahan diriku untuk bicara dengan Sena. Mendengar bagaimana kisah hidupnya yang kelam dan bukan satu dua kali membunuh orang lain, aku tahu ucapan yang aku keluarkan tidak akan mengubah niat di dalam benak Sena.


            “Aku sangat mencintaimu, Asha. Dan itu adalah kebenaran. Sayangnya ... Arata yang menyebalkan itu akan selalu menempelimu ke manapun kamu pergi. Meski kau menolak, dia akan tetap di sisimu hingga kau menerima dirinya. Jadi ... untuk membuatmu menjauh dari Arata dan membuat kau selalu melihatku, aku harus melakukan ini, Asha!” Setelah mengatakan itu, Sena mendekat ke arahku dan membekapku seperti yang sebelumnya dilakukan padaku.


            Aku memberontak dengan usaha terbaikku. Tapi karena kedua tangan dan kedua kakiku yang terikat, aku tidak bisa menjauh dari Sena dan pada akhirnya tertangkap oleh Sena. Perlahan ... tubuhku kehilangan semua tenaganya. Perlahan semua indraku mulai melemah. Pandanganku mulai kabur. Rasa sakit yang kurasakan di tangan dan kakiku, mulai menghilang.


            “Setelah ini kita akan bersama selamanya, Asha ... “

__ADS_1


            Pandanganku yang mulai kabur melihat Sena bicara padaku sembari tangannya yang lain menyentuh wajahku dan membelainya dengan lembut. Telingaku samar-samar mendengar ucapannya padaku.


            “ ... Kita akan bersama selamanya dan aku akan memperkenalkanmu pada Ibuku, Asha.”


            Setelah mendengar kalimat itu, aku tidak lagi bisa merasakan apapun, mendengar apapun dan juga melihat apapun. Aku hanya bisa mengumpat di dalam benakku sembari merasakan kematian yang mungkin akan datang padaku dalam waktu dekat. Sial.


*


            Narator’s POV


            Laksamana menoleh ke arah belakang ketika keluar dari dalam mobil timnya. Dari tempatnya berdiri, Laksamana dapat dengan jelas menangkap ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya dan Laksamana tahu mobil itu milik siapa.


            “Apa kita akan membiarkannya saja, Pak?” Leo bertanya kepada Laksamana sembari melihat ke arah yang sama dengan Laksamana.


            Laksamana menggaruk kepalanya mengingat ucapan putrinya mengenai idolanya-Arata.


            “Arata itu adalah pria yang romantis, Ayah. Kelak ... aku ingin menemukan suami yang seperti Arata,”


            “Arata itu menyukai seorang penulis bernama Wallflower. Belum lama ini ada berita miring tentang Author Wallflower, tapi Arata tetap membelanya apapun yang terjadi. Dan baru-baru ini ada kabar yang mengatakan bahwa Arata menjadi terkenal demi menemukan Author Wallflower yang pernah menyelamatkan dirinya dari keputusasaan. Untuk menemukan Author Wallflower, Arata selalu membawa novel karya Author Wallflower dan membuat dirinya semakin terkenal agar dikenali oleh Author Wallflower.”


            “Begitukah??”


            “Ya, Ayah. Setelah semua usaha Arata, takdir akhirnya mempertemukan mereka berdua dan sekarang keduanya sudah menjadi sepasang kekasih.  Arata-idolaku itu bahkan menyatakan cintanya pada Author Wallflower di depan umum, seolah ingin mengatakan dialah wanita yang aku cintai di depan semua orang. Bukankah itu romantis, Ayah?”


            “Apa itu yang namanya romantis? Menurut Ayah, itu sedikit berlebihan.”


            “Ayah memang kolot sekali. Jaman sekarang itulah gambaran romantis, Ayah. Jika Ayah bertanya pada seluruh wanita di negeri ini, aku yakinkan pada Ayah lebih dari 70% wanita akan mengatakan jika Arata-idolaku adalah pria yang romantis.”

__ADS_1


            “Kita tidak bisa membiarkannya. Tapi ... ini adalah Arata-si aktor terkenal yang dikenal begitu mencintai kekasihnya hingga membuat pengakuan di depan publik.”


            Leo melongo mendengar ucapan Laksamana. Selama bekerja menjadi asisten Laksamana, Leo tahu dengan baik jika Laksamana adalah orang yang buta dengan perkembangan entertainment. Laksamana hanya tahu presiden, wakil presiden dan beberapa menteri. Sisanya ... Laksamana akan mengabaikan hal-hal seperti nama-nama tidak penting yang hanya akan membuat memori di dalam otaknya justru berkurang karena hal penting.


            Dan sekarang ... Leo benar-benar terkejut ketika mendapati Laksmana tahu tentang Arata yang beberapa kali menjadi pusat perhatian karena kisah cintanya dengan Author Wallflower yang membuat banyak wanita di negeri ini merasa iri sekaligus kagum.


            “Bagaimana Bapak bisa tahu soal Arata? Padahal sebelum-sebelum ini Bapak bahkan tidak mengenali Arata meski putri Bapak selalu bicara tentang dia.”


            “Aku menggali informasi dari putriku setelah tahu Nona Asha adalah pemilik nama  Author Wallflower sekaligus kekasih Arata.”  Laksamana melihat ke sekelilingnya dan merasa ada sesuatu yang bahaya. “Leo.”


            “Ya, Pak.”


            “Kirimkan satu orang kita untuk meminta Arata menunggu di dekat mobilnya. Katakan padanya untuk tidak mendekat ke vila sedikit pun selagi kita berusaha untuk menangkap Sena.”


            “Baik, Pak.”


            Leo meminta salah satu rekannya untuk menghampiri mobil Arata dan memberikan pesan yang diberikan oleh Laksamana. Setelah mengirim salah satu anak  buahnya untuk menyampaikan pesannya, Laksamana bersama dengan Leo dan beberapa anak buahnya masuk ke dalam vila yang diyakini adalah milik Sena dan keluarganya.


            “Periksa setiap ruangan!”


            Laksamana memberikan perintahnya kepada anak buahnya begitu memasuki bagian dalam vila dengan hati-hati dan kewaspadaaan tinggi. Tapi ... begitu memeriksa semua ruangan yang ada, Laksamana bersama dengan anak buahnya tidak menemukan Sena dan Asha kecuali beberapa tali yang terikat di kaki tempat tidur di salah satu kamar.


            Laksamana memeriksa kamar itu untuk menemukan petunjuk sementara Leo membuka tirai di kamar itu, agar Laksamana mendapatkan pencahayaan yang pas untuk menemukan petunjuk.


            “Pak!!” Leo berteriak memanggil Laksamana.


            “Apa kau menemukan sesuatu, Leo?” Laksamana bangkit dari posisi berjongkoknya dan menghampiri Leo. Betapa terkejutnya Laksamana saat melihat apa yang saat ini dilihat oleh Leo.

__ADS_1


            “Mereka berdua sepertinya ada di  danau, Pak!!!” Leo berteriak sembari menunjuk ke arah tengah danau.


 


__ADS_2